<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>hermansaksono</title>
	<atom:link href="http://hermansaksono.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hermansaksono.com</link>
	<description>Patternless thoughts, pointless wisdom</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 May 2013 07:55:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Suharto: Masih enak jamanku kan?</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2013/05/suharto-masih-enak-jamanku-kan.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2013/05/suharto-masih-enak-jamanku-kan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 May 2013 05:02:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=1737</guid>
		<description><![CDATA[Apakah benar hidup jaman Suharto lebih enak. Saya mencoba mengumpulkan data-datanya.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2013/05/Suharto-Isih-penak-jamanku.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1738" alt="Suharto-Isih penak jamanku" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2013/05/Suharto-Isih-penak-jamanku.jpg" width="320" height="320" /></a></p>
<p>Sejak 15 tahun lalu Suharto turun tahta, beberapa kali saya bertemu dengan orang-orang yang merindukan kondisi ekonomi jaman Suharto, dan menyesalkan kondisi jaman sekarang yang lebih buruk. Tapi apakah benar hidup di jaman Suharto lebih enak? Saya mencoba mengumpulkan data-datanya:</p>
<ul>
<li><strong>Dolar lebih murah di jaman Suharto.</strong> Sebelum krisis moneter, nilai tukar dolar cuma Rp 2000. Akan tetapi pada saat krisis moneter, dolar mencapai Rp 16.000 di jaman Suharto.</li>
<li><strong>Harga barang lebih murah di jaman Suharto.</strong> Menurut Deptan, <a href="http://www.deptan.go.id/pesantren/bkp/PDP/Review%20trend-1.htm">harga beras</a> di perkotaan pada tahun 1998 memang hanya Rp 958/kg, tapi pada jaman itu nilai UMR rata-rata cuma Rp 153.000. Sekarang harga <a href="http://ditjenpdn.kemendag.go.id/index.php/public/home/info-bahan-pokok/">beras memang naik sekitar 10 kali lipat</a> jadi Rp 9000, akan tetapi UMR rata-rata juga naik sekitar 10 kali lipat: Rp 1.434.000.</li>
<li><strong>Cari pekerjaan lebih gampang di jaman Suharto.</strong> <a href="http://www.indexmundi.com/indonesia/unemployment_rate.html">Angka pengangguran</a> 1998 saat Suharto ada di 5,46%. Angka pengangguran 2013, lima belas tahun kemudian ada di 5,92%.</li>
</ul>
<p>Dari angka-angka tersebut, nampaknya situasi ekonomi jaman sekarang tidak berbeda jauh dengan jaman Suharto. Saya menduga orang-orang yang mengeluh ekonomi Suharto lebih enak itu mungkin cuma ingin mengeluh saja.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2013/05/Luwih-murah-jamanku.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1739" alt="Luwih murah jamanku" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2013/05/Luwih-murah-jamanku-353x500.jpg" width="353" height="500" /></a>Foto dari <b><a href="https://twitter.com/yohang88" data-user-id="14349331">@yohang88</a>.</b></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2013/05/suharto-masih-enak-jamanku-kan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Narsisisme Melalui Social Media</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2013/05/narsisisme-melalui-social-media.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2013/05/narsisisme-melalui-social-media.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 May 2013 19:35:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog & Socmed]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=1727</guid>
		<description><![CDATA[Apakah memposting segala sesuatu ke social media itu perilaku narsisisme? ]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2013/05/Social-media-in-real-life.png"><img class="aligncenter  wp-image-1728" alt="Social media in real life" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2013/05/Social-media-in-real-life-440x483.png" width="308" height="338" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Apakah memposting segala sesuatu ke social media itu perilaku narsisisme? Weits nanti dulu. Ingat, ada banyak sekali interaksi di socmed yang tidak kita temukan di dunia nyata. Sesuatu yang narsistik di dunia nyata, belum tentu narsistik di social media. <a href="http://comp.social.gatech.edu/papers/chi12.trans.gilbert.pdf">Eric Gilbert dalam papernya</a> menunjukkan contoh seperti ini:</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2013/05/Triad-and-Room.png"><img class="aligncenter  wp-image-1729" alt="Triad and Room" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2013/05/Triad-and-Room-440x226.png" width="352" height="181" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Gambar sebelah kiri adalah hubungan tiga orang di Twitter, dan gambar sebelah kanan adalah ekivalensinya di dunia nyata. Di dunia nyata, A C dipisahkan kaca, B C dipisahkan cermin satu arah, dan A B dipisahkan tembok. Interaksi seperti itu tidak lazim ada di dunia nyata, tetapi wajar di Twitter.</p>
<p style="text-align: justify;">Menariknya, interaksi di atas baru satu dari 16 jenis interaksi tiga orang (triade) yang dipetakan oleh <a href="http://www.stat.cmu.edu/~fienberg/Stat36-835/Frank-DiscreteMath-1988.pdf">Ove Frank</a>. Gilbert menemukan beberapa triade lain yang &#8220;bermasalah&#8221;. Dari keenamnya, Twitter baru memperbaiki triade nomer empat. Dulu kalau Ani dan Cici follow Budi, Ani bisa melihat mention Budi ke Cici, namun tidak melihat balasan Cici ke Budi. Akibatnya ada bagian percakapan yang hilang. Twitter memperbaikinya dengan tidak menampikan twit Budi yang memention Cici.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2013/05/Triads.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-1732" alt="Triads" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2013/05/Triads.gif" width="347" height="283" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Penelitian Gilbert ini baru menyentuh <em>design problem</em> pada triade. Belum ada penelitian yang menyentuh design problem pada interaksi empat, lima, enam, atau tak terhingga orang. Oleh karena itu masih banyak interaksi-interaksi yang belum dikenali.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, sebetulnya memang wajar jika orang kemudian tidak nyaman masuk ke social media. Selain karena harus melalui medium dan teknologi yang baru, banyak interaksi di dalamnya yang belum pernah kita lihat di dunia nyata. Yang harus ditahan adalah terburu-buru menyimpulkan karakter social media, karena ini adalah dunia baru yang kita semua juga masih meraba-raba.</p>
<p style="text-align: justify;">Peliknya, situs social networking semacam Twitter dan Facebook adalah sistem tertutup. Kita tidak bisa secara kolektif ikut menentukan bentuk interaksi di situs social networking. Semua ada di tangan Twitter dan Facebook. Apakah ini berarti masa depan interaksi manusia ditentukan hanya oleh segelintir perusahaan teknologi?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2013/05/narsisisme-melalui-social-media.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jam Matahari Saya Rusak</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2012/11/jam-matahari-saya-rusak.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2012/11/jam-matahari-saya-rusak.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Nov 2012 04:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=1715</guid>
		<description><![CDATA[Tinggal di kawasan khatulistiwa seperti Indonesia membuat saya terbiasa mengandalkan matahari untuk menandai waktu. Akan tetapi, di Boston matahari punya aturannya sendiri.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/11/Jam-Matahari-Sun-Clock.jpeg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1716" title="Jam Matahari Sun Clock" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/11/Jam-Matahari-Sun-Clock-440x261.jpeg" alt="Jam Matahari Sun Clock" width="440" height="261" /></a></p>
<p>Tinggal di kawasan khatulistiwa seperti Indonesia membuat saya terbiasa mengandalkan matahari untuk menandai waktu. Jika sinar matahari jatuh miring, artinya jam 10 pagi. Matahari tepat di atas kepala artinya jam 12. Matahari mulai terbenam, artinya sudah jam 6: saatnya rehat sejenak, merenggangkan otot, dan masuk ke malam.</p>
<p>Dengan kata lain, matahari adalah jam yang handal.</p>
<p>Akan tetapi, di Boston matahari punya aturannya sendiri. Pada saat musim panas, matahari terbenam pukul 8 malam. Di musim dingin, matahari tenggelam jam 4 sore dan langit gelap saat itu juga. Tiba-tiba, matahari tidak lagi handal untuk menandai waktu.</p>
<p>Saya terbiasa mentargetkan segala sesuatu berdasar matahari. Siang pukul 12, pekerjaan setidaknya sudah setengah jalan menuju selesai. Pada maghrib pukul 6 sore, pekerjaan sudah harus tuntas. Di sini, karena matahari sudah terbenam jam 4, saya sering merasa panik karena tugas kuliah belum selesai padahal hari sudah malam. Padahal, yah, baru jam 4 sore.</p>
<p>Demikian juga saat musim panas. Saya sering mendapati diri bersantai-santai padahal waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Dengan kata lain, jam biologis saya sekarang sedang ngaco.</p>
<p>Satu-satunya jalan supaya tidak ngaco, tentu saja memanfaatkan jam tangan untuk melihat waktu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2012/11/jam-matahari-saya-rusak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pagi Pemilu Itu di Boston</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2012/11/pagi-pemilu-itu-di-boston.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2012/11/pagi-pemilu-itu-di-boston.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Nov 2012 23:12:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=1707</guid>
		<description><![CDATA[Suhu udara menunjukkan -2º Celcius saat puluhan orang mengantri di luar SMA Chatedral, Boston. Lapangan basket sekolah swasta telah disulap menjadi TPS pemilu. Pagi hari itu, Amerika memilih.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/11/Queue-to-Voting-Booth-US-Election-Boston.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1709" title="" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/11/Queue-to-Voting-Booth-US-Election-Boston-440x440.jpg" alt="Queue to Voting Booth US Election Boston" width="440" height="440" /></a></p>
<p>Suhu udara menunjukkan -2º Celcius saat puluhan orang mengantri di luar SMA Chatedral, Boston. Lapangan basket sekolah swasta telah disulap menjadi TPS pemilu. Pagi hari itu, Amerika memilih.</p>
<p>Di antara antrian itu petugas TPS membagikan gelas-gelas kopi panas. Seorang ibu tersenyum saat segelas kopi susu datang menghangatkan tangannya. Dia mengatakan terima kasih. Selain itu, tidak nampak kegembiraan yang meluap-luap. Tidak nampak juga keterpaksaan ikut pemilu. Mereka ikut pemilu karena nasib negaranya ditentukan hari ini.</p>
<p>Banyak hal tentang masa depan Amerika yang akan ditentukan. Jika <a href="http://hermansaksono.com/2012/11/apakah-obama-terpilih-presiden-amerika.html">Romney menang</a>, misalnya, UU jaminan kesehatan universal alias &#8220;Obamacare&#8221; terancam akan dicabut tahun 2013. Kubu konservatif juga khawatir, karena jika <a href="http://hermansaksono.com/2012/11/apakah-obama-terpilih-presiden-amerika.html">Obama menang</a> maka defisit anggaran negara akan semakin berlarut-larut. Saat ini <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/United_States_public_debt">defisit anggaran</a> mencapai 72% GDPnya.</p>
<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/11/Vote.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1711" title="Vote" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/11/Vote-440x440.jpg" alt="Vote in Boston" width="440" height="440" /></a></p>
<p>Beberapa pertarungan juga condong ke ideologis. Aborsi, KB, pernikahan sesama jenis, perubahan iklim, adalah isu-isu yang memainkan suara pemilu. Partai Republikan yang condong konservatif, dua bulan terakhir mendapat sorotan karena calegnya mengatakan wanita korban pemerkosaan memiliki mekanisme alamiah untuk mencegah kehamilan. Caleg tersebut pada saat ini menduduki Komisi Sains Senat AS.</p>
<h3>Perebutan Senator</h3>
<p>Di seberang TPS, sekelompok orang berdiri mengangkat papan-papan kampanye. Seorang ibu paruh baya mengangkat papan bertuliskan &#8220;Elizabeth Warren for Senate&#8221;. Saya mendekati beliau dan bertanya apakah boleh saya ambil gambarnya. Dengan senyum lebar dia menjawab, &#8220;Tentu!&#8221;. Ia mengangkat papannya tinggi-tinggi sambil tersenyum lebar ketika kamera menjepretnya.</p>
<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/11/Elizabeth-Warren-Boston.jpg"><img title="" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/11/Elizabeth-Warren-Boston-440x440.jpg" alt="Elizabeth Warren Senate Election Boston" width="440" height="440" /></a></p>
<p>Pertarungan tidak cuma di tingkat presiden. Setelah dominasinya di DPR tergerus pada pemilihan paruh tahun 2010, Partai Demokrat harus mempertahankan mayoritas di Senat. Elizabeth Warren yang profesor Harvard adalah bidak Partai Demokrat AS untuk tugas penting ini.</p>
<p>Andai Partai Republik merebut dominasi Senat, maka pemerintahan Obama harus berhadapan dengan oposisi dari kedua kamar yang akan mengkritisi semua kebijakannya. Itu jika Obama memenangkan pilpres ini. Jika ternyata pemenangnya adalah Romney, maka ia akan menikmati pemerintahan yang dibacking oleh DPR dan Senat.</p>
<p>Lawan Elizabeth Warren adalah senator Scott Brown yang papan balihonya tidak nampak di TPS Ward 3 Boston.</p>
<h3>Kotak Suara</h3>
<p>Suhu udara di dalam gedung SMA Katedral lebih hangat 20 derajat, melegakan badan-badan kedinginan yang mengantri di luar. Para pemilih mengantri di depan meja administrasi hingga mendapat giliran masuk ke bilik suara. Bilik suara itu berupa meja aluminium ukuran sedang yang disekat empat. Pemilih menentukan suaranya memakai bolpen.</p>
<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/11/Voting-Booths-US-Election-Boston.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1712" title="" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/11/Voting-Booths-US-Election-Boston-440x440.jpg" alt="Voting Booths US Election Boston" width="440" height="440" /></a></p>
<p>Usai memilih, panitia membagian stiker lonjong bertuliskan &#8220;I Voted&#8221; di samping gambar bendera Amerika yang berkibar. Stiker itu untuk ditempelkan di dada, dan para pemilih mensegerakan diri menyematkan stiker itu pada dada mereka. Mungkin untuk merasa patriotik telah menunaikan tugasnya. Ketika ditanya siapa yang mereka pilih, semua menjawab &#8220;Tentu saja Obama&#8221; atau &#8220;Tentu saja Elizabeth Warren&#8221;. Boston memang kotanya partai Demokrat.</p>
<p>Di ujung timur kota Boston, Mitt Romney sedang mempersiapkan <a href="http://www.businessweek.com/news/2012-11-06/romney-competes-with-obama-to-defy-history-in-election">panggung besar untuk merayakan kemenangannya</a>. Atau untuk membacakan pidato kekalahannya. TPS baru akan ditutup pukul 7 malam, dan hasil suara nasional baru terkapitulasi pukul 1 pagi waktu timur. Besok pagi, musim kampanye akhirnya usai, dan Amerika harus mengendalikan presidennya siapapun itu yang terpilih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2012/11/pagi-pemilu-itu-di-boston.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Obama akan terpilih menjadi presiden AS?</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2012/11/apakah-obama-terpilih-presiden-amerika.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2012/11/apakah-obama-terpilih-presiden-amerika.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2012 15:21:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=1704</guid>
		<description><![CDATA[Setelah penampilan debat yang tidak memuaskan, Presiden Obama berhadapan dengan Mitt Romney dalam pertarungan paling ketat dalam sejarah Amerika Serikat.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/11/Obama-Romney-Debat-Presiden-AS.jpeg"><img title="Obama Romney Debat Presiden AS" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/11/Obama-Romney-Debat-Presiden-AS-440x247.jpeg" alt="Obama Romney Debat Presiden AS" width="440" height="247" /></a></p>
<p>Obama nampak membuang muka, sementara Mitt Romney dari partai Republikan melemparkan serangan-serangan jitu. Pada malam debat pilpres di Denver, Romney tiba-tiba bersinar dan Obama meredup. Akan tetapi yang terburuk datang seminggu kemudian.</p>
<p>Setelah Obama <a href="http://www.realclearpolitics.com/epolls/2012/president/us/general_election_romney_vs_obama-1171.html">memimpin jajak pendapat</a> di atas 3% selama berbulan-bulan, pada tanggal 10 Oktober angka-angka polling berbalik menjagokan Romney. Untuk pertama kalinya, Romney memimpin 3% di atas Obama. Tiba-tiba ia menjadi calon presiden yang harus dipertimbangkan.</p>
<p>Perjalanan Romney menuju gedung putih bukanlah jalan yang mulus. Selama berbulan-bulan ia menjadi sorotan karena menolak menunjukan perhitungan pajaknya. Bulan Juli dia mengatakan London tidak siap menjadi tuan rumah Olimpiade, sehingga membuat sekutu dekat AS naik pitam. Bulan Agustus, pidato pencalonannya di konvensi Partai Republikan tidak berhasil menggenjot angka jajak pendapat. Yang terburuk adalah video pidato Romney yang direkam sembunyi-sembunyi. Dalam video itu Romney berpidato di ruangan tertutup, mengatakan bahwa <a href="http://www.youtube.com/watch?v=M2gvY2wqI7M">ia tidak peduli 47%</a> warga Amerika.</p>
<p>Obama, di lain sisi, menikmati bulan Juli dan Agustus yang indah. Walaupun kondisi perekonomian AS masih belum membaik—tingkat pengangguran masih di atas 8%—hasil jajak pendapat nampak lebih mempercayai Obama. Pidatonya di konvensi partai Demokrat tidak mengelegar seperti tahun 2008. Namun pidato ibu negara Michelle Obama dan orasi Bill Clinton sukses membakar massa pendukungnya.</p>
<h3>Denver</h3>
<p>Denver adalah titik balik. Romney yang selama ini digambarkan sebagai investor kaya raya dan pionir <em>outsourcing</em> ke  Cina, tiba-tiba muncul sebagai sosok yang peduli terhadap rakyat kecil Amerika. Argumen Obama yang kompleks: jaminan kesehatan, aborsi, subsidi, energi alternatif, keringanan pajak, pendidikan; mentah oleh janji Romney yang sangat sederhana. Romney menjanjikan pekerjaan bagi rakyat Amerika.</p>
<p>Beberapa janji Romney memang seperti melenceng dari sikap konservatifnya pada awal kampanye. New York Times mengatakan perubahan Romney beresiko membuat pemilih <a href="http://www.nytimes.com/2012/11/01/us/politics/romney-tones-down-campaign-rhetoric-as-vote-nears.html?pagewanted=1&amp;_r=0&amp;hp">mempertanyakan konsistensi dan keaslian</a> sikapnya.</p>
<p>Kubu Obama berusaha menahan laju popularitas Romney dengan menembakkan iklan-iklan negatif di udara. Di Ohio, yang diprediksi akan menjadi penentu kemenangan pilpres AS, Obama menghabiskan dana 62 juta dolar untuk membeli slot iklan tv. Kubu Romney menghabiskan 65 juta dolar. Di skala nasional, Obama membeli 347 juta dolar di mana 85% diantaranya adalah iklan negatif. Romney menghabiskan 386 juta dolar dan 91% dipakai untuk iklan negatif.</p>
<h3>Libya</h3>
<p>Pada debat kedua di New York, Obama tampil agresif menyerang Romney. Obama menyerang Romney yang tidak konsisten dan tidak rinci memaparkan rencana ekonominya. Romney menyerang pemerintahan Obama yang gagal mengangkat lapangan kerja. Puncaknya terjadi ketika debat menyentuh serangan di kedutaan AS di Libya.</p>
<p>Berdiri di depan Obama, Romney menudingkan telunjuknya dan mengatakan Obama gagal mengidentifikasi bahwa serangan tersebut adalah tindakan terorisme. Sebelum Romney menyelesaikan kalimatnya, Obama memotong. &#8220;Saya mengatakan itu adalah aksi teror.&#8221;</p>
<p>Romney tampak terkejut.</p>
<p>Dan sebelum Romney bisa melanjutkan bantahannya, moderator Candy Crowley memotong, &#8220;Sebetulnya ia [Obama] mengatakan bahwa itu adalah aksi teror.&#8221; Suara tawa hadirin terdengar sayup-sayup.</p>
<h3>Sandy</h3>
<p>Walaupun pengamat menilai Obama memenangkan debat kedua, namun polling tidak bisa kembali pada angka sebelum debat Denver. Obama hanya bisa mengerem Romney, tapi tidak bisa lagi memimpin jajak pendapat. Debat ketiga dan terakhir di Florida juga tidak mampu membalik polling Romney yang selalu memimpin di 1 persen.</p>
<p>Hingga kemudian datanglah Hurricane Sandy.</p>
<p>Obama menghentikan kampanyenya selama 3 hari untuk fokus menangani badai Sandy.</p>
<p>Chris Christie, Gubernur New Jersey—negara bagian yang terkena dampak paling parah dari badai Sandy, memuji kesigapan Obama dalam memutus rantai birokrasi penanganan bencana. Christie adalah gubernur dari partai Republikan dan juga suporter Mitt Romney. Walikota New York, Michael Bloomberg, juga memberikan endorsement kepada Obama. Bloomberg mengatakan bahwa intensitas badai Sandy adalah salah satu akibat dari perubahan iklim, dan Obama adalah calon presiden yang lebih peduli terhadap perubahan iklim.</p>
<p>Pengamat statistik politik Nate Silver, mengatakan bahwa studi ilmiah belum bisa menjawab apakah <a href="http://fivethirtyeight.blogs.nytimes.com/2012/10/29/impact-of-hurricane-sandy-on-election-is-uncertain/">bencana alam berpengaruh terhadap pilpres</a>. Namun, sejak badai Sandy, polling memang berbalik mendukung Obama, walaupun hanya berbalik tipis.</p>
<h3>6 November</h3>
<p>Hingga 5 November, polling belum bisa menjawab siapakah yang akan menjadi presiden AS hingga tahun 2016. Kebanyakan polling hanya menempatkan Obama 1% di atas Romney. Angka ini masih di dalam <em>margin of error</em>, sehingga kedua kandidat berpeluang memenangkan kontes kepresidenan AS.</p>
<p>Polling di tingkat negara bagian juga menunjukkan pertarungan yang ketat. Sehari sebelum hari pemungutan suara, <a href="http://www.realclearpolitics.com/epolls/2012/president/2012_elections_electoral_college_map.html">Real Clear Politics</a> menunjukkan bahwa Obama memimpin dengan mengumpulkan 201 suara negara bagian, sementara Romney tertinggal di angka 191. Untuk memenangkan pilpres, seorang kandidat harus mengumpulkan 270 dari 538 suara negara bagian. Dengan demikian, pilpres 2012 ini ditentukan hanya oleh 12 negara bagian yang pertarungan suaranya masih ketat.</p>
<p>Jika Romney dan Obama sama-sama memperoleh 269 suara negara bagian, maka presiden akan dipilih oleh DPR AS (yang dikuasai oleh partai Republikan) sementara wakil presiden akan dipilih oleh Senat AS (yang dikuasai oleh Demokrat).</p>
<p>Dengan demikian bukan tidak mungkin Amerika akan dipimpin oleh Mitt Romney dan Joe Biden—wakil presiden Obama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2012/11/apakah-obama-terpilih-presiden-amerika.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Tempat Baru</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2012/10/di-tempat-baru.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2012/10/di-tempat-baru.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Oct 2012 23:22:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=1700</guid>
		<description><![CDATA[Di tempat baru, kita tak ada pilihan selain menjalani hal-hal baru yang sebetulnya asing. Beberapa menyenangkan, beberapa memusingkan. Pembayaran yang serba memakai cek, padahal buku cek baru datang minggu depan, sukses bikin deg-deg-an. Belum lagi ATM yang ternyata tidak bisa dipakai buat transfer. Perbankan di Amerika sedikit aneh bagi orang Indonesia seperti saya, tapi saya [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Di tempat baru, kita tak ada pilihan selain menjalani hal-hal baru yang sebetulnya asing. Beberapa menyenangkan, beberapa memusingkan. Pembayaran yang serba memakai cek, padahal buku cek baru datang minggu depan, sukses bikin deg-deg-an. Belum lagi ATM yang ternyata tidak bisa dipakai buat transfer. Perbankan di Amerika sedikit aneh bagi orang Indonesia seperti saya, tapi saya rasa aneh itu ada alasannya.</p>
<p>Yang lebih sulit adalah ketika harus membawa diri ke orang Amerika. Orang Boston nampak selalu menjaga jarak, bersalaman hanya ketika kenalan. Sesudahnya, perpisahan dan pertemuan cukup ditandai dengan lambaian tangan sambil berkata &#8220;Hi&#8221; atau &#8220;Bye&#8221;. Tidak ada yang salah tentunya, hanya berbeda.</p>
<p>Perbedaan demi perbedaan itu salah satu penyebab pendatang tidak kerasan. Dalam banyak kejadian, pendatang membawa serta banyak dari rumah mereka supaya perbedaan di tempat baru tidak terlalu mencolok. Ini bukan sifat Asia, saya rasa. Para turis bule yang datang bermil-mil ke Vietnam, memilih untuk ngebir di bar-bar Saigon pada malam harinya, bersama bule-bule lainnya. Walaupun begitu, ini juga tidak salah.</p>
<p>Akan tetapi, saya mendapati ini bukan cara yang paling tepat untuk memaksimalkan pengalaman baru. Ketika kita berada di tempat baru, di tengah-tengah kerumunan orang yang asing dengan gerak-gerik ganjil, cara terbaik rupanya adalah menyerap untuk mengetahui mengapa mereka begitu unik. Tanpa bermaksud lebay, tapi dunia kian hari memang semakin kecil. Kita tidak punya pilihan selain menjadi warga dunia—cepat atau lambat. Mudah-mudahan, semakin banyak potongan-potongan dunia yang kita pahami tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tapi juga menguntungkan komunitas kita.</p>
<p>Begitulah. Saya belum memutuskan apa-apa. Cuma menulis untuk menandai blog ini, bahwa di sini baik-baik saja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2012/10/di-tempat-baru.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shortfall</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2012/07/shortfall.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2012/07/shortfall.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2012 03:49:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[fulbright]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=1694</guid>
		<description><![CDATA[Kabar baik pertama datang Februari: status kandidat saya sudah diangkat menjadi principal candidate Fulbright. Namun kabar yang lebih baik datang Maret.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/07/Shortfall.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1695" title="Shortfall" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/07/Shortfall.jpg" alt="" width="366" height="330" /></a></p>
<p>Bulan Februari adalah bulan baik. Saat itu pukul 10 pagi, ketika matahari sedang hangat-hangatnya, email dari AMINEF muncul di inbox menyampaikan <a href="http://hermansaksono.com/2012/06/berita-baik-beasiswa-di-inbox.html">kabar baik pertama</a>: status kandidat saya sudah diangkat menjadi <em>principal candidate</em>. Saya pasti akan berangkat sekolah ke Amerika.</p>
<p>Hal pertama yang saya lakukan adalah menelpon Ibu, sebuah pilihan yang sedikit saya sesali di kemudian hari. Andai saya mengatakannya langsung, saya bisa menyaksikan langsung wajah beliau menjadi gembira.</p>
<p>Akan tetapi, bulan Maret adalah bulan yang lebih baik saat berita kedua hadir. Saya diterima di Carnegie Mellon. Universitas terbaik di bidang <em>software engineering</em>. Siangnya, saya pergi ke kantor Ibu. Di teras kantor Ibu yang teduh, saya ceritakan berita Carnegie Mellon. Hal terbaik yang dapat dialami seorang anak adalah melihat senyum orangtuanya menjadi ketawa bahagia.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Malam harinya saya memenuhi undangan telepon direktur program Carnegie Mellon University (CMU) untuk berbincang-bincang tentang calon sekolah dan suasana belajarnya. Setelah berbicara 15 menit dan telepon ditutup, muncul rasa was-was, bagaimana jika beasiswa Fulbright tidak cukup untuk sekolah di Carnegie Mellon?</p>
<p>Selang beberapa hari kemudian, rasa was-was itu ternyata benar: AMINEF memberitahu bahwa Carnegie Mellon belum menyediakan keringanan biaya sekolah untuk saat ini. Artinya, ada kekurangan dana atau <em>shortfall</em> yang cukup banyak, dan saya harus mencari dana sendiri untuk menutup <em>shortfall</em> itu.</p>
<p>Tiba-tiba, bulan Maret menjadi bulan yang mendung.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Sebetulnya <em>shortfall</em> adalah sesuatu yang lazim terjadi. Teman saya ada yang mengalami <em>shortfall</em>, namun bisa ditutup dengan satu-dua bulan gaji. Beberapa lagi shortfallnya harus ditutup dengan merogoh tabungan senilai mobil atau sepetak tanah kecil. Dalam kasus Carnegie Mellon, semua itu masih tidak cukup.</p>
<p>Untunglah, saya kerja di kantor yang merasa sekolah itu penting. Sedetik saya selesai bercerita soal <em>shortfall</em> CMU ke Pak Djoko atasan saya, beliau langsung tersenyum selebar-lebarnya, kemudian—dengan dua-tiga gerakan sigap—seketika beliau menelpon mencari info beasiswa tambahan dari temannya di Dikti. Pak Djoko juga menghubungkan saya dengan Pak Rektor, yang kemudian menyarankan saya untuk menemui Pak Rachmat.</p>
<p>Pak Rachmat adalah pejabat rektorat yang sering membantu mencari beasiswa. Beliau menyarankan untuk menyusun proposal beasiswa tambahan untuk diusulkan ke Kemendikbud.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Proposal itu saya siapkan sebagus-bagusnya dengan sampul warna hijau cerah supaya menarik perhatian tim seleksi beasiswa Kemendikbud. Nampaknya jalan saya sudah ke CMU. Apalagi dari info seorang teman, Kemendikbud memiliki dana beasiswa yang banyak.</p>
<p>Empat belas hari menuju batas akhir yang ditetapkan CMU, proposal beasiswa tambahan masuk ke Kemendikbud. Waktu yang disediakan CMU memang tidak banyak, dan menyiapkan proposal butuh waktu untuk mengumpulkan data dan surat rekomendasi. Akan tetapi, saya harus optimis, karena ini adalah sekolah terbaik. Saya tidak boleh menyerah tanpa berusaha.</p>
<p>Namun, proses aplikasi beasiswa Kemendikbud memang membutuhkan waktu yang tidak cepat.</p>
<p>Setiap sore pukul 5, saat jam kantor Kemendikbud usai dan masih belum ada kepastian, hati saya retak sedikit. Kadang, jika satu hari ada sedikit kepastian, maka hari berikutnya akan disusul dengan berita ketidakpastian. Pak Rachmat sering membantu mengontak Kemendikbud, namun sore demi sore tetap berlalu meninggalkan saya terbenam. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika CMU lepas, karena universitas pilihan saya yang satunya—Northeastern University—juga tak kunjung memberi kabar.</p>
<p>Sore selalu diikuti dengan malam. Malamnya, saya hampir selalu mengecek thegradcafe.com, mencari tahu apakah ada mahasiswa lain yang sudah diterima di Northeastern. Akan tetapi, malam sudah seperti sore yang selalu tidak memberi kepastian: tidak ada info mahasiswa yang diterima di Northeastern. Dan pagipun tidak lebih baik, inbox hanya dipenuhi oleh email yang bukan tentang sekolah maupun beasiswa.</p>
<p>Pada sore terakhir, Pak Rachmat menelpon. Saya sedang di Jakarta. Beliau mengabarkan bahwa masih belum ada kepastian hingga saat itu. Saya berusaha untuk tidak kecewa. Di depan gerai Chanel Grand Indonesia saya duduk, kemudian mulai mengetik email untuk AMINEF.</p>
<p>&#8220;Dengan sangat menyesal, saya harus melepas kesempatan belajar di Carnegie Mellon University, karena belum mendapat kepastian beasiswa tambahan.&#8221;</p>
<p>Tombol <em>Send</em> ditekan. Saya merasa kosong. Suasana Grand Indonesia tetap ceria.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Email soal beasiswa itu datang tengah malam. Setelah sore sebelumnya saya kecewa luar biasa, keberanian untuk menerima berita bagus menjadi nyaris tidak ada. Di kamar gelap, saya membaca email itu sepelan mungkin. Saya masih belum siap membaca berita buruk. Namun, ketika sampai pada paragraf dua, saya merasa tidak yakin. Paragraf dua membawa berita bagus. Saya diterima di Northeastern University di Boston dan University of Minnesota.</p>
<p>Saya ulangi email itu dari atas. Saya tidak salah baca. Bahkan Northeastern memberikan pembebasan SPP, sehingga saya tidak perlu lagi memikirkan <em>shortfall</em>.</p>
<p>Seharusnya, malam itu saya bisa tidur lega. Akan tetapi saya terlalu senang untuk tertidur. Saya akan ke Boston.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Perjalanan mencari beasiswa adalah perjalanan yang sejauh-jauhnya berlabuh, hanya mengantar kita ke gerbang. Perjalanan yang sebenar-benarnya akan dimulai ketika kuliah sampai jam 9 malam, hidup berjam-jam di perpustakaan, dan tertidur di antara tumpukan buku-buku, tentu saja jika tidak bergadang mengerjakan tugas sampai subuh.</p>
<p style="text-align: left;">Namun, dalam perjalanan ini saya tidak berangkat sendirian. Semua dukungan dan motivasi, yang selama perjalanan ini telah disematkan oleh orang-orang terdekat, merupakan pengingat bahwa saya berangkat sekolah bersama dengan semangat-semangat mereka.</p>
<p style="text-align: left;">Saya rasa, kami yakin bahwa pendidikan akan membawa hal-hal baik menjadi lebih dekat dengan masyarakat.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Disclaimer: semua pernyataan dan informasi yang ditulis dalam posting ini merupakan pandangan saya pribadi, dan tidak mencerminkan pandangan organisasi lain. Pengalaman seleksi Fulbright adalah pengalaman saya pribadi, dan oleh karena tidak mencerminkan kebijakan AMINEF maupun Fulbright, setiap orang dapat melalui pengalaman yang berbeda.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2012/07/shortfall.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>46</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berita Baik Beasiswa di Inbox</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2012/06/berita-baik-beasiswa-di-inbox.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2012/06/berita-baik-beasiswa-di-inbox.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jun 2012 18:02:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[fulbright]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=1688</guid>
		<description><![CDATA[Jaman dulu, pelamar beasiswa pulang ke rumah dgn setengah perasaan antusias mengharapkan surat pengumuman telah tiba. Setengahnya lagi adalah perasaan was-was.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Berita-baik-beasiswa.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1690" title="Berita baik beasiswa" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Berita-baik-beasiswa.jpg" alt="" width="379" height="450" /></a></p>
<p>Inbox adalah sesuatu yang membuat pelamar <a href="http://hermansaksono.com/2012/06/mencari-beasiswa.html">beasiswa</a> merasa dag-dig-dug. Di masa surat menyurat lewat pos masih beken, pelamar akan pulang ke rumah dengan perasaan setengah antusias mengharapkan surat pengumuman beasiswa telah tiba. Setengahnya lagi adalah perasaan was-was andai surat itu membawa berita buruk. Setelah internet maju, tugas membuat deg-degan digantikan oleh email.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Setelah wawancara Fulbright yang tidak memuaskan saya, tiba-tiba pada bulan September sebuah email pengumuman mendarat di inbox. Tim seleksi Fulbright telah menjadikan saya sebagai <em>alternate</em> <em>candidate</em>. Email itu juga menerangkan bahwa kandidat <em>alternate</em> akan diberangkatkan jika telah tersedia dana dari pemerintah AS. Artinya, berbeda dengan <em>principal candidate</em> yang pasti berangkat, seorang <em>alternate</em> bisa berangkat dan bisa juga tidak.</p>
<p>Namun seorang <em>alternate</em> tetap harus mengikuti tes akademik (GRE) dan tes bahasa inggris (TOEFL iBT) untuk didaftarkan ke universitas di AS, sama seperti <em>principal candidate</em>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Di bulan Oktober saya diemail AMINEF untuk bersiap-siap mengikuti GRE dan TOEFL dalam satu bulan. Tes bernama GRE itu terkenal sulit, bahkan orang Amerika gentar ketika mendengarnya. <em>Anda akan menjadi orang yang berbeda setelah menyelesaikan GRE</em>, kelakar seorang teman bule.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam kondisi saya, tidak ada pilihan selain harus punya nilai GRE yang mumpuni. Akan sia-sia jika di kemudian hari status saya naik tingkat jadi kandidat <em>principal</em>, tapi tidak diterima di universitas gara-gara GRE yang seadanya.</p>
<p style="text-align: left;">Satu bulan saya mengulang lagi soal-soal artimatika SMA, menghafalkan kata-kata ajaib yang ternyata ada di bahasa Inggris, dan berlatih menulis esai demi esai argumentasi yang selogis-logisnya dalam bahasa Inggris. Setiap ada waktu kosong saya membaca-baca flashcard, berharap bisa mengusai kosakata baru dalam bahasa Inggris, hingga akhirnya tes itu diadakan tanggal 11 Oktober di Jakarta.</p>
<p style="text-align: left;">Tes GRE saya diadakan di gedung pencakar langit Jakarta yang kemilau. Interiornya seperti standar kantor Jakarta dengan sekat-sekatnya. Akan tetapi dinding dan pintunya yang berjajar rapi dengan cat warna krem monoton seperti menjamin bahwa tes ini akan dijalankan secara kaku dan keras. Beserta para kandidat Fulbright lainnya, kami duduk berjajar menunggu dipanggil masuk ke ruang ujian.</p>
<p style="text-align: left;">Semenit menjelang dipanggil, saya menelpon Ibu di Jogja. Saya minta didoakan, tapi sebenarnya saya cuma ingin mendengar suara keluarga di rumah, karena membayangkan senyum-senyum mereka adalah doa yang menenangkan.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Akhirnya 3 jam 45 menit kemudian GRE selesai. Tes itu terdiri dari 2 bagian soal bahasa, 3 bagian soal matematika, 1 tugas menulis sanggahan untuk sebuah esai, dan satu lagi menulis esai menyikapi sebuah permasalahan. Itu adalah tes yang melelahkan, tapi nampaknya pekerjaan saya tidak buruk-buruk amat.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Hasil GRE dan TOEFL diumumkan melalui email, kemudian, selang beberapa hari AMINEF menyambungkan saya dengan IIE. Ini adalah lembaga di AS yang bertugas mendaftarkan para kandidat S2 Fulbright ke 4 universitas yang paling sesuai dengan kemampuan akademiknya, sekaligus juga sesuai dengan dana yang tersedia. Pasalnya, jika biayanya terlampau mahal dari batas maksimal Fulbright, maka seorang kandidat harus mencari dana tambahan sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Kepada IIE, saya mengajukan dua univeristas yang menurut saya bagus dan cocok: Carnegie Mellon University di Pittsburgh dan Northeastern University di Boston. Saya memilih Carnegie Mellon karena programnya sangat fokus di bidang <em>software engineering</em>, sangat pas dengan minat saya. Sementara Northeastern memiliki fokus <em>software engineering</em> yang bagus, dan terletak di Boston, kota pelajarnya AS. Konon, nguping di Boston sangat mencerdaskan, karena orang-orangnya membahas hal-hal dengan ilmiah.</p>
<p style="text-align: left;">Pilihan saya direstui IIE. Berbekal nilai GRE, TOEFL<em>,</em> <em>study objective</em>,<em> personal statement</em>, dan CV, saya resmi didaftarkan di dua universitas itu, plus dua pilihan IIE. Otomatis, saya telah masuk ke tahap berikutnya yaitu menunggu jawaban dari universitas-universitas itu.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Menunggu adalah bagian paling rutin dalam perburuan sekolah dan beasiswa. Setelah menunggu undangan wawancara, menunggu hasil seleksi, dan menunggu nilai tes, maka berikutnya adalah saya menunggu pengumuman penerimaan. Pada bulan Februari hingga Mei, para pelamar sekolah menanti dan sekaligus cemas apakah diterima atau ditolak universitasnya. Mengecek email dari handphone selalu menjadi hal yang pertama saya lakukan setelah bangun pagi.</p>
<p style="text-align: left;">Untunglah pada bulan Februari 2012, sebuah berita baik berhenti pada inbox saya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Dilanjutkan di <a href="http://hermansaksono.com/2012/07/shortfall.html">Shortfall</a>.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Disclaimer: semua pernyataan dan informasi yang ditulis dalam posting ini merupakan pandangan saya pribadi, dan tidak mencerminkan pandangan organisasi lain. Pengalaman seleksi Fulbright adalah pengalaman saya pribadi, dan oleh karena tidak mencerminkan kebijakan AMINEF maupun Fulbright, setiap orang dapat melalui pengalaman yang berbeda.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2012/06/berita-baik-beasiswa-di-inbox.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Beasiswa</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2012/06/mencari-beasiswa.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2012/06/mencari-beasiswa.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jun 2012 08:26:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[fulbright]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=1685</guid>
		<description><![CDATA[Adalah tidak tepat jika mengira mencari beasiswa dan sekolah adalah petualangan yang gemilang. Ini adalah sebuah perjalanan naik-turun yang sejauh-jauhnya berlabuh, tidak jauh dari mengantar Anda ke gerbang.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Mencari-beasiswa.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1689" title="Mencari beasiswa" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Mencari-beasiswa-336x500.jpg" alt="" width="336" height="500" /></a></p>
<p>Email soal beasiswa itu datang malam-malam. Setelah sore sebelumnya saya kecewa luar biasa, keberanian untuk menerima berita bagus menjadi nyaris tidak ada. Adalah tidak tepat jika mengira mencari beasiswa dan sekolah adalah petualangan yang gemilang. Ini adalah sebuah perjalanan naik-turun yang sejauh-jauhnya berlabuh, tidak jauh dari mengantar Anda ke gerbang.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Sekitar setahun sebelum menerima email itu, tepatnya awal Mei 2011, saya mengirim pendaftaran beasiswa Fulbright ke AMINEF. Ini bukan kali pertama saya mendaftar Fulbright. Tahun 2009 dan 2010 saya tidak mendapat jawaban dari Fulbright maupun Chevening, dan diumumkan tidak lolos oleh Erasmus Mundus. Akan tetapi bagi saya tidak ada pilihan untuk terus mencoba, walaupun kepercayaan diri saya turun satu demi satu strip. Tahun 2011, saya mencoba lagi, kali ini menyempurnakan lagi surat lamaran saya (disebut <em>study objective</em>) sambil tentu memohon mantan dosen pemimbing saya untuk menulis surat rekomendasi lagi.</p>
<p>Meneruskan sekolah adalah jalur yang secara alami menarik saya mencari beasiswa. Selain tradisi keluarga, belajar di luar negeri adalah pengalaman hidup yang tidak cuma melengkapi secara intelektual, tetapi memperluas pandangan tentang dunia.</p>
<p>Dan mendekati tenggat dari Fulbright, melalui Fedex paket permohonan beasiswa dikirim ke AMINEF. Saya menyadari, setelah itu perjuangan mencari beasiswa sudah lepas dari bawah kendali. Sebesar apapun saya ingin belajar <em>software engineering</em> di Amerika Serikat, perjuangan saya berhenti di situ. Jika pegawai kurir lalai menghilangkan lamaran, maka saya berhenti di situ. Jika panel reviewer tidak terkesan oleh lamaran saya, maka saya juga berhenti di situ. Pada titik ini susah untuk optimis, apalagi Fulbright adalah beasiswa yang diincar ribuan orang Indonesia.</p>
<p>Bulan Juli tepat di hari ultah saya, sebuah email mendarat di inbox. Judul email itu undangan wawancara. Isinya, AMINEF mengundang saya untuk mengikuti wawancara seleksi beasiswa Fulbright yang akan diadakan 5 hari hari. Optimisme yang saya sembunyikan rapat-rapat itu akhirnya lepas. Saya tersenyum dalam hati sepanjang hari.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Wawancara itu diadakan di Hotel Phoenix tepat pukul setengah empat sore. Beberapa hari sebelumnya saya berlatih menjelaskan tujuan belajar saya dalam bahasa Inggris sambil melengkapi diri dengan data dan referensi untuk meyakinkan para panelis pewawancara.</p>
<p style="text-align: left;">Saya berangkat ke Hotel Phoenix naik becak, karena hari itu, entah kenapa, taksi menjadi susah didapat. Saya ingat suasana sore itu. Sore yang sangat biasa di Jogja. Cahaya kuning matahari agak panas, tidak spesial. Dari ribuan orang yang berada di Jogja detik itu, yang menganggap sore itu spesial mungkin cuma saya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Dari balik jendela kaca ruang wawancara Hotel Phoenix terlihat seorang Mbak yang nampak cas-cis-cus berbicara bahasa Inggris kepada para panelis. Dari balik jendela kaca yang sama, tangan dan lengan para pewawancara terlihat banyak diam, sementara wajah dan ekspresi mereka sama sekali tidak terlihat.</p>
<p style="text-align: left;">Tak lama kemudian, setelah si Mbak keluar dari ruang wawancara dengan wajah biasa, Pak Piet dari AMINEF keluar dan menjelaskan mekanisme wawancara. Saya diberi waktu 5 menit untuk memperkenalkan diri. Padahal saya menyiapkan perkenalan 10 menit.</p>
<p style="text-align: left;">Dengan waktu yang terbatas itu, maka saya mengepras narasi perkenalan saya dengan kepanikan bahwa apa yang mustinya tersampaikan justru terlewatkan. Mungkin kelima panelis itu melihat wajah saya menjadi cemas, karena saya yakin denyut nadi saya sedikit lebih dingin.</p>
<p style="text-align: left;">Setelah perkenalan singkat itu usai, satu persatu para panelis menanyai saya. Dua panelis adalah periset dari UGM dan UNY, dan dua adalah cendekia Fulbright dari Amerika Serikat. Pertanyaan mereka tidak mengada-ada, namun bukan jenis pertanyaan yang bisa dijawab berbusa-busa tanpa berpikir panjang, karena setiap jawaban selalu bisa dikejar dengan pertanyaan lanjutan. Saya berusaha memberi jawaban dan jawaban lanjutan.</p>
<p style="text-align: left;">Di akhir wawancara, kepala saya sudah panas. Saya tidak yakin akan mendapat beasiswa Fulbright.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://hermansaksono.com/2012/06/berita-baik-beasiswa-di-inbox.html">Bersambung ke sini</a>.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Disclaimer: semua pernyataan dan informasi yang ditulis dalam posting ini merupakan pandangan saya pribadi, dan tidak mencerminkan pandangan organisasi lain.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2012/06/mencari-beasiswa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>18 Jam di Tokyo</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2012/06/18-jam-di-tokyo.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2012/06/18-jam-di-tokyo.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jun 2012 08:30:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/?p=1676</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya saya menjejakkan kaki di Tokyo! Metropolitan terpadat di dunia, berteknologi termutakhir &#038; tradisi budaya Jepang yang selalu muncul di sudut-sudutnya.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Herman-Tokyo-Japan.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1677" title="" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Herman-Tokyo-Japan-440x440.jpg" alt="Herman, Tokyo, Japan" width="440" height="440" /></a></p>
<p>Dari balik kaca-kaca bandara Narita, langit pukul 3 sore nampak cerah dan sejuk. Setelah melalui antrian imigrasi yang cepat (memakai visa transit), saya akhirnya resmi menjejakkan kaki di Tokyo! Metropolitan terpadat di dunia, dengan 36 juta penduduk, teknologi termutakhir, dan tradisi budaya Jepang yang selalu muncul di sudut-sudutnya.</p>
<p>Saya sudah janjian bertemu dengan Toni dan Sofi, istrinya, di stasiun Shinjuku. Ada banyak cara untuk mencapai pusat kota Tokyo, bisa naik Narita Express, Keisei Sky Access, maupun <a href="http://www.limousinebus.co.jp/en/">Limousine Bus</a>. Atas saran Toni, saya memilih bis. Tiketnya bisa dibeli dengan mudah di areal kedatangan sebelah kanan. Ada loket bertuliskan &#8220;Limousine Bus&#8221; yang cukup besar, dan saya tinggal mengatakan &#8220;<em>Do you have any bus to Shinjuku station?</em>&#8221; kepada mbak petugasnya. Mbak Jepang yang fasih berbahasa Inggris itu kemudian menuliskan dua jam keberangkatan. Saya menunjuk jam 15.55. Dia menyebutkan biaya tiketnya 3000 Yen. Setelah saya membayar, Mbak petugas memberikan tiket sambil menunjuk halte 11 tempat saya harus mengantri.</p>
<p>Walaupun tidak banyak orang Jepang yang bisa berbahasa Inggris, namun tidak ada yang misterius di Narita, dan juga di Tokyo. Semua rambu ditulis jelas dan rinci dalam bahasa inggris. Halte nomer 11 menunjukkan nomor bus saya, daerah yang akan dituju (Shinjuku), dan jam keberangkatan. Setelah mengantri dengan teratur, bus saya akhirnya datang. Anda tidak akan naik ke bus yang salah, karena petugas halte akan mengecek tiket sebelum Anda naik. Mereka juga akan mengurusi bagasi Anda.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Perjalanan sudah menyenangkan sejak bus berangkat. Estetika serba teratur khas Jepang sudah terlihat dari pinggiran kota sampai ketika bus sampai di Shinjuku. Lagi-lagi tidak ada misteri kapan harus turun dari bus: layar LCD akan menuliskan &#8220;Shinjuku Station&#8221; pertanda saya harus segera turun.</p>
<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Shinjuku-Tokyo-Japan.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1678" title="" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Shinjuku-Tokyo-Japan-440x220.jpg" alt="Shinjuku, Tokyo, Japan" width="440" height="220" /></a></p>
<p><a href="http://blog.neofreko.com">Toni</a> tidak nampak disitu seperti kesepakatan kami. Ternyata bus saya datang 30 menit lebih cepat daripada 100 menit yang dijadwalkan. Toni rupanya sedang asik menyantap ramen, jadi menyuruh saya untuk foto-foto dulu. Memotret tempat baru selalu menyenangkan, karena cahaya matahari jatuh dari kemiringan yang berbeda sehingga warna dan bayangan nampak seratus persen baru.</p>
<p>Toni dan Sofi datang 15 menit kemudian. Dia mengajak saya melihat Harajuku. Dari west exit stasiun Shinjuku, saya menuju ke lantai bawah untuk membeli tiket kereta <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Yamanote_Line">JR Yamanote Line</a>. Tiketnya ¥120 untuk perjalanan dari Shinjuku ke Harajuku, dan saya ditraktir Toni. Lagi-lagi, penunjuk jalan di stasiun itu dapat dimengerti dengan mudah.</p>
<p>Kereta jalur Yamanote berhenti dua setopan berikutnya di Harajuku. Keluar dari stasiun, saya langsung menuju <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Takeshita_Street">jalan Takeshita</a>. Gang kecil ini sudah sesak dengan muda-mudi yang berbelanja baju dan pernak-pernik busana, atau sekadar ingin eksis. Dengan latar toko pakaian lolita gotik hingga punk, ratusan anak muda Jepang berdandan dengan selera terunik yang pernah saya lihat. Keunikan fashion ini melengkapi jamuan visual yang disajikan oleh arsitektur kota Tokyo sejak saya meninggalkan Narita.</p>
<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Harajuku-Tokyo-Japan.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1679" title="" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Harajuku-Tokyo-Japan-440x220.jpg" alt="Harajuku, Tokyo, Japan" width="440" height="220" /></a></p>
<p>Berjalan santai bersama Toni dan Sofi di sepanjang gang kecil itu, akhirnya membawa saya ke Omotesando. Sebuah kawasan pertokoan juga, namun tokonya lebih mahal-mahal. Berbeda dengan Takeshita yang acak dan naik turun, Omotesando ditata rapih dengan pohon-pohon Zelkova rindang berjajar teratur di sepanjang jalan.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Tujuan berikutnya adalah Shibuya, ikon metropolitan Tokyo tempat Scarlett Johannsen hilang dalam terjemahan, dan Rinko Kikuchi hilang dalam kesendirian di film Babel. Dari ujung jalan Omotesando, saya, Toni, dan Sofi berjalan kembali menuju stasiun Harajuku untuk menuju Shibuya. Sebelumnya, Toni memaksa saya untuk mencicipi crepe khas Harajuku. Dengan harga ¥520, saya memesan crepé rasa caramel cheesecake yang ternyata sangat enak.</p>
<p>Stasiun Shibuya hanya terpaut 1 stasiun dari Harajuku. Sampai di pintu keluar stasiun, saya berjalan pelan-pelan menikmati pengalaman pertama di Shibuya, hingga akhirnya jajaran lampu-lampu dan neon gedung-gedung pencakar langit mewarnai wajah saya.</p>
<p>Di antara ratusan orang lainnya yang lalu-lalang, saya telah berada di tengah perputaran dunia.</p>
<p>Ini bukan tempat wisata yang terasa lebih kecil dan lebih biasa ketika Anda sampai di sana. Ini lebih besar, lebih nyata, namun susah dipercaya. Saya di Shibuya! Saya setara dengan Scarlett Johannsen.</p>
<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Shibuya-Tokyo-Japan.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1680" title="Shibuya, Tokyo, Japan" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Shibuya-Tokyo-Japan-440x440.jpg" alt="" width="440" height="440" /></a></p>
<p>Saya tentu mencoba menyeberang ke ujung lain untuk merasakan bergerak diantara lautan manusia. Ini adalah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Scramble_crossing">scramble crossing</a> di mana pada menit tertentu, lampu merah pada kedua jalan akan menyala, semua mobil akan berhenti, dan para pejalan kaki akan menyeberang ke segala arah. Dari atas pergerakan manusia-manusia itu nampak seperti pola fraktal yang kaotik namun menemukan sebuah keteraturan.</p>
<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Hachiko-Tokyo-Japan.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1681" title="Hachiko, Tokyo, Japan" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Hachiko-Tokyo-Japan-440x440.jpg" alt="" width="440" height="440" /></a></p>
<p>Itinerary terakhir di Shibuya adalah berfoto bersama patung Hachiko, anjing jenis Akita yang setia menanti almarhum majikannya di stasiun Shinjuku selama 12 tahun. Bagi orang Jepang, Hachiko adalah simbol kesetiaan dan ketangguhan.</p>
<p style="text-align: center;"> ***</p>
<p>Setelah melakukan hal-hal wajib lain di Tokyo, seperti membelikan oleh-oleh Sanrio buat Mimit dan menjelajahi deretan jajanan unik di food section department store. Akhirnya saya pulang ke rumah Toni untuk nebeng tidur semalam.</p>
<p><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Keio-Line.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1683" title="Keio Line" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Keio-Line-440x440.jpg" alt="" width="440" height="440" /></a></p>
<p>Jalan-jalan di kampung Tokyo, walaupun tanpa sorotan cahaya dan pakaian nyentrik muda-mudinya, tetap menjamu mata dengan bentuk kotak-kotak yang diatur rapih dan bersih. Di dekat rumah Toni ada supermarket menjelang pukul 9 malam mendiskon makanan siap saji mereka. Saya kalap membeli sekotak bento seafood, yakitori, dan sushi unagi.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Toni.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1684" title="Toni" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2012/06/Toni-440x439.jpg" alt="" width="440" height="439" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Saya sudah harus bangun pagi jam 4 untuk bersiap menuju Shinjuku diantar oleh Toni.</p>
<p style="text-align: left;">Saat tiba di bandara Narita sehari sebelumnya, saya sudah mengambil tiket Narita Express di lantai basement B1F Narita terminal 1. Kereta menuju bandara ini memang disarankan untuk <a title="Tiket Narita Express" href="http://www.jreast.co.jp/e/nex/tickets.html">dipesan melalui web</a> (harus memakai kartu kredit) jauh-jauh hari sebelumnya, walaupun bisa juga dibeli pada hari H. Harga tiket menuju Narita dari Shinjuku adalah ¥3110. Jika Anda memesan tiket online, tiket harus diambil sehari sebelumnya.</p>
<p style="text-align: left;">Saya sampai di stasiun Shinjuku pukul 5.00 pagi. Kereta Narita Express atau N&#8217;EX datang tepat satu-dua menit sebelum jadwal pukul 6.34, dan meninggalkan stasiun satu-dua menit sesudahnya. Anda tidak perlu berebut kursi, karena nomor kursi sudah tercantum pada tiket.</p>
<p style="text-align: left;">Sekitar pukul 7.57 Narita Express sampai di bandara Narita. Butuh waktu sekitar 35 menit untuk berjalan melewati security check kereta, security check bandara, dan imigrasi dengan antrian sedang. Jadi untuk penerbangan pagi, Anda harus menyiapkan waktu yang cukup untuk itu, selain waktu untuk check-in dan jalan menuju gate (bisa 15 menit).</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Pukul 9.15, ANA sudah memanggil-manggil sehingga orang-orang di <em>boarding gate</em> segera membentuk antrian rapi. Saya sudah siap meninggalkan Jepang, dan siap untuk mendatanginya lagi. Dan tentu saja mencicipi Tokyo Banana.</p>
<p style="text-align: left;">NB: Terima kasih untuk <a href="http://blog.neofreko.com/">Toni</a> dan Sofi yang telah menjadi host yang menyenangkan dan menjadi teman saya mengalami hal-hal menarik di Tokyo.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2012/06/18-jam-di-tokyo.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
