18 Jam di Tokyo

Akhirnya saya menjejakkan kaki di Tokyo! Metropolitan terpadat di dunia, berteknologi termutakhir & tradisi budaya Jepang yang selalu muncul di sudut-sudutnya.

Herman, Tokyo, Japan

Dari balik kaca-kaca bandara Narita, langit pukul 3 sore nampak cerah dan sejuk. Setelah melalui antrian imigrasi yang cepat (memakai visa transit), saya akhirnya resmi menjejakkan kaki di Tokyo! Metropolitan terpadat di dunia, dengan 36 juta penduduk, teknologi termutakhir, dan tradisi budaya Jepang yang selalu muncul di sudut-sudutnya.

Saya sudah janjian bertemu dengan Toni dan Sofi, istrinya, di stasiun Shinjuku. Ada banyak cara untuk mencapai pusat kota Tokyo, bisa naik Narita Express, Keisei Sky Access, maupun Limousine Bus. Atas saran Toni, saya memilih bis. Tiketnya bisa dibeli dengan mudah di areal kedatangan sebelah kanan. Ada loket bertuliskan “Limousine Bus” yang cukup besar, dan saya tinggal mengatakan “Do you have any bus to Shinjuku station?” kepada mbak petugasnya. Mbak Jepang yang fasih berbahasa Inggris itu kemudian menuliskan dua jam keberangkatan. Saya menunjuk jam 15.55. Dia menyebutkan biaya tiketnya 3000 Yen. Setelah saya membayar, Mbak petugas memberikan tiket sambil menunjuk halte 11 tempat saya harus mengantri.

Walaupun tidak banyak orang Jepang yang bisa berbahasa Inggris, namun tidak ada yang misterius di Narita, dan juga di Tokyo. Semua rambu ditulis jelas dan rinci dalam bahasa inggris. Halte nomer 11 menunjukkan nomor bus saya, daerah yang akan dituju (Shinjuku), dan jam keberangkatan. Setelah mengantri dengan teratur, bus saya akhirnya datang. Anda tidak akan naik ke bus yang salah, karena petugas halte akan mengecek tiket sebelum Anda naik. Mereka juga akan mengurusi bagasi Anda.

***

Perjalanan sudah menyenangkan sejak bus berangkat. Estetika serba teratur khas Jepang sudah terlihat dari pinggiran kota sampai ketika bus sampai di Shinjuku. Lagi-lagi tidak ada misteri kapan harus turun dari bus: layar LCD akan menuliskan “Shinjuku Station” pertanda saya harus segera turun.

Shinjuku, Tokyo, Japan

Toni tidak nampak disitu seperti kesepakatan kami. Ternyata bus saya datang 30 menit lebih cepat daripada 100 menit yang dijadwalkan. Toni rupanya sedang asik menyantap ramen, jadi menyuruh saya untuk foto-foto dulu. Memotret tempat baru selalu menyenangkan, karena cahaya matahari jatuh dari kemiringan yang berbeda sehingga warna dan bayangan nampak seratus persen baru.

Toni dan Sofi datang 15 menit kemudian. Dia mengajak saya melihat Harajuku. Dari west exit stasiun Shinjuku, saya menuju ke lantai bawah untuk membeli tiket kereta JR Yamanote Line. Tiketnya ¥120 untuk perjalanan dari Shinjuku ke Harajuku, dan saya ditraktir Toni. Lagi-lagi, penunjuk jalan di stasiun itu dapat dimengerti dengan mudah.

Kereta jalur Yamanote berhenti dua setopan berikutnya di Harajuku. Keluar dari stasiun, saya langsung menuju jalan Takeshita. Gang kecil ini sudah sesak dengan muda-mudi yang berbelanja baju dan pernak-pernik busana, atau sekadar ingin eksis. Dengan latar toko pakaian lolita gotik hingga punk, ratusan anak muda Jepang berdandan dengan selera terunik yang pernah saya lihat. Keunikan fashion ini melengkapi jamuan visual yang disajikan oleh arsitektur kota Tokyo sejak saya meninggalkan Narita.

Harajuku, Tokyo, Japan

Berjalan santai bersama Toni dan Sofi di sepanjang gang kecil itu, akhirnya membawa saya ke Omotesando. Sebuah kawasan pertokoan juga, namun tokonya lebih mahal-mahal. Berbeda dengan Takeshita yang acak dan naik turun, Omotesando ditata rapih dengan pohon-pohon Zelkova rindang berjajar teratur di sepanjang jalan.

***

Tujuan berikutnya adalah Shibuya, ikon metropolitan Tokyo tempat Scarlett Johannsen hilang dalam terjemahan, dan Rinko Kikuchi hilang dalam kesendirian di film Babel. Dari ujung jalan Omotesando, saya, Toni, dan Sofi berjalan kembali menuju stasiun Harajuku untuk menuju Shibuya. Sebelumnya, Toni memaksa saya untuk mencicipi crepe khas Harajuku. Dengan harga ¥520, saya memesan crepé rasa caramel cheesecake yang ternyata sangat enak.

Stasiun Shibuya hanya terpaut 1 stasiun dari Harajuku. Sampai di pintu keluar stasiun, saya berjalan pelan-pelan menikmati pengalaman pertama di Shibuya, hingga akhirnya jajaran lampu-lampu dan neon gedung-gedung pencakar langit mewarnai wajah saya.

Di antara ratusan orang lainnya yang lalu-lalang, saya telah berada di tengah perputaran dunia.

Ini bukan tempat wisata yang terasa lebih kecil dan lebih biasa ketika Anda sampai di sana. Ini lebih besar, lebih nyata, namun susah dipercaya. Saya di Shibuya! Saya setara dengan Scarlett Johannsen.

Saya tentu mencoba menyeberang ke ujung lain untuk merasakan bergerak diantara lautan manusia. Ini adalah scramble crossing di mana pada menit tertentu, lampu merah pada kedua jalan akan menyala, semua mobil akan berhenti, dan para pejalan kaki akan menyeberang ke segala arah. Dari atas pergerakan manusia-manusia itu nampak seperti pola fraktal yang kaotik namun menemukan sebuah keteraturan.

Itinerary terakhir di Shibuya adalah berfoto bersama patung Hachiko, anjing jenis Akita yang setia menanti almarhum majikannya di stasiun Shinjuku selama 12 tahun. Bagi orang Jepang, Hachiko adalah simbol kesetiaan dan ketangguhan.

 ***

Setelah melakukan hal-hal wajib lain di Tokyo, seperti membelikan oleh-oleh Sanrio buat Mimit dan menjelajahi deretan jajanan unik di food section department store. Akhirnya saya pulang ke rumah Toni untuk nebeng tidur semalam.

Jalan-jalan di kampung Tokyo, walaupun tanpa sorotan cahaya dan pakaian nyentrik muda-mudinya, tetap menjamu mata dengan bentuk kotak-kotak yang diatur rapih dan bersih. Di dekat rumah Toni ada supermarket menjelang pukul 9 malam mendiskon makanan siap saji mereka. Saya kalap membeli sekotak bento seafood, yakitori, dan sushi unagi.

***

Saya sudah harus bangun pagi jam 4 untuk bersiap menuju Shinjuku diantar oleh Toni.

Saat tiba di bandara Narita sehari sebelumnya, saya sudah mengambil tiket Narita Express di lantai basement B1F Narita terminal 1. Kereta menuju bandara ini memang disarankan untuk dipesan melalui web (harus memakai kartu kredit) jauh-jauh hari sebelumnya, walaupun bisa juga dibeli pada hari H. Harga tiket menuju Narita dari Shinjuku adalah ¥3110. Jika Anda memesan tiket online, tiket harus diambil sehari sebelumnya.

Saya sampai di stasiun Shinjuku pukul 5.00 pagi. Kereta Narita Express atau N’EX datang tepat satu-dua menit sebelum jadwal pukul 6.34, dan meninggalkan stasiun satu-dua menit sesudahnya. Anda tidak perlu berebut kursi, karena nomor kursi sudah tercantum pada tiket.

Sekitar pukul 7.57 Narita Express sampai di bandara Narita. Butuh waktu sekitar 35 menit untuk berjalan melewati security check kereta, security check bandara, dan imigrasi dengan antrian sedang. Jadi untuk penerbangan pagi, Anda harus menyiapkan waktu yang cukup untuk itu, selain waktu untuk check-in dan jalan menuju gate (bisa 15 menit).

***

Pukul 9.15, ANA sudah memanggil-manggil sehingga orang-orang di boarding gate segera membentuk antrian rapi. Saya sudah siap meninggalkan Jepang, dan siap untuk mendatanginya lagi. Dan tentu saja mencicipi Tokyo Banana.

NB: Terima kasih untuk Toni dan Sofi yang telah menjadi host yang menyenangkan dan menjadi teman saya mengalami hal-hal menarik di Tokyo.

Transformers & Battlestar Gallactica Universal Singapore

Universal Studio Singapura dibuka dua tahun yang lalu. Transformers, Battlestar Gallactica, dan Madagascar telah dibuka dua tahun kemudian. Inilah reviewnya.

Setelah kunjungan pertama di Universal Studios Singapore dua tahun yang lalu, theme park ini sudah ketambahan tiga wahana baru: Madagascar, Battlestar Gallactica, dan Transformers. Semua terinspirasi dari film.

Seperti biasa, setelah berjalan menuju ujung Hollywood Boulevard kita bisa belok ke kiri untuk masuk ke Madagascar, atau ke kanan untuk menuju New York. Universal sengaja merancang jalur kiri untuk pengunjung anak-anak dan keluarga, sementara jalur kanan untuk pengunjung dewasa. Saya mengambil jalur kanan.

Transformers Bumblebee di Universal Singapore

Transformers: The Ride

Di jalur kiri kita akan menemui wahana Transformers yang baru saja dibuka awal Desember 2011 lalu. Wahana ini membawa kita ke pertempuran antara Autobot dan Decepticon. Dengan menaiki robot EVAC, pengunjung diberi tugas untuk menyelamatkan elemen Allspark dari incaran Megatron. Dan tak lama kemudian markas NEST akhirnya diserang oleh Decepticon. Bersama Bumblebee dan Optimus Prima, Anda harus menyelamatkan Allspark diantara serangan rudal Megatron dan tenaga luar biasa Devastator.

Saya tidak akan membocorkan spoilernya, tapi ini adalah termasuk wahana theme park terbaik yang pernah ada. Dengan menggunakan teknologi proyeksi 3D high definition dan berbagai efek khusus, kita akan ditarik masuk ke dalam pertarungan robot-robot raksasa di antara rimba-rimba beton kota New York.

Transformers Allspark Universal Singapore

Wahana ini menggunakan teknologi lengan robotik KUKA yang juga digunakan untuk Harry Potter and Forbidden Journey di Universal Florida. Konon Universal memiliki hak eksklusif untuk memakai KUKA selama 10 tahun. Jadi Disney masih harus menunggu sampai 2017 kalau mau membuat wahana seperti Transformers.

Mungkin karena masih pagi dan saya di Universal pada hari Jum’at, maka antriannya cuma 5 menit. Di hari sibuk, antriannya bisa mencapai 90 menit. But it was worth it, dan anak-anak usia 5 tahun ke atas juga bisa ikut menikmati Transformers bersama orang tuanya.

Battlestar Gallactica

Rollercoaster berduel ini rusak dua minggu sebelum kunjungan pertama saya ke Universal.  Setelah penyebab kerusakan itu ditemukan (tempat duduk rollercoasternya lepas), desain rollercoasternya diganti, dan diuji; 13 bulan kemudian wahana ini kembali dibuka.

Universal Battlestar Gallactica

Rollercoaster ini mengisahkan pertarungan antara manusia dan suku alien yang bernama Cylon. Dan sesuai namanya—duelling coaster—pengunjung akan diadu hingga nyaris tabrakan. Anda bisa memilih untuk menaiki Blue Track (alien) atau Red Track (manusia). Keduanya berbeda antrian dan berbeda kendaraan. Pada Red Track, penumpang akan duduk pada gantungan dan dibolak-balik. Sementara pada Blue Track, penumpang “cuma” duduk di atas kereta rollercoaster.

Saya lebih suka yang digantung (Blue Track), karena lebih seru dan menegangkan. Tsah! Yang kurang suka tantangan bisa naik yang duduk saja (Red Track). Menurut Universal, walaupun lebih konservatif, Red Track lebih kuat tarikan G-Force-nya. Tapi tetep, saya lebih suka Blue Track.

Antrian wahana ini sekitar 35 menit di hari Jum’at. Lebih lama daripada Transformers yang 5-15 menit.

Madagascar: Crate Adventure

Setelah memompa adrenalin di Transformers, Battlestar Gallactica, dan The Mummy; penelusuran di Universal Singapore berakhir di wahana Madagascar. Sebagai pendinginan, wahana ini oke juga sebetulnya.

Madagascar Universal Singapore

Madagascar mengkombinasikan istana boneka dengan kisah Madagascar. Alex, Marty, Gloria, dan Melman menjadi hidup ketika penumpang masuk ke wahana ini menggunakan kapal. Kisah yang dibawakan, hampir sama persis dengan film-nya. Anak-anak akan menikmatinya, orang dewasa juga akan menikmatinya untuk merenggangkan otot yang letih ketika hari sudah mulai sore.

Dengan Tiga Wahana Baru

Dengan diluncurkannya tiga wahana baru sejak pertama dibuka dua tahun yang lalu, Universal Studios Singapore sudah sah menjadi theme park yang dapat dikunjungi sehari penuh. Tersedia pilihan thrill-ride yang memuaskan orang dewasa, dan diimbangi pilihan wahana untuk keluarga yang membawa anak-anak. Jika dibandingkan dengan Hong Kong Disneyland yang harga tiketnya hampir sama, Universal menawarkan hiburan yang lebih banyak untuk pelancong Asia Tenggara.

Yang menjadi masalah di Universal Singapura adalah tempatnya yang terlalu kecil, sehingga perpindahan dari area New York ke Sci-Fi City—misalnya—terasa terlalu mendadak. Hal ini tidak terjadi di Hong Kong Disneyland. Dan mungkin karena lokasinya di Singapura, theme park ini terasa kaku dan mengatur. Di Universal, kita tidak diperbolehkan memotret isi wahana, petugas akan selalu memperingatkan dan larangan itu ditulis di sepanjang antrian. Di Hong Kong Disneyland, kita bisa terang-terangan membawa kamera dan petugas bahkan tidak melirik.

Hong Kong Disneyland sangat asyik dikunjungi, namun untuk ongkos yang sama Universal Singapura menawarkan lebih banyak wahana. Hong Kong Disneyland akan lebih memuaskan seteleh Grizzly Rollercoaster dibuka tahun ini, dan rumah hantu Mystic Manor tahun 2013. Namun Transformers masih akan susah dikalahkan, sampai Disney membuat wahana dengan KUKA.

Kuliner Hong Kong dan Macau

Hong Kong adalah surga seafood dan masakan kanton. Di sini Anda wajib mencoba dim sum, mie, bebek panggang, dan congee bubur untuk merasakan kesegaran bahan-bahannya.

Hong Kong adalah surga seafood dan masakan kanton. Seafood yang segar dari samudera itu dimasak dengan presisi kanton tapi memakai bumbu-bumbu yang aromanya kuat. Agak sedikit berbeda dengan masakan chinese yang biasa kita temui di tanah air

Fun Guo, Lin Heung Tea House

Lin Heung Tea House penuh oleh orang setempat. Ini adalah pertanda yang baik, dan memang terbukti demikian. Walaupun pilihan dim sumnya tidak banyak (tidak ada har gau), tetapi semua yang ada enak. Seperti pangsit kukus isi udangnya. Udangnya getas segar, dan ketika digigit mengelurkan sari daging yang sudah diraciki bumbu khas.

160-164 Wellington Street, Central, Hong Kong. Dim sum disajikan dari 6.00 sampai 11.30. HKD 30 per orang.

Wonton with Fresh Sea Shrimp Fillings, Chee Kee

Chee Kee, walaupun tempatnya kecil, adalah restoran yang mendapat satu bintang Michelin (tertinggi tiga bintang). Walaupun kuahnya bukan jenis yang fantastis, tetapi wonton udangnya benar-benar enak berkat suplai seafood yang tak terbatas di Hong Kong. Kelezatan kuahnya akan teraktivasi setelah kita menambahkan kecap asin dan minyak cabe.

84 Percival Street, Causeway Bay, Hong Kong. MTR Causeway Bay, Exit A, belok kanan. HKD 50 per orang.

Cart Noodles with Chicken Wing Tips, Cuttlefish Heads and Turnips, Wing Kee
Wing Kee menyediakan mie dengan sayap ayam yang dimasak empuk, gurita, dan turnip. Kuahnya memakai kecap, manis legit melengkap cita rasa semua isinya. Mengenyangkan dan memuaskan.

27 A Sugar Street, Causeway Bay, Hong Kong. HKD 40 per orang.

Roast Goose, Joy Hing Food Shop
Joy Hing Food Shop menyediakan ayam, bebek, dan angsa pangang ala kanton. Angsa panggangnya empuk dan bumbunya meresap. Sementara kulitnya gurih dan legit membuat satu porsi terasa kurang.

Shop C, 265-267 Hennessy Road, Wan Chai, Hong Kong. MTR Wan Chai Exit A2. HKD30 per orang.

Congee with Fishballs, Beef, and Snakehead Fillets, San Kee

San Kee Congee menyediakan congee (bubur) kanton yang hangat untuk sarapan. Saya memesan bubur premiumnya yang berisi bakso ikan, daing sapi, dan fillet ayam. Setelah kecap asin dituangkan ke bubur untuk mengaktivasi kelezatannya, saya mulai menyantap bubur hangat itu. Fillet ikannya lumat dan bercampur dengan tiap suap bubur. Potongan daging sapinya matang dengan pas, lembut, dan penuh cita rasa. Ini wajib dilengkapi dengan teh susu ala Hong Kong.

Saya makan ini sebelum ke Disneyland, dan tidak merasa lapar sampai malam.

7-9 Burd Street, Sheung Wan, Hong Kong. MTR Sheung Wan Exit A2 Belok Kanan. HKD $30 per orang.

Egg Tart, Lord Stow's Bakery

Lord Stow’s Egg Tart adalah kue khas Macau yang berupa pie crispy dan berisi custard susu yang sangat lembut. Sangat enak dan wajib dicoba baik kalau di Macau atau di Hong Kong. Versi Lord Stow menggunakan kulit pai ala Portugis, tetapi custardnya ala Inggris.

1 Rua da Tassara, Coloane Town Square, Macau. MOP 8 untuk satu egg tart.

Macau Siang Sampai Pagi

Selamat datang di Macau, surga perjudian di Asia Timur. Akan tetapi, kasino-kasino impor dari Las Vegas, semegah apapun bangunan mereka, adalah tambahan yang janggal di negara yang tenang ini.

Largo de Senado

Selamat datang di Macau, surga perjudian di timur jauh.

Bahkan ketika feri dari Hong Kong masih di air lepas, beberapa penumpang sudah sibuk latihan main kartu. Apalagi begitu kau mendarat di pelabuhan, kasino demi kasino tidak akan luput dari pandangan. Akan tetapi, kemegahan impor dari Las Vegas ini hanya menjadi tempelan yang janggal. Perjudian memang penting untuk menjaga denyut turisme Macau (turisme menyumbang lebih dari 80% pendapatan negara), tetapi jantung hati negara kecil ini tetap ada di kota-tuanya: Largo do Senado.

Setelah menurunkan bagasi di pulau Coloane, kami langsung naik taksi ke Largo do Senado. Berbeda dengan Hong Kong yang tergesa-gesa, ritme di Macau lebih tenang dan kalem. Sepanjang jalan dijajari bangunan-bangunan klasik yang nampak belum siap menerima kasino-kasino modern dengan kemegahan artifisialnya.

Kita harus bersyukur Largo do Senado masih selamat dari perusakan arsitektur modern. Ini adalah pusat kota yang dibangun oleh Portugis ketika mereka masih berkoloni di Macau. Jalanannya yang berliku-liku dipaving batu kapur, membentuk motif binatang dan tumbuhan, sangat khas Portugis. Demikian juga bangunan-bangunanya yang dicat pastel kuning, hijau, dan merah jambu. Terasa seperti Eropa, walaupun kebanyakan adalah orang Asia yang tidak bisa membaca alfabet latin.

Largo do Senado, Macau

Dua jam bisa dihabiskan berjalan-jalan menelusuri lika-liku gang sempit Largo do Senado. Selama di jalan, mata akan dimanjakan oleh rumah dan gedung yang bercat pastel; seperti Gereja St. Dominic, Katedral Macau, dan Mansion Lau Ka. Konon mansion milik taipun itu tidak ada dapurnya, karena tugas utama gundik-gundik yang tinggal di situ bukanlah memasak.

Jalan-jalan kami berhenti di reruntuhan katedral St. Paul yang dibangun tahun 1582, dan gerbangnya masih berdiri tegak hingga sekarang. Di dekat katedral itu berdiri Museu de Macau. Seperti Largo do Senado, museum ini memanjakan pengunjungnya dengan beraneka display yang cantik. Replika rumah-rumah Macau, beserta isinya, memberikan gambaran bagaimana rupa Macau tempo doloe.

Satu jam tidak terasa di dalam museum. Ketika kami keluar, langit Macau sudah gelap dan Katedral St. Paul bersinar oleh lampu-lampu di sekitarnya. Kami menjadi saksi adanya Eropa di Asia.

St. Paul Ruins, Macau

Setelah sukses menerobos kerumunan turis yang berlapis-lapis (dan tak lupa membeli suvenir), akhirnya kami mendapatkan taksi untuk pulang ke pulau Coloane. Coloane ada di selatan pulau Macau, mengapit pulau Taipa yang di tengah-tengah. Ketiga pulau itu terhubung oleh jembatan.

Pagi hari di Coloane

Coloane Town Square

Bersyukurlah bahwa Coloane tidak dipadati turis ataupunkasino.

Pagi itu, sambil menghirup udara sejuk, saya dan Hanny sarapan di Coloane town square yang tenang. Setelah membeli egg tart dan croissant dari Lord Stow Bakery, kami mengambil duduk pada bangku kecil di dekatnya. Menikmati pie eggtart yang crispy, dan isi custard susunya yang lembut dan manis; sambil sesekali menyeruput kopi susu panas.

Breakfast at Coloane Town Square

Lord Stow Macau Egg Tart

Coloane mirip seperti Macau ukuran mini. Chapel St. Francis Xavier yang tidak jauh dari town square, sebentuk sewarna dengan Gereja St. Dominic yang kuning. Termasuk jalanannya yang dipaving gaya Portugis. Saya sempat sebel ketika segerombolan anak-anak datang mendekati kapel. Saya tidak mau ketenangan minggu pagi itu rusak oleh turis, apalagi yang anak-anak. Ternyata… mereka mau ke kapel untuk mengikuti sekolah minggu.

Chapel St Francis Xaver, Coloane

Meninggalkan kapel dan air mancurnya, kami berjalan terus menelusuri trotoarnya yang di pinggir pantai; duduk sebentar di perpustakaan Biblioteca; kemudian masuk ke gang-gang kampung yang berwarna warni pastel.

Coloane Village, Macau

Perkampungan itu tenang dan ramah, jauh dari nuansa turis. Bapak-bapak menyapa anggukan saya, sementara ibu yang sedang mencuci kursi tersenyum senang ketika dijepret foto. Sayangnya kuil Kun Lam tidak berhasil ditemukan, karena ketika gang utama itu mencapai ujungnya, kami telah kembali di Town Square Coloane, tempat sarapan yang enak itu.

Dan waktu sudah mendekati 10.00, tanda bahwa harus segera melepas Macau dan kembali ke Hong Kong untuk berbelanja.

A Dog in Coloane, Macau

Hong Kong Disneyland

Salah satu cita-cita saya adalah ke Disneyland. Dan minggu lalu mimpi itu terjadi juga. Ketika kastil Sleeping Beauty terlihat dari jauh, saya hampir menangis.

Sleeping Beauty Castle, Disneyland

Salah satu cita-cita saya adalah ke Disneyland sebelum terlalu tua untuk kekanak-kanakan. Dan minggu lalu mimpi itu akhirnya terlaksana. Tanpa bermaksud lebay, tetapi ketika kastil Sleeping Beauty terlihat dari ujung Main Street, mata saya basah.

Dan Main Street benar-benar seperti yang terbayangkan. Kota midwest Amerika dari awal abad 20 itu terasa hidup, dengan bakery yang terus menerus mengepulkan wangi aroma roti dan tram yang meluncur pelan melintasi jalannya. Tidak ada kesan façade buatan seperti di Universal Singapura.

Main Street USA, Hong Kong Disneyland

Di ujung Main Street, jalan terbagi menjadi tiga. Ini adalah hub Disneyland. Belok ke kiri akan membawa kita ke Adventureland, ke kanan membawa kita ke masa depan di Tommorowland. Sementara kalau lurus kita akan melewati kastil Sleeping Beauty yang menuju ke Fantasyland. Continue reading “Hong Kong Disneyland”