Jam Matahari Saya Rusak

Tinggal di kawasan khatulistiwa seperti Indonesia membuat saya terbiasa mengandalkan matahari untuk menandai waktu. Akan tetapi, di Boston matahari punya aturannya sendiri.

Jam Matahari Sun Clock

Tinggal di kawasan khatulistiwa seperti Indonesia membuat saya terbiasa mengandalkan matahari untuk menandai waktu. Jika sinar matahari jatuh miring, artinya jam 10 pagi. Matahari tepat di atas kepala artinya jam 12. Matahari mulai terbenam, artinya sudah jam 6: saatnya rehat sejenak, merenggangkan otot, dan masuk ke malam.

Dengan kata lain, matahari adalah jam yang handal.

Akan tetapi, di Boston matahari punya aturannya sendiri. Pada saat musim panas, matahari terbenam pukul 8 malam. Di musim dingin, matahari tenggelam jam 4 sore dan langit gelap saat itu juga. Tiba-tiba, matahari tidak lagi handal untuk menandai waktu.

Saya terbiasa mentargetkan segala sesuatu berdasar matahari. Siang pukul 12, pekerjaan setidaknya sudah setengah jalan menuju selesai. Pada maghrib pukul 6 sore, pekerjaan sudah harus tuntas. Di sini, karena matahari sudah terbenam jam 4, saya sering merasa panik karena tugas kuliah belum selesai padahal hari sudah malam. Padahal, yah, baru jam 4 sore.

Demikian juga saat musim panas. Saya sering mendapati diri bersantai-santai padahal waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Dengan kata lain, jam biologis saya sekarang sedang ngaco.

Satu-satunya jalan supaya tidak ngaco, tentu saja memanfaatkan jam tangan untuk melihat waktu.

Di Tempat Baru

Di tempat baru, kita tak ada pilihan selain menjalani hal-hal baru yang sebetulnya asing. Beberapa menyenangkan, beberapa memusingkan. Pembayaran yang serba memakai cek, padahal buku cek baru datang minggu depan, sukses bikin deg-deg-an. Belum lagi ATM yang ternyata tidak bisa dipakai buat transfer. Perbankan di Amerika sedikit aneh bagi orang Indonesia seperti saya, tapi saya rasa aneh itu ada alasannya.

Yang lebih sulit adalah ketika harus membawa diri ke orang Amerika. Orang Boston nampak selalu menjaga jarak, bersalaman hanya ketika kenalan. Sesudahnya, perpisahan dan pertemuan cukup ditandai dengan lambaian tangan sambil berkata “Hi” atau “Bye”. Tidak ada yang salah tentunya, hanya berbeda.

Perbedaan demi perbedaan itu salah satu penyebab pendatang tidak kerasan. Dalam banyak kejadian, pendatang membawa serta banyak dari rumah mereka supaya perbedaan di tempat baru tidak terlalu mencolok. Ini bukan sifat Asia, saya rasa. Para turis bule yang datang bermil-mil ke Vietnam, memilih untuk ngebir di bar-bar Saigon pada malam harinya, bersama bule-bule lainnya. Walaupun begitu, ini juga tidak salah.

Akan tetapi, saya mendapati ini bukan cara yang paling tepat untuk memaksimalkan pengalaman baru. Ketika kita berada di tempat baru, di tengah-tengah kerumunan orang yang asing dengan gerak-gerik ganjil, cara terbaik rupanya adalah menyerap untuk mengetahui mengapa mereka begitu unik. Tanpa bermaksud lebay, tapi dunia kian hari memang semakin kecil. Kita tidak punya pilihan selain menjadi warga dunia—cepat atau lambat. Mudah-mudahan, semakin banyak potongan-potongan dunia yang kita pahami tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tapi juga menguntungkan komunitas kita.

Begitulah. Saya belum memutuskan apa-apa. Cuma menulis untuk menandai blog ini, bahwa di sini baik-baik saja.

Shortfall

Kabar baik pertama datang Februari: status kandidat saya sudah diangkat menjadi principal candidate Fulbright. Namun kabar yang lebih baik datang Maret.

Bulan Februari adalah bulan baik. Saat itu pukul 10 pagi, ketika matahari sedang hangat-hangatnya, email dari AMINEF muncul di inbox menyampaikan kabar baik pertama: status kandidat saya sudah diangkat menjadi principal candidate. Saya pasti akan berangkat sekolah ke Amerika.

Hal pertama yang saya lakukan adalah menelpon Ibu, sebuah pilihan yang sedikit saya sesali di kemudian hari. Andai saya mengatakannya langsung, saya bisa menyaksikan langsung wajah beliau menjadi gembira.

Akan tetapi, bulan Maret adalah bulan yang lebih baik saat berita kedua hadir. Saya diterima di Carnegie Mellon. Universitas terbaik di bidang software engineering. Siangnya, saya pergi ke kantor Ibu. Di teras kantor Ibu yang teduh, saya ceritakan berita Carnegie Mellon. Hal terbaik yang dapat dialami seorang anak adalah melihat senyum orangtuanya menjadi ketawa bahagia.

***

Malam harinya saya memenuhi undangan telepon direktur program Carnegie Mellon University (CMU) untuk berbincang-bincang tentang calon sekolah dan suasana belajarnya. Setelah berbicara 15 menit dan telepon ditutup, muncul rasa was-was, bagaimana jika beasiswa Fulbright tidak cukup untuk sekolah di Carnegie Mellon?

Selang beberapa hari kemudian, rasa was-was itu ternyata benar: AMINEF memberitahu bahwa Carnegie Mellon belum menyediakan keringanan biaya sekolah untuk saat ini. Artinya, ada kekurangan dana atau shortfall yang cukup banyak, dan saya harus mencari dana sendiri untuk menutup shortfall itu.

Tiba-tiba, bulan Maret menjadi bulan yang mendung.

***

Sebetulnya shortfall adalah sesuatu yang lazim terjadi. Teman saya ada yang mengalami shortfall, namun bisa ditutup dengan satu-dua bulan gaji. Beberapa lagi shortfallnya harus ditutup dengan merogoh tabungan senilai mobil atau sepetak tanah kecil. Dalam kasus Carnegie Mellon, semua itu masih tidak cukup.

Untunglah, saya kerja di kantor yang merasa sekolah itu penting. Sedetik saya selesai bercerita soal shortfall CMU ke Pak Djoko atasan saya, beliau langsung tersenyum selebar-lebarnya, kemudian—dengan dua-tiga gerakan sigap—seketika beliau menelpon mencari info beasiswa tambahan dari temannya di Dikti. Pak Djoko juga menghubungkan saya dengan Pak Rektor, yang kemudian menyarankan saya untuk menemui Pak Rachmat.

Pak Rachmat adalah pejabat rektorat yang sering membantu mencari beasiswa. Beliau menyarankan untuk menyusun proposal beasiswa tambahan untuk diusulkan ke Kemendikbud.

***

Proposal itu saya siapkan sebagus-bagusnya dengan sampul warna hijau cerah supaya menarik perhatian tim seleksi beasiswa Kemendikbud. Nampaknya jalan saya sudah ke CMU. Apalagi dari info seorang teman, Kemendikbud memiliki dana beasiswa yang banyak.

Empat belas hari menuju batas akhir yang ditetapkan CMU, proposal beasiswa tambahan masuk ke Kemendikbud. Waktu yang disediakan CMU memang tidak banyak, dan menyiapkan proposal butuh waktu untuk mengumpulkan data dan surat rekomendasi. Akan tetapi, saya harus optimis, karena ini adalah sekolah terbaik. Saya tidak boleh menyerah tanpa berusaha.

Namun, proses aplikasi beasiswa Kemendikbud memang membutuhkan waktu yang tidak cepat.

Setiap sore pukul 5, saat jam kantor Kemendikbud usai dan masih belum ada kepastian, hati saya retak sedikit. Kadang, jika satu hari ada sedikit kepastian, maka hari berikutnya akan disusul dengan berita ketidakpastian. Pak Rachmat sering membantu mengontak Kemendikbud, namun sore demi sore tetap berlalu meninggalkan saya terbenam. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika CMU lepas, karena universitas pilihan saya yang satunya—Northeastern University—juga tak kunjung memberi kabar.

Sore selalu diikuti dengan malam. Malamnya, saya hampir selalu mengecek thegradcafe.com, mencari tahu apakah ada mahasiswa lain yang sudah diterima di Northeastern. Akan tetapi, malam sudah seperti sore yang selalu tidak memberi kepastian: tidak ada info mahasiswa yang diterima di Northeastern. Dan pagipun tidak lebih baik, inbox hanya dipenuhi oleh email yang bukan tentang sekolah maupun beasiswa.

Pada sore terakhir, Pak Rachmat menelpon. Saya sedang di Jakarta. Beliau mengabarkan bahwa masih belum ada kepastian hingga saat itu. Saya berusaha untuk tidak kecewa. Di depan gerai Chanel Grand Indonesia saya duduk, kemudian mulai mengetik email untuk AMINEF.

“Dengan sangat menyesal, saya harus melepas kesempatan belajar di Carnegie Mellon University, karena belum mendapat kepastian beasiswa tambahan.”

Tombol Send ditekan. Saya merasa kosong. Suasana Grand Indonesia tetap ceria.

***

Email soal beasiswa itu datang tengah malam. Setelah sore sebelumnya saya kecewa luar biasa, keberanian untuk menerima berita bagus menjadi nyaris tidak ada. Di kamar gelap, saya membaca email itu sepelan mungkin. Saya masih belum siap membaca berita buruk. Namun, ketika sampai pada paragraf dua, saya merasa tidak yakin. Paragraf dua membawa berita bagus. Saya diterima di Northeastern University di Boston dan University of Minnesota.

Saya ulangi email itu dari atas. Saya tidak salah baca. Bahkan Northeastern memberikan pembebasan SPP, sehingga saya tidak perlu lagi memikirkan shortfall.

Seharusnya, malam itu saya bisa tidur lega. Akan tetapi saya terlalu senang untuk tertidur. Saya akan ke Boston.

***

Perjalanan mencari beasiswa adalah perjalanan yang sejauh-jauhnya berlabuh, hanya mengantar kita ke gerbang. Perjalanan yang sebenar-benarnya akan dimulai ketika kuliah sampai jam 9 malam, hidup berjam-jam di perpustakaan, dan tertidur di antara tumpukan buku-buku, tentu saja jika tidak bergadang mengerjakan tugas sampai subuh.

Namun, dalam perjalanan ini saya tidak berangkat sendirian. Semua dukungan dan motivasi, yang selama perjalanan ini telah disematkan oleh orang-orang terdekat, merupakan pengingat bahwa saya berangkat sekolah bersama dengan semangat-semangat mereka.

Saya rasa, kami yakin bahwa pendidikan akan membawa hal-hal baik menjadi lebih dekat dengan masyarakat.

Disclaimer: semua pernyataan dan informasi yang ditulis dalam posting ini merupakan pandangan saya pribadi, dan tidak mencerminkan pandangan organisasi lain. Pengalaman seleksi Fulbright adalah pengalaman saya pribadi, dan oleh karena tidak mencerminkan kebijakan AMINEF maupun Fulbright, setiap orang dapat melalui pengalaman yang berbeda.

Berita Baik Beasiswa di Inbox

Jaman dulu, pelamar beasiswa pulang ke rumah dgn setengah perasaan antusias mengharapkan surat pengumuman telah tiba. Setengahnya lagi adalah perasaan was-was.

Inbox adalah sesuatu yang membuat pelamar beasiswa merasa dag-dig-dug. Di masa surat menyurat lewat pos masih beken, pelamar akan pulang ke rumah dengan perasaan setengah antusias mengharapkan surat pengumuman beasiswa telah tiba. Setengahnya lagi adalah perasaan was-was andai surat itu membawa berita buruk. Setelah internet maju, tugas membuat deg-degan digantikan oleh email.

***

Setelah wawancara Fulbright yang tidak memuaskan saya, tiba-tiba pada bulan September sebuah email pengumuman mendarat di inbox. Tim seleksi Fulbright telah menjadikan saya sebagai alternate candidate. Email itu juga menerangkan bahwa kandidat alternate akan diberangkatkan jika telah tersedia dana dari pemerintah AS. Artinya, berbeda dengan principal candidate yang pasti berangkat, seorang alternate bisa berangkat dan bisa juga tidak.

Namun seorang alternate tetap harus mengikuti tes akademik (GRE) dan tes bahasa inggris (TOEFL iBT) untuk didaftarkan ke universitas di AS, sama seperti principal candidate.

***

Di bulan Oktober saya diemail AMINEF untuk bersiap-siap mengikuti GRE dan TOEFL dalam satu bulan. Tes bernama GRE itu terkenal sulit, bahkan orang Amerika gentar ketika mendengarnya. Anda akan menjadi orang yang berbeda setelah menyelesaikan GRE, kelakar seorang teman bule.

Dalam kondisi saya, tidak ada pilihan selain harus punya nilai GRE yang mumpuni. Akan sia-sia jika di kemudian hari status saya naik tingkat jadi kandidat principal, tapi tidak diterima di universitas gara-gara GRE yang seadanya.

Satu bulan saya mengulang lagi soal-soal artimatika SMA, menghafalkan kata-kata ajaib yang ternyata ada di bahasa Inggris, dan berlatih menulis esai demi esai argumentasi yang selogis-logisnya dalam bahasa Inggris. Setiap ada waktu kosong saya membaca-baca flashcard, berharap bisa mengusai kosakata baru dalam bahasa Inggris, hingga akhirnya tes itu diadakan tanggal 11 Oktober di Jakarta.

Tes GRE saya diadakan di gedung pencakar langit Jakarta yang kemilau. Interiornya seperti standar kantor Jakarta dengan sekat-sekatnya. Akan tetapi dinding dan pintunya yang berjajar rapi dengan cat warna krem monoton seperti menjamin bahwa tes ini akan dijalankan secara kaku dan keras. Beserta para kandidat Fulbright lainnya, kami duduk berjajar menunggu dipanggil masuk ke ruang ujian.

Semenit menjelang dipanggil, saya menelpon Ibu di Jogja. Saya minta didoakan, tapi sebenarnya saya cuma ingin mendengar suara keluarga di rumah, karena membayangkan senyum-senyum mereka adalah doa yang menenangkan.

***

Akhirnya 3 jam 45 menit kemudian GRE selesai. Tes itu terdiri dari 2 bagian soal bahasa, 3 bagian soal matematika, 1 tugas menulis sanggahan untuk sebuah esai, dan satu lagi menulis esai menyikapi sebuah permasalahan. Itu adalah tes yang melelahkan, tapi nampaknya pekerjaan saya tidak buruk-buruk amat.

***

Hasil GRE dan TOEFL diumumkan melalui email, kemudian, selang beberapa hari AMINEF menyambungkan saya dengan IIE. Ini adalah lembaga di AS yang bertugas mendaftarkan para kandidat S2 Fulbright ke 4 universitas yang paling sesuai dengan kemampuan akademiknya, sekaligus juga sesuai dengan dana yang tersedia. Pasalnya, jika biayanya terlampau mahal dari batas maksimal Fulbright, maka seorang kandidat harus mencari dana tambahan sendiri.

Kepada IIE, saya mengajukan dua univeristas yang menurut saya bagus dan cocok: Carnegie Mellon University di Pittsburgh dan Northeastern University di Boston. Saya memilih Carnegie Mellon karena programnya sangat fokus di bidang software engineering, sangat pas dengan minat saya. Sementara Northeastern memiliki fokus software engineering yang bagus, dan terletak di Boston, kota pelajarnya AS. Konon, nguping di Boston sangat mencerdaskan, karena orang-orangnya membahas hal-hal dengan ilmiah.

Pilihan saya direstui IIE. Berbekal nilai GRE, TOEFL, study objective, personal statement, dan CV, saya resmi didaftarkan di dua universitas itu, plus dua pilihan IIE. Otomatis, saya telah masuk ke tahap berikutnya yaitu menunggu jawaban dari universitas-universitas itu.

***

Menunggu adalah bagian paling rutin dalam perburuan sekolah dan beasiswa. Setelah menunggu undangan wawancara, menunggu hasil seleksi, dan menunggu nilai tes, maka berikutnya adalah saya menunggu pengumuman penerimaan. Pada bulan Februari hingga Mei, para pelamar sekolah menanti dan sekaligus cemas apakah diterima atau ditolak universitasnya. Mengecek email dari handphone selalu menjadi hal yang pertama saya lakukan setelah bangun pagi.

Untunglah pada bulan Februari 2012, sebuah berita baik berhenti pada inbox saya.

***

Dilanjutkan di Shortfall.

Disclaimer: semua pernyataan dan informasi yang ditulis dalam posting ini merupakan pandangan saya pribadi, dan tidak mencerminkan pandangan organisasi lain. Pengalaman seleksi Fulbright adalah pengalaman saya pribadi, dan oleh karena tidak mencerminkan kebijakan AMINEF maupun Fulbright, setiap orang dapat melalui pengalaman yang berbeda.

Mencari Beasiswa

Adalah tidak tepat jika mengira mencari beasiswa dan sekolah adalah petualangan yang gemilang. Ini adalah sebuah perjalanan naik-turun yang sejauh-jauhnya berlabuh, tidak jauh dari mengantar Anda ke gerbang.

Email soal beasiswa itu datang malam-malam. Setelah sore sebelumnya saya kecewa luar biasa, keberanian untuk menerima berita bagus menjadi nyaris tidak ada. Adalah tidak tepat jika mengira mencari beasiswa dan sekolah adalah petualangan yang gemilang. Ini adalah sebuah perjalanan naik-turun yang sejauh-jauhnya berlabuh, tidak jauh dari mengantar Anda ke gerbang.

***

Sekitar setahun sebelum menerima email itu, tepatnya awal Mei 2011, saya mengirim pendaftaran beasiswa Fulbright ke AMINEF. Ini bukan kali pertama saya mendaftar Fulbright. Tahun 2009 dan 2010 saya tidak mendapat jawaban dari Fulbright maupun Chevening, dan diumumkan tidak lolos oleh Erasmus Mundus. Akan tetapi bagi saya tidak ada pilihan untuk terus mencoba, walaupun kepercayaan diri saya turun satu demi satu strip. Tahun 2011, saya mencoba lagi, kali ini menyempurnakan lagi surat lamaran saya (disebut study objective) sambil tentu memohon mantan dosen pemimbing saya untuk menulis surat rekomendasi lagi.

Meneruskan sekolah adalah jalur yang secara alami menarik saya mencari beasiswa. Selain tradisi keluarga, belajar di luar negeri adalah pengalaman hidup yang tidak cuma melengkapi secara intelektual, tetapi memperluas pandangan tentang dunia.

Dan mendekati tenggat dari Fulbright, melalui Fedex paket permohonan beasiswa dikirim ke AMINEF. Saya menyadari, setelah itu perjuangan mencari beasiswa sudah lepas dari bawah kendali. Sebesar apapun saya ingin belajar software engineering di Amerika Serikat, perjuangan saya berhenti di situ. Jika pegawai kurir lalai menghilangkan lamaran, maka saya berhenti di situ. Jika panel reviewer tidak terkesan oleh lamaran saya, maka saya juga berhenti di situ. Pada titik ini susah untuk optimis, apalagi Fulbright adalah beasiswa yang diincar ribuan orang Indonesia.

Bulan Juli tepat di hari ultah saya, sebuah email mendarat di inbox. Judul email itu undangan wawancara. Isinya, AMINEF mengundang saya untuk mengikuti wawancara seleksi beasiswa Fulbright yang akan diadakan 5 hari hari. Optimisme yang saya sembunyikan rapat-rapat itu akhirnya lepas. Saya tersenyum dalam hati sepanjang hari.

***

Wawancara itu diadakan di Hotel Phoenix tepat pukul setengah empat sore. Beberapa hari sebelumnya saya berlatih menjelaskan tujuan belajar saya dalam bahasa Inggris sambil melengkapi diri dengan data dan referensi untuk meyakinkan para panelis pewawancara.

Saya berangkat ke Hotel Phoenix naik becak, karena hari itu, entah kenapa, taksi menjadi susah didapat. Saya ingat suasana sore itu. Sore yang sangat biasa di Jogja. Cahaya kuning matahari agak panas, tidak spesial. Dari ribuan orang yang berada di Jogja detik itu, yang menganggap sore itu spesial mungkin cuma saya.

***

Dari balik jendela kaca ruang wawancara Hotel Phoenix terlihat seorang Mbak yang nampak cas-cis-cus berbicara bahasa Inggris kepada para panelis. Dari balik jendela kaca yang sama, tangan dan lengan para pewawancara terlihat banyak diam, sementara wajah dan ekspresi mereka sama sekali tidak terlihat.

Tak lama kemudian, setelah si Mbak keluar dari ruang wawancara dengan wajah biasa, Pak Piet dari AMINEF keluar dan menjelaskan mekanisme wawancara. Saya diberi waktu 5 menit untuk memperkenalkan diri. Padahal saya menyiapkan perkenalan 10 menit.

Dengan waktu yang terbatas itu, maka saya mengepras narasi perkenalan saya dengan kepanikan bahwa apa yang mustinya tersampaikan justru terlewatkan. Mungkin kelima panelis itu melihat wajah saya menjadi cemas, karena saya yakin denyut nadi saya sedikit lebih dingin.

Setelah perkenalan singkat itu usai, satu persatu para panelis menanyai saya. Dua panelis adalah periset dari UGM dan UNY, dan dua adalah cendekia Fulbright dari Amerika Serikat. Pertanyaan mereka tidak mengada-ada, namun bukan jenis pertanyaan yang bisa dijawab berbusa-busa tanpa berpikir panjang, karena setiap jawaban selalu bisa dikejar dengan pertanyaan lanjutan. Saya berusaha memberi jawaban dan jawaban lanjutan.

Di akhir wawancara, kepala saya sudah panas. Saya tidak yakin akan mendapat beasiswa Fulbright.

Bersambung ke sini.

Disclaimer: semua pernyataan dan informasi yang ditulis dalam posting ini merupakan pandangan saya pribadi, dan tidak mencerminkan pandangan organisasi lain.

Mengungsi dari Merapi

Setelah zona aman diperluas menjadi 20km, kami sekeluarga (minus kucing, anjing, dan ayam bangkok) mengungsi ke selatan, menjauhi Merapi yang menyiram debu dan pasir vulkanik.

Peta radius merapi
Setelah Merapi terus menerus bergeleduk sepanjang malam (4/11), akhirnya pukul 12 malam hujan pasir menyiram atap rumah dengan suaranya yang berdetik-detik. Saya, Mimit, dan Bapak mulai khawatir; apalagi setelah muncul informasi kalau daerah aman diperluas dari 15km menjadi 20km (ditarik dari puncak Merapi).

Ini tentu menakutkan, karena rumah saya sekitar 25km dari Merapi.

Jujur saja, susah untuk bisa tidur nyenyak mendengar suara geleduk merapi yang bersahut-sahutan dengan halilintar. Keadaan diperparah dengan Bapak yang tiba-tiba memutar ringtone perempuan menjerit-jerit, yang membuat saya dan Mimit lari panik ke luar.

Akhirnya tadi malam kami “mengungsi”, walaupun Edo, Tihek, Respo, dan Gembrot peliharaanku ditinggal. Feeling saya awan panas tidak akan sampai rumah malam itu. Sengaja kami tidak memberi tahu Ibu yang sedang di Schiphol, supaya tidak kepikiran. Dengan bagasi terisi tas-tas isi baju, mobil kami bergerak.

Suasana di jalan yang saya lewati terhitung lenggang, walaupun biasanya lebih sepi pada jam segitu. Saya melewati Gejayan, Baciro, Kotabaru, Gondolayu, dan Mangkubumi. Udara diliputi oleh abu-abu halus yang membuat lampu malam berpendar kuning. Jarak pandang sangat pendek, mobil yang disetir Bapak bergerak dengan kecepatan 30.

Tugu Jogja terkena abu vulkanik Merapi

Abu membuat palet kota berubah. Jogja menjadi kontras, warna-warna menjadi lebih tajam, karena permukaan-permukaan ditutup oleh abu putih.

Mobil akhirnya mendarat di rumah Bude. Sambil ngantuk nonton TVOne yang sering ngaco, mulailah muncul berita-berita sedih itu. Sejumlah desa terbakar, dan jatuh korban jiwa. :(

Doa saya untuk semua warga di Jogja, semoga tabah dan tidak patah semangat melewati bencana ini.