Five Things That Prove the Terror Attack in Indonesia is a Failure

Terror group fired gunshots and explosives in downtown Jakarta, Indonesia on Thursday (01/14). Indonesian people’s fights back by taking the attention away from the terrorists.

Terror group fired gunshots and explosives in downtown Jakarta, Indonesia on Thursday (01/14). Indonesian people fight back by taking the attention away from the terrorists, albeit unintentionally.

1. Girls are more interested to the handsome police officer deployed on site

Polisi Ganteng Bom Sarinah

Twitter user Andika Prameshwara said “This cop should be a model” with hashtag #kaminaksir. It means “we hava a crush” in Indonesian. Other female Twitter user expressed her curiosity with the tan slicked-back-hair officer with ironic eyeglasses. She said “I’m very curious about this guy. Any possible identification is highly appreciated.”

Later she expressed her disappointment to find out that the officer is happily married with two kids: “SO it’s true. He’s married with two kids. That’s Indonesia, things can be too perfect ;’)”.

2. Others are more interested with the sling bag worn by the police officer

Debbie Nasta Coach Police Bag

 

Debbie Nasta said on Path that the Coach sling bag worn by the officer is only $800 bucks. Other Twitter user dissected the wardrobe. A leading fashion designer Ivan Gunawan praised the officer’s sartorial style. He said “I love their style. They look really good and really tough. Please protect us, Mr Policeman.”

3. One satay vendor decided stick around and serve satays even if he’s only 300 feet away

Satay Vendor Jakarta Sarinah Terrorist And people continue ordering his delicious char-grilled chicken skewers with peanut sauce. But seriously, Indonesian chicken satay is THAT good: Chicken Satay, Penang
When interviewed by Kompas, the satay vendor decided not to leave the cart because they don’t want their satays (and the peanut sauce) to be looted.

“When we heard the second bomb and saw people ran away, I was going to follow. Then I remember my satays and I decided to stick around,” said Heni.

4. Street vendors are selling goods like nothing actually happened

Cigarette, bottled water, and steamed peanut vendors are making quick bucks from curious people who gathered a few feet away from the bombing site. Including the obviously thirsty police squad.

Jakarta Bomb Peanuts Kacang

Twitter user Frederic A. Ferry said that terrorists in Indonesia are “treated like nuts” which is a slang for “being ignored”.

Twitter user @Bebiben joked if the ISIS commander saw how Indonesians are unaffected by the terror attack, he will cry in tears because his self-worth will drop to zero.

Other Twitter user Mega Simarmata said that bombs can explode, terrorist can hide, but street vendors can only be busy selling their goods.

5. People are more interested to selfie at the attack site

Rather than dwelling in fear and anger, like what the terrorists actually wanted.
jakarta terror sarinah selfie

 

This is one of the largest terror attack in the world’s largest muslim country since 2009. However, people in Indonesia refused to be intimidated by fear and terror. They decided to laugh at the terrorists and move on with their life. WE ARE NOT AFRAID.
Jakarta We Are Not Afraid

Batalnya Konser Lady Gaga dan Apa Yang Bisa Dipetik

Apa yang bisa dipetik dari batalnya konser Lady Gaga di Indonesia?

Tentu saja ini bukan masalah Lady Gaga. Saya bukan penggemarnya. Saya tidak rugi.

Indonesia yang rugi, karena kejadian akhir-akhir ini menunjukkan sikap konservatisme agama sudah terlalu banyak mencampuri  urusan pribadi masyarakat, hingga seolah-olah Indonesia itu negara Islam. Tentu tidak ada yang salah menjadi relijius yang konservatif. Yang menjadi masalah adalah ketika kelompok relijius konservatif meyakini bahwa yang tidak sama dengan mereka harus tidak ada. Adalah salah jika mereka yakin bahwa Indonesia adalah milik mereka sendiri.

Kejadian akhir-akhir ini membuat orang-orang yang tidak sepaham dengan kelompok-kelompok itu merasa tersingkir dari negaranya sendiri. Awalnya cuma yang cukup mendasar seperti Ahmadiyah yang disisihkan, lalu kemudian Syiah. Saya tidak tahu umat seperti apa lagi yang akan disingkirkan. Mungkin muslim yang membaca bukunya Irshad Manji, muslim yang suka Lady Gaga, atau muslimah yang tidak memakai kerudung? Itu baru dari kalangan muslim, belum dari agama lain. Penyingkiran seperti ini susah berhenti jika sudah keterusan.

Saya dan teman-teman yang berpikir merdeka meyakini bahwa kita bisa coexist. Hidup bersama-sama, dengan tidak mencampuri perbedaan-perbedaan di urusan pribadi seperti urusan pakaian dan musik, hingga orientasi seksual dan agama. Indonesia dimulai dari perbedaan-perbedaan, dan semua gerakan untuk menolak perbedaan adalah pengkhianatan.

Akan tetapi pendulum masih bergoyang. Berubahnya hasil akhir kasus-kasus yang menyangkut urusan pribadi ini adalah pertanda bahwa Indonesia masih bisa menjadi lebih baik.

Konser Lady Gaga adalah bentuk lain dari urusan pribadi. Konser itu sedianya akan diadakan di tempat tertutup dari umum. Jika Anda merasa konsernya tidak patut, jangan ditonton. Sesederhana itu.

***

Ada banyak yang bisa kita lakukan. Sebagai masyarakat merdeka, kita harus menghargai bahwa adalah hak FPI dkk. untuk menolak Lady Gaga, Irshad Manji, diskusi agama, dan lain sebagainya. FPI dkk viagra generique acheter. menjadi salah karena mereka sudah mengancam akan membuat kerusuhan. Segala bentuk ancaman adalah pelanggaran pidana, dan keabaian Polri membiarkan FPI main ancam sana-sini menunjukkan bahwa ada yang tidak beres di lembaga itu. Dalih Polri bahwa suatu acara harus batal karena ada ancaman menunjukkan kemalasan Polri untuk melindungi rakyat.

Teman-teman dari Indonesia Tanpa FPI sedang dalam proses menuntut Kapolri karena melakukan pembiaran terhadap FPI dan ormas sebangsanya. Jika Anda peduli dengan masalah ini, Anda bisa ikut menuntut/mensomasi Kapolri karena lembaga itulah yang paling bersalah terhadap perkembangan akhir-akhir ini. Sudah ada 2507 orang yang ikut dalam somasi ini, termasuk saya. Menolak kekerasan FPI bukan tindakan anti islam, karena kita hanya menolak kekerasan dan ancaman yang mereka lakukan.

Yang kedua, kita harus berhenti memilih partai politik yang akhir-akhir ini tidak menunjukkan itikad untuk melindungi perbedaan. Dengan suara mereka yang relatif kecil, kebijakan publik sudah tidak memihak terhadap perbedaan. Apalagi jika partai-partai tersebut memiliki suara mayoritas. Tidak memilih partai, tidak sama dengan jadi golput. Dengan tidak ikut mencontreng, kita justru membiarkan nasib Indonesia diputuskan orang lain.

Saya rasa masih ada harapan untuk berbagai macam orang Indonesia bisa hidup rukun berdampingan, tanpa ada satu kelompok mengalahkan yang lain. Saat ini rasanya memang lebih sulit daripada 5 tahun yang lalu, tapi saya memilih tidak pesimis, karena pesimis itu menular.

Tendangan Satpam Untuk Suster Ngesot

Saya mengira kasus sekonyol ini akan berakhir damai. Ternyata tidak. Ayah suster ngesot akan perkarakan satpam Sunarya yang telah menendang anaknya.

Lihatlah video heroik satpam yang menendang suster ngesot ini. Tenang, ini bukan suster ngesot beneran, melainkan Mega, gadis 20 tahun yang berdandan seperti hantu untuk memberi kejutan ultah temannya. Sang teman memang terkejut. Demikian juga pak satpam Sunarya yang kemudian secara sigap menendang suster ngesot palsu itu.

Saya mengira kasus sekonyol ini akan berakhir damai. Ternyata tidak. Ayah Mega, Mahfud Djabir akan tempuh jalur hukum untuk pidanakan Sunarya.

Walaupun ini adalah perselisihan antara otoritas (Satpam Sunarya) dan perempuan lemah (Mega), susah bagi saya untuk bersimpati kepada Mega. Sunarya menendang Mega karena refleks ada ancaman. Pada malam itu, Mega bukan gadis berpakaian biasa, ia berpakaian suster ngesot dan ngesot di lantai. Mengingat kebanyakan orang Indonesia masih percaya takhayul, refleks Sunarya menendang Mega adalah keberanian, bukan penindasan.

Akan tetapi yang membuat saya paling kecewa adalah ketika membaca tulisan Mega di blognya:

“Saya baru satu kali melakukan hal tersebut dan saya melakukan itu karena sebuah settingan saya dan teman–teman saya.”

“Mengapa satpam tidak datang kepada saya sampai saat ini, salah atau tidak bersalah pun sudah seharusnya Satpam itu datang kepada saya. Hanya sekedar berbicara tidak ada salahnya kan?”

“MORAL DUTY REQUIRES ME TO CALL THE ATTENTION OF PUBLIC. Mengapa? Karena etika dan moral itu mencerminkan bangsa yang baik. Jangan sampai dengan kejadian seperti ini mencoreng hal tersebut. Pertanggung jawaban itu penting, dan kepatuhan hukum ialah salah satu syarat utama.”

Bagaimana mungkin seorang remaja berusia 20 tahun, yang semestinya pikirannya membawa kebaruan dan anti-feodal, justru mempidanakan satpam Sunarya dan menuntut untuk dikunjungi di rumah sakit, setelah semua kekacauan yang ia ciptakan sendiri?

Belakangan saya baca di berita kalau ayah Mega, ternyata sesepuh Pemuda Pancasila, sebuah ormas yang identik dengan preman.

Lihat juga:

Gigit Atlit Thailand, Indonesia Raih Emas SEA Games

Atlit pencak silat INA gigit atlit THA di SEA Games. Mengigit pakai gigi, hingga atlit Thailand mengaduh kesakitan. Bung, ini SEA Games, bukan Twilight.

Atlit Indonesia Gigit Atlit Thailand di SEA Games

Benar. Atlit pencak silat Indonesia (sabuk biru) mengigit bahu atlit Thailand di SEA Games. Mengigit yang pakai gigi. Sampai atlit Thailand mengaduh kesakitan. Bung, ini SEA Games, bukan Twilight!

Dari rekaman video di atas, terlihat kalau Dian Kristanto (sabuk warna biru), pesilat Indonesia, tidak cuma mengigit lawannya dari Thailand, Anothai Choopeng (sabuk warna merah). Dian juga sempat beberapa kali lali ngacir seperti ketakutan, lalu sembunyi di balik punggung wasit.

Dan anehnya, wasit justru memenangkan wakil Indonesia. Apaa??

Ketika diwawancara Yahoo, wasit Jasni Salam dari Singapura hanya memberi tanggapan: “Saya sudah berusaha yang terbaik menjadi wasit di sana”.

Melalui wawancara terpisah oleh Yahoo, ketua penyelenggara cabang pencak silat Bambang Rus Effendi justru mengatakan aksi Dian Kristanto hendaklah dipahami sebagai strategi.

Entah apakah yang dimaksud dengan strategi, lari ngacirnya atau mengigit lawannya. Yang jelas, kemenangan Indonesia sebagai juara umum tidak sempurna.

Tentang Acara Charity Settingan di TVOne

Menayangkan acara charity settingan seperti ini kan membuat kita berpikir, jangan-jangan TVOne menayangkan penipuan yang lain?

Bagi saya yang wajib menjadi sorotan dalam kasus Charity Settingan yang dialami Mbak Silly adalah TVOne.

Dalam acara Apa Kabar Indonesia Malam dan juga VivaNews, TVOne selalu menegaskan bahwa tidak terlibat dalam acara charity tersebut. Stasiun TV merah itu mengklaim hanya di sana untuk meliput.

Namun dari skrinsut percakapan BBM antara Silly dengan pihak TVOne (sumber dari blog mbak Silly), terlihat kalau pihak TVOne sudah tahu bahwa acara charity settingan itu adalah penipuan. Pertanyaannya adalah: jika sudah tahu kalau penipuan, mengapa TVOne tetap menayangkan charity itu?

TVOne akui charity settingan adalah penipuan

Preseden seperti ini kan membuat kita berpikir, jangan-jangan TVOne juga menayangkan penipuan yang lain?