dr. Fidiansjah Tentang LGBT: Salah atau Benar?

Di ILC, psikiater dr. Fidiansyah mengatakan bahwa secara ilmiah homoseksualitas adalah gangguan jiwa. Tulisan ini akan membuktikan benar salahnya ucapan dr. Fidiansyah.

Dalam episode Indonesian Lawyers Club (ILC) berjudul “LGBT Marak, Apa Sikap Kita?”, dr. Fidiansjah mengatakan bahwa homoseksualitas adalah gangguan jiwa. Tulisan ini akan membuktikan benar salahnya ucapan dr. Fidiansjah.

Kronologisnya, pada ILC episode 16/2/2016,  dr. Fidiansjah mengatakan bahwa homoseksualitas merupakan gangguan. Ketika ditanya Karni Ilyas gangguan apa yang dimaksud, dr. Fidiansjah menjelaskan bahwa homoseksualitas adalah gangguan jiwa. Kesimpulan ini dia ambil setelah membacakan buku diagnosis PPDJG III versi “textbook” yang ilmiah. Menurut dr. Fidiansjah, buku versi textbook lebih lengkap daripada buku saku yang dipakai masyarakat.

Untuk menguji benar salahnya dr. Fidiansjah, saya akan membandingkan ucapan beliau dengan buku PPDGJ III versi “textbook”. Pada tanggal 18 Februari 2016, saya mendapatkan PPDGJ III dari perpustakaan Fakultas Psikologi UGM. Buku ini bernomor 616.89 Ind p-c4. Jika pernyataan dr. Fidiansjah sesuai dengan isi buku textbook, maka kita bisa menyimpulkan bahwa dr. Fidiansjah mengatakan kebenaran.

Sampul PPDGJ III Fakultas Psikologi UGM
Gambar 1. Sampul PPDGJ III
PPDGJ III Fakultas Psikologi UGM bagian sisi
Gambar 2. Sampul sisi PPDGJ III

Mari kita mulai. dr. Fidiansjah mengatakan bahwa definisi gangguan jiwa yang dimaksud bisa dilihat di halaman 288. dr. Fidiansjah kemudian membacakan isi halaman tersebut:

Gangguan psikologis dan perilaku yang berhubungan dengan perkembangan dan perilaku seksual …
Adalah …
F66.x01 Homoseksualitas
F66.x02 Biseksualitas

Tertulis jelas!

Sekarang, mari kita bandingkan dengan salinan buku PPDGJ III (Gambar 3) yang dibaca dr. Fidiansjah pada ILC:

PPDGJ_III-288
Gambar 3. PPDGJ III halaman 288

Kita bisa lihat bahwa, entah karena alasan apa, dr Fidiansjah tidak menyebutkan dua baris penting dari buku PPDGJ III:

  1. “Orientasi seksual sendiri jangan dianggap sebagai gangguan”
  2. F66.x00 Heteroseksualitas

Saya memperoleh foto PPDGJ dari dua sumber lain, dan isinya sama dengan PPDGJ III yang saya peroleh dari perpustakaan Fakultas Psikologi UGM.

Terlihat jelas bahwa PPDGJ III mengatakan orientasi homoseksual tidak dianggap sebagai gangguan. Selain itu, buku diagnosis ini menyetarakan homoseksualitas dan biseksualitas dengan heteroseksualitas. Akan tetapi, dr. Fidiansjah tidak menyebutkan 2 kalimat penting itu sehingga homoseksualitas dan biseksualitas seolah-olah adalah gangguan jiwa.

Ini bertentangan dengan pernyataan dr. Fidiansjah bahwa membaca teks itu tidak boleh sepotong-sepotong. Oleh karena ada dua kalimat yang hilang, dr. Fidiansjah tidak nampak mengatakan kebenaran.

Kesalahan ini tidak dapat diterima. dr. Fidiansjah harus mengkoreksi ucapannya kepada publik dan meminta maaf karena tindakannya berpotensi melanggengkan diskriminasi dan kekerasan terhadap kaum marginal homoseksual, biseksual, dan LGBT pada umumnya.

Menariknya, dr Fidiansjah mengutip Einstein untuk menekankan bahwa ilmu harus mengacu kepada ajaran agama: “Ilmu tanpa agama itu buta, tapi agama tanpa ilmu lumpuh”.

Ucapan Einstein tersebut memang sering dipakai untuk melegitimasi bahwa agama harus mengatur sains. Padahal, maksud Einstein, ilmu hanya bisa tumbuh dari orang-orang yang jujur dan peduli. Di sini agama menjadi sangat penting karena mengajarkan kejujuran dan kepedulian.

Oleh karena itu, dr. Fidiansjah harus jujur dan peduli, termasuk ke kelompok minoritas LGBT.

Gambar 4. PPDGJ III halaman 288
Gambar 4. PPDGJ III halaman 289

Tambahan:

  • 19 Feb 2016: Paido Siahaan mengingatkan saya bahwa mungkin dr. Fidiansjah memakai buku teks PPDGJ edisi lama yang masih menggolongkan homoseksualitas sebagai gangguan. Ini menimbulkan pertanyaan mengapa memakai buku kuno dipakai untuk mendiagnosa gangguan jiwa, jika ada buku edisi baru yang mencerminkan perkembangan ilmu pengetahuan? Oleh karena itu, dr. Fidiansjah tetap harus mengkoreksi ucapannya.
  • 20 Feb 2016: UU No 14/2014 tentang Kesehatan Jiwa, Pasal 68.a, mengatakan bahwa ODMK berhak mendapatkan informasi yang tepat mengenai kesehatan jiwa.
  • 21 Feb 2016: PP PDSKJI menyatakan bahwa homoseksualitas bukan gangguan jiwa. Silakan cek butir 2 pada halaman 1. Di situ disebutkan bahwa orang homoseksual adalah orang yang beresiko mengalami masalah kejiwaan, tetapi bukan orang dengan gangguan jiwa.PDSKJI-LGBT-1PDSKJI-LGBT-2

Tujuh hal tentang LGBT yang sebaiknya Anda tahu

Apakah seorang homoseks atau LGBT menderita penyakit atau kelainan? Bagaimana kita menempatkan kelompok LGBT di masyarakat Indonesia?

1. Apakah seorang homoseks atau LGBT menderita penyakit atau kelainan?

WHO menyatakan bahwa “orientasi seksual bukanlah penyimpangan” sejak tahun 1990. Ini bukan pernyataan sembarangan, karena berbagai lembaga ahli telah menyatakan hal yang sama. Contohnya, Asosiasi Psikiater Amerika (APA) telah mencabut homoseksualitas dari daftar kelainan jiwa sejak tahun 1973. Pemerintah RI juga mengadopsi kriteria WHO sejak 1998. Baru-baru ini, tepatnya Februari 2014, Asosiasi Psikiater India menyatakan bahwa “homoseksualitas bukanlah kelainan jiwa”. Bahkan, PPDGJ III, buku textbook diagnosis gangguan jiwa yang dipakai psikiater Indonesia juga mengatakan bahwa:

“Orientasi seksual sendiri jangan dianggap sebagai gangguan”

Selain itu, homoseksualitas adalah orientasi seksual. Orang yang berorientasi homoseksual, tidak serta merta melakukan hubungan seks dengan sesama jenis.

2. Mengapa homoseksualitas bukan kelainan?

Penelitian oleh Evelyn Hooker membandingkan hasil tes psikologi antara 30 pria gay and 30 pria hetero. Ternyata, pakar-pakar tes kelainan jiwa tidak bisa membedakan mana hasil tes pria gay atau hetero. Kemudian Evelyn menyimpulkan bahwa tidak terbukti ada hubungan antara homoseksual dengan kelainan jiwa. Penelitian ini telah diulang oleh berbagai ilmuwan, dan hasilnya menunjukkan hal yang sama: tidak ada hubungan antara homoseksual dengan kelainan jiwa.

Saat ini, pakar psikologi pada umumnya sepakat bahwa ketertarikan dengan sesama jenis adalah variasi normal dari seksualitas manusia dan bukan indikator kelainan jiwa atau kelainan pertumbuhan. Manusia tidak bisa menentukan orientasi seksualnya dan orang gay bisa befungsi normal di masyarakat.

Selain itu, pasangan LGBT juga mengalami ikatan emosi, romantis, dan seksual seperti layaknya pasangan hetero. Contohnya, dua penelitian tahun 2008 menemukan bahwa pasangan LGBT dan pasangan hetero mengalami kepuasan dan memiliki komitmen yang setara.

3. Apakah seseorang bisa disembuhkan dari homoseksualitas?

83 penelitian antara 1960-2007 tidak membuktikan keberhasilan terapi konversi orientasi seksual. Dari kesekian banyak penelitian itu, hanya satu penelitian yang benar-benar sahih. Terapi-terapi tersebut malah terbukti tidak aman karena berefek samping hilangnya gairah seks, depresi, kecemasan, dan keinginan bunuh diri.

Sejumlah agama memang melarang tindakan homoseksual, maka terapi-terapi tersebut hanya layak ditempuh jika terbukti efek sampingnya tidak parah.

Akan tetapi, sebelum kita sibuk soal terapi, ada pertanyaan yang lebih mendasar: jika LGBT bukan penyakit atau kelainan, mengapa harus disembuhkan?

4. Lalu bagaimana dengan cerita-cerita tentang terapi yang membantu LGBT “kembali normal”?

Pertama, seseorang bisa dilahirkan biseksual dengan kecenderungan ke sesama jenis. Dengan demikian terapi ini sebetulnya tidak banyak membantu. Kedua, kalau kita bilang sebuah terapi itu sukses, maka kita harus membandingkan sekelompok orang LGBT yang diberi terapi dan sekelompok orang LGBT yang tidak diberi terapi. Kemudian, setelah selang beberapa waktu, kedua kelompok tersebut dicek secara menyeluruh apakah benar mereka hanya tertarik ke lawan jenis.

Jika langkah-langkah dilalui, kita baru bisa mengatakan bahwa terapi tersebut berhasil.

5. Apa penyebab orang menjadi homoseksual?

Penyebab homoseksualitas telah diteliti sejak 1989, namun ilmuwan belum bisa menyimpulkan mengapa seseorang dilahirkan LGBT. Kesimpulan sementara, ketertarikan dengan sesama jenis adalah kombinasi antara faktor bawaan genetik, hormonal dalam kandungan, dan lingkungan. Misalnya, penelitian tahun 2010 pada semua orang kembar di Swedia (7625 orang responden) menemukan bahwa orientasi seksual banyak terpengaruh oleh faktor genetik dan lingkungan. Penelitian genetika tahun 2014 menguatkan adanya faktor genetik dalam orientasi homoseksual.

Riset tahun 2014 menemukan bahwa ketertarikan terhadap sesama jenis tidak dipengaruhi oleh lingkungan sosial remaja. Riset itu hanya menemukan bahwa lingkungan sosial mempengaruhi hasrat pacaran dan hasrat seks.

6. Apakah legalnya LGBT membuka jalan bagi pedofilia?

LGBT dan pedofilia itu tidak sama, sehingga diterimanya LGBT tidak membuka jalan untuk pedofilia. Hubungan pasangan LGBT adalah hubungan manusia dewasa yang bisa memutuskan sendiri pilihannya. Hubungan pedofilia melibatkan orang dewasa dan anak-anak yang dianggap belum bisa membuat keputusan sendiri. Hubungan pedofilia juga masalah hukum, dan di Indonesia dilarang oleh UU Perlindungan Anak.

7. Apakah homoseks menyebarkan penyakit?

Penyakit infeksi seksual seperti HIV/AIDS menyebar melalui hubungan seksual yang tidak aman. Umpama ada dua orang A dan B. A dilahirkan gay dan berperilaku seks aman, sementara B seorang yang hetero dan berperilaku seks tidak aman. Maka B lebih beresiko menyebarkan HIV/AIDS daripada A yang homoseksual.

Perilaku seks aman meliputi berpantang hubungan seks, tidak gonta-ganti pasangan, atau memakai kondom. Selain itu, resiko penularan HIV bisa ditekan dengan mengkonsumsi Truvada.

***

Penolakan terhadap LGBT adalah konstuksi sosial, mengingat ada banyak masyarakat yang menerima LGBT. Kita diajari untuk membenci LGBT. Memang ada beberapa agama yang mengutuk hubungan seks homoseksual. Tapi Indonesia bukan negara agama. Melarang dan mengatur hubungan LGBT adalah tindakan yang tidak pada tempatnya. Saya setuju dengan pendapat Menristekdikti, Mohamad Nasir, bahwa menjadi lesbian atau gay itu hak individu:


Akan tetapi, konsensus komunitas riset sudah mengakui bahwa LGBT bukanlah penyakit atau kelainan jiwa. Maka, menteri yang mengatur riset dan pendidikan tinggi seharusnya justru melindungi kelompok minoritas LGBT di perguruan tinggi. Bukan malah mendiskriminasi mereka.

Same Love

Baca juga: