Fallacy - December 8th, 2011
“Mohon Hargai Hak Perokok”
Sebetulnya, mereka yang anti asap rokok hanya menginginkan hak untuk bernafas tanpa terganggu asap rokok. Akan tetapi, pro asap tentu punya sanggahan, walaupun sebetulnya agak-agak ngawur, alias fallacious:
“Mohon hargai juga hak kami untuk merokok!”
Kalau kita baca sekilas pasti terasa ada yang salah dalam pernyataan di atas. Memang, masalah merokok bukan cuma hak pribadi, tapi juga hak orang lain untuk sehat. Perokok tetap berhak merokok, selama tidak menganggu orang lain. Jawaban untuk sanggahan seperti ini sebetulnya sederhana:
“Hak untuk merokok dapat dilakukan di rumah masing-masing, atau di outdoor.”
Pernyataaan seperti itu masih tetap bisa didebat lagi oleh seorang pro asap. Misalnya:
“Demikian juga yang ingin bernafas tanpa asap rokok, dapat di rumah atau outdoor!”
Argumen di atas juga sesat, karena ini sekali lagi bukan hak merokok, tapi hak untuk sehat. Menyanggahnya gampang:
“Apakah kesehatan perokok terganggu jika bernafas dengan udara yang bersih asap rokok?”
***
Sesaat, perdebatan di atas nampak sudah selesai. Namun sebetulnya masih bisa didebatkan, diperluas, dibolak-balik lagi. Misalnya, seorang pro asap mungkin akan menyanggah seperti ini.:
“Kalau begitu, bis kota juga harus dilarang karena mengeluarkan asap.”
Kalau sudah begini, maka perdebatan sudah melebar. Mungkin sengaja dibuat lebar, mungkin tidak sengaja. Namun akibatnya diskusi jadi tidak fokus dan tidak ketemu titik solusinya. Ada banyak sanggahan, misalnya bahwa pemerintah juga sudah mulai mengatur kendaraan bermotor yang asapnya mengganggu, dan banyak lagi.
Akan tetapi untuk argumen yang konyol, sayang rasanya kalau tidak dipakai buat main-main sedikit:
“Apakah Bung juga mau lari-lari di jalan sambil dinaiki 30 orang,” kata anti asap rokok.
“Lho Anda jangan memperluas isunya dong!”
“Kan Anda dulu yang memperluas, saya jadi terbawa Anda”
Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Padahal masalah ini sebetulnya gampang, perokok boleh merokok di mana saja asal semua asapnya dihisap sendiri.





Sesat logika ini disebut plurium interrogationum. Atau pertanyaan jebakan/jamak, di mana premis kedua menjebak penjawab menyetujui premis pertama. Contoh lainnya:
Maka lengkaplah pertanyaan pendek Nuh, menjadi sesat combo 3.