Herman Saksono

Indonesia matters

Blog & Socmed


Blog & Socmed - May 21st, 2013

Narsisisme Melalui Social Media

Social media in real life

Apakah memposting segala sesuatu ke social media itu perilaku narsisisme? Weits nanti dulu viagra espagne prix. Ingat, ada banyak sekali interaksi di socmed yang tidak kita temukan di dunia nyata. Sesuatu yang narsistik di dunia nyata, belum tentu narsistik di social media. Eric Gilbert dalam papernya menunjukkan contoh seperti ini:

Triad and Room

Gambar sebelah kiri adalah hubungan tiga orang di Twitter, dan gambar sebelah kanan adalah ekivalensinya di dunia nyata. Di dunia nyata, A C dipisahkan kaca, B C dipisahkan cermin satu arah, dan A B dipisahkan tembok. Interaksi seperti itu tidak lazim ada di dunia nyata, tetapi wajar di Twitter.

Menariknya, interaksi di atas baru satu dari 16 jenis interaksi tiga orang (triade) yang dipetakan oleh Ove Frank. Gilbert menemukan beberapa triade lain yang “bermasalah”. Dari keenamnya, Twitter baru memperbaiki triade nomer empat. Dulu kalau Ani dan Cici follow Budi, Ani bisa melihat mention Budi ke Cici, namun tidak melihat balasan Cici ke Budi. Akibatnya ada bagian percakapan yang hilang. Twitter memperbaikinya dengan tidak menampikan twit Budi yang memention Cici.

Triads

Penelitian Gilbert ini baru menyentuh design problem pada triade. Belum ada penelitian yang menyentuh design problem pada interaksi empat, lima, enam, atau tak terhingga orang. Oleh karena itu masih banyak interaksi-interaksi yang belum dikenali.

Jadi, sebetulnya memang wajar jika orang kemudian tidak nyaman masuk ke social media. Selain karena harus melalui medium dan teknologi yang baru, banyak interaksi di dalamnya yang belum pernah kita lihat di dunia nyata. Yang harus ditahan adalah terburu-buru menyimpulkan karakter social media, karena ini adalah dunia baru yang kita semua juga masih meraba-raba.

Peliknya, situs social networking semacam Twitter dan Facebook adalah sistem tertutup. Kita tidak bisa secara kolektif ikut menentukan bentuk interaksi di situs social networking. Semua ada di tangan Twitter dan Facebook. Apakah ini berarti masa depan interaksi manusia ditentukan hanya oleh segelintir perusahaan teknologi?

Blog & Socmed - May 14th, 2012

Internet at Liberty 2012 di Washington

Era awal Internet diisi oleh orang-orang biasa. Grassroots. Mereka mencerminkan suara masyarakat yang jujur, berpendidikan tinggi, dan terbuka. Tidak banyak yang menyadari bahwa Internet yang di kala itu masih bayi, kelak akan menjadi medium yang mempercepat perubahan sosial, mengubah paradigma bisnis, dan menggeser kekuatan politik.

Jaman sekarang Internet telah dipahami betul potensinya. Mulai dari hal-hal positif yang akan dibawanya, dan kerugian yang dapat ia ditimbulkan. Industri rekaman AS adalah yang termasuk menyadari kerugian yang ditimbulkan file sharing internet, dan mereka menginginkan Internet berubah melalui SOPA. Rumah Sakit Omni menyadari betapa mudahnya cerita buruk tentang pelayanan medis mereka menyebar dengan kecepatan berlipat-lipat di Internet. UU ITE menghukum pencemaran nama baik dua kali lebih berat dibanding KUHP, karena DPR menilai pencemaran nama baik di Internet lebih mudah menyebar.

Akan tetapi, mengubah internet berarti mengubah sifat alamiahnya yang tidak terpusat dan merdeka. Kita sudah memiliki internet dan menikmati kemerdekaannya. Mengapa mereka yang ketinggalan kereta ingin mengubah internet? Mengapa bukan KUHP yang direvisi untuk menghapus pasal karet pencemaran nama baik? Haruskah negara memblokir situs internet, apakah tidak bisa masyarakat menentukan sendiri apa yang ingin mereka lihat dan apa yang tidak?

Saya berharap bisa memperoleh diskusi untuk permasalahan-permasalahan itu dalam konferensi Internet at Liberty 2012 di Washington DC tanggal 23-24 Mei 2012 ini. Konferensi ini akan mempertemukan aktivis global dengan kalangan akademisi, bisnis, media, pemerintah dan NGO melalui seminar dan perdebatan yang nampaknya akan sangat seru. (Presentasi PowerPoint dilarang dalam acara ini).

Konferensi ini akan mengeksplorasi cara-cara kreatif untuk memecahkan batas-batas kemerdekaan berekspresi online; hubungan yang kompleks antara teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan hak asasi manusia; cara-cara warga dan pemerintah menggunakan internet; peran penengah internat; serta isu-isu penting kebijakan dan hukum, seperti privasi dan cybersecurity.

Saya akan melaporkan catatan-catatan saya selama mengikuti Internet at Liberty sepulang dari Amerika Serikat. Selama konferensi saya akan mencoba melivetweet melalui akun Twitter @hermansaksono. Jika ada pertanyaan dan isu yang bisa saya diskusikan di sana, silahkan dikirim pada di bagian komentar posting ini. :)

DISCLOSURE: Kehadiran saya dalam Internet at Libery disponsori oleh Google Inc. Google tidak meminta saya untuk menulis tentang acara ini.

Blog & Socmed - November 21st, 2011

Deklarasi ASEAN Blogger 2011

“Suara itu tak didengar sama sekali. Dua moderator di depan tak mendengarnya. Mereka sibuk mengubah beberapa kata yang terlihat di layar tanpa mengacuhkan apa yang aku sampaikan. Pendapatku diabaikan.”—Anton Muhajir, soal penyusunan naskah deklarasi blogger ASEAN.

Bagi yang belum tahu, satu dari dua moderator itu adalah saya. Dan satunya lagi adalah Nona Dita, yang berlaku sebagai notulen rapat sidang deklarasi ASEAN Blogger di Bali.

Saya bisa membayangkan kekecewaan Anton, karena saya juga kecewa tidak bisa memfasilitasi keinginan semua peserta sidang.

Sebelumnya, perlu saya jelaskan bahwa ketika Anton mengangkat tangan untuk berbicara, wakil dari Kamboja, Anirudh, sudah lebih dulu mengangkat tangan. Saya harus mendahulukan Anirudh. Harapan saya, Anton bisa mengutarakan pendapatnya setelah itu. Namun beberapa saat kemudian, saya lihat Anton sudah tidak di tempatnya.

Pada kali kedua Anton mengangkat tangan untuk bicara, waktu sudah habis. Namun karena Anton memaksa, saya merasa bahwa apa yang akan disampaikan sangat penting, sehingga saya persilahkan. Dan memang penting. Namun usulan Anton untuk mengganti deklarasi dari “Deklarasi Blogger ASEAN” menjadi “Deklarasi Blogger Asia Tenggara” menurut saya tidak tepat. Tentu saja masih terbuka untuk diskusi ini, tapi karena saya sendiri dikejar-kejar panitia agar sidangnya segera diselesaikan, maka dengan sangat terpaksa gagasan dari Anton tidak dapat dimasukkan.

Peserta ASEAN Blogger Conference

Proses Deklarasi

Memang dari proses yang tidak sempurna menghasilkan deklarasi yang tidak memuaskan. Sewajarnya, draf naskah deklarasi memang sudah diterima peserta minimal sehari  sebelum konferensi. Dengan demikian, para wakil bisa mengkonsultasikan butir-butir deklarasi dengan kelompoknya. Namun, di lapangan, naskah draf baru disusun oleh Pak Haz Pohan setelah diskusi kelompok peserta konferensi. Rencananya, naskah itu kemudian akan diplenokan bersama seluruh peserta konferensi. Continue reading …