Prabowo

Soal penculikan aktivis ‘98, ada dua hal yang kita tahu pasti. Pertama, 23 aktivis telah dihilangkan paksa. 9 diantaranya dilepas, 13 masih hilang, dan 1 ditemukan tewas. Kedua, buntut dari kejadian tersebut, Prabowo Subianto diberhentikan dari TNI (dulu ABRI).

Lewat artikel ini, saya ingin mengembangkan diskusi tentang Prabowo supaya kita tidak sekadar berdebat apakah Prabowo menculik atau tidak menculik. Saya mengumpulkan dan menyatukan kesaksian Prabowo dan 7 orang korban penculikan: Andi Arief, Pius Lustrilanang, Nazar Patria, Rahardjo Waluyodjati, Mugiyanto, Aan Rusdianto, dan Faisol Reza. Dengan demikian kita mendapat gambaran yang terpadu tentang kejadian penculikan ‘98.

Data menunjukkan bahwa Prabowo memang terlibat dalam penculikan 9 aktivis. Ketika dalam penyekapan, beberapa korban sempat berkomunikasi dengan 3 aktivis yang hilang. Walaupun begitu, Prabowo merasa penculikan terhadap orang-orang Indonesia merupakan tindakan yang secara moral tidak bersalah. Di akhir artikel, saya mendiskusikan bagaimana kita seharusnya memaknai keterlibatan Prabowo.

Keterlibatan Prabowo dalam Penculikan

Pada wawancara dengan majalah Panji edisi 27 Oktober 1999, Prabowo mengaku bertanggung jawab atas penculikan 9 aktivis pro-demokrasi. Awalnya, Prabowo menerima daftar pencarian 28 orang aktivis radikal. Pimpinan TNI juga mengetahui keberadaan daftar tersebut.

“Saya memang terima satu daftar untuk diselidiki. Jadi, untuk diselidiki. Bukan untuk diculik.”

Testimoni Prabowo juga menyiratkan bahwa daftar tersebut berasal dari Suharto:

Majalah Panji: Anda tidak tanya pada Pak Harto daftar itu didapat dari mana?

Prabowo: Tentu saya tanya.

Dalam perkembangannya, penyelidikan itu berubah menjadi penghilangan paksa. Korban-korban mengaku diculik, diteror, dan disiksa. Prabowo mengatakan bahwa menculik adalah bagian dari menyelidiki, namun kemudian dia nampak enggan untuk bercerita lebih lanjut.

“Dalam operasi intelijen itu kan biasanya kita ambil, ditanyai, dan kalau bisa terus dia berkerja untuk kita. Kan begitu prosedurnya. Sudahlah, itu kesalahan teknis yang kemudian dipolitisasi.”—Prabowo

Dari kesembilan korban penculikan yang dikembalikan, tiga diantaranya—menurut Prabowo—adalah salah tangkap. Ketiga orang tersebut sekarang bergabung dengan Gerindra.

“Andi Arief dkk., itu ada dalam daftar pencarian orang (DPO), yang diberikan polisi. Yang tiga, Pius Lustrilanang, Desmond J. Mahesa, dan Haryanto Taslam, itu kecelakaan.”—Prabowo

Kecelakaan salah tangkap oleh tim Prabowo ini juga muncul di kesaksian Nazar Patria, salah satu aktivis yang diculik. Ketika disekap dan ditutup matanya, ia mendengar bahwa penculik telah mendapatkan orang yang benar dan mereka tidak salah tangkap. Ini menegaskan bahwa operasi tersebut sempat salah tangkap.

[Dia] aktivis SMID, kita nggak salah tangkap!.

Perlu diketahui bahwa Prabowo hanya mengaku bertanggung jawab atas penculikan 9 aktivis. Ia lupa dan tidak yakin apakah 13 aktivis yang hilang juga termasuk ke dalam daftar tersebut.

“Saya lupa [apakah orang-orang yang hilang itu ada di dalam daftar]. Mungkin tidak. Itu daftar kan kalau saya tidak salah didapat dari rumah susun Tanah Tinggi. Jadi macam-macam nama orang ada di situ.”

Namun, salah satu korban penculikan yang dikembalikan mengatakan sebaliknya. Mugiyanto, yang diculik 13 Maret 1998, mengaku bahwa selama disekap di markas Kopassus di Cijantung, ia mengetahui Herman Hendrawan ada di tempat yang sama. Hingga saat ini Herman masih hilang.

“Ketika mereka [orang-orang yang diculik] di sel, mata mereka dibuka. Jadi mereka bisa melihat, mereka bisa saling berkomunikasi dengan orang di sel sebelahnya. []. Misalnya, Faisol Reza bisa berkomunikasi dengan orang sebelah. Orang itu nyanyi lagu Widuri. Orang itu adalah Herman Hendrawan.”—Mugiyanto

Keberadaan orang hilang di Cijantung juga diakui oleh Pius Lustrilanang. Ia juga mengaku sempat berkomunikasi dengan Herman Hendrawan, Yani Afri, dan Sonny. Dia juga mendapat informasi kalau Dedi Hamdun juga ada di tempat penyekapan. Keempat orang tersebut hingga saat ini juga masih hilang.

“Di tempat penyekapan itu, saya juga sempat berkomunikasi dengan Herman Hendrawan, Yani Afri, dan Soni. Ketiga orang ini sampai saat ini belum diketemukan. Dari mulut Yani Afri dan Soni, saya mendapat informasi bahwa Dedi Hamdun juga disekap di tempat tersebut.”

Pius kini menjadi anak buah Prabowo di Gerindra. Kedua pengakuan ini memberi kesan bahwa tim di bawah Prabowo tidak sekedar menculik 9 orang yang kemudian dikembalikan, namun juga menahan beberapa aktivis yang kemudian hilang.

Korban Penculikan Disiksa

Dari pengakuan Andi Arief, Rahardjo Waluyojati, Mugiyanto, dan Aan Rusdianto; selama proses penyelidikan mereka diperlakukan tidak manusiawi. Rahardjo sempat dipukul, disetrum, dan juga disuruh tidur di atas balok es:

“Aku dibawa ke sebuah ruangan dan seluruh pakaianku dilepas hingga telanjang bulat dan dipaksa tidur tengkurap di atas balok es selama kurang lebih 10-15 menit sambil menanyakan kepadaku bagaimana cara menemukan Andi Arief”—Rahardjo Waluyojati

Aan dan Mugiyanto juga mengalami penyiksaan dan ancaman yang serupa.

“Setrum, pukulan, todongan senjata laras panjang, memaksaku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.”—Aan Rusdianto

“Saya dipukul di perut berkali-kali dan pada muka sampai saya terjatuh. [] Saya mulai diinterogasi dengan cara disetrum dengan alat setrum yang suaranya seperti cambuk. Penyetruman ini dilakukan pada seluruh bagian kaki saya, terutama pada bagian sendi lutut.”—Mugiyanto

Ketika Andi berhasil ditangkap, ia melihat Rahardjo dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Hilyati, kakak perempuan Andi menjelaskan bahwa mata saudaranya ditutup dan delapan sempat pistol ditodongkan di badannya. Ia tidak bisa buang air maupun shalat. Hilyati mengatakan bahwa penculik mengancam akan membunuh Andi dengan mengatakan:

Ajal kamu di tangan Tuhan. Tapi bisa, ajal kamu di tangan saya.”

Mengapa Prabowo melakukan tindakan itu?

Prabowo tidak memberi penjelasan mengapa dia bisa salah menafsirkan perintah sehingga tugas menyelidiki berubah menjadi penculikan. Padahal, testimoni di media menggambarkan Prabowo sebagai tentara yang berprestasi tinggi dan disiplin mengatur bawahannya. Prabowo sendiri merasa tindakan penculikan itu tidak salah secara moral karena aktivis-aktivis tersebut berniat buruk.

Secara moral, saya tidak salah karena orang-orang itu berniat berbuat kejahatan yang bertentangan dengan hak-hak asasi manusia.

Lebih lanjut, Prabowo merasa bahwa penculikan tersebut diperlukan untuk menjaga keamanan dan demokrasi:

Informasi soal rencana pengeboman itu didapat dari interogasi, bukan kita ngarang. Dapat keterangan dari mereka. [] Jadi, jangan salah, untuk menegakkan demokrasi, kita justru harus menjaga keamanan.”—Prabowo

Namun, Faisol Reza yang juga disekap bersama Andi dan Rahardjo membantah bahwa mereka akan melakukan teror. Faisol menuding isu bom justru dihembuskan oleh militer.

“Pihak militerlah yang menyebarkan isu bom [] Kami cuma korban.”—Faisol Reza

Buntut dari Penculikan Aktivis

Dewan Kehormatan Perwira (DKP) mengatakan bahwa Prabowo bersalah atas penculikan sembilan aktivis ‘98. Bahkan, DKP menyatakan Prabowo mengakui penculikan tersebut padahal tidak ada instruksi penculikan dari Panglima TNI (Tempo). Ketua Dewan Kehormatan, Jenderal Subagyo mengatakan bahwa “Prabowo salah menafsirkan perintah komando” sehingga “terjadi penculikan”. Agum Gumelar, yang juga anggota DKP, mengatakan bahwa tidak ada perintah penculikan dari atasan Prabowo:

Perintah melakukan bawah kendali operasi (BKO) ternyata tidak ada. Dan Prabowo melakukannya [penculikan] di luar kewenangannya.

Kemudian DKP memberi rekomendasi agar Prabowo untuk diberhentikan. Tim Gabungan Pencari Fakta yang dibentuk pasca Mei 1998 mengeluarkan rekomendasi untuk membawa Prabowo ke pengadilan militer.

Pada akhirnya, Prabowo tidak dibawa ke pengadilan militer. Ia hanya diberhentikant. Dalam pengakuannya di majalah Panji, Prabowo memilih tidak mempermasalahkan putusan itu karena tidak ingin mencemari Suharto dan TNI (dulu ABRI):

Majalah Panji: Anda tidak mau nuntut soal pemecatan itu karena tidak ingin mempermalukan Pak Harto?

Prabowo: Benar, terutama itu. Juga tak ingin mencemari institusi ABRI, khususnya TNI AD.

Adalah anak buah Prabowo, Bambang Kristiono yang maju di mahkamah militer dan mengaku sebagai dalang penculikan. Mahkamah memecat dan menghukum penjara Bambang dan keempat anggota Tim Mawar. Namun, menurut Mantan Komandan Puspom ABRI Mayjen CHK Syamsu Djalaluddin, S.H., tidak mungkin Bambang menculik tanpa komando atasan. Di artikel Tempo Mengusut Nurani Tim Mawar edisi 29 Desember 1998, dituliskan pendapat Syamsu:

Logikanya, kata Syamsu lagi, tidak mungkin kesebelas anggota Kopassus itu melakukan operasi secara sendiri-sendiri, tanpa perintah komandannya, kecuali saat itu mereka adalah pasukan yang melakukan desersi.—Tempo, Mengusut Nurani Tim Mawar edisi 29 Desember 1998

Syamsu menegaskan bahwa mereka tidak desersi, sehingga pasti ada komando dari atasan Bambang:

Saat itu, mereka tidak desersi, sehingga sudah pasti ada yang memerintahkan mereka—Syamsu Djalaluddin

Pada saat itu, atasan langsung Bambang adalah Chairawan, yang secara langsung bertanggung jawab kepada Prabowo, Danjen Kopassus

Pasca pemecatan, Bambang Kristiono bekerja di bawah bisnis Prabowo. Dalam majalah Tempo edisi 13-19 Mei 2013, disebutkan bahwa Bambang menjabat sebagai direktur utama PT. Tribuana Antarnusa, yang merupakan anak perusahaan bisnis Prabowo. Sebelumnya, dalam pemberitaan ABC News Australia tentang Prabowo pada tahun 2009, Bambang Kristiono disebut sebagai tangan kanan Prabowo.

Prabowo memang dikenal sering memperkerjakan mantan anak buahnya. Darmanto, salah satu anak buah Prabowo menceritakan ketegasan dan juga kepedulian atasannya terhadap bawahannya:

Pak Prabowo sangat tegas, disiplin dan keras jika ada anak buahnya yang salah [] Pak Prabowo selalu memikirkan kesejahteraan bawahannya”—Darmanto

Prabowo yang dikenal keras terhadap bawahan yang lalai, nampak tidak bersikap keras terhadap Bambang Kristiono. Setelah dipecat oleh ABRI, Bambang kini menjadi orang kepercayaan Prabowo.

Apakah artinya?

Pengakuan-pengakuan di atas menggambarkan bahwa Prabowo terlibat dalam penculikan aktivis. Prabowo mengaku 9 aktivis yang diculik telah dibebaskan, tapi dia nampak tidak tahu menahu soal 13 aktivis yang hilang dan 1 yang ditemukan tewas. Namun, pengakuan Pius dan Mugianto menandakan bahwa sejumlah aktivis yang hilang ada kaitannya dengan operasi di bawah Prabowo.

Apakah penculikan tersebut dapat dibenarkan? Bagi Prabowo, orang-orang di dalam daftar itu membawa ancaman teror, sehingga secara moral tindakan penculikan itu benar. Tuduhan tersebut dibantah oleh Faizol Reza. Menurut Faizol, ancaman teror itu hanyalah rekayasa militer.

Penculikan itu sendiri bertentangan dengan Statuta Roma Mahkamah Kriminal Internasional. Statuta tersebut menggolongkan penghilangan paksa—penculikan—sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Korban penghilangan paksa biasanya diculik, ditahan tanpa perintah pengadilan, dan disiksa selama interogasi. Beberapa dibunuh dan jenazahnya dibuang sehingga tidak dapat diketemukan. Walaupun operasi penghilangkan paksa kadang bertujuan untuk menjaga keamanan, pada akhirnya operasi semacam itu melindungi HAM dengan melanggar HAM. Pius Lustrilanang disetrum dan dibenamkan ke air, padahal dia hanyalah korban salah culik. Operasi semacam ini juga tidak cocok untuk negara demokrasi karena memberangus lawan politik dan menciptakan perasaan ketidakpastian dan ketakutan pada masyarakat luas.

Bagaimana menurut saya?

Dari pengakuan Prabowo, operasi penculikan ini diketahui oleh elit TNI di atasnya. Akan tetapi, tidak cukup petunjuk yang mengarah ke situ. Jika dugaan tersebut benar, maka Prabowo bukan satu-satunya petinggi TNI yang terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan ini. Namun tidak berarti bahwa Prabowo lepas dari kesalahan, karena dia bisa menolak operasi tersebut atas alasan kemanusiaan. Ada kesan bahwa dalam situasi konflik nilai, Prabowo tidak mengutamakan aspek kemanusiaan.

Ini menggambarkan Prabowo sebagai sosok yang lebih kompleks dan tidak lagi hitam putih. Di satu sisi ia acapkali menggambarkan kecintaannya terhadap Indonesia. Di lain sisi ia merasa kejahatan terhadap kemanusiaan pada orang-orang Indonesia adalah tindakan bermoral. Kita sering mendengar bahwa sebagai perwira TNI ia pemimpin yang brilian dan berdisiplin tinggi, namun dalam tekanan situasi reformasi ‘98, kita mengetahui tim di bawah kendalinya bisa bergerak di luar kendali dan melakukan tindakan yang jahat dan tidak manusiawi.

Oleh karena pandangannya yang kontroversial terhadap penculikan, rencana Prabowo menjadi presiden menjadi problematik karena membuka sebuah pertanyaan: apakah dalam pemerintahannya Prabowo akan merestui penculikan dan penganiayaan terhadap warga negara Indonesia? Lebih lanjut, ia dan timsesnya harus menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti:

  • Mengapa kelalaian penculikan oleh Tim Mawar bisa terjadi pada sebuah organisasi militer yang biasanya punya rantai komando yang kuat? Bagaimana Prabowo bisa mengantisipasi masalah yang sama dalam pemerintahan sipil yang relatif lebih egaliter?

  • Prabowo yang memilih diam daripada mencemari Suharto dan TNI membuka rasa penasaran apakah Prabowo akan memprioritaskan korps dan keluarganya di atas kepentingan rakyat banyak?

Diskusi tentang Prabowo memang sebaiknya lebih fokus ke karakter dan nilai-nilai kemanusiaannya terutama jika kita hendak memilihnya sebagai presiden.

Mengurai Keterlibatan Prabowo Dalam Penculikan Aktivis ‘98
Tagged on:

270 thoughts on “Mengurai Keterlibatan Prabowo Dalam Penculikan Aktivis ‘98

  • May 31, 2014 at 9:33 am
    Permalink

    Sepertinya dapat disimpulkan bahwa tindakan anak buah prabowo yg mengaku bertanggung jwb atas penculikan pelaku kerusuhan mei itu sepola dengan tindakan prabowo menolak memberikan keterangan mengenai hal itu karena tidak mau mencemarkan nama baik soeharto dan tni ad. Disini dapat dilihat polanya sama, loyalitas pada atasan dan garis komando yg kuat antar tni. Lalu kenapa masih sibuk menyalahkan prabowo atas tindakan penculikan bila jelas-jelas hal tersebut merupakan perintah dr atasannya? Apabila ingin mencari dalang runtut lah sampai tuntas. Setau saya, garis komando dalam tni sangat kuat dan strict sehingga memberikan kewajiban untuk menuruti smua perintah yang ada dari atasan, tidak terkecuali. Dalam masa-masa kampanye ini baiknya kita memandang segala artikel dengan bijak dan tidak menghakimi.

    Reply
    • May 31, 2014 at 3:49 pm
      Permalink

      Dalam sumpah prajurit, taat pada hukum itu lebih utama daripada taat pada atasan ataupun korsa (corps). Kita lihat di sini Prabowo tidak menaati sumpahnya sebagai prajurit, krn dia memilih lebih taat pada atasan dan korsa ketimbang taat pada hukum.

      Reply
  • May 31, 2014 at 12:12 pm
    Permalink

    mas herman,pada intinya kita hanya mendebatkan siapa yg salah dan yg benar.benang merah nya adalah apakah para penegak hukum berani untuk mengusut tuntas?masalahnya apabila kita bersinggungan dgn kasus ’98,KETAKUTAN adalah penyebab mereka(saksi) tutup mulut, padahal banyak saksi atas kebrutalan ’98 yg apabila ia memberikan fakta semuanya clear kok.:)

    Reply
  • May 31, 2014 at 12:20 pm
    Permalink

    Mantap bung herman.. isi nya bagus.. tapi untuk hal ini, muncul pertanyaan dikepala awam saya..
    1. Jendral Subagyo mengatakan, Prabowo salah menafsirkan komando, Tapi Agum bilang tidak ada komando.. Pertanyaannya adalah, Apakah Komando tersebut ada atau tidak? karena adanya perbedaan antara Ketua DKP dengan Agum Gumelar..
    2. apakah Perintah melakukan BKO itu berbentuk surat atau hanya lisan? kalau berbentuk surat, apakah ada kemungkinan untuk bisa dihilangkan seperti SUPERSEMAR?..
    3. kesaksian Aan Rusdianto ( http://www.merdeka.com/politik/ini-kesaksian-caleg-gerindra-saat-diculik-kopassus-dulu.html) saat diculik atau ditangkap.. bersaksi bahwa, aan melihat pabung marinir? apakah ini ada indikasinya dengan keterlibatan dari divisi lain?
    4. apakah, seluruh aktifis termasuk Aan dkk, saling berinteraksi dengan ke 13 aktifis yg belum ditemukan? kalau ya, kenapa hanya beberapa aktifis yg mengaku ber interaksi dengan salah satu dari 13 aktifis yg hilang?
    5. Apakah dari kejadian ini, bisa di indikasikan adanya keterlibatan Jendral-Jendral ABRI saat itu? karena perintah BKO yg dikeluarkan, datangnya dari KSAD waktu itu (http://www.minihub.org/siarlist/msg00562.html )..
    5. prinsipnya, kalau memang itu tidak memiliki Perintah melakukan BKO, dan itu tanpa sepengetahuan pangab, Kenapa PS mengakui melakukan penculikan ke 9 orang tersebut? kalau PS memang melakukan itu secara illegal, harusnya PS tidak akan mengakui hal tersebut..

    mohon diberikan pencerahannya.. Terima Kasih..

    Reply
  • May 31, 2014 at 2:16 pm
    Permalink

    Sy hny seorang ibu rumah tangga yg berpikir sederhana. Apakah mungkin seseorang Bisa memimpin negara yg begitu besar sementara Dia tidak bisa memimpin keluarganya. Kita berpikir dari hal yg paling sederhana saja. Kalo ga salah beliau bercerai bukan yah dg istrinya.

    Reply
  • May 31, 2014 at 3:41 pm
    Permalink

    Kita jgn hanya bisa menilai seseorang dari luarnya..klo Prabowo bisa setia sama TNI,sedangkan Jokowi dia bisa meninggalkan tugasnya sebelum masa jabatan usai,apa jadinya Indonesia jika nanti di tinggal Presidenya.saat ini Indonesia butuh pemimpin yang tegas,punya pendirian…bukan pemimpin yg belum siap …. Ayo masyarakat Indonesia,,jangan hanya ikut pilih pimpinana yg sedang ‘heboh’ blusukan ,,tp pemimpin yang tegas,setia,,mampu mewujudkan Indonesia adil makmur dan sejahtera,siapapun pemimpin bangsa indonesia 5thn mendatang dpt mengemban amanah rakyat,yang baik dr pak harto diteruskan yg jelek di buang dan diganti yg lebih baik,,,,,semangat capres cawapres

    Reply
    • June 19, 2014 at 11:14 am
      Permalink

      tatii tatii,,, ckckck lo gk punya otak

      Reply
  • May 31, 2014 at 6:16 pm
    Permalink

    (mungkin) cuma di indonesia pelanggar HAM bisa jadi presiden

    Reply
  • May 31, 2014 at 9:34 pm
    Permalink

    Ini bisa jadi referensi

    Subject: Kerusuhan Mei dari Perspektif Berbeda (1)

    Prabowo dan Kerusuhan Mei 1998 (1)
    Siapa Biang Kerok Sesungguhnya ?
    Oleh : Jose Manuel Tesoro *)

    http://www.library.ohiou.edu/indopubs/2000/03/22/0016.html

    Subject: Kerusuhan Mei dari Perspektif Berbeda (2)

    Prabowo dan Kerusuhan Mei 1998 (2)
    Berperang dengan Mitos
    Oleh : Jose Manuel Tesoro *)

    http://www.library.ohiou.edu/indopubs/2000/03/22/0017.html

    Subject: Kerusuhan Mei dari Perspektif Berbeda (3)

    Prabowo dan Kerusuhan Mei 1998 (3)
    Delapan Kali Menelepon Wiranto
    Oleh : Jose Manuel Tesoro *)

    http://www.library.ohiou.edu/indopubs/2000/03/28/0019.html

    Subject: Kerusuhan Mei dari Perspektif Berbeda (4)

    Prabowo dan Kerusuhan Mei 1998 (4)
    Sempat Memijat Kaki Gus Dur
    Oleh : Jose Manuel Tesoro *)

    http://www.library.ohiou.edu/indopubs/2000/03/29/0008.html

    Subject: Kerusuhan Mei dari Perspektif Berbeda (5-Habis)

    Prabowo dan Kerusuhan Mei 1998 (5-habis)
    ”Saya Ingin Berjuang dari Dalam”
    Oleh : Jose Manuel Tesoro *)

    http://www.library.ohiou.edu/indopubs/2000/03/30/0003.html

    Reply
    • June 1, 2014 at 10:25 am
      Permalink

      Artikel ini konteksnya adalah penculikan aktivis, bukan kerusuhan Mei. Semua hal tentang penculikan yang dibahas di link di atas, juga sudah dibahas di artikel saya.

      Reply
  • May 31, 2014 at 10:13 pm
    Permalink

    Mas Herman
    sumber tulisan mas dari mana? termasuk percakapan-percakapan tersebut…… atau mas merekam langsung ya… ?

    Reply
    • June 1, 2014 at 10:31 am
      Permalink

      Sumbernya dari wawancara berbagai media. Kalau Anda lihat, di nama-nama korban penculikan semua ada link yang merujuk ke artikel sumbernya.

      Reply
  • June 1, 2014 at 12:06 am
    Permalink

    Aduuhhh,,,,kalo pada ga mau lihat ke belakang yg ga diketahui fakta kebenarannya gmn. Lihat saja apa yg terjadi saat ini. Timbang dari sisi politisnya,, ,mulai dari koalisi,,,,pmbagian kekuasaan,,,hutang dan kekayaan (siapa yg hartanya minus), cara berkomunikasi dengan rakyat atau media, serta visi dan misi. Biar pada kebuka matanya. Karna masa lalu ( sejarah ) sama dengan media tergantung kepentingan, tepatnya sejarah itu tergantung persepsi dari penulis yg menganggap dirinya benar. Ada gunanya laporan harta kekayaan untuk meminimalisir potensi korupsi.

    Reply
  • June 1, 2014 at 12:25 am
    Permalink

    artikel bagus mas.dengan sumber yang valid.tidak seperti banyak sampah yg saya baca yang mengandalkan link sampah juga.
    sayangnya..tidak semua orang yang membacanya punya otak mas.mereka bicara pakai nafsu,tanpa data.teman saya pernah bilang bahwa otak itu mahal dan tidak semua orang mampu memilikinya.sekarang saya lihat buktinya pada komen2 ini.mendingan gk usah ditanggapi mas.
    yng saya cemaskan dari jokowi sebenarnya bukan figurnya tp orang-orang oportunis dan makelar yg bertebaran di partai pendukungnya
    tp saya lebih cemas lagi pada prabowo,bukan cuma karena masalah HAM,bukan cuma kepengecutannya yang lari ke Jordania menghindari hukum,bukan cuma sifat temperamennya yang emosional,tp juga karena sponsornya,yaitu adiknya sendiri Hasjim yang dekat dengan kalangan bussinesman kapitalis seperti keluarga Rotschild dan pernah terlibat kasus force take over dalam pengambilalihan bumi resource di bursa saham london yang menggemparkan dunia.saya khawatir berapa nilai kkayaan negeri ini akan digadai Hasjim ke kalangan konglomerasi dunia.dan anehnya,ARB yang menjadi pihak yg dirugikan dalam kasus bumi resource bisa memilih prabowo.opini saya,tentu ada tawar menawar bisnis dibelakangnya.mengingat hutang bakrie juga besar.
    semoga mas herman bisa menulis artikel semacam ini lagi dimasa mendatang.bravo

    Reply
  • June 1, 2014 at 1:56 am
    Permalink

    komentatornya kebanyakkn tdk memahami posisi prabowo sendiri pada 1997-1998.
    1. Prabowo adalah menantu Soeharto,. penguasa ORBA.
    2. Prabowo dan Kopassus adalah buah karya terbaik dari militer Amrik. Kerjasama Militer dalam membangun Koppassus menjadi Kesatuan militer yg terbaik. tetapi yg perlu dicermati kerjasama militer tsb dilakukan tnpa ijin kongres/senat dan lebih merupakan program militer dari CIA sendiri. tentunya amrik aka CIA tdk akn mmberikan pelatihan dan bantuan peraltaran militer secara cuma2. dapat dipastikan ada kepentingan amrik yg terutama di titipkn di Kopassus pada saat itu.
    3. Politik LN Amrik mulai kritis dan tdk nyaman dgn mulai berkuasanya “CINA Lokal” disekeliling Soeharto di kaitan dgn mulai bangkitnya Ekonomi Cina Daratan. silah cari di google pernyataan2 clinton yg keras tsb.
    4. Prabowo disebut2 sebagai calon penggnti Soeharto yd dibina oleh Amrik. dan disebut sebagai “Our Man at Jakarta”.
    5. Peristiwa 97-98 tentunya melibatkan banyak pemain tdk hanya prabowo seorang, dgn kepentinan masing2. tapi tidk serta merta menghilangkan dosa dan keterlibatan Prabowo dalm pristiwa tsb. tapi fakta betul prabowo masuk dalam kelompok yg kalah dalam menyusun langkah-langkahnya.
    6. Kemarahan Soeharto thd Prabowo tentunya bukan karna hanya prabowo yg sekedar terlihat “proreformasi” akan tetapi patut diduga dalam kaitan prabowo khianat yg diseting dalam skenario Amrik. Hal tsb yg menyebabkan prabowo kehilangan hampir separuh kekuatannya, setelah di “tebas” Mertuanya.
    7. Tentuna informasi yg di berikan kepada Soeharto tdklah mungkin hnya soal pertemuan di kostrad. yg patut diduga merupakan bagian kecil dari skenario besar (patut diduga setting Amrik). sehingga Wajar membuat SANG JENDERAL TUA dan sangt berpengalaman memotong pergerakkan prabowo.
    8. Amrik pun (CIA) patut diduga bermain tdk hanya pada satu kelompok akan tetapi pada bberapa kelompok lain (dua kaki) sehingga siapun yg menang pada saat itu 98, Amrik berhasil mencapai sasaran nya sendiri. walau tetap tidak melupakan kelompok kesayanannya. (our man at jakarta), yg memang telah lama dibina.
    9. Sehubungan PILPRES, dalam pristiwa 98 terlepas salah benar Prabowo. Kita ambil mudahn ya saja. tetaplah ada kemungkinan BENAR 50% dan SALAH 50%, (walau munkin bagi saya sendiri perbandingannya 1% : 99%) Mungkinkah kita serahkan masa depan dgn pertaruhan trsb???? bangsa ini bukan untuk coba2 dari oran2 yg JELAS2 TERKAIT DGN ORBA DAN PERISTIWA2 KELAM.

    Reply
  • June 1, 2014 at 3:42 am
    Permalink

    Saya yakin kasus ini menjadi misteri sampai kapanpun. Sekarang tidak akan terungkap karena tokoh2nya masih hidup dan berkuasa, 50 tahun lagi jg tidak akan terungkap karena para korban dan pelaku sudah meninggal. Persis peristiwa G-30-S. Prabowo tangannya berlumuran darah? Ya jelaslah, wong prajurit tempur. Tupoksi “tentara” itu sendiri sudah jelas mengingkari HAM apapun alasannya: sbg mesin pembunuh. Tp dalam banyak situasi profil tegas-keras spt ini justru bisa menyelamatkan. Berkaitan dg pilpres, prinsipnya adalah demokrasi perlu juga dikawal dengan kekuatan. Jadi, akan sempurna kalau presidennya Jokowi wakilnya Prabowo. Sayangnya…

    Reply
  • June 1, 2014 at 10:07 am
    Permalink

    Bung herman kok postingan tidak diluluskan??? Takut opinin anda terbantahkan ya??

    Reply
    • June 1, 2014 at 10:22 am
      Permalink

      Postingan Anda ada linknya banyak sekali. Blog ini secara otomatis memfilter komen yang kebanyakan link karena dicurigai spam. Sekarang postingan Anda sudah diloloskan.

      Reply
      • June 1, 2014 at 10:53 am
        Permalink

        ok siap om herman

  • June 1, 2014 at 11:01 am
    Permalink

    41. Total anggota Pam Swakarsa ini ada 30 ribuan orang yg didatangkan dari berbagai kota dan dibayar Rp 10 ribu sehari

    42. Setlh terbentuknya Pam Swakarsa, Wiranto mulai mengkoordinasikan pergerakan pasukan milisi ini. Pertemuan kedua pun dilakukan

    http://chirpstory.com/li/44610

    Reply
    • June 1, 2014 at 12:43 pm
      Permalink

      yg ditulis herman itu penculikan aktivis di mana prabowo terlibat, yg kau posting itu ari yadi, adlah kerusuhan mei, jaka sembung bawa golok kau itu. lagi pula, kau malas tulis sendiri ya, cuma posting2 link orang? orang goblok dan orang malas jg bisa klau cuma posting2 gitu

      Reply
      • June 1, 2014 at 12:50 pm
        Permalink

        Penculikan dan Kerusuhan ada hubungannya yang mengakibatkan pemberhentian terhadap Prabowo. Saya hanya memberikan informasi pembanding. Makanya baca sampe tuntas. Jangan baca setengah hati.

      • June 1, 2014 at 1:01 pm
        Permalink

        Kalau Anda baca artikel saya dan sumber2nya, Prabowo diberhentikan karena penculikan. Bukan karena kerusuhan.

    • June 1, 2014 at 1:02 pm
      Permalink

      Ini salah satu sumber yang saya pakai di artikel ini.

      Reply
      • June 1, 2014 at 1:21 pm
        Permalink

        Dijelaskan Prabowo hanya melakukan perintah atasan. Dan tidak serta merta Prabowo bersalah melakukan penculikan. Dan bisa dilihat dari masa kemasa daftar korban penculikan versi KONTRAS

        Daftar korban penculikan :
        Semasa R.Hartono sebagai KSAD dan Jenderal TNI Feisal Tanjung PANGAB :
        1. Yani Avri
        2. Soni
        3. Noval
        4. M. Yusuf
        5. Ismail
        6. Dedy Hamdun

        Semasa Wiranto sebagai KSAD dan Jenderal TNI Feisal Tanjung PANGAB :
        1. Herman Hendrawan
        2. Faisol Reza
        3. Rahardjo Waluyo Djati
        4. Nezar Patria
        5. Mugianto
        6. Aan Rusdianto
        7. Pius Lustrilanang
        8. Desmon J Mahendra
        9. Haryanto Taslam
        10. Suyat

        Semasa Subagyo H.S sebagai KSAD dan Jenderal TNI Wiranto PANGAB
        1. Andi Arief
        2. Bimo Petrus
        3. Yadi Muhdin
        4. Hendra H
        5. Ucuk Munandar

        Pertanyaan yang sangat sederhana adalah kenapa hanya Prabowo yang diperiksa?? Kenapa atasan Prabowo seperti Feisal Tanjung, Subagyo H.S, R. Hartono dan Wiranto tidak diperiksa??

      • June 1, 2014 at 2:53 pm
        Permalink

        Jika Anda baca buku yg Anda sebut di atas (“Prabowo Sang Kontroversi”), dijelaskan bahwa tidak ada komando dari pimpinan ABRI untuk menculik, apalagi menyiksa. Prabowo telah salah menganalisis BKO dan bertindak di luar kewenangannya.

  • June 1, 2014 at 10:37 pm
    Permalink

    Knp yg slalu ditakutkan selalu pihak amerika? Ap kita bangsa yg tidak lebih besar dari mereka?
    Tp oke jg artikel ny…..

    Reply
  • June 2, 2014 at 10:00 pm
    Permalink

    Siapapun Presidennya tetap Prabowo dihatiku..

    Reply
  • June 3, 2014 at 1:47 am
    Permalink

    Info bagus, jangan menutup mata. Gimana mau jadi presiden… Keluarga aja hancur. Saya setuju sama …
    Andri
    June 1, 2014
    Kita tarik aja ke garis keturunan dibawahnya lagi biar fair, anak Prabowo: Didiet Prabowo

    Googling sendiri aja gimana orangnya :)

    Cari beritanya di Paris biar lebih jelas.

    Prabowo cerdas, tegas, complicated/untrusted

    Reply
  • June 3, 2014 at 5:52 pm
    Permalink

    saya masih awam soal hal ini ,saya hanya ingin tau saja .
    Apa benar prabowo itu dalang penculikan aktivis ?

    Reply
  • June 3, 2014 at 6:46 pm
    Permalink

    Artikell yg menyesatkan ….. hidup prabowo ….for presiden ….. dan yg nulis pasti di bayar jongoswi …

    Reply
  • June 3, 2014 at 8:18 pm
    Permalink

    WAJIB BACA BUNG..!!!
    , Kampanye Hitam Yg Di Arahkan Ke
    PrabowoInilah isu-isu tersebut :
    1. Prabowo penculik : bukan menculik tp
    mengamankan dan yg mengamankan bukan
    Prabowo tp tim mawar, yg di amankan 9 org
    sudah bebas semua dlm keadaan hidup dan
    sebagaian jd kader Gerindra
    2. Prabowo pelanggar Ham : kalau
    melanggar Ham kenapa di pilih sm Mbok
    Mega jd cawapresnya thn 2009 ? 
    3. Prabowo dalang tragedi Trisakti : yg
    nembak mahasiswa Trisakti ternyata peluru
    dr Kepolisian bkn dr Kostrad yg di pimpin
    Prabowo, dan Prabowo bersumpah dengan
    Al-qur’an tidak terlibat tragedi Trisakti.
    Makanya keluarga korban Trisakti dukung
    Prabowo 
    4. Prabowo dalang Tragedi Semanggi :
    Tragedi Semanggi pd tgl 13 november 98
    Prabowo sudah pensiun dr militer mana
    mungkin terlibat, oon bgt dah Jasmev &
    Jokowers . Saya adalah salah satu aktivis
    mahasiswa yg tergabung dalam FAMRED saat
    tragedi Semanggi 1. Foto2 dokumen pribadi
    saat Tragedi Semanggi 1 msh ada dan
    terpajang
    5. Prabowo dalang kerusuhan 98 : kalau
    Jasmev & jokowers punya buktinya silakan di
    serahkan ke Komnas Ham
    6. Prabowo kabur ke Yordania : Prabowo ke
    Yordania adalah untuk menghindari fitnah dr
    musuh2nya, siapa musuh2nya ? liat saja siapa
    para Jendral yg berada di kubu sebelah ?
    7. Prabowo punya 2 warga negara : SBY &
    Habibie punya 2 warga negara, warga negara
    kehormatan tidak di larang dalam undang2
    pilpres. Yg di larang adalah pernah pindah ke
    warganeraan menjadi warga negara lain 
    8. Prabowo di bilang ngak punya “anu” :
    kalau nggak punya anu kenapa punya anak.
    Anaknya menjadi desainer dunia dan
    mendesain mobil BMW seri termewah yg
    hanya di produksi 5 unit saja di dunia.dan beliau juga lolos tes medical saat pencapresan 
    9. Prabowo cerai nggak bs urus keluarga :
    bukan cerai tp di usir oleh keluarga cendana
    akibat hasutan Jendral yg anti sm Prabowo yg
    sekarang berada di kubu sebelah
    10. Prabowo di pecat : bukan di pecat tp
    pensiun, kalau di pecat mana mungkin dapet
    uang pensiun tiap bulan sampe sekarang
    11. Prabowo punya hutang : kalau punya
    hutang pasti tidak lolos di KPU yg
    mensyaratkan harus ada surat bebas hutang
    dr pengadilan
    12. Prabowo tidak punya istri, trus siapa ibu
    negaranya klau menang ? : ini pemilihan
    Presiden bukan pemilihan istri Presiden dan
    tidak ada syarat dr KPU harus beristri. Jodoh
    itu di tangan YANG MAHA KUASA ALLAH SWT,
    bukan di tangan KPU.
    mau kasih isu apalagi hayo para jasmev &
    panasbung ?!

    Reply
    • June 3, 2014 at 8:22 pm
      Permalink

      Silahkan baca naskah saya ini sekali lagi. Di situ Anda akan mendapat gambaran yg lebih baik bahwa Prabowo terlibat dalam penculikan. Selain itu “mengamankan” cuman penghalusan makna, karena pada intinya korban diculik dan disiksa.

      Reply
  • June 3, 2014 at 8:25 pm
    Permalink

    trus kenapa sebagian korban d culik merapat ke kubu prabowo.
    tim mawar cuma mengamankan 9. trus yg 13 kan jelas2 dia tidak melakukan.

    Reply
  • June 4, 2014 at 8:52 am
    Permalink

    Sebaiknya tidak menggunakan argumentasi pendapat, itu akan bersifat subyektif dan gak akan fair.
    Kita gunakan saja hasil rekomendasi Komnas HAM yang melakukan penyelidikannya dengan membentuk TGPF Pelanggaran Berat HAM kasus kerusuhan 97-98. Rekomendasi itu sudah disampaikan Komnas HAM ke Presiden dan DPR pada tahun 2006. Bahkan tahun 2009 bulan September Pansus DPR menguatkan rekomendasi Komnas HAM. Intinya bola itu sekarang ada di kaki dan tangan Presiden. Yang paling utama dari 4 rekomendasi Komnas HAM dan Pansus DPR adalah PEMBENTUKAN PENGADILAN HAM ADHOC PELANGGARAM HAM 97-98. Itu adil bagi semua pihak termasuk Prabowo maupun korban dan keluarga korban “penculikan” (penangkapan tanpa surat ijin pengadilan)

    Reply
  • June 4, 2014 at 1:56 pm
    Permalink

    sedikit cerah ttp kisah itu

    Reply
  • June 4, 2014 at 2:01 pm
    Permalink

    mulai ada kecerahan ttg kasus itu

    Reply
  • June 6, 2014 at 11:02 am
    Permalink

    Sampai sekarang gak ada klarifikasi dari prabowo kalau memang gak terbukti bersalah dan komnas ham juga harus mengklarifikasi sehingga terjadi polemik yang gak pernah habis

    Reply
  • June 6, 2014 at 2:06 pm
    Permalink

    Kalo bicara dimedia bener kurang bisa dipercaya toh byk bgt pelaku politiknya.

    Indonesia butuh pemimpin yg tegas terutama dr militer. Kenapa? Indonesia type negara yg dikasih hati minta jantung..
    Indonesia kan harus demokratis? Buat apa demokratis kalo ternyata byk dalang tertentu dibelakangnya. Miris..

    Kalo jkw naik, tentu dia kerja utk partainya dan rakyat. Karena dia bukan pemimpin partainya. Byk dalang..

    Kalo prabowo naik dia kerja buat rakyat. Partai? Dia bisa menyuruh bawahannya buat dikembangkan..
    Masalah dia selalu ambil org militer yg satu pekerjaannya???
    Bukannya kita jg begitu? Kalo dulu ada temen kita yg bagus kerjanya, disiplin dan kita tau orgnya gimana pasti kita pilih buat jg org kepercayaan kan..

    Buat dia gk punya istri?
    Byk kok negara yg presidennya gak ada ibu negaranya. Masalah yg sya tau sih karena “itunya” prabowo sudah tdk ada krna ada accident.

    Oh iya, sya mau tanya.. Bener tidak kaskus di sewa jkw?
    Saya jg pernah baca, bahwa kompas sudah dikontrak jkw.

    Reply
  • June 6, 2014 at 2:13 pm
    Permalink

    Saya bingung, kenapa dulu ketika megawati bersama prabowo, kasus ini tidak diungkit kembali..
    Tapi ketika mega mengambil jkw, dan prabowo menjadi rivalnya, kenapa masalah ini diungkit? Padahal masalah ini sudah beres.

    Inilah kejamnya politik..

    Oh yaa saya pernah baca kutipan sukarno bahwa juka mencari pemimpin, pemimpin yg ditakuti sama negara asing..

    Reply
    • June 6, 2014 at 3:04 pm
      Permalink

      Siapa bilang. Ketika Prabowo jadi cawapresnya Mega, masalah HAM juga jadi masalah.

      Reply
  • June 8, 2014 at 9:56 am
    Permalink

    tidak mungkin atasan prabowo tidak mengetahui operasi yang dijalankan prabowo, atau masa sih mereka tidak berusaha mendapatkan laporan dari operasi ini, karena dia juga tau ada daftar nama2 yang harus diamankan, dimana tanggungjawab mereka sebagai atasan prabowo?

    Reply
  • Pingback: Pilih Jokowi atau Prabowo, fif? | afif luthfi shares

  • June 8, 2014 at 7:29 pm
    Permalink

    Salah satu waliullah Sunan Kali Jaga sebelum dia jadi wali adalah seorang brandal bajingan kelas kakap bro..tiap org punya masa lalu….Umar bin Khatab juga dulunya boss gank Quraisy yg trkenal berdarah dingin..just think about it!

    Reply
  • June 9, 2014 at 1:00 pm
    Permalink

    Siapapun yang membahayakan negara wajib di berantas, lebih baik mengorbankan 1 orang untuk 1 juta orang bukan ?

    Reply
  • June 9, 2014 at 1:06 pm
    Permalink

    Nah Munir itu kan mau ke mahkamah internasional di belanda mau ngadu kasus HAM, nah pada terbayang gak kalau sampai pihak asing ikut campur masalah itu, contohnya US aja deh, bisa bisa skrg indonesia banyak tentara us ‘mengamankan’ keadaan kyk di iraq dkk. Korbankan 1 untuk 1 juta

    Reply
  • June 9, 2014 at 2:45 pm
    Permalink

    Jika moral bangsa ini sudah baik, insya allah negeri ini akan aman damai dan sejahterah

    Reply
  • June 10, 2014 at 12:41 am
    Permalink

    Siapa bilang. Ketika Prabowo jadi cawapresnya Mega, masalah HAM juga jadi masalah.

    -> Lho bukannya Mega sudah mengklarifikasi soal itu? Mega sendiri yg bilang ” Kalau Prabowo terlibat masalah HAM, tidak mungkin saya menerima Ia sebagai cawapres saya waktu itu “.

    Maaf kalo kutipan ucapan Mega yg saya tulis tidak sama persis, namun intinya seperti itu.

    Pencerahannya mas Herman….

    Reply
  • June 10, 2014 at 7:49 pm
    Permalink

    kalau saja prabowo pada saat itu berbicara dan mencemari dengan membuka aib ABRI, jajaran yang diatas nya tentu tidak akan tinggal diam, akan saling lempar kesalahan dan situasi pada elit militer yang kacau tentu dampaknya langsung kepada keamanan dan kedaulatan NKRI. kita tau sendiri lah pada masa itu dominasi militer sangat kental sehingga tidak menutup kemungkinan terciptanya huru hara karena militer sendiri sedang berselisih diantara sesamanya.

    justru prabowo merupakan orang yang ditumbalkan agar tidak tercipta situasi seperti itu. harusnya yang menjadi pertanyaan kasus ini ada pada pernyataan ini “Perintah melakukan bawah kendali operasi (BKO) ternyata tidak ada. Dan Prabowo melakukannya [penculikan] di luar kewenangannya.”

    1. “perintah melakukan bawah kendali operasi ternyata tidak ada”. ini menandakan kendali operasi penculikan itu ada dan pemegang kendali operasi juga ada. hanya saja tidak ada perintah perpindahan kendali komando operasi. maka siapa itu yang harusnya memegang komando operasi ? ini jelas datangnya dari jajaran atas dong yah.

    2. “Dan Prabowo melakukannya [penculikan] di luar kewenangannya”. ini menandakan ada yang memang berwenang melakukan aksi penculikan. dan kesalahan prabowo hanya sebatas kesalahan tindakan yang seharusnya bukan pada wewenangnya dalam melakukan tindakan penculikan itu. nah maka siapakah yang berwenang itu ?..

    Reply
  • June 11, 2014 at 9:21 am
    Permalink

    diskusinya asik…dari smua pembicaraan dan link2 yg diberikan menjadi pembanding…..

    saya g taw banyak tntg politik cm pertanyaan saya singat saja, Prabowo “mungkin” tidak bersalah…klo mmg seperti itu untuk memperbaiki namanya kenapa tidak di buka saja secara jelas apa dan bagaimana yg sebenarnya terjadi? dan hadir dalam penyelidikan komnas HAM untuk kebenaran tntg dirinya?..

    qt perpolemik dengan capres2.. keduanya pasti punya niat baik unk mmbangun negara ini, tp sampai dimana qt bisa melihat kedalaman hati ke 2nya? tolak ukur ap? deal2 yang terjadi? yg bisa kita liat yg mungkin bisa menjadi salah satu pertimbangan adalah pendukung di balik ke 2 calon ini yg merasa nyaman apa bila jagoannya terpilih, parpol dan ormas2 siapa2, track recordnya capres cawapres dan pendukungnya bgmna?..

    mohon bimbingan klo salah…gelas ini masih kosong….

    Reply
  • June 11, 2014 at 3:03 pm
    Permalink

    apa untungnya bagi dia pribadi menculik atau mengamankan?
    garis komando tertinggi bukan dia, apalagi tentara jelas sekali garis komandonya, intinya yang lain juga bersalah, terutama atasan2nya
    tetap saya pilih jokowi….

    Reply
  • June 11, 2014 at 10:23 pm
    Permalink

    Setidaknya ini sedikit membuka mata dan pikiran sy..ayah sy merupakan korban tragedi 98…sy sangat mengetahui betul bagaimana sy melalui masa kelam itu…bijak lah menentukan pemimpin negeri ini..sy tdk mw anak sy merasakan kehilangan ayah nya akibat tragedi politik di negeri ini…cermati baik baik..cari info sebanyak2…jangan lupa mengucapkan doa sebelum mencoblos nanti tanggal 9..karena pilihan anda menentikan nasib anak cucu anda dimasa depan..

    salam damai…

    mereka yang akan menjadi presiden paling hanya 5 sampai 10, setelah itu mereka akan menjadi rakyat..tp kita selamanya rakyat..salam damai

    Reply
  • Pingback: Bersuaralah , Indonesia memanggil. | sudutpandangsaya

  • Pingback: Dulu aku memilih Prabowo… – Donny Verdian

  • June 12, 2014 at 7:39 pm
    Permalink

    pertama: bacanya panjang banget…

    kedua: tulisan ini bagus dan sangat pas di masa pemilihan ca(wa)pres

    ketiga: alasan ini -> “Operasi semacam ini juga tidak cocok untuk negara demokrasi karena memberangus lawan politik dan menciptakan perasaan ketidakpastian dan ketakutan pada masyarakat luas.” <- saia jadi ingat negara tetangga yang selalu kudeta militer (Thailand) dan berasa kembali ke jaman ORLA.

    keempat: ada alasan tepat untuk tidak memilihnya

    kelima: ternyata komentar saia kek Pancasila :D

    Reply
  • June 13, 2014 at 11:19 am
    Permalink

    isu penegakan HAM adalah isu yang ditularkan oleh Amerika, data-data dari DKP yang bocor memang sudah dibenarkan oleh kubu Agum Gumelar dll. dan Belum ditambah, data-data dari TPGF sendiri bisa dianggap benar, valid dan berimbang jika semua LSM HAM tidak mendapat funding dari Amerika.
    mengapa hanya keterlibatan prabowo saja yang diangkat? karena dia yang selalu seksi.
    mengapa tidak mengangkat soal Tanjung Priok? Daerah Operasi Militer?

    Mengetahui apa yang tidak diketahui secara terlihat,

    Reply
  • June 13, 2014 at 5:50 pm
    Permalink

    judul anda mengurai keterlibatan prabowo dalam penculikan itu artinya sebelum anda menulis anda sudah ada kesimpulan bahwa prabowo terlibat, trus anda urai dimana keterlibatannya, atau anda urai masalah penculikannya trus akhirnya sampai pada kesimpulan prabowo memang terlibat berdasarkan testimoni prabowo dan korban..
    karena untuk 2 hal tersebut diatas yang saya sampaikan.. anda kurang memberikan data yang lengkap.. seperti misalnya gini.. testimoni korban yang mengatakan bahwa mereka tidak hanya diculik kopassus. bahkan desmond sebelum gabung gerindra (thn 99) ndak mungkin cuma dilakukan kopassus, nyatanya penyelidikan tni dan DKP mengabaikan testimoni korban penculikan. prabowo jelas terlibat mas, masalahnya skr itu ada pada dia diperintah oleh siapa… kenapa atasannya cuci tangan hingga 16 tahun kasus ini ndak ada benang merahnya.? bagaimana dengan kerusuhan mei? Ini operasi negara.. seperti halnya operasi densus 88 yang memberondong terduga teroris bagaimana kalu suatu saat mereka juga mengungkit hal yang sama? di serahkan tanggung jawabnya ke orang perorang.. jadi maaf nampaknya tidak sesimpel itu.. kalo simpel tentulah isu ini ndak dipelihara sampai 16 tahun dan menyalahkan prabowo seorang..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *