Social media in real life

Apakah memposting segala sesuatu ke social media itu perilaku narsisisme? Weits nanti dulu viagra espagne prix. Ingat, ada banyak sekali interaksi di socmed yang tidak kita temukan di dunia nyata. Sesuatu yang narsistik di dunia nyata, belum tentu narsistik di social media. Eric Gilbert dalam papernya menunjukkan contoh seperti ini:

Triad and Room

Gambar sebelah kiri adalah hubungan tiga orang di Twitter, dan gambar sebelah kanan adalah ekivalensinya di dunia nyata. Di dunia nyata, A C dipisahkan kaca, B C dipisahkan cermin satu arah, dan A B dipisahkan tembok. Interaksi seperti itu tidak lazim ada di dunia nyata, tetapi wajar di Twitter.

Menariknya, interaksi di atas baru satu dari 16 jenis interaksi tiga orang (triade) yang dipetakan oleh Ove Frank. Gilbert menemukan beberapa triade lain yang “bermasalah”. Dari keenamnya, Twitter baru memperbaiki triade nomer empat. Dulu kalau Ani dan Cici follow Budi, Ani bisa melihat mention Budi ke Cici, namun tidak melihat balasan Cici ke Budi. Akibatnya ada bagian percakapan yang hilang. Twitter memperbaikinya dengan tidak menampikan twit Budi yang memention Cici.

Triads

Penelitian Gilbert ini baru menyentuh design problem pada triade. Belum ada penelitian yang menyentuh design problem pada interaksi empat, lima, enam, atau tak terhingga orang. Oleh karena itu masih banyak interaksi-interaksi yang belum dikenali.

Jadi, sebetulnya memang wajar jika orang kemudian tidak nyaman masuk ke social media. Selain karena harus melalui medium dan teknologi yang baru, banyak interaksi di dalamnya yang belum pernah kita lihat di dunia nyata. Yang harus ditahan adalah terburu-buru menyimpulkan karakter social media, karena ini adalah dunia baru yang kita semua juga masih meraba-raba.

Peliknya, situs social networking semacam Twitter dan Facebook adalah sistem tertutup. Kita tidak bisa secara kolektif ikut menentukan bentuk interaksi di situs social networking. Semua ada di tangan Twitter dan Facebook. Apakah ini berarti masa depan interaksi manusia ditentukan hanya oleh segelintir perusahaan teknologi?

Narsisisme Melalui Social Media

11 thoughts on “Narsisisme Melalui Social Media

      • May 21, 2013 at 12:40 pm
        Permalink

        Saya teh, bingung dengan korelasi antara penelitian yang dilakukan oleh Gilbert degnan perilaku narsisme sendiri. Bisa mohon diterangkan? :)

      • May 21, 2013 at 1:13 pm
        Permalink

        Maksud saya, apa yang terlihat seperti narsis di dunia nyata, belum tentu narsisistik di socmed. :)

    • May 21, 2013 at 10:29 am
      Permalink

      Mungkin tidak sekadar bentuk lain, tapi juga bentuk baru. :)

      Reply
  • May 21, 2013 at 11:16 am
    Permalink

    Social media bukan bentuk baru komunikasi, tapi medium baru dalam berkomunikasi. Walaupun, tentunya cara kita berkomunikasi akan berubah juga untuk menyesuaikan dengan medium baru tersebut.

    Reply
    • May 21, 2013 at 11:21 am
      Permalink

      Kalau mengacu pada triade yang pertama di atas, ada komunikasi bentuk baru Dham. Terutama karena komunikasi tidak lagi terjadi pada ruang, tapi mengalir melalui network.

      Reply
  • May 22, 2013 at 9:27 am
    Permalink

    Lebih sebagai information stream yang diatur oleh industrialis-industrialis dan kebetulan cocok dengan kita. Ngono ya?

    Reply
  • February 4, 2014 at 12:57 am
    Permalink

    Menarik banget, thanks untuk referensi papernya..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *