Herman, Tokyo, Japan

Dari balik kaca-kaca bandara Narita, langit pukul 3 sore nampak cerah dan sejuk. Setelah melalui antrian imigrasi yang cepat (memakai visa transit), saya akhirnya resmi menjejakkan kaki di Tokyo! Metropolitan terpadat di dunia, dengan 36 juta penduduk, teknologi termutakhir, dan tradisi budaya Jepang yang selalu muncul di sudut-sudutnya.

Saya sudah janjian bertemu dengan Toni dan Sofi, istrinya, di stasiun Shinjuku. Ada banyak cara untuk mencapai pusat kota Tokyo, bisa naik Narita Express, Keisei Sky Access, maupun Limousine Bus. Atas saran Toni, saya memilih bis. Tiketnya bisa dibeli dengan mudah di areal kedatangan sebelah kanan. Ada loket bertuliskan “Limousine Bus” yang cukup besar, dan saya tinggal mengatakan “Do you have any bus to Shinjuku station?” kepada mbak petugasnya. Mbak Jepang yang fasih berbahasa Inggris itu kemudian menuliskan dua jam keberangkatan. Saya menunjuk jam 15.55. Dia menyebutkan biaya tiketnya 3000 Yen. Setelah saya membayar, Mbak petugas memberikan tiket sambil menunjuk halte 11 tempat saya harus mengantri.

Walaupun tidak banyak orang Jepang yang bisa berbahasa Inggris, namun tidak ada yang misterius di Narita, dan juga di Tokyo. Semua rambu ditulis jelas dan rinci dalam bahasa inggris. Halte nomer 11 menunjukkan nomor bus saya, daerah yang akan dituju (Shinjuku), dan jam keberangkatan. Setelah mengantri dengan teratur, bus saya akhirnya datang. Anda tidak akan naik ke bus yang salah, karena petugas halte akan mengecek tiket sebelum Anda naik. Mereka juga akan mengurusi bagasi Anda.

***

Perjalanan sudah menyenangkan sejak bus berangkat. Estetika serba teratur khas Jepang sudah terlihat dari pinggiran kota sampai ketika bus sampai di Shinjuku. Lagi-lagi tidak ada misteri kapan harus turun dari bus: layar LCD akan menuliskan “Shinjuku Station” pertanda saya harus segera turun.

Shinjuku, Tokyo, Japan

Toni tidak nampak disitu seperti kesepakatan kami. Ternyata bus saya datang 30 menit lebih cepat daripada 100 menit yang dijadwalkan. Toni rupanya sedang asik menyantap ramen, jadi menyuruh saya untuk foto-foto dulu. Memotret tempat baru selalu menyenangkan, karena cahaya matahari jatuh dari kemiringan yang berbeda sehingga warna dan bayangan nampak seratus persen baru.

Toni dan Sofi datang 15 menit kemudian. Dia mengajak saya melihat Harajuku. Dari west exit stasiun Shinjuku, saya menuju ke lantai bawah untuk membeli tiket kereta JR Yamanote Line. Tiketnya ¥120 untuk perjalanan dari Shinjuku ke Harajuku, dan saya ditraktir Toni. Lagi-lagi, penunjuk jalan di stasiun itu dapat dimengerti dengan mudah.

Kereta jalur Yamanote berhenti dua setopan berikutnya di Harajuku. Keluar dari stasiun, saya langsung menuju jalan Takeshita. Gang kecil ini sudah sesak dengan muda-mudi yang berbelanja baju dan pernak-pernik busana, atau sekadar ingin eksis. Dengan latar toko pakaian lolita gotik hingga punk, ratusan anak muda Jepang berdandan dengan selera terunik yang pernah saya lihat. Keunikan fashion ini melengkapi jamuan visual yang disajikan oleh arsitektur kota Tokyo sejak saya meninggalkan Narita.

Harajuku, Tokyo, Japan

Berjalan santai bersama Toni dan Sofi di sepanjang gang kecil itu, akhirnya membawa saya ke Omotesando. Sebuah kawasan pertokoan juga, namun tokonya lebih mahal-mahal. Berbeda dengan Takeshita yang acak dan naik turun, Omotesando ditata rapih dengan pohon-pohon Zelkova rindang berjajar teratur di sepanjang jalan.

***

Tujuan berikutnya adalah Shibuya, ikon metropolitan Tokyo tempat Scarlett Johannsen hilang dalam terjemahan, dan Rinko Kikuchi hilang dalam kesendirian di film Babel. Dari ujung jalan Omotesando, saya, Toni, dan Sofi berjalan kembali menuju stasiun Harajuku untuk menuju Shibuya. Sebelumnya, Toni memaksa saya untuk mencicipi crepe khas Harajuku. Dengan harga ¥520, saya memesan crepé rasa caramel cheesecake yang ternyata sangat enak.

Stasiun Shibuya hanya terpaut 1 stasiun dari Harajuku. Sampai di pintu keluar stasiun, saya berjalan pelan-pelan menikmati pengalaman pertama di Shibuya, hingga akhirnya jajaran lampu-lampu dan neon gedung-gedung pencakar langit mewarnai wajah saya.

Di antara ratusan orang lainnya yang lalu-lalang, saya telah berada di tengah perputaran dunia.

Ini bukan tempat wisata yang terasa lebih kecil dan lebih biasa ketika Anda sampai di sana. Ini lebih besar, lebih nyata, namun susah dipercaya. Saya di Shibuya! Saya setara dengan Scarlett Johannsen.

Saya tentu mencoba menyeberang ke ujung lain untuk merasakan bergerak diantara lautan manusia. Ini adalah scramble crossing di mana pada menit tertentu, lampu merah pada kedua jalan akan menyala, semua mobil akan berhenti, dan para pejalan kaki akan menyeberang ke segala arah. Dari atas pergerakan manusia-manusia itu nampak seperti pola fraktal yang kaotik namun menemukan sebuah keteraturan.

Itinerary terakhir di Shibuya adalah berfoto bersama patung Hachiko, anjing jenis Akita yang setia menanti almarhum majikannya di stasiun Shinjuku selama 12 tahun. Bagi orang Jepang, Hachiko adalah simbol kesetiaan dan ketangguhan.

 ***

Setelah melakukan hal-hal wajib lain di Tokyo, seperti membelikan oleh-oleh Sanrio buat Mimit dan menjelajahi deretan jajanan unik di food section department store. Akhirnya saya pulang ke rumah Toni untuk nebeng tidur semalam.

Jalan-jalan di kampung Tokyo, walaupun tanpa sorotan cahaya dan pakaian nyentrik muda-mudinya, tetap menjamu mata dengan bentuk kotak-kotak yang diatur rapih dan bersih. Di dekat rumah Toni ada supermarket menjelang pukul 9 malam mendiskon makanan siap saji mereka. Saya kalap membeli sekotak bento seafood, yakitori, dan sushi unagi.

***

Saya sudah harus bangun pagi jam 4 untuk bersiap menuju Shinjuku diantar oleh Toni.

Saat tiba di bandara Narita sehari sebelumnya, saya sudah mengambil tiket Narita Express di lantai basement B1F Narita terminal 1. Kereta menuju bandara ini memang disarankan untuk dipesan melalui web (harus memakai kartu kredit) jauh-jauh hari sebelumnya, walaupun bisa juga dibeli pada hari H. Harga tiket menuju Narita dari Shinjuku adalah ¥3110. Jika Anda memesan tiket online, tiket harus diambil sehari sebelumnya.

Saya sampai di stasiun Shinjuku pukul 5.00 pagi. Kereta Narita Express atau N’EX datang tepat satu-dua menit sebelum jadwal pukul 6.34, dan meninggalkan stasiun satu-dua menit sesudahnya. Anda tidak perlu berebut kursi, karena nomor kursi sudah tercantum pada tiket.

Sekitar pukul 7.57 Narita Express sampai di bandara Narita. Butuh waktu sekitar 35 menit untuk berjalan melewati security check kereta, security check bandara, dan imigrasi dengan antrian sedang. Jadi untuk penerbangan pagi, Anda harus menyiapkan waktu yang cukup untuk itu, selain waktu untuk check-in dan jalan menuju gate (bisa 15 menit).

***

Pukul 9.15, ANA sudah memanggil-manggil sehingga orang-orang di boarding gate segera membentuk antrian rapi. Saya sudah siap meninggalkan Jepang, dan siap untuk mendatanginya lagi. Dan tentu saja mencicipi Tokyo Banana.

NB: Terima kasih untuk Toni dan Sofi yang telah menjadi host yang menyenangkan dan menjadi teman saya mengalami hal-hal menarik di Tokyo.

18 Jam di Tokyo

33 thoughts on “18 Jam di Tokyo

  • June 1, 2012 at 3:50 pm
    Permalink

    Tony kenapa jadi kayak boys band gitu kayaknya? :P

    Reply
      • June 1, 2012 at 4:38 pm
        Permalink

        *ahem ahem*
        *ambil suara*

        Isabellaaaa ada..*dibekep*

      • November 2, 2013 at 2:17 pm
        Permalink

        oh iya bener ya, seperti penyanyi melayu jaman dulu

  • June 1, 2012 at 3:58 pm
    Permalink

    “Kereta jalur Yamanote berhenti dua setopan berikutnya di Harajuku.” — Momon masih orang Jawa.. Ora nganggo istilah bangjo sisan Mon?

    Reply
    • June 1, 2012 at 4:27 pm
      Permalink

      Masih orang Jogja aku, apapun yang kamu lakukan. Termasuk riba.

      Reply
  • June 1, 2012 at 4:12 pm
    Permalink

    Jadi pengin ke Tokyo. hehehehe….
    Mas ton kapan balik ke indo? Sukses selalu ya mas:).

    Reply
  • June 1, 2012 at 4:15 pm
    Permalink

    Lucuuuuuuuu! :)) Suka foto-fotonya, kayak di kartun :))

    Reply
    • June 1, 2012 at 4:24 pm
      Permalink

      Aslinya juga gitu kayak di kartun :D Orangnya juga lucu-lucu. Tapi kamu sudah ke Santorini, jadi kadar iriku masih tinggi. :P

      Reply
    • June 1, 2012 at 4:25 pm
      Permalink

      Laporannya udah abiss :D Tapi foto-foto ada instagram :D

      Reply
  • June 1, 2012 at 5:48 pm
    Permalink

    keren! btw, itu keretanya sama kaya KRL jabodetabek :))

    Reply
  • June 1, 2012 at 6:31 pm
    Permalink

    jadi penasaran sama jepang nih… mau kesana… kapan ya… hiks… ada anjing yang terkenal itu ya… yang main sama richard gere

    Reply
    • June 1, 2012 at 8:21 pm
      Permalink

      sudah diapprove, sekarang gak nyangkut di spam

      Reply
  • June 1, 2012 at 8:28 pm
    Permalink

    aku ga ada keinginan ke jepang/tokyo sampe aku baca postinganmu, mon.
    aku selalu suka baca tulisanmu kl menyangkut perjalanan dan tempat yg baru :D

    aaaaaa jadi pengen kaaaaaannnn

    Reply
  • June 2, 2012 at 6:10 pm
    Permalink

    Toni, akhirnya bisa lihat fotomu juga. Piye kabar e? Eh salah posting ding. Iki blog e Momon yo. :D

    Mon, ada mesjid ndak di sana?

    Reply
  • June 3, 2012 at 1:19 am
    Permalink

    Itu kamu, Mon? Wah langsingan nih :D

    Reply
  • June 4, 2012 at 3:47 pm
    Permalink

    Ga foto di patung Hachiko itu, mas? Syahrini aja foto disitu. siapa tau kalau mas foto disitu jadi pacarnya syahrini #yakali.

    Asik ya, mas..

    Reply
  • June 4, 2012 at 3:54 pm
    Permalink

    wah, Toni di Jepang ya?
    Sptnya cocok bangetz!

    Kadang2 baca blognya di neofreko, tapi ga liat tanda2 salju.. hm…

    Reply
  • June 7, 2012 at 1:11 pm
    Permalink

    Pengalaman yg hebat, Mon… :)

    Reply
  • June 12, 2012 at 8:45 am
    Permalink

    Kowe pas ngomong karo Toni lan bojone yo nganggo basa jawa opo basa jepang?

    Reply
  • May 27, 2013 at 7:42 pm
    Permalink

    keren euy…. Tatanan kotanya benar rapi,,, orang2nya sangat disiplin. Kapan kota-kota di Indonesia bisa kayak gitu yah?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *