Hugo

“Aku selalu membayangkan dunia ini ibarat mesin yang sangat besar. Mesin tidak pernah memiliki komponen ekstra. Semua komponen sudah pas sesuai kebutuhan. Jadi aku menyadari, jika dunia ini ibarat mesin besar, aku pasti bukan komponen tambahan. Aku ada disini karena sebuah alasan.”

Hugo Cabret menggumamkan itu di depan Isabelle. Hugo yang yatim piatu, tinggal di stasiun Montparnasse di Paris. Ayahnya meninggal dunia dalam sebuah kebakaran di museum, dan meninggalkan sebuah automata rusak—semacam robot mekanik—yang konon bisa menulis.

Di stasiun Montapransse, Hugo tinggal bersama pamannya yang pemabuk. Setiap hari ia merawat gigi dan roda jam mekanik raksasa yang menghidupkan Montparnasse, lalu sesudahnya ia memperbaiki automata yang urung diperbaiki ayahnya. Hugo yakin, automata itu akan meninggalkan pesan penting untuk ayahnya. Ketika sebuah komponen yang penting tidak ia dapatkan, Hugo akan mencuri dari toko mainan Papa George, dan kepergok.

Hugo, memang bukan tipikal film Scorsese. Warna film yang colorful dan hangat, membuatnya seperti film anak-anak yang bukan digarap oleh sutradara Departed dan Gangs of New York. Akan tetapi, Hugo mengeksplorasi topik yang bukan kekanak-kanakkan dan kemungkinan besar akan membuat anak-anak jenuh. Misteri mengapa George menyita buku catatan Hugo, misalnya, mengangkat isu orang dewasa.

Dari segi teknis, Martin Scorsese nampaknya telah menemukan tarian film 3D. Dalam Hugo, pemakaian 3D tidak dalam dosis berelbihan yang membuat lebay, tapi justru memperkuat emosi film dalam sejumlah adegan penting. Namun seorang Scorsese tetap harus tunduk pada kekurangan mendasar 3D, yaitu  membuat gambar 20% lebih gelap. Dalam menit-menit awal, film terasa terlalu gelap. Dalam menit-menit awal juga, film terasa terlalu pelan hingga akhirnya menemukan ritme yang tepat pada babak kedua.

Asa Butterfield, pemeran Hugo cilik yang berusia 12 tahun menunjukkan kemampuan yang piawai mengimbangi aktor kawakan Ben Kingsley yang memerankan Papa George. Asa menggiring film naik dan turun secara emosional, tanpa menjadi teatrikal seperti aktor cilik pada umumnya.

Akan tetapi, apa yang membuat Hugo istimewa ada pada ensembel pemain yang seperti gigi-gigi pada jam mekanik, menggerakkan film secara bersama-sama hingga awal sampai akhir, dan menjawab apakah Hugo memiliki alasan untuk ada di dunia ini?

Hugo

6 thoughts on “Hugo

    • March 5, 2012 at 1:57 pm
      Permalink

      Kemarin di Jogja udah midnight. Bentar lagi masuk reguler paling.

      Reply
  • March 7, 2012 at 9:56 am
    Permalink

    genre-nya apa mas bro?

    Reply
  • March 13, 2012 at 2:17 pm
    Permalink

    splendid visual achievement. udah jarang banget nonton film bisa menghasilkan rasa puas seperti sehabis nonton Hugo ini.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *