Ada sensasi menyenangkan ketika panel-panel komik Tintin menjadi hidup di layar bioskop. Adegan-adegan awal di Secret of the Unicorn yang diterjemahkan ulang dengan detail-detail baru—layak membuat adaptasi layar lebar ini sah sebagai reinterpretasi Tintin. Bukan memfilmkan komik Tintin.

Adalah miniatur kapal Unicorn yang menggiring Tintin dalam perburuan lintas benua. Wartawan muda itu tidak menyadari kalau Unicorn menyimpan rahasia yang telah turun temurun sejak abad ke 17. Setelah mendapati seorang laki-laki ditembak mati di depan pintu rumahnya, keesokan harinya Tintin dibius klorofor, diperangkap, dan digotong dengan kapal Karaboudjan menuju gurun Sahara.

Reninterpretasi ini menggabungkan tiga komik (Kepiting Bercapit Emas, Rahasia Kapal Unicorn, dan Harta Karun Rackham Merah). Unicorn sebagai cerita intinya dan Kepiting Bercapit Emas sebagai plot bertemunya Tintin dengan Haddock, sahabat petualangannya. Karena Tintin tanpa Haddock, ibarat sayur tanpa garam.

Dan selebihnya adalah komik petualangan yang konyol, seringkali mustahil, tapi menghibur. Adegan Thomson dan Thompson mengejar pencopet dompet dari Unicorn dipertahankan plek seratus persen. Namun adegan Haddock dan Tintin (dan Snowy) mengendalikan pesawat amphibi di gurun Sahara dirombak sepenuhnya, dan tetap komikal. Senafas dengan komik Hergé.

Nuansa Hergé untungnya masih muncul di mana-mana. Mulai dari nama-nama yang konyol sampai deus-ex-machina yang nyata-nyata mustahil.

Animasinya sendiri sempurna. Memakai teknologi animasi yang sama dengan Avatar, guratan-guratan tinta Hergé menjadi hidup dan likeable. Jamie Bell memerankan Tintin yang optimis dan penuh semangat. Tapi bintangnya adalah Andy Serkis yang perankan Kapten Haddock, pelaut putus asa yang hanya sadar jika minum whiski. Jika Anda lupa, Serkis adalah pemeran Gollum dalam Lord of the Rings.

Sayangnya, pengalamanan saya nonton Tintin versi 3D tidak menyenangkan. 3D memaksa mata untuk fokus pada efek 3D-nya dan menjauhkan dari ekspresi karakternya.

Walaupun saya mengharapkan film yang lebih perfect, namun The Adventures of Tintin adalah pembuka yang baik untuk trilogi Tintin. Jika pendapatan box-officenya bagus, mungkin 2013 atau 2014 kita boleh mengharapkan sequel Tintin (mungkin dari Tujuh Bola Kristal), seperti yang dijanjikan Spielberg dan Jackson. Nyawa trilogi ada di seri ke-dua. Ujian terbesar dua sutradara mahsyur itu tertuju pada sequel Tintin.

The Adventures of Tintin: Secrets of the Unicorn

17 thoughts on “The Adventures of Tintin: Secrets of the Unicorn

    • November 13, 2011 at 10:05 am
      Permalink

      Iya trilogi kalau box officenya sukses :D Koleksi ya, nanti aku pinjam XD

      Reply
  • November 12, 2011 at 7:14 pm
    Permalink

    Ah udah ditunggu :p

    Saya sendiri ngerasa agak lega sih pas nonton. Lega dalam artian biasa aja. Tapi kalau dibilang film ini punya jiwanya Tintin seperti yang dulu-dulu sih benar aja. Sepanjang film saya malah kepikirannya gimana perasaan anak kecil ketika nonton ini. Kayak saya dulu masih kecil nonton Tintin rasanya seru banget. :D

    Reply
    • November 13, 2011 at 10:07 am
      Permalink

      Tapi adikku yang udah skripsi aja bisa menikmati kok :D

      Reply
  • November 13, 2011 at 3:45 pm
    Permalink

    Spielberg dan Jackson maunya sih trilogi, tapi jadi apa nggak-nya kayaknya masih tergantung dari hasil pemutaran di US nanti (akhir Desember).

    Tapi iya, Spielberg dapet banget napas Herge-nya. Dan pencampuran elemen-elemen dari berbagai buku-nya juga dapet, tadinya sempet khawatir soal ini karena kan bukan adaptasi plek dari satu-dua buku aja.

    Overall gue kasih 9/10, nilai 1-nya diambil karena adegan laga terakhir [SPOILER ALERT] antara Haddock dan Sakharine yang terlalu over-the-top dan ngga dapet ke-Herge-annya.

    Reply
  • November 13, 2011 at 3:45 pm
    Permalink

    Spielberg dan Jackson maunya sih trilogi, tapi jadi apa nggak-nya kayaknya masih tergantung dari hasil pemutaran di US nanti (akhir Desember).

    Tapi iya, Spielberg dapet banget napas Herge-nya. Dan pencampuran elemen-elemen dari berbagai buku-nya juga dapet, tadinya sempet khawatir soal ini karena kan bukan adaptasi plek dari satu-dua buku aja.

    Overall gue kasih 9/10, nilai 1-nya diambil karena adegan laga terakhir [SPOILER ALERT] antara Haddock dan Sakharine yang terlalu over-the-top dan ngga dapet ke-Herge-annya.[END SPOILER]

    Tetep, film wajib tahun in.

    Reply
  • November 14, 2011 at 1:33 pm
    Permalink

    aku masih “takut” nonton :(
    takut kucewa krn aku penggemar berat komiknya

    Reply
  • November 17, 2011 at 7:06 am
    Permalink

    gw dah nonton filmnya..sebagai penggemar berat tintin dan herge sebagai pengarangnya..gw agak kecewa lihat film ini…plot cerita sudah melenceng jauh dari orisinilitas komiknya..mungkin bagi penonton yang belum sema sekali atau bukan sebagai penggemar komik tintin, film ini cukup menghibur, tapi semata-mata sebagai film…bukan sebagai film yang diangkat dari karya besar seorang herge

    Reply
  • November 17, 2011 at 11:22 am
    Permalink

    semoga jadi dibikin triloginya, paling gak tin tin bener-bener jadi obat kangen, setelah smurf (yang notabene juga cerita dari jaman kecil) gak sesuai harapan :)

    Reply
  • November 18, 2011 at 8:31 pm
    Permalink

    Sepertinya filem wajib nonton nich….rugi kalo tidak nonton…okeh…Saya masukkan dalam daftar tontonan :-D

    Reply
  • November 21, 2011 at 9:11 am
    Permalink

    Aku udah nonton 2 kali..

    Reply
  • November 30, 2011 at 4:37 pm
    Permalink

    saya juga sudah nonton filmnya! Hebat sekali….
    Oh, ya katanya novel filmnya juga dibuat ya? Saya tau dari temen saya yang tinggal di amrik, kira2 bakal terbit di indo juga ga ya?
    Pokonya saya ketagihan nonton film ini, saya harap sekuelnya ga kalah kerennya dari yang ini

    salam,

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *