hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for November, 2011

Politik - November 28th, 2011

Swasensor Perciuman Obama dan PM Australia

Tempo: Obama Cium Gillard, Perdana Menteri Australia

Salah satu alasan mengapa UU Pornografi (dan UU ITE) tidak baik bagi kemerdekaan berekpresi ialah batasan pornografinya yang terlalu luas. Pasal ini menjadi karet, karena sesuatu yang sebetulnya tidak asusila bisa ditarik-tarik sehingga menjadi asusila. Akibatnya: sanksi pidana.

Dan efeknya adalah: orang jadi terlalu khawatir, dan melakukan swasensor yang tidak perlu.

Tempo.co termasuk media besar yang melakukan swasensor ketika menerbitkan berita “Obama Cium ‘Mesra’ Perdana Menteri Australia“. Foto Obama dan Gillard yang sedang berciuman itu dikaburkan, mungkin agar tidak dijerat pasal karet di UU Pornografi dan UU ITE.

Padahal ciuman dua kepala pemerintahan yang di depan umum itu tidak seksual dan tidak asusila. Malah kalau kita lihat foto aslinya, bibir Obama hanya menyentuh pipi Gillard. Akan tetapi sensor justru berpotensi membuat pembaca berpikir aneh-aneh. Akibatnya, berita dimaknai melenceng dari faktanya.

Cepat atau lambat, UU Pornografi dan UU ITE harus direvisi dengan membuat batasan pornografi sejelas mungkin. Selain itu, pornografi haruslah hanya dibatasi pada anak-anak saja, karena orang dewasa memiliki hak untuk mengakses pornografi.

 

Indonesiana - November 22nd, 2011

Gigit Atlit Thailand, Indonesia Raih Emas SEA Games

Atlit Indonesia Gigit Atlit Thailand di SEA Games

Benar. Atlit pencak silat Indonesia (sabuk biru) mengigit bahu atlit Thailand di SEA Games. Mengigit yang pakai gigi. Sampai atlit Thailand mengaduh kesakitan. Bung, ini SEA Games, bukan Twilight!

Dari rekaman video di atas, terlihat kalau Dian Kristanto (sabuk warna biru), pesilat Indonesia, tidak cuma mengigit lawannya dari Thailand, Anothai Choopeng (sabuk warna merah). Dian juga sempat beberapa kali lali ngacir seperti ketakutan, lalu sembunyi di balik punggung wasit.

Dan anehnya, wasit justru memenangkan wakil Indonesia. Apaa??

Ketika diwawancara Yahoo, wasit Jasni Salam dari Singapura hanya memberi tanggapan: “Saya sudah berusaha yang terbaik menjadi wasit di sana”.

Melalui wawancara terpisah oleh Yahoo, ketua penyelenggara cabang pencak silat Bambang Rus Effendi justru mengatakan aksi Dian Kristanto hendaklah dipahami sebagai strategi.

Entah apakah yang dimaksud dengan strategi, lari ngacirnya atau mengigit lawannya. Yang jelas, kemenangan Indonesia sebagai juara umum tidak sempurna.

Indonesiana - November 21st, 2011

Tentang Acara Charity Settingan di TVOne

Bagi saya yang wajib menjadi sorotan dalam kasus Charity Settingan yang dialami Mbak Silly adalah TVOne.

Dalam acara Apa Kabar Indonesia Malam dan juga VivaNews, TVOne selalu menegaskan bahwa tidak terlibat dalam acara charity tersebut. Stasiun TV merah itu mengklaim hanya di sana untuk meliput.

Namun dari skrinsut percakapan BBM antara Silly dengan pihak TVOne (sumber dari blog mbak Silly), terlihat kalau pihak TVOne sudah tahu bahwa acara charity settingan itu adalah penipuan. Pertanyaannya adalah: jika sudah tahu kalau penipuan, mengapa TVOne tetap menayangkan charity itu?

TVOne akui charity settingan adalah penipuan

Preseden seperti ini kan membuat kita berpikir, jangan-jangan TVOne juga menayangkan penipuan yang lain?

Blogging - November 21st, 2011

Deklarasi ASEAN Blogger 2011

“Suara itu tak didengar sama sekali. Dua moderator di depan tak mendengarnya. Mereka sibuk mengubah beberapa kata yang terlihat di layar tanpa mengacuhkan apa yang aku sampaikan. Pendapatku diabaikan.”—Anton Muhajir, soal penyusunan naskah deklarasi blogger ASEAN.

Bagi yang belum tahu, satu dari dua moderator itu adalah saya. Dan satunya lagi adalah Nona Dita, yang berlaku sebagai notulen rapat sidang deklarasi ASEAN Blogger di Bali.

Saya bisa membayangkan kekecewaan Anton, karena saya juga kecewa tidak bisa memfasilitasi keinginan semua peserta sidang.

Sebelumnya, perlu saya jelaskan bahwa ketika Anton mengangkat tangan untuk berbicara, wakil dari Kamboja, Anirudh, sudah lebih dulu mengangkat tangan. Saya harus mendahulukan Anirudh. Harapan saya, Anton bisa mengutarakan pendapatnya setelah itu. Namun beberapa saat kemudian, saya lihat Anton sudah tidak di tempatnya.

Pada kali kedua Anton mengangkat tangan untuk bicara, waktu sudah habis. Namun karena Anton memaksa, saya merasa bahwa apa yang akan disampaikan sangat penting, sehingga saya persilahkan. Dan memang penting. Namun usulan Anton untuk mengganti deklarasi dari “Deklarasi Blogger ASEAN” menjadi “Deklarasi Blogger Asia Tenggara” menurut saya tidak tepat. Tentu saja masih terbuka untuk diskusi ini, tapi karena saya sendiri dikejar-kejar panitia agar sidangnya segera diselesaikan, maka dengan sangat terpaksa gagasan dari Anton tidak dapat dimasukkan.

Peserta ASEAN Blogger Conference

Proses Deklarasi

Memang dari proses yang tidak sempurna menghasilkan deklarasi yang tidak memuaskan. Sewajarnya, draf naskah deklarasi memang sudah diterima peserta minimal sehari  sebelum konferensi. Dengan demikian, para wakil bisa mengkonsultasikan butir-butir deklarasi dengan kelompoknya. Namun, di lapangan, naskah draf baru disusun oleh Pak Haz Pohan setelah diskusi kelompok peserta konferensi. Rencananya, naskah itu kemudian akan diplenokan bersama seluruh peserta konferensi. Continue reading …

Reviews - November 20th, 2011

Twilight: Breaking Dawn

Twilight Breaking Dawn Part 1

Bella Swan masih ragu-ragu ketika digandeng ayahnya menuju pelaminan. Tapi di ujung sana ada Edward Cullen yang pucat. Dan cemberut di wajah Bella berkurang sedikit, lalu langkahnya menjadi semakin pasti. Bella tahu, Edward adalah lelaki yang akan menemaninya sepanjang hidupnya. Atau sepanjang masa, jika Bella akhirnya menjadi vampir.

Tentu adalah impian kebanyakan gadis belia untuk menemukan lelakinya, di mana kebahagiaan dan kegusaran akan selalu dijalani berdua dan bersama-sama. Dan tak lupa, pesta pernikahan yang indah dan sempurna. Resep inilah yang nampaknya rahasia kenapa seri Twilight—romansa segitiga antara manusia, vampir, dan serigala jadi-jadian—sukses membius jutaan ABG di seluruh dunia, melalui buku dan film. Stephanie Mayer, sang pengarang, tahu betul apa yang diinginkan seorang gadis yang baru gede.

Akan tetapi, menikah dengan Bella tidak ada kebahagiaan. Bella lebih banyak bersedih, termenung, dan merengut; dan Edward tetap bisa mengerti dan memahami. Saya tidak mengerti, kenapa Edward begitu tahan? Ini misteri yang tidak terjawab sampai akhir film.

Pada dasarnya sudah tidak ada yang baru di seri ke-4 Twilight ini, karena Bella, Edward, dan Jacob sang manusia serigala, masih sama seperti dulu. Jika ada yang berbeda, tentu karena akhirnya Bella dan Edward melakukan hubungan suami-istri setelah menikah. Ini poin moral yang pertama. Poin moral kedua adalah Bella tidak mau mengaborsi janin yang dikandungnya, walaupun bayi itu berpotensi melahirkan monster yang lebih berbahaya daripada vampir.

Dan disinilah alur cerita menjadi mirip horor kacangan Indonesia. Adegan Bella minum darah segar supaya bayinya tetap sehat mengingatkan adegan Diperkosa Setan, di mana ada sang ibu kalap makan daging mentah.

Untunglah sinematografinya bagus, alurnya bernalar, dan aktingnya bolehlah. Jika tidak, selesai nonton saya pasti akan berpikir: “Lho sekarang Nayato Fio Nuala bikin film bahasa Inggris??”

Reviews - November 12th, 2011

The Adventures of Tintin: Secrets of the Unicorn

Ada sensasi menyenangkan ketika panel-panel komik Tintin menjadi hidup di layar bioskop. Adegan-adegan awal di Secret of the Unicorn yang diterjemahkan ulang dengan detail-detail baru—layak membuat adaptasi layar lebar ini sah sebagai reinterpretasi Tintin. Bukan memfilmkan komik Tintin.

Adalah miniatur kapal Unicorn yang menggiring Tintin dalam perburuan lintas benua. Wartawan muda itu tidak menyadari kalau Unicorn menyimpan rahasia yang telah turun temurun sejak abad ke 17. Setelah mendapati seorang laki-laki ditembak mati di depan pintu rumahnya, keesokan harinya Tintin dibius klorofor, diperangkap, dan digotong dengan kapal Karaboudjan menuju gurun Sahara.

Reninterpretasi ini menggabungkan tiga komik (Kepiting Bercapit Emas, Rahasia Kapal Unicorn, dan Harta Karun Rackham Merah). Unicorn sebagai cerita intinya dan Kepiting Bercapit Emas sebagai plot bertemunya Tintin dengan Haddock, sahabat petualangannya. Karena Tintin tanpa Haddock, ibarat sayur tanpa garam.

Dan selebihnya adalah komik petualangan yang konyol, seringkali mustahil, tapi menghibur. Adegan Thomson dan Thompson mengejar pencopet dompet dari Unicorn dipertahankan plek seratus persen. Namun adegan Haddock dan Tintin (dan Snowy) mengendalikan pesawat amphibi di gurun Sahara dirombak sepenuhnya, dan tetap komikal. Senafas dengan komik Hergé.

Nuansa Hergé untungnya masih muncul di mana-mana. Mulai dari nama-nama yang konyol sampai deus-ex-machina yang nyata-nyata mustahil.

Animasinya sendiri sempurna. Memakai teknologi animasi yang sama dengan Avatar, guratan-guratan tinta Hergé menjadi hidup dan likeable. Jamie Bell memerankan Tintin yang optimis dan penuh semangat. Tapi bintangnya adalah Andy Serkis yang perankan Kapten Haddock, pelaut putus asa yang hanya sadar jika minum whiski. Jika Anda lupa, Serkis adalah pemeran Gollum dalam Lord of the Rings.

Sayangnya, pengalamanan saya nonton Tintin versi 3D tidak menyenangkan. 3D memaksa mata untuk fokus pada efek 3D-nya dan menjauhkan dari ekspresi karakternya.

Walaupun saya mengharapkan film yang lebih perfect, namun The Adventures of Tintin adalah pembuka yang baik untuk trilogi Tintin. Jika pendapatan box-officenya bagus, mungkin 2013 atau 2014 kita boleh mengharapkan sequel Tintin (mungkin dari Tujuh Bola Kristal), seperti yang dijanjikan Spielberg dan Jackson. Nyawa trilogi ada di seri ke-dua. Ujian terbesar dua sutradara mahsyur itu tertuju pada sequel Tintin.