hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for October, 2011

Misc - October 28th, 2011

Penuturan Ibu Seorang Anak Gay Umur 6 Tahun

“Mama, Kurt dan Blaine kayak aku,” ujar seorang anak laki 6 tahun ke ibunya.

Si ibu (yang menulis anonim di blog getstooobsessed.tumblr.com) menceritakan betapa anaknya menyukai tokoh homoseksual Blaine, di serial tv Glee. Katanya, ini bukan “suka” seperti “Blaine itu keren”, melainkan “suka” yang berlama-lama menatap foto Blaine sambil mengagumi ketampanannya.

Adegan yang disukai anaknya adalah ketika Kurt dan Blaine berciuman. Dia memanggil seisi rumah untuk menonton rekaman adegan itu. Perlu diingat, di Amerika Serikat, berciuman bukanlah sesuatu yang tabu.

Yang mengagumkan adalah bagaimana kedua orang tuanya menyikapi ini. Kemungkinan bahwa anaknya gay tidak menganggu mereka.

“Anak kami akan menjadi dirinya apa adanya, dan tugas kami adalah menyayanginya” ujar si ibu.

Si ibu justru berkelakar jika kelak di umur 16 si anak membuat “pengumuman besar” bahwa dirinya gay, mereka akan menjawab “Nak, kamu sudah mengatakannya waktu umur 6 tahun. Tolong ambilkan sayurnya.”

Mereka berdua sebetulnya juga masih terbuka andaikata anaknya tidak gay. Menurut si ibu, anak kecil memang sering terobsesi pada berbagai macam hal.

“Hanya waktu yang akan membuktikan apakah anak saya gay, tapi saya bersyukur dia adalah anak saya. Saya bersyukur dia lahir di keluarga kami. Keluarga yang akan menyayanginya, dan menerimanya apa adanya. Keluarga yang tidak mengingkankan dia berubah. Dengan ayah ibu yang tidak sabar untuk berdansa di pernikahannya.”

Opinion - October 14th, 2011

Salahkah Memasang Identitas Akun Twitter

Sebuah artikel di situs Salingsilang menuai kritik lantaran menyebutkan identitas dua akun twitter yang dimaki-maki massa online. Kedua pemilik akun itu (saya pakai inisial AS dan HS) diserang puluhan warga Twitter setelah keduanya menyalahkan perilaku orang di Bali sebagai penyebab gempa 13 Oktober. Akibatnya, beberapa waktu kemudian, kedua twit tersebut dihapus.

Protes untuk Salingsilang yang pertama saya baca muncul dari Pitra:

Statement Pitra

Hal serupa juga dilontarkan oleh Donny BU, yang kemudian dituangkan ke blognya. Walaupun saya tidak setuju kalau kejadian memaki-maki itu masuk ke kategory bullying (baca artikel saya tentang batasan bullying), tetapi penyebutan identitas orang dalam naskah blog adalah diskusi yang musti diperdalam.

Pada dasarnya tweet yang tidak digembok adalah pernyataan di ruang publik. Ini beda dengan melemparstatement di milis atau chatroom. Konsekuensinya, jika tweet tersebut kemudian memunculkan minat publik, maka si pemilik akun menjadi tokoh publik. Tepatnya “tokoh publik terbatas”—sebuah definisi dari AS untuk membedakah tokoh publik yang pejabat atau artis.

Tokoh publik terbatas dijabarkan sebagai “orang yg membawa dirinya ke dalam sebuah kontroversi publik, guna mempengaruhi penyelesaiannya”. Dalam hal ini AS dan HS masuk ke dalam kategori tokoh publik terbatas, sehingga masyarakat berhak mengetahui identitasnya.

Namun, penelitian saya kemudian mendarat di sebuah naskah tentang kode etik jurnalisme dari Finlandia. Walaupun tidak semua blog adalah karya jurnalisme, namun beberapa memenuhi kriterianya. Salah satu butir menarik dalam kode itu adalah:

“Jurnalis harus membedakan antara isu publik, dan isu yang menimbulkan keingintahuan publik.”

Dengan demikian, karena naskah seperti di Salingsilang condong mendiskusikan apa yang terjadi pada AS dan HS (bukan ke isu yang dilempar keduanya), maka saya pikir penyebutan nama adalah tidak bijaksana.

Akan lain soal, andaikata saya menuliskan artikel yang mengkritisi pernyataan AS dan HS di blog.