hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for September, 2011

Indonesiana - September 28th, 2011

Apakah @AlbertheineE Korban Bullying?

Semua berawal dari twit @AlberthieneE yang ini:

Pak Harto emang hebat. Kagak pernah ada bom.

Pernyataan ini tentu saja salah, karena pada jaman Soeharto pernah ada bom. Jika kasus pengeboman sedikit, itu lebih karena pada rezim Soeharto orang tidak salah bisa ditangkap karena tuduhan makar. Jangankan ditangkap, kadang kala orang hilang begitu saja.

Akan tetapi yang terkatakan telah terlanjur menuai kritik tajam. Walaupun @AlberthineE membalas kritik-kritik itu dengan nada yang tidak kalah ketus, namun pada akhirnya ia tidak kuat. Senin 26 Sep, @AlberthineE memutuskan untuk menghapus akunnya di Twitter. (Untuk kronologinya silahkan tilik blognya Alderina)

Sejumlah orang, seperti Mbak Silly, menyesalkan terjadinya bullying terhadap @AlberthieneE. Akan tetapi, apakah benar ini termasuk bullying?

Kalau kita cari di internet, sebetulnya ada beberapa ciri-ciri bullying, yaitu:

  • terjadi kekerasan fisik, verbal, tekstual, maupun pskologis.
  • terjadi berulang
  • ada ketimpangan kekuatan
  • korban tidak dapat melawan
  • menyebabkan korban mengalami depresi, kesehatan menurun, dan dalam beberapa kasus: bunuh diri

Jika kita mengacu pada ciri-ciri di atas, sebetulnya susah untuk mengatakan bahwa @AlberthieneE telah dibully. Walaupun dia dimaki-maki, namun itu cuma terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam. Selain itu, tidak ada ketimpangan kekuatan, dan @AlberthieneE juga bisa melawan.

Mengapa sangat penting untuk memisahkan kasus semacam @AlberthieneE dari kategori bullying? Karena masalah bullying ini bukan main-main, dan telah menimbulkan korban. Jangan sampai orang yang kalah debat kemudian mengaku-ngaku telah dibully guna meraih simpati massa.

Yang terjadi pada @AlberthieneE adalah kemerdekaan berekspresi. Ia bebas untuk mengutarakan opininya, namun orang juga boleh mengkritik opininya. Jika kemudian kritik-kritik itu tidak enak didengar, mustahil juga untuk mengatur gaya bicara orang lain. Dan jangan lupa, berbicara di Twitter adalah berbicara di depan jutaan orang. Tidak semua akan menanggapi Anda dengan manis dan halus.

Namun salah kaprah ini tidak cuma di kasus @AlberthieneE. Menkominfo TIfatul Sembiring pernah dibilang korban bullying, gara-gara dia dimaki-maki lantaran bercanda soal pengidap AIDS. Tentu aneh kalau menteri bisa dibully, karena ketimpangan kekuatan justru condong ke Tifatul.

Demikian juga ketika Gilang Perdana—siswa SMA yang sesumbar di Twitter setelah mengeroyok wartawan—diserang onliners, tentu juga tidak termasuk bullying; karena Gilang justru memulai twit kontroversial.

Jika salah kaprah istilah ini berlanjut, saya khawatir istilah bullying akan kehilangan maknanya—dan lebih parah lagi: dipakai untuk lucu-lucuan. Akibatnya, korban bullying akan semakin sulit untuk mencari dukungan yang sangat ia perlukan.

___________
Posting ini didedikasikan untuk semua korban bullying, baik yang sudah melawan maupun yang sedang mengumpulkan kekuatan. :)

Reviews - September 12th, 2011

Captain America: The First Avenger

Captain America The First Avenger

Hari Sabtu saya duduk di teater, dan menyaksikan adegan paling konyol tahun ini: Steve Rogers melangkah gagah, cuek, dengan slow motion, dan musik heroik. Lalu ia berhenti, mengucapkan sepatah dua patah dialog kacangan, melirik perempuannya, dan sontak seketika tepuk tangan mengalir meriah dari puluhan pasukan yang ada di sekelilingnya.

Inilah Captain America yang akan membuka seri film The Avengers dari Marvel.

Premisnya—walaupun konyol—sebetulnya menjanjikan ruang luas untuk digarap dengan keren. Steve Roger (Chris Evans) adalah seorang pemuda cungkring yang terobsesi menggempur Nazi walaupun ditolak berkali-kali oleh angkatan darat. Kegigihan Steve akhirnya dilirik oleh ilmuwan AS (Stanley Tucci) yang sedang mengembangkan serum manusia super. Melalui serum mutakhir dan kekuatan vitaray, akhirnya Steve yang kurus kering disulap menjadi Captain America.

Lepas dari semua kekonyolan itu, kesalahan film ini ada pada alur cerita yang terlalu padat tapi tanpa kedalaman. Captain America tidak cuma menceritakan latar belakang Steve Roger dan perjalanannya menjadi sang superhero, tetapi juga kisah cintanya, dilemanya, dan pertarungannya. Walhasil semua aspek itu digarap tanpa kedalaman. Chris Evans sama sekali tidak membuat film ini menjadi lebih baik. Aktingnya dangkal dan tanpa charm seperti Spiderman-nya Tobey Maguire ataupun Iron Man-nya Robert Downey Jr.

Hugo Weaving yang menyihir penonton lewat V For Vendetta, juga terlihat biasa saja sebagai Red Skull. Ia memerankan panglima Nazi bengis, karakter yang juga telah kelewat banyak diekpsloitasi Hollywood (Indiana Jones 4, Inglorious Bastard).

Akan tetapi adegan “kalengan” tidak berhenti di Hugo Weaving. Adegan Steve Roger berubah menjadi Captain America mengingatkan kita pada adagan perubahan Wolverine dan juga Bane (di Batman and Robins). Adegan melangkah-gagah-dengan-slowmotion, mengingatkan kita pada Fear Factor. Adegan Howard Stark menjelaskan senjata-senjata untuk Captain America, jelas-jelas menyalin James Bond.

Seolah belum puas membuat film ini hancur, sang penulis skenario seolah tidak kehabisan akal untuk menyisipkan sejumlah dialog-dialog yang cheesy.

Dan ketika film ini dipuji karena karena unsur retronya, mari kita lihat Crouching Tiger Hidden Dragon. Itu sangat retro, dan adegan laganya keren luar biasa. Ini bukan soal retro, tetapi soal kreativitas. Tepatnya kurangnya kreativitas di Captain America.