hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for July, 2011

Politik - July 28th, 2011

Cara Aceh Menyambut Turis Asing

Sidak Polisi Syariah Wisatawan di Aceh

Pria bule yang sedang disidak polisi syariat Aceh itu namanya Bryan. Dia tidak meniduri pelacur, atau madat dengan obat-obatan terlarang di Serambi Mekah. Ia hanya berada di Aceh untuk melihat berbagai situs bersejarah di sana.

Namun sekitar pukul 3 pagi, ketika Bryan sedang terlelap, pintu hotelnya di Banda Aceh dibuka dari luar. Tanpa pemberitahuan, tanpa permisi, dan tanpa adab polisi-polisi syariat langsung menerobos masuk begitu saja. Dan setelah menginspeksi sejenak, gerombolan itu keluar dari kamar hotel.

Bryan yang setengah terbangun akibat disidak polisi syariah langsung keluar kamar kamar, dan mendapati puluhan orang di lobby. Menurut mahasiswa S3 Sejarah Islam Harvard itu ada wartawan, polisi, hingga pejabat di sana.

“Apa ini, kenapa kamar saya digedor? Saya baru pertama kali ke Aceh. Apa salah saya? Apakah ini budaya Aceh menyambut tamu?” teriak Bryan di antara kerumunan orang itu.

Wakil walikota Banda Aceh, Hj. Illiza Saaduddin Djamal yang mengikuti sidak itu langsung turun tangan dan minta maaf.

Apa gerangan yang dilakukan pejabat seperti Bu Hj. Illiza tengah malam di hotel di antara wartawan dan sidak syariat tentu akan menjadi kajian yang menarik.

Yang jelas, usaha pemkot menjadikan Aceh tujuan wisata (dengan mencanangkan Visit Banda Aceh Year 2011) nampaknya akan sia-sia kalau hanya melihat turis sebagai kantong uang, tanpa adanya niat untuk lebih toleran terhadap perbedaan.

“Saya mengunjungi Aceh dengan pikiran terbuka dan niat untuk memahami budayanya, tapi di malam pertama, kamar saya malah diserang,” ujar Bryan melalui SMS.

Indonesiana - July 27th, 2011

Guest Blogger: Liang Kubur Orang Individualis

Spesial hari ini, ada guest blogger yang mengisi blog ini. Perkenalkan Noor Rahmani, ibu saya, yang menulis soal individualis. :D

***

Pagi ini sambil menyapu, Si Mbak pembantu rumah ngobrol dengan saya. Dia bertanya, kalau hubungan dengan tetangga kurang akrab, nanti kalau meninggal siapa yang menggali liang kubur?

Saya jawab: kita bayar orang.

“Oooo.. kalau di desa saya, tetangga desalah yang menggali,” jawab si Mbak.

Dalam hati saya geli, membayangkan tetangga RT saya Pak Bambang Sudibyo, dr. Sunarto, Pak Zaki Baridwan dan Pak Samsubar menggali liang kubur saya.

Kemudian si Mbak bertanya lagi: “Kalau tidak dekat dengan tetangga, siapa yang layat?”

Dalam masyarakat kolektif, kehidupan sangat tergantung pada pertolongan dan bantuan dari orang2 yang tinggal disekeliling kita, yaitu tetangga. Bagaimana dengan masyarakat individualis? Orang sering salah persepsi, mengatakan bahwa masyarakat individualis itu asosial.

Bagaimana mungkin? Bukankah manusia itu makhluk sosial?

Sebenarnya tidak ada perbedaan antara masyarakat individualis dengan masyarakat kolektif, tetap sama2 makhluk sosial. Hanya bedanya, pada masyarakat kolektif, hubungan sosial default dengan tetangga.

Kondisi ini berasal dari kehidupan jaman dahulu, ketika manusia masih hidup di tengah hutan yang penuh dengan mara bahaya. Manusia harus bersatu agar bisa selamat bahu membahu menghadapi kekerasan alam. Mereka menciptakan norma-norma bermasyarakat dalam suku, yang harus dipatuhi agar suku menjadi solid dan kuat menghadapi mara bahaya. Hubungan baik, kedekatan dan interaksi intensif harus dilakukan oleh anggota suku untuk memaintain eksistensinya di dalam suku. Kalau melanggar norma-norma suku, seseorang bisa dibenci dan dibuang dari suku, ujung-ujungnya harus hidup sendiri berhadapan dengan singa, ular, dan marabahaya alam lainnya.

Semakin maju suatu masyarakat, terjadi pembagian tugas. Ada yang bercocok tanam, ada yang menjaga keamanan yang diberi bagian dari hasil bercocok tanam. Muncullah tata kehidupan baru yakni membayar pajak dan mendapat fasilitas keamanan dan kenyamanan. Kita tidak perlu bersatu lagi menghadapi mara bahaya. Kita sudah membayar pajak untuk menggaji polisi dan tentara guna mengamankan lingkungan kita.

Kemajuan teknologi sangat besar pengaruhnya pada interaksi sosial.

Ketika kita punya kendaraan, kita bisa berteman dengan mereka yang ada dalam jangkauan kendaraan kita. Munculnya layanan transportasi umum semakin mendekatkan kita dengan sahabat-sahabat yang jauh. HP dan internet, lebih-lebih lagi. Bisa terjadi sambil nongkrong di toilet, kita bisa ngobrol dengan teman yang lagi sekolah di Inggris. :)

Di sinilah bedanya, masyarakat kolektif tidak bisa memilih komunitas mereka sesuai dengan keinginan mereka. Mau tidak mau, ya hanya tetangga kita. Masyarakat individualis tetap bergaul dan bermasyarakat, tapi kita bisa memilih sendiri komunitas kita.

Jadi bapak ibu tidak usah merasa rikuh kalau tidak akrab dengan tetangga, karena teman-teman kita tersebar baik di kantor, milis teman alumni kuliah, BBM Group alumni SMA, alumni SMP, alumni SD, kelompok diskusi penggemar tas, penggemar kucing, grup keluarga, grup keluarga mertua, dlsb dlsb.

Kalau meninggal, siapa yang layat? Yah kalau Bapak Ibu populer dan baik perilakunya dalam kelompok-kelompok yang bapak ibu ikuti, bisa saja pelayat membludag dan membuat tetangga melongo.

Jangan merasa bersalah jika bapak ibu individualis, karena kolektif-individualis itu bukan dikotomi tapi kontinum. Semua masyarakat, akibat kemajuan sosial dan teknologi, pada akhirnya akan menjadi individualis, sooner or later :)

Reviews - July 17th, 2011

Harry Potter and the Deathly Hallows, Part 2

Bagian pertama Deathly Hallows berakhir dengan Dobby yang berdiri lemah setelah setikam belati menembus dadanya. Si peri rumah itu terjatuh dan tatapan mata besarnya kemudian memantulkan bintang-bintang yang tidak lagi ia lihat.

Kematian menjadi tema sentral dalam Deathly Hallow. Harry sudah kehilangan Dumbledore, Hedwig, Alastor Moody, dan Dobby. Dia akan kehilangan semuanya jika Voldemort mendapatkan satu hal yang membuatnya berkuasa tanpa batas: kematian Harry Potter.

Untuk mencegah kebangkitan Voldemort, Harry harus memusnahkan horcrux—jimat yang menyimpan nyawa Voldemort. Ada tujuh horcrux yang dibuat Voldemort, dan baru 3 yang sudah dimusnahkan (buku harian Tom Riddle, cincin keluarga Gaunt, dan liontin Slytherin). Tiga sekawan Harry, Hermione, dan Ron berpacu dengan waktu untuk menemukan empat horcrux yang berwujud entah.

Jika film pertama Deathly Hallows bernuansa suram, maka film kedua langsung dibangun dengan ritme tangkas. Sutradara David Yates memulai film dengan perampokan di Gringgots dan langsung bergerak ke pertempuran terakhir di Hogwarts sampai salah satu dari Voldemort, atau Harry Potter, harus kalah.

Berkat keleluasaan running time yang mencapai 5 jam (kalau Part 1 dan Part 2 digabung), Steve Kloves mampu menterjemahkan penutup seri ini dengan baik. Hampir keseluruhan buku J.K. Rowling ini dapat ditransfer seutuhnya dalam medium seluloid. Fans Harry Potter yang puritan mungkin akan kecewa dengan hilangnya sejumlah subplot tentang Dumbledore, tapi menyaksikan Voldemort kian melemah ketika satu dua horcrux dimusnahkan adalah pengganti yang setimpal.

Saya sangat suka arahan musik Alexandre Desplat dan juga sinematografi yang indah, namun Part 2 memiliki sejumlah potensi menjadi film yang buruk karena beberapa alasan: adegan action dan efek khusus yang terlampau melimpah, tokoh-tokoh yang tidak berkembang banyak, dan emosi cerita yang cenderung datar. Bertolak belakang dengan Deathly Hallows Part 1 yang beremosi dan matang, Part 2 memiliki nafas blockbuster Hollywood.

Akan tetapi, karena Part 2 adalah konklusi dari pendahulunya, dan satu film tidak bisa berdiri tanpa yang satunya, maka Deathly Hallows Part 2 adalah penutup yang sangat memuaskan.

Reviews - July 2nd, 2011

Pirates of Caribbean: On Stranger Tides

Pirates of Caribbean-On Stranger Tides

Sudah menjadi adat Hollywood untuk meneruskan film laris menjadi trilogi. Transformers, Bourne, dan Iron Man salah satunya. Ketika film ketiga seri Pirates ini sukses mencatat laba lebih dari 900 juta dolar AS, maka Disney tidak ragu-ragu memperpanjang sebuah trilogi itu menjadi dua trilogi.

Trilogi kedua ini mengistirahatkan tema-tema yang sudah mapan di tiga film sebelumnya, seperti kisah asmara Elisabeth Swann and Will Turner. Begitu juga dua sidekick Pintel dan Ragetti, mereka sudah tidak muncul lagi. Kapten Barbosa, musuh bebuyutan (kini berkaki kayu), sekarang menanggalkan status bajak lautnya dan mengabdi kepada raja Inggris, King George II.

Film ini dimulai dengan King George II yang khawatir dengan ekspedisi Kerajaan Spanyol untuk menemukan air mancur keabadian—fountain of youth. Ia mengirimkan Barbossa untuk memastikan air mancur itu tidak dikuasai Spanyol untuk menyiapkan pasukan kebal senjata.

Kapten Jack Sparrow (Johnny Depp), tentu punya masalah lain. Dia gusar karena munculnya sosok mengaku-aku sebagai dirinya yang mengklaim akan memulai ekspedisi mencari air mancur keabadian. Setelah menyelidiki sana-sini dan beradu pedang satu dua kali, akhirnya Jack menemukan sang penjiplak. Ia adalah Angelica (Penelopé Cruz), mantan kekasihya dulu.

Angelica yang ternyata putri bajak laut bengis Blackbeard (Ian McShane) itu sedang berburu air mancur keabadian untuk menangkal ramalan bahwa Blackbeard akan tewas oleh pria berkaki satu.

Perburuan air mancur itu berakhir di Florida, di mana mereka harus mencari air mata putri duyung dan gelas mujarab Ponce De Leon untuk melengkapi ritual air mancur kehidupan, di mana satu orang akan mati, dan satu orang akan hidup abadi.

Dengan premis cerita yang sebetulnya menarik, film ke-4 ini mengingkari tradisi alur cerita rumit penuh kejutan yang khas dari seri Pirates. Film dimulai dan selesai dengan linear, tanpa kejutan yang berarti. Adegan action yang biasanya digarap cerdas juga terasa minim. Walaupun begitu, dialog-dialog jitu oleh Terry Rosio dan Ted Eliott masih belum lenyap.

Yang lenyap adalah art direction cantik khas Pirates. Demikian juga subplot romansa untuk menggantikan chemistry antara Turner dan Swann—kini diambil alih Kapten Jack dan Angelica, dan ditambah romansa seorang misionaris Philip dan putri duyung Syrena—belum digarap matang.

Walaupun Disney sudah menggelontorkan 250 juta dolar AS untuk film ini (film sebelumnya memakan biaya 300 juta dolar), Pirates At Stranger Tides terasa dibuat dengan hemat. Film in sukses meraup hampir 1 milyar dolar AS (mengalahkan film ke-3), yang menjamin sekuel ke-5 akan segera datang dalam waktu dekat. Di film ke-5, Sutradara Rob Marshall dan Jerry Bruckheimer harus membuktikan kalau mereka bisa lebih baik daripada ini.