hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for June, 2011

Politik - June 28th, 2011

Netroots Nation 2011 #CatatanDiAS

Netroots Nation Keynote

Pukul 21 di Dakota Jazz Club, Minnesota. Puluhan aktivis progresif berkumpul blek di situ. Bukan untuk konferensi Netroots Nation. Mereka karaoke. Melantunkan lagu rap hingga boyband, baik dengan irama medu maupun fals.

Tradisi karaoke Netroots Nation berawal sejak konferensi ke-4 mereka di Pittsburgh tahun 2009, jelas Markos Moulitsas, pendiri situs politik DailyKos. Awalnya beberapa peserta cuma iseng karaoke di kota sepi itu. Pemilik kedai karaoke yang awalnya heran mengapa banyak orang asing, akhirnya menantang untuk mengadakan pesta karaoke.

Kelompok kecil itu akhirnya menyiapkan pesta karaoke Netroots dengan memakai email dan brosur sebagai media promosinya. Pesta karaoke itu akhirnya dihadiri puluhan orang, menyesaki kedai karaoke kecil itu, dan tradisi karaoke Netroots Nation dimulai.

“Inilah hebatnya social media,” ujar Markos yang juga inisiator konferensi Netroots Nation ketika berbincang-bincang dengan saya. Markos mengatakan, dengan adanya social media, kesuksesan kegiatan tidak lagi harus mengandalkan tokoh sentral, cukup digarap oleh kelompok-kelompok kecil yang ulet saja.

Konferensi Netroots Nation adalah tentang memberdayakan suara akar rumput di Internet, bagaimana menggunakan social media dan blog untuk membuat perubahan. Sejumlah sesi konferensi sangat terkait dengan isu terkini AS, seperti gaji guru, hak pekerja, dan pemilu; tapi banyak juga sesi teknis seperti cara menulis blog yang mengena dan teknik berbicara di depan kamera andaikata diwawancara televisi.

Netroots Nation merupakan konferensi kelompok progresif (istilah yang lebih halus untuk “liberal”). Pesertanya memiliki agenda-agenda progresif dan menggunakan partai Demokrat AS sebagai kendaraannya.

Maka tidak heran jika pada sesi bincang-bincang dengan direktur komunikasi Gedung Putih, Dan Pfeifer, para hadirin memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan uneg-uneg dan kekecewaan terhadap Obama. Selain mendiskusikan isu domestik seperti gaji guru dan pernikahan gay/lesbian; beberapa juga mengkritisi Obama yang tak kunjung menarik pasukan dari Afganistan (ketika blog ini ditulis sudah ditarik) dan juga keterlibatan AS di Libya.

Netroots Nation Bincang-Bincang dengan Dan Pffeifer

Ada satu pertanyaan yang agak “konyol”. Seorang hadirin yang nampak frustasi akbiat seringnya kebijakan Obama digagalkan DPR AS (yang dikuasai partai oposisi) menanyakan “Apakah tidak mungkin Presiden bergerak tanpa DPR?”

Aaron Connely yang menanggapi livetwit saya, mengatakan kalau sentimen Anti-Obama di Netroots Nation memang cenderung tribal.

Akan tetapi menghadiri konferensi ini membuka sebuah wawasan baru tentang AS. Kebanyakan peserta memang mendukung marriage equality (pernikahan gay/lesbian) dan pro-choice (pro pilihan untuk aborsi); namun mereka juga prihatin terhadap diskriminasi terhadap kaum muslim di Amerika Serikat. Bahkan ketika dua orang wanita muslim berjilbab diganggu oleh pria bule, para aktivis itu turun tangan dan membela kedua wanita itu.

(Kejadian itu mungkin akan saya ceritakan pada posting terpisah.)

Sungguh menyenangkan jika Indonesia memiliki konferensi seperti ini, di mana gagasan-gagasan politik untuk kebaikan masyarakat disuarakan dengan lantang dan berani; serta kesadaran bahwa partai politik bukan mesin uang politikus, melainkan kendaraan untuk mencapai tujuan kita.

Kemeriahan seperti ini mungkin mengandung biaya yang harus dibayar mahal, yaitu perbedaan yang terlampau kontras hingga menjurus ke perpecahan. Pada saat Netroots Nations 2011 diadakan, kelompok konservatif ikut mengadakan konferensi aktivis online, Right Online, di hotel Hyatt yang cuma sepelemparan batu dari lokasi Netroots Nation.

Reviews - June 27th, 2011

Super 8

Super 8

Kemahiran sineas JJ. Abrams telah menyihir saya dengan Cloverfield. Ketika mengetahui kalau sutradara muda itu berkolaborasi dengan Spielberg, mau tidak mau, saya punya ekspektasi tinggi. Apalagi judul filmnya Super 8—format film jadul—saya menduga JJ Abrams akan mengulangi apa yang keren dari Cloverfield.

Super 8 dimulai dengan sebuah kecelakaan pada sebuah pabrik yang menewaskan ibu Joe Lamb (Joel Courtney). Kecelakaan yang disajikan implisit itu mengawali film dengan suasana mencekam.

Berusaha melupakan tragedi itu, Joe bersama Charles dan teman-temannya sibuk membuat film zombie memakai kamera super 8. Keasikan geng kecil itu tambah marak ketika Alice (Elle Fanning) bergabung menjadi aktris untuk film mereka.

Pada saat syuting di sebuah stasiun kereta, sebuah kecelakaan kereta api yang fatal menghancurkan kamera super 8 Charles. Belakangan Joe dan Charles menemukan sosok mirip alien pada rekaman super 8 itu, sesudah berbagai keanehan terjadi di kota mereka. Setelah beberapa orang hilang dan puluhan oven microwave lenyap, nasib kota itu mungkin ada di tangan Joel.

Aktor cilik Joel Courtney dan Elle Fanning membawakan karakter mereka dengan bagus, dan didukung oleh ensemble yang sukses melantunkan dialog-dialog lucu khas Spielberg. Pengaruh Spielberg memang terasa menempel di mana-mana. Mulai dari dialog, lelucon karakter, hingga ending-nya.

Rasanya, Super 8 seperti mau menjadi  E.T., namun tidak bisa mengulang kehangatan film 80-an itu. Di tengah film, saya merasa mengantuk, terutama saat nuansa mencekam hilang, dan beralih menjadi film action untuk anak-anak.

Politik - June 24th, 2011

Drama Korea Mencerahkan Korea Utara #CatatanDiAS

Eun Kyoung Kwon persis seperti seorang wanita Korea dalam bayangan kita. Gerak-geriknya tertata, berbicara teratur, dan tutur katanya cerdas. Ia adalah manager internasional untuk situs berita The Daily NK, yang melaporkan situasi Korea Utara untuk dunia.

Maka pertanyaan pertama saya adalah “Bagaimana Daily NK mendapatkan berita dari Korea Utara?”

Korea Utara bisa dibilang sebagai negara yang paling tertutup sedunia. Tidak banyak yang diketahui dunia tentang Korea Utara. Semua pengunjung (sangat langka), diawasi terus gerak geriknya. Demikian juga informasi yang diperoleh rakyatnya. Media massa dikendalikan sepenuhnya oleh Kim Jong-il, Pemimpin Agung Korea Utara.

“Sumber kami adalah pelarian dari Korut, dan juga dari para penyelundup,” ujar Eun Kyoung Kwon ketika kami ngobrol di Foreign Press Center, Washington, D.C.

Melalui para informan inilah, Eun Kyoung memperoleh informasi terkini dari Korea Utara. Sebuah berita yang cukup menyayat adalah tentang hukuman mati untuk 3 orang maling. Tiga pencuri itu didakwa mencuri minyak tanah, kabel meter, dan jagung 50 kilo. Berita lain adalah jatah beras dan jagung untuk petani yang berkurang karena harus diberikan untuk tentara.

Akan tetapi tidak semua berita di Daily NK bernada pahit getir. Tilik saja artikel tentang Korean Wave, tentang pemuda-pemudi Korea Utara yang mulai gandrung memakai skinny jeans.

Tunggu… Korea Utara? Dan skinny jeans!?

Menurut Eun Kyoung, penduduk Korea Utara tergila-gila dengan drama Korea seperti “Smile Dong-hae” dan “Midas”. Sinetron-sinetron itu diselundupkan melalui DVD dari perbatasan di RRC. Akibatnya budaya mutakhir seperti skinny jeans ikut terbawa masuk ke negara tirai besi. Drama Korea telah memberi masyarakat Korut gambaran bahwa situasi di luar sana lebih baik, daripada yang diceritakan oleh Kim Jong-il.

Saya kemudian mencoba bertanya apakah Eun Kyung juga menggemari drama Korea. Ternyata ia jarang menonton. :D

Wah sama. Saya juga gak pernah nonton sinetron Indonesia.

Politik - June 23rd, 2011

Catatan di AS: Seberapa Penting Peran Internet dalam Perubahan

Lamees Dhaif

Di gedung Deplu AS, Washington D.C., Lamees Dhaif bercerita tentang pemerintah Bahrain yang menculik adik perempuannya. Adik Lamess ditahan selama 50 hari gara-gara tulisan di blog Lamees yang mengkritik pemerintah. Perempuan jurnalis itu mungkin bisa menghadapi tekanan culik dan siksa, tapi adiknya yang guru tentu saja tidak.

Menurut Lamees, rumahnya juga pernah dikepung dan dilempari bom molotov pada pukul 3 pagi. Untunglah kakak lelakinya terbangun, dan bisa memadamkan apinya.

Anehnya, pernyataan ini kemudian disanggah kakaknya sendiri melalui koran Gulf Daily News. Kakak Lamees yang anggota satuan kepolisian Bahrain, menyangkal pernah diteror.

Begitulah kurang lebih kisah-kisah mencekam yang saya peroleh selama mengikuti tur ke Amerika Serikat bersama 20 blogger Asia Tenggara, Afrika, dan Timur Tengah. Generasi muda Indonesia mungkin tidak tahu, kalau 15 tahun yang lalu negara ini masih seperti Bahrain di mana orang-orang yang mengkritik pemerintah Soeharto akan diculik, disiksa, dan kemudian difitnah.

Tilik saja kisah Qais, blogger Irak yang berbadan besar dan berekspresi ramah itu. Di balik senyumnya yang selalu lebar, ternyata ia baru saja kehilangan seorang kakak ipar. Menurut Qais, kakak iparnya dibunuh oleh orang pemerintah. Ia memperoleh videonya, tetapi ketika hendak dipublikasikan, petugas melarangnya.

Alec Ross, yang merupakan staf ahli Menlu Clinton, mengaku walaupun AS memiliki kebijakan tunggal untuk internet yang terbuka untuk 195 negara di dunia, kebijakan ini harus dikemas oleh puluhan kebijakan-kebijakan lain. Menurut Alec, pemerintah AS dalam posisi sulit ketika berdiplomasi dengan negara sahabat yang dipimpin oleh diktator.

“Mereka bukan musuh, tetapi kami mengajak mereka untuk berubah,” ujar Alec.

Alec Ross

Alec juga mencontohkan bahwa AS adalah negara pertama yang mengkritik pemerintah Tunisia setelah insiden Mohamed Bouazizi membakar diri.

Sebagian besar blogger dan jurnalis dalam pertemuan itu berpendapat bahwa mereka tidak mengharapkan AS untuk turun tangan menyelesaikan masalah di negara masing-masing, melainkan mereka berharap AS tidak membela rejim yang diktator. Wael Abbas, blogger dari Mesir mencontohkan kejadian ketika Menlu Clinton mengatakan pemerintahan Mubarak dalam kondisi stabil saat pergolakan tengah terjadi di negara itu.

Alec mengakui kekhilafan Clinton ketika memberi pernyataan itu, dan mengatakan kalau Ibu Menlu langsung mengoreksinya beberapa saat kemudian.

Saya berpendapat kalau nasib sebuah negara memang harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri. Dalam kasus seperti di Bahrain, Mesir, dan China di mana pemerintah mengendalikan akses internet, maka sebuah perubahan politik harus dilakukan dengan turun di jalan.

Sana Saleem, blogger dari Pakistan, mengkritisi pemujaan berlebihan terhadap alat-alat seperti Twitter dan Facebook. Hal yang sama juga diamini oleh Trinh Nguyen, seorang aktivis demokrasi Vietnam dalam sebuah panel di Netroots Nation. Trin berpendapat kalau untuk membuat perubahan di Vietnam harus dimulai dengan mematikan komputer dan turun ke lapangan.

Di Indonesia, dengan kemerdekaan berekspresi yang lumayan baik, saya melihat bahwa internet punya peran lebih dari sekedar alat. Dengan semakin meluasnya mobile internet, blog dan social media memiliki kekuatan untuk mempengaruhi opini massa dan menjalar ke kebijakan publik.

Pengaruh di social media yang cenderung tersebar rata membuatnya lebih sulit untuk dikendalikan dan diarahkan untuk lari ke satu opini. Pelan tapi pasti, social media akan menjadi representasi opini massa yang lebih jujur. Dan ini tentu merupakan berita buruk bagi media massa yang nada pemberitaannya cenderung membela pemiliknya.

Tentu saja itu hanya akan terjadi, jika kemerdekaan berekspresi di Indonesia tetap merdeka.

Politik - June 9th, 2011

Mengikuti Netroots Nations di Amerika Serikat

Netroots Nation, Amerika Serikat

Jika tidak ada halangan, Sabtu besok saya akan terbang ke AS untuk mengikuti Netroots Nation, sebuah konferensi aktivis online di Minneapolis. Kalau baca-baca agendanya, kayaknya bakal seru. Seperti misalnya sesi Social Networks, Down and Dirty for Change, yang akan membahas strategi gerakan masyakat melalui socmed yang gagal, dan tentu saja yang sukses besar.

Sesi yang tidak kalah menarik adalah Finding Your Voice in Writing and Making it Heard—menghadirkan panelis dari lapangan dan media. Mereka akan bertutur tentang menulis argumentasi dan persuasi yang cocok untuk gerakan sosial di socmed.

Itu adalah dua dari 150 lebih sesi yang akan diadakan selama 16-19 Juni. Sesuai namanya (kependekan dari Internet Grassroots), pembicara konferensi ini adalah suara akar rumput yang memanfaatkan media sosial untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Tentu tidak semuanya grassroots. Ada sesi bincang-bincang dengan Dan Pffeifer, direktur komunikasi Gedung Putih. Tentu menarik sekali, bisa mengetahui pemerintahan Obama mengelola informasi. Ada juga sesi dengan Jerry Bird, direktur lapangan untuk kampanye Obama 2012, sehingga kita bisa dapat bocoran strategi mereka.

Memang sih, kebanyakan sesinya sangat terkait dengan politik Amerika Serikat. Akan tetapi format konferensi ini sangat oke kalau diadaptasi untuk Indonesia. Format umum seperti Pesta Blogger sudah kurang tepat lagi bagi Indonesia yang jauh berkembang sejak 2007. Bentuknya harus dikembangkan dan sekaligus dibuat lebih spesifik.

Jadi, mudah-mudahan, pengalaman mengikuti Netroots Nation bisa menginspirasi format baru untuk mempererat para blogger dan tweeple di Indonesia.

Selain ke Minneapolis, saya juga akan mampir ke DC, bertemu dengan sejumlah petinggi Departemen Luar Negeri AS yang mengatur kebijakan komunikasi social media. Tentu sangat bertolak belakang dengan Tifatul Sembiring yang twit-twitnya tanpa kebijakan. :D

(Mudah-mudahan nanti laporan saya di sana dibaca Pak Tif :P )

(Untuk membiasakan budaya disclosure di socmed Indonesia, inilah dia: Kegiatan saya di AS disponsori oleh Departemen Luar Negeri AS. Mereka memang meminta saya untuk melaporkan kegiatan di sana, akan tetapi tidak memaksakan saya untuk menyampaikan pesan sponsor apapun. Demikian.)

Semua laporan tentu akan mendarat di blog ini, dan di twitter saya @hermansaksono. ;)

Update laporan di AS: