hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for April, 2011

Reports - April 26th, 2011

Kemerdekaan Berekspresi di ASEAN

ASEAN Bloggers

ASEAN Bloggers

Mendengarkan setiap delegasi konferensi blogger ASEAN menceritakan perkembangan blog dan social media di negaranya masing-masing, mengingatkan bahwa perjuangan untuk kemerdekaan berpendapat di kawasan ini masih panjang. Brunei Darussalam, walaupun masyarakat onlinenya meriah, tetapi tidak ada yang namanya blog politik. Reeda Malik, blogger Brunei, menjelaskan bahwa mengkritik pemerintah dilarang oleh hukum.

Hal yang serupa juga terjadi di Thailand. Di negeri gajah putih itu, ketika kita mengkritik pemerintah, secara tidak langsung kita juga mengkritik monarki. Dan ini selalu menjadi masalah, ujar Chandler Vandergrift, reporter Kanada yang telah berada di Thailand selama 7 tahun. Menurut Chandler, blogger Thailand (yang kebanyakan anonim) terjepit oleh jaringan monarki yang terdiri dari elit, militer, dan pengabdi-buta.

ASEAN Bloggers

Blogger dari Sarawak, Vietnam, Indonesia, Kamboja, Malaysia.

Akan tetapi acara di Kuala Lumpur ini bukanlah konferensi kelam tentang suka duka masyarakat sipil. Beberapa presentasi menggambarkan perkembangan social media di negaranya dengan meriah. Mbak Sopheap Chak dari Kamboja dengan bangga menyebut dirinya “Clogger” alias “Cambodian Blogger”—langsung mengundang tawa dan tepuk tangan hadirin. Dalam bahasa inggris, “Clogger” juga berarti penghambat.

Demikian juga dengan Vietnam dan dua wakilnya, Hy Huynh and Anh Minh Do. Dua bujangan ini—dengan gaya celelekan—menceritakan bahwa blogger Vietnam menulis berputar-putar, dengan kiasan dan sindiran, supaya tidak diciduk yang berwenang. Vietnam mengatur blog dengan standar yang lentur. Blog-blog yang mengancam keamanan nasional atau memuat informasi yang tidak akurat akan diblokir.

Mengikuti jejak China dengan Baidu-nya, kini Vietnam sedang membuat Facebook sendiri.

Sayangnya blogger Laos dan Myanmar tidak hadir. Menurut panitia, tidak ada tanggapan dari kedua negara tersebut.

Herman Saksono's presentation at ASEAN Blogger Conference

Saya memberikan overview tentang peran blog dan social media di Indonesia.

Indonesia dan Filipina bisa dibilang lebih beruntung daripada negara-negara ASEAN yang lainnya (paper dan presentasi Indonesia dapat didownload di sini). Blogger di kedua negara tersebut lebih bebas berbicara. Walaupun pencemaran nama baik diatur oleh kitab hukum pidana dan diperkuat oleh UU ITE, dalam prakteknya pasal-pasal ini jarang dipakai pemerintah untuk menjerat blogger. Kemewahan ini bukannya tanpa ancaman, saat ini DPR sedang menyusun RUU Tindak Pidana TI. Tonyo Cruz juga bercerita kalau parlemen Filipina sedang menyiapkan RUU Kejahatan Online dan RUU Sensor Internet.

Di Malaysia, walaupun menganut sistem hukum Anglo-Saxon [Britania Raya] (Indonesia menganut hukum Continental [Eropa]), sejumlah blogger seperti Rocky Bru, Zakhir Mohamad, Firdaus Abdullah dan Irwan Abdul sempat berurusan dengan aparat gara-gara tulisannya di internet. Irwan Abdul dituntut setelah menulis berita parodi yang mengkritik perusahaan listrik Malaysia. Tuduhan tersebut akhirnya dicabut setelah Irwan meminta maaf dan mencabut tulisan tentang “PLN Malaysia menuntut Earth Hour”.

“Di Malaysia memang ada kebebasan berekspresi, tapi tidak ada kebebasan SETELAH berekspresi,” kelakar Irwan.

Anirudh Bhati, lawyer dari dari India, berpendapat bahwa dalam praktiknya tuduhan pencemaran nama baik sering dipakai pemerintah untuk menekan rakyatnya. Ketika seorang blogger dituntut atas tuduhan pencemaran nama baik, maka otomatis dia tertimpa beban untuk membuktikan tidak bersalah; sementara penuntut tidak terbebani apa-apa.

Kadang-kadang represi pemerintah memang tidak dalam bentuk hukum pidana. Mendekati pemilu awal Mei besok, pemerintah Singapura secara sepihak mengukuhkan situs politik The Online Citizen sebagai perkumpulan politik. Status baru ini membawa banyak konsekuensi. Gerak-gerik The Online Citizen diatur secara ketat, harus mempublikasikan nama ketua dan bendahara, tidak boleh memperoleh dana dari luar negeri, tidak boleh melibatkan orang asing, dan tidak boleh membahas politik pada hari tenang sebelum pemilu.

Walaupun begitu, media konvensional seperti televisi dan radio Singapura (yang sahamnya dimiliki pemerintah) masih diperkenankan untuk membahas politik dan pemilu.

Konferensi blogger regional di Kuala Lumpur ini memang pengalaman yang membuka mata, dan mengingatkan kita bahwa masalah yang dihadapi negara sekawasan adalah masalah kita juga. Insiatif Bloghouse Malaysia untuk memulai dialog ini harus diacungi jempol.

Bloghouse Malaysia adalah asosiasi blogger Malaysia, terutama untuk blogger dengan topik sosial dan politik. Asosiasi yang baru saja berdiri ini memiliki pelindung mantan perdana menteri Tun Dr. Mahatir Mohammad. Dengan suhu politik yang pasti akan semakin memanas mendekati pemilu Malaysia tahun depan, semoga asosiasi ini dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

English Version: Freedom of Speech in ASEAN

Observing the ASEAN delegates share the latest development of blogging and social media scene in their nation will reminds you that the road to freedom of expression in the region is a long way ahead. In Brunei, while having a large and vibrant online community, doesn’t have any political blog. According to Reeda Malik, blogger from Brunei, criticizing the government is against the law. Continue reading …

Indonesiana - April 21st, 2011

Blogs and Social Media Connect Indonesian People

Growth of Indonesian blogs 2007-2011

In the last few years, we have witnessed how blogs and social media connect Indonesian people and enabling them to accomplish good causes. This overview of Indonesian online scene is what me, Ollie, and Unspun going to present at the 1st Malaysian-ASEAN Regional Blogger Conference in Kuala Lumpur this weekend.

It will be very exciting, as we got the opportunity to meet fellow bloggers from Brunei, Cambodia, the Philippines, Singapore, Thailand, Vietnam and, of course, Malaysia.

You can download the paper here: Blogging and Socmed Trends in Indonesia (pdf, 68kb); presentation (ppt). One of the highlight in this paper is Indonesian people are exploring new online outlets to have their voices heard. While blog is no longer the only online medium that Indonesians use, but the spirit of sharing ideas and discussing it online remains the same, if not more vibrant.

This conference is organized by Malaysian Blog House, a newly formed association for Malaysian bloggers. With recent clashes between Indonesia and Malaysia, we see that a closer relationships—connected by blogs and socmed—would improve mutual understanding between regional bloggers, and enable us to face 21st century challenges.

You can follow me on Twitter at @hermansaksono. I will try to keep you updated if the wireless internet permits. :D

Indonesia is the no. 1 Twitter penetration in the world

______

Dalam tahun-tahun terakhir kita menyaksikan bagaimana blog dan social media menghubungkan orang Indonesia satu sama lain, dan memberi kita kesempatan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Cerita inilah yang saya, Ollie, dan Unspun akan sajikan di Konferensi Blogger Malaysia-ASEAN akhir pekan ini.

Acara ini bakal seru, karena kita bisa bertemu dengan berbagai blogger dari Brunei, Cambodia, the Philippines, Singapore, Thailand, Vietnam, dan tentu saja, Malaysia.

Papernya bisa diunduh di sini: Blogging and Socmed Trends in Indonesia (pdf, 68kb); ; presentasi (ppt). Isu penting yang di paper ini adalah realita bahwa orang Indonesia kini menggunakan layanan online yang sangat beragam untuk menyampaikan pendapatnya. Walaupun blog tidak lagi menjadi media utama di Internet, tetapi semangat untuk berbagi dan berdiskusi online tetap sama, dan bahkan lebih meriah.

Konferensi ini diselenggarakan oleh Malaysian Blog House, sebuah asosiasi blogger Malaysia yang baru saja dibentuk. Dengan banyaknya perseteruan antara Indonesia dan Malaysia akhir-akhir ini, kita berharap hubungan yang lebih dekat—yang dijalin melalui blog dan social media—dapat meningkatkan kesepahaman antara blogger-blogger di ASEAN, sehingga dapat lebih baik menghadapi tantangan abad ini.

Saya akan berusaha menceritakan hal-hal menarik di sana. Silahkan follow saya di Twitter: @hermansaksono.

Prita Mulyasari vs Omni Hospital

Politik - April 11th, 2011

Anggota DPR Tertangkap Basah Nonton Gambar Porno

Arifinto bantah nonton Porno

Anggota DPR dari PKS, Arifinto tertangkap kamera sedang menonton film porno di tengah sidang paripurna. Foto jepretan Mohamad Irfan itu memperlihatkan Arfinto sedang duduk sambil melihat-lihat gambar mesum di komputer tabletnya.

Mendapat tudingan seperti itu, Arfinto langsung angkat bicara. Pendiri majalah Sabili itu mengaku tidak sengaja membuka gambar Porno. Ia malah menduga ia dijebak oleh konspirasi untuk menjatuhkan namanya.

“Saya mendapat email yang berisi link. Saya klik link itu, saya buka. Kok muncul gambar seperti itu. Kemudian saya hapus,” kata Arifinto.

Sanggahan ini kemudian dimentahkan oleh Irfan. Fotografer Media Indonesia itu melihat Arifinto memilih-milih gambar porno di komputernya.

“Dia buka folder-folder. Dan kemudian salah satu foldernya ditekan, dan munculnya video porno itu,” ujar Irfan.

Arifinto PKS tertangkap kamera memilih gambar porno

Sebetulnya tidak ada salahnya menonton gambar porno. Akan tetapi lain urusannya jika gambar porno itu sengaja ditonton di ruang publik. Di negara liberal sekalipun, menonton materi asusila itu diatur dan tidak boleh di tempat umum. Urusannya lebih pelik jika itu dilakukan oleh pejabat publik di gedung milik rakyat.

Setelah menuai kecaman dari sana-sini, akhirnya pada hari Senin (22/4) Arifinto mengundurkan diri sebagai anggota DPR. Ia tengah memproses pengunduran dirinya melalui DPP PKS.

Skandal “Arifinto Bokep” ini bisa dibilang inkonsisten (jika tidak mau disebut munafik) karena Arifinto berasal dari kelompok yang sering mengatur kesusilaan. Koleganya di Kementerian Informasi dan Komunikasi, Tifatul Sembiring, telah memulai berbagai inisiatif memblokir materi pornografi di Internet.

Sikap dari PKS sendiri cenderung membela. Pendiri PKS Yusuf Supendi berkata kalau melihat pornografi itu biasa, seolah memberi pemakluman. Padahal citra moralis ini justru selalu menjadi bagian dari pencitraan PKS. Menkominfo Tifatul Sembiring malah mengatakan bahwa Arifinto tidak bersalah secara hukum.

“Kalau secara hukum berdasarkan UU ITE, pihak yang bersalah adalah orang yang mendistribusikan atau mentrasmisikan konten porno. Sementara orang yang mengunduh konten terkait tidak,” kata Tifatul.

Walaupun UU ITE tidak mempidanakan pengunduh materi asusila, UU Pornografi ayat 5 jelas-jelas melarang hal itu. Dalam kiprahnya memblokir internet, Tifatul selalu bersembunyi di balik dua undang-undang: UU ITE dan UU Pornografi. Mengapa giliran koleganya terjerat kasus pornografi, Tifatul jadi lupa ada UU Pornografi?

Skandal Arifinto tidak cukup diselesaikan dengan mundur dari DPR. UU Pornografi sudah terlanjur diundangkan, mau tidak mau Arifinto harus diproses hukum dan dipenjarakan jika terbukti melanggar. Arifinto harus menelan rasa pahit dari undang-undang cacat yang selama ini menjadi kampanya partainya.

Reviews - April 3rd, 2011

The Lion King Musical, Singapura

Lion King Musical-Circle of Life

Hentakan nyanyian Afrika mengawali musikal The Lion King. Matahari terbit dari ufuknya. Diiringi “Circle of Life”;  jerapah, leopard, antelop muncul satu per satu; dan disusul hingga yang terbesar, badak dan gajah. Ini bukan Lion King versi animasi, bukan juga pengejawantahan animasinya. Ini adalah the Lion King yang diterjemahkan ulang dalam medium teater.

Alur ceritanya masih sama. Tentang Simba, anak singa yang kelak mewarisi tahta ayahnya, Mufasa. Juga tentang Scar, sang paman yang bersekongkol dengan gerombolan hyena untuk membunuh Mufasa demi merebut tahta. Masih juga tentang tanggung jawab, dan juga kisah cinta Simba dengan Nala.

Musikal arahan Julie Taymor ini bertahan sepuluh tahun lebih di Broadway karena kemerdekaannya memaknai ulang satwa, serengeti, dan Afrika. Taymor memindahkan luasnya serengeti ke dalam panggung teater (yang tidak begitu luas) cukup dengan menangkap esensinya. Esensi seekor gajah Afrika ditampilkan seperti boneka kerajinan tangan suku Afrika dalam ukuran gajah. Demikian juga para singa, mereka bukan manusia dalam kostum bintang. Topeng singa yang ditaruh di atas kepala pemain sudah cukup menjelaskan esensi bahwa si aktor membawakan karakter Mufasa.

Dan kesederhanaan ini dikemas dengan detail yang remit, mendetail, dan cantik. Taymor, selain menjadi sutradara, juga merangkap sebagai desainer kostum dan boneka. Ia pernah tinggal di Jogja selama satu tahun, kemudian terpikat oleh wayang Jawa yang begitu kuat, bertenaga, dan teatrikal. Julie yang semestinya menyelesaikan observasinya di Indonesia selama setahun, akhirnya pulang ke Amerika empat tahun kemudian. Di Indonesia, Taymor sempat berguru dengan Rendra, dan memperluas wawasannya sampai ke Bali. Continue reading …