Jendral TNI dituding ada di balik serangan Ahmadiyah Cikeusik

Aljazeera memberitakan sejumlah jendral purnawirawan TNI telah membacking kelompok penyerang Ahamdiyah Cikeusik untuk menjatuhkan SBY. Para jenderal itu menilai SBY terlalu lemah dan terlalu reformis. Menurut Step Vaseen dari Aljazeera, rumor bahwa FPI memiliki backing “telah terbukti untuk pertama kalinya”.

Ini bukan pertama kalinya kantor berita Aljazeera menaruh perhatian kepada Indonesia. Kantor berita Qatar ini rutin meliput perkembangan Indonesia, termasuk kebijakan pemerintah melarang Ahmadiyah dan pengadilan Abu Bakar Baasyir.

Salah satu narasumber liputan itu adalah Chep Hernawan dari Gerakan Reformasi Islam, sebuah kelompok massa yang aktif menolak Ahmadiyah. Chep mengaku didekati oleh purnawirawan TNI pada bulan Januari tahun 2011. Jendral senior itu memberikan dukungan kepada Chep supaya presiden jatuh. Sekjen FUI, Al Khathath juga mengaku didekati jenderal yang ingin menjatuhkan SBY.

Aljazeera mengarahkan pemberitaan ke mantan KSAD TNI AD, Tyasno Sudarto. Jendral bintang empat ini memang kerap menyuarakan ketidakpuasannya terhadap SBY. Tyasno juga pernah disebut-sebut sebagai sosok yang mensuplai senjata dalam persekongkolan pembunuhan terhadap Nasruddin Zulkarnaen yang akhirnya memenjarakan ketua KPK Antasari Azhar. Tuduhan tersebut dibantah Tyasno.

Tyasno Sudarto

Okezone memberitakan dalam kabinet bayangan yang disusun oleh Dewan Reformasi Islam, Tyasno disebut sebagai Menkopolkam sementara ketua FPI Habieb Rizieq diberi posisi Kepala Negara.

Di Indonesia memang belum pernah ada sejarah TNI melakukan kudeta militer terhadap presiden yang sah. Akan tetapi, ini bukan pertama kalinya militer dikaitkan dengan kerusuhan sipil.

Update:

Aljazeera: Purnawirawan TNI di Balik Serangan Ahmadiyah Cikeusik
Tagged on:

6 thoughts on “Aljazeera: Purnawirawan TNI di Balik Serangan Ahmadiyah Cikeusik

  • March 23, 2011 at 11:50 am
    Permalink

    Sangat informatif dan objektif, aku rumongso moco koran mon :D.

    Reply
  • March 23, 2011 at 2:36 pm
    Permalink

    Kalau militer menggertak atau menyatakan pembangkangan, itu sudah terjadi. Meriam mengarah ke istana pada 1955 itu contoh. Kalau peristiwa 65 itu kudeta atau bukan, masih simpang siur. Kalau desas-desus, pada zaman Megawati pun begitu. Makanya pernah suatu dini hari Mega harus cepat kembali, dan mendarat di Halim, karena malam itu ada kabar tentang gerak’an-gerak’an tangsi.

    Reply
  • March 23, 2011 at 7:47 pm
    Permalink

    Tapi kalopun benar, dalih purnawirawan itu agama atau personal ya?

    Reply
  • April 21, 2011 at 7:50 pm
    Permalink

    Teganya kau ………apakah engkau mau diperlakukan seperti jamaah2 ahmadiyah yang tewas itu di NERAKA nantinya…..Bpk.TYAS terhormat????????????????????

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *