The Green Hornet

Britt Reid (Seth Rogen) tidak punya bakat apa-apa. Dia hanya bisa berpesta hura-hura, mengencani gadis baru tiap malam. Ketika menjadi The Green Hornet, Reid masih tetap seorang superhero dengan nothing. Tanpa dibantu kehandalan silat Kato (Jay Chou) dan alat-alat canggih ciptaannya, Reid mungkin sudah tewas di malam debutnya.

Bahkan dia menjadi superhero karena tidak sengaja.

Jika lantas The Green Hornet membuat gerah bos Mafia Los Angeles, itu berkat koran milik Reid yang tidak pernah berhenti membahas sosok bertopeng hijau itu. Singkat kata The Green Hornet adalah nothing yang tidak sengaja menjadi something.

Film ini bagus karena telah meramu gagasan yang sebetulnya garing, menjadi tontonan layak tonton yang bisa menghibur, dan sesekali lucu. Bintangnya, sayangnya bukan Rogen ataupun Chou, melainkan Cristoph Waltz yang memerankan bos mafia bengis bernama Chudnofsky, yang (lucunya) sangat insecure. Ia sering terlihat kikuk dan canggung, tapi ketika membunuh, ia membunuh. Tanpa basa-basi, tanpa sesal.

Bagi yang sudah nonton Inglorious Bastard, Waltz adalah pemeran Colonel Hans Landa yang membunuh Yahudi hanya karena asyik. Berkat aktingnya di Bastard, Waltz menggondol piala Oscar untuk pemeran pendukung terbaik. Memang sih, The Green Hornet tidak akan menang Oscar (ataupun mendapatkan nominasi), tapi telah sukses membuat saya tidak sabar melihat Waltz main di film-film lain yang bisa memamerkan bakatnya.

The Green Hornet
Tagged on:

5 thoughts on “The Green Hornet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *