hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for January, 2011

Indonesiana - January 21st, 2011

Bangsa Yang Minder adalah Bangsa Yang Digarap

Wikileaks Blogger Digarap AS

Sebetulnya yang berhak untuk marah ketika Kedutaan AS di Jakarta minta duit 100.000 USD (untuk membiayai Facebook, Twitter, dan YouTube) adalah para taxpayer Amerika Serikat. Karena itu duit dari mereka.

Jika kemudian akibat dari bocoran Wikileaks itu yang marah justru orang Indonesia, menurut saya adalah sesuatu yang ajaib.

Travel - January 18th, 2011

Dolar Hong Kong

Dolar Hong Kong

Dolar Hong Kong diterbitkan oleh tiga bank: Bank of China, Standard Chartered, dan HSBC. Plus pemerintah Hong Kong untuk denominasi 10 dolar.

Mazhab laissez-faire lucu juga ya.

Reviews - January 4th, 2011

The Tourist

The Tourist

Pagi hari di Paris. Sepucuk surat misterius mengirim instruksi kepada Elise (Jolie) untuk bergegas ke stasiun Gare de Lyon. Ia disuruh untuk mencari lelaki dengan perawakan mirip Alexander Pearce, dan pergi ke Venesia. Belakangan kita tahu bahwa sosok Pearce yang misterius itu adalah kekasih Elise.

Di kereta menuju Venesia, Elise menemukan Frank (Depp), seorang guru matematika dari AS yang berlibur untuk melupakan perceraiannya. Perkenalan dan percakapan di kereta itu kemudian bergulir menjadi kencan romantis di bawah bintang-bintang Venesia. Esok harinya, kemesraan itu berubah menjadi permainan maut yang melibatkan mafia berdarah dingin dan juga Scotland Yard.

Paris dan Venesia memang dua bintang film ini, selain Johnny Depp dan Angeline Jolie. Walaupun Jolie seperti mengulang karakter wanita berdarah dingin, Depp nyaris sempurna membawakan tokoh Frank yang kikuk dan kuper; kebalikan dari Alexander Pearce yang sering menaklukkan hati Elise. Misalnya, dalam percakapan singkat di gerbong kereta ekonomi, Frank bertanya apakah Elise bersedia makan malam bersamanya. Elise menjawab kalau ia tidak suka pria yang bertanya.

Sayangnya, chemistry antara keduanya seperti berhenti berkembang di duapertiga The Tourist. Dan sesekali Depp masih seperti Jack Sparrow dari Pirates of Carribean.

The Tourist memang tidak akan menjadi film yang menandai jamannya, tetapi sangat asyik untuk dinikmati begitu saja. Makanya agak mengagumkan ketika film ini memperoleh nominasi Golden Globe.

Reviews - January 4th, 2011

Dalam Mihrab Cinta

Dalam Mihrab Cinta

God works in mysterious way. Tapi bagi Habiburahman El Shirazy, God works in sinetron’s way. Dan pengarang Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih itu kembali mengulang resep yang identik di film Dalam Mihrab Cinta.

DMC dimulai dengan Syamsul (Dude Herlino) yang diusir dari pesantren karena difitnah mencuri oleh Burhan (Boy Hamzah). Pulang ke keluarganya, alih-alih dibela, Syamsul justru dimarahi Ayahnya dan ditempeleng oleh kedua kakak laki-lakinya dengan sound effect semutakhir film kung fu. Perlakuan ini akhirnya memaksa Syamsul melarikan diri ke Semarang, dan kemudian Jakarta. Di sana, Syamsul benar-benar menjadi copet, hingga suatu hari dia mendapatkan dompet milik Sylvie (Asmirandah) yang kelak akan mengubah hidupnya 180 derajat.

Film yang disutradari oleh pengarangnya ini terlalu banyak mengandung  kebodohan blooper dan kebodohan plot. Tidak ada salahnya berusaha memaafkan Habiburahman yang masih hijau di bidang penyutradaraan melakukan kebodohan blooper, walaupun beberapa—seperti berita copet di Semarang masuk headline koran Jawa Timur—terlalu absurd. Akan tetapi kebodohan plot sangat susah diterima.

Seperti misalnya nasib Syamsul yang bisa berubah dari copet menjadi ustad dengan sangat cepat dan ajaib, tanpa kerja keras yang istimewa. Seperti juga asmara segitiga Syamsul, Sylvie, dan Zizi yang diselesaikan dengan praktis oleh Habiburahman. Pernikahan memang kembali menjadi tema sentral film ini, setelah semua masalah Syamsul terselesaikan di pertengahan film, maka Dalam Mihrab Cinta dilanjutkan dengan episode Syamsul mencari istri. Dan sama seperti AAC dan KCB, pernikahan itu memang tanpa pacaran.

Nampaknya nikah tanpa pacaraan inilah yang selalu menjadi benang merah semua dongeng Habiburahman. Dan anak muda jaman sekarang harus waspada dari propaganda ideologi yang semacam itu.