Ding-ding couple

Ding-ding

Pagi di Hong Kong dimulai dengan menaiki tram Ding-ding yang bertingkat dua. Dari jendelanya yang terbuka lebar, angin pelabuhan akan menerpa wajahmu sampai sejuk. Dari jendela yang sama, terlihat jalanan Causeway Bay dipenuhi oleh orang-orang yang sigap bekerja dan menggerakkan ekonomi kota.

Stanley Street, Hong Kong

Kamu tahu betul tram sudah sampai di Central ketika toko-toko dan restoran warna-warni telah berubah menjadi kantor dan butik yang gagah dan modern. Di perempatan Gilman Street kami turun, lalu berjalan kaki melalui Wong Wo St menuju Stanley St. Di perempatan itu Hong Kong berubah lagi. Pemandangan gedung-gedung gagah telah lenyap, dan digantikan oleh deretan toko-toko kecil yang sering kita lihat di film-film Jackie Chan.

Tak jauh dari perempatan itu berdirilah Lin Heung Tea House.

Lin Heung Tea House

Lin Heung Tea House, Hong Kong

Kedai teh Lin Heung ngetop karena dim sum.

Ini bukan jenis kedai yang dikunjungi turis. Kanton adalah satu-satunya bahasa yang terdengar di tempat kecil dan ramai itu. Demikian juga pegawainya. Mereka juga hanya bisa Kanton. Di antara meja-meja yang diatur padat, tiga ibu-ibu setengah baya berkeliling mendorong gerobak besi berisi bakul dim sum yang mengepulkan uap hangat.

Kau tidak memesan dim sum di Lin Heung. Kau menunjuk salah satu bakul, melihat isinya. Jika terlihat enak maka mengangguklah, si ibu penjaja dim sum akan menyerahkan satu kukusan dimsum lalu menstempel kertas pemesananmu dengan tanda bermakna entah. Berlama-lama memilih tidak disarankan. Orang Hong Kong mengharapkan pelayan bekerja sigap, dan pelanggan juga diharapkan sigap memesan.

Walaupun memesan bukan proses yang mengasyikkan, tetapi urusan menyantap dim sum Lin Heung itu nikmat luar biasa. Har gau-nya terasa basah dan segar, apalagi ketika daging udang yang gemuk dan getas terpotong dengan sempurna dalam satu kali gigitan. Rasa gurih yang tersisa di lidah itu kemudian dicuci dengan seruputan teh china yang hangat. Perut langsung kembali dalam keseimbangan Yin dan Yang.

Dim Sum Lin Heung, Hong Kong

Victoria Peak

Dari Central Hong Kong, perjalanan dilanjutkan menuju puncak tertinggi di Victoria Peak. Perbukitan ini dicapai dengan menaiki Peak Tram yang membawa kita menuju ketinggian 400 meter dalam waktu 20 menit. Sambil menembus pepohonan yang rindang, sesekali kepala penumpang akan ketarik ke belakang, ketika gerbong tram mencapai kemiringan 27 derajat.

Peak Tram

Di puncak Victoria gradasi geografis negara kecil ini terlihat dengan jelas. Dari perbukitan hijau yang turun menuju jajaran gedung-gedung pencakar langit dan berakhir di perairan pelabuhan. Hong Kong adalah tentang perubahan-perubahan yang drastis. Seperti dari modernitas Causeway Bay dan Central yang berubah menjadi toko-toko klasik di Sheung Wan.

Maka tidaklah lengkap ke Hong Kong jika tidak merasakan sisi perairannya. Tetapi, sebelum turun menyeberangi Victoria Harbour memakai feri, sayang jika tidak mengunjungi museum lilin Madame Tussaud’s di menara The Peak. Kapan lagi kita bisa berfoto bersama Brangelina, Einstein, dan Mao Zedong?

Madame Tussaud's, Hong Kong

Menyebrang dengan Star Ferry

Feri antik berwarna hijau itu menghubungkan pulau Hong Kong dengan daratan Kowloon. Perjalanan ditempuh dalam 20 menitan, tetapi untuk jalan kaki ke dermaganya dibutuhkan waktu sekitar 25 menit dari stasiun Peak Tram. Itu termasuk tersesat, dan 60 menit tambahan lagi kalau mampir makan dim sum di Maxim’s Palace City Hall lantai 2.

Star Ferry Girl

Sesampainya di sisi Kowloon, maka kita bisa menelusuri Avenue of Stars, tempat bintang-bintang film Hong Kong diabadikan namanya di jalan. Mirip “Walk of Fame” Holywood, tapi berisi bintang-bintang Asia yang tidak saya kenal. Dan pada pukul 8 malam, selalu ada pertunjukan laser Symphony of Lights yang dapat ditonton di situ. Akan tetapi sisi Kowloon yang lebih menarik berada di di Mong Kok yang hanya terpaut dua stasiun MTR dari Tsim Tsa Sui.

Mong Kok, Hong Kong

Di Mong Kok, bilboard toko yang berwarna-warni menutupi langit, persis ketika film Hollywood hendak menggambarkan Asia. Satu blok dari situ adalah ladies market, sebuah jalan panjang yang diisi kios-kios yang menjual tas imitasi, dompet, dan suvenir. Koleksi tas imitasinya tidak sefantastis Mangga Dua, tetapi menelusuri jalan-jalan itu sendiri adalah pengalaman baru yang Hong Kong sekali.

Hong Kong Malam

Perut kosong dan kaki letih akan memberikan sinyal bahwa ini saatnya pulang, walaupun Kowloon malam masih sibuk dan hidup. Perjalanan kembali ke Hong Kong Island tetap menggunakan Star Ferry yang antik itu.

Victoria Harbour

Dari jendela feri, angin malam meniup wajah-wajah yang sedang mengamati kilauan cahaya dari gedung-gedung tinggi Hong Kong. Mendarat di dermaga Star Ferry pada sisi Island, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki menuju stasiun MTR Central. Kereta bawah tanah ini membawa kita ke Wan Chai untuk menemukan sebuah warung kecil yang menjajakan Bebek Peking yang enak: Joy Hing Food Shop.

Dan mirip seperti pagi harinya, perjalanan ditutup dengan mengendarai Ding-Ding menuju Tin Hau, sambil mengamati orang-orang Hong Kong menutup malamnya di bawah pendaran lampu-lampu neon aneka warna.

***

Esok harinya adalah Hong Kong Disneyland.

Sehari di Hong Kong
Tagged on:

16 thoughts on “Sehari di Hong Kong

    • December 9, 2012 at 7:37 am
      Permalink

      Hey Genie Excellent Post, that bastard falmiy, are still rolling in drug cash!Annnd, the yids are back to business running enormous amounts of ‘Hammer’ out of Afghanistan! Eastern Europe’s kids are totally drug-fucked! Hammer being the main poison.veritas

      Reply
  • December 11, 2010 at 10:48 am
    Permalink

    Menyenangkan..jd pengen kesana ^^ Eh Mon itu motretnya pake kamera apa hp? Hasilnya vintages gitu, apik! :D

    Reply
    • December 13, 2010 at 12:00 pm
      Permalink

      Beberapa pake Instagram, beberapa difotoshop :D

      Reply
  • December 11, 2010 at 8:07 pm
    Permalink

    Merasa ada yang aneh dengan bahasa Momon di post kali ini :D

    Reply
  • December 12, 2010 at 4:48 pm
    Permalink

    setuju sama Sandal.

    btw, marai pingin nang hok-eng-kok-eng ikih ><

    Reply
  • December 13, 2010 at 3:06 am
    Permalink

    wah, … jadi serasa Kenji! (komik kungfu ttg bocah SMP yang mendalami Kungfu, dari jepang ke korea, taiwan, hongkong terus cina daratan)…

    foto2nya klasik ya kesannya. Cool! ^^

    sukses disana!!!

    Reply
  • December 13, 2010 at 8:31 am
    Permalink

    Mayan ada referensi karena akhir taon saya mau liburan ke sana juga :) Nice shots!

    Reply
    • December 13, 2010 at 12:40 pm
      Permalink

      Suwun! DM saja diriku kalau perlu alamat-alamat tempatnya :D

      Reply
  • Pingback: Hong Kong Disneyland - Travel - hermansaksono

    • December 13, 2010 at 12:04 pm
      Permalink

      Yang mahal hotelnya Ro, kalau biaya makan sih… kalau di warung kecil harganya kayak makan di foodcourt Jakarta, tapi lebih enak :D

      Reply
  • December 13, 2010 at 4:57 pm
    Permalink

    gaya tulisannya kok jadi mirip gaya tulisan menye-menyeku sihhh? *garukgaruk*

    Reply
  • Pingback: Kuliner Hong Kong dan Macau - Travel - hermansaksono

  • Pingback: Hong Kong Disneyland | soetta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *