hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for December, 2010

Advertorial - December 22nd, 2010

Pulau Komodo

Pulau Komodo

Saya kepingin ke Pulau Komodo. Jika cita-cita ke luar negeri saya adalah Tokyo, maka Pulau Komodo adalah holy grail pelesiran di Indonesia.

Bukan cuma kadal raksasa Komodo yang menarik perhatian saya, tetapi juga kekayaan dan keragaman hayatinya. Kecantikan taman nasional ini  ada di bawah air. Ada lebih banyak spesies coral di Pulau Komodo daripada di Great Barrier Reef Australia. Lebih dari 1500 spesies ikan, mamalia dan moluska menjadikan coral-coral ini rumah mereka.

Banyak kata telah dipakai untuk menggambarkan susana di bawah sana. Majestic. Pristine. Agung. Akan tetapi deskripsi terbaik datang dari teman saya yang atheis. Dia mengaku, ketika sudah menyelam di bawah dan menyaksikan kecantikan biodiversity perairan Pulau Komodo, untuk sejenak, di antara gugusan ikan-ikan bermacam warna, dia menjadi percaya akan adanya Tuhan.

Ikan, hiu, dan manta telah menyihirnya.

Untuk ikut tersihir oleh fauna laut itu syaratnya cukup susah. Dahulu kendala utama ke Pulau Komodo adalah biaya transportasi dan akomodasi. Kemurnian Pulau Komodo memang diimbangi dengan fasilitas modern yang terbatas. Pelancong yang uangnya pas-pasan biasanya menumpang di rumah penduduk setempat dengan kamar mandi yang sekadarnya, sementara pelancong yang mampu akan membawa yacht sendiri. Akan tetapi, kalau membaca di situs indonesia.travel, sekarang ada tiga tempat penginapan yang layak dan juga menerapkan ecotourism.

Saya selalu khawatir turisme merusak apapun yang disentuhnya. Mudah-mudahan kepedulian terhadap ecotourism dapat menjaga kemurnian Pulau Komodo yang sekarang sedang naik daun karena masuk nominasi The New7Wonders.

Dalam polling New 7 Wonders of Nature ini, Pulau Komodo masih di peringkat 2 terbawah. Bayangan saya, andaikata Pulau Komodo masuk ke daftar 7 keajaiban alam dunia, transportasi dan akomodasi akan lebih mudah dan terjangkau. Perhatian dari masyarakat internasional juga bagus untuk menjaga supaya industri wisata tidak menganggu keseimbangan alam pada pulau di NTT itu. Ajaklah teman-teman di luar negeri untuk ikut memilih Pulau Komodo, karena suara mereka yang paling bernilai.

Jika akomodasi dan transportasi ini sudah baik, maka tantangan kedua untuk tersihir di Pulau Komodo adalah kita harus bisa menyelam. Oleh karena untuk belajar menyelam kita juga harus bisa berenang, maka saya juga musti belajar berenang dengan serius. Dan waktu saya tidak banyak.

Pemanasan global telah mengancam keberlangsungan coral-coral, rumah ribuan ikan yang hidup di perairan Pulau Komodo.

Reviews - December 18th, 2010

Tron: Legacy

Tron: Legacy

Tentang anak yang kehilangan sosok ayah. Tentang orang yang tersedot masuk ke dalam game fantastis. Tentang keberanian anak muda versus kearifan orang tua.

Tron menjadi pengulangan demi pengulangan formula cerita lama, dengan efek khusus yang keren tapi tidak baru. Walaupun adegan-adegan laganya seru, tapi sisanya adalah saya yang menunggu kapan film ini akan mengesankan.

Sampai film selesai.

Opinion - December 17th, 2010

Daerah Istimewa

Pro Penetapan Sultan

Masyarakat yang membela monarkhi memang masyarakat yang istimewa.

Travel - December 15th, 2010

Kuliner Hong Kong dan Macau

Hong Kong adalah surga seafood dan masakan kanton. Seafood yang segar dari samudera itu dimasak dengan presisi kanton tapi memakai bumbu-bumbu yang aromanya kuat. Agak sedikit berbeda dengan masakan chinese yang biasa kita temui di tanah air

Fun Guo, Lin Heung Tea House

Lin Heung Tea House penuh oleh orang setempat. Ini adalah pertanda yang baik, dan memang terbukti demikian. Walaupun pilihan dim sumnya tidak banyak (tidak ada har gau), tetapi semua yang ada enak. Seperti pangsit kukus isi udangnya. Udangnya getas segar, dan ketika digigit mengelurkan sari daging yang sudah diraciki bumbu khas.

160-164 Wellington Street, Central, Hong Kong. Dim sum disajikan dari 6.00 sampai 11.30. HKD 30 per orang.

Wonton with Fresh Sea Shrimp Fillings, Chee Kee

Chee Kee, walaupun tempatnya kecil, adalah restoran yang mendapat satu bintang Michelin (tertinggi tiga bintang). Walaupun kuahnya bukan jenis yang fantastis, tetapi wonton udangnya benar-benar enak berkat suplai seafood yang tak terbatas di Hong Kong. Kelezatan kuahnya akan teraktivasi setelah kita menambahkan kecap asin dan minyak cabe.

84 Percival Street, Causeway Bay, Hong Kong. MTR Causeway Bay, Exit A, belok kanan. HKD 50 per orang.

Cart Noodles with Chicken Wing Tips, Cuttlefish Heads and Turnips, Wing Kee
Wing Kee menyediakan mie dengan sayap ayam yang dimasak empuk, gurita, dan turnip. Kuahnya memakai kecap, manis legit melengkap cita rasa semua isinya. Mengenyangkan dan memuaskan.

27 A Sugar Street, Causeway Bay, Hong Kong. HKD 40 per orang.

Roast Goose, Joy Hing Food Shop
Joy Hing Food Shop menyediakan ayam, bebek, dan angsa pangang ala kanton. Angsa panggangnya empuk dan bumbunya meresap. Sementara kulitnya gurih dan legit membuat satu porsi terasa kurang.

Shop C, 265-267 Hennessy Road, Wan Chai, Hong Kong. MTR Wan Chai Exit A2. HKD30 per orang.

Congee with Fishballs, Beef, and Snakehead Fillets, San Kee

San Kee Congee menyediakan congee (bubur) kanton yang hangat untuk sarapan. Saya memesan bubur premiumnya yang berisi bakso ikan, daing sapi, dan fillet ayam. Setelah kecap asin dituangkan ke bubur untuk mengaktivasi kelezatannya, saya mulai menyantap bubur hangat itu. Fillet ikannya lumat dan bercampur dengan tiap suap bubur. Potongan daging sapinya matang dengan pas, lembut, dan penuh cita rasa. Ini wajib dilengkapi dengan teh susu ala Hong Kong.

Saya makan ini sebelum ke Disneyland, dan tidak merasa lapar sampai malam.

7-9 Burd Street, Sheung Wan, Hong Kong. MTR Sheung Wan Exit A2 Belok Kanan. HKD $30 per orang.

Egg Tart, Lord Stow's Bakery

Lord Stow’s Egg Tart adalah kue khas Macau yang berupa pie crispy dan berisi custard susu yang sangat lembut. Sangat enak dan wajib dicoba baik kalau di Macau atau di Hong Kong. Versi Lord Stow menggunakan kulit pai ala Portugis, tetapi custardnya ala Inggris.

1 Rua da Tassara, Coloane Town Square, Macau. MOP 8 untuk satu egg tart.

Travel - December 14th, 2010

Macau Siang Sampai Pagi

Largo de Senado

Selamat datang di Macau, surga perjudian di timur jauh.

Bahkan ketika feri dari Hong Kong masih di air lepas, beberapa penumpang sudah sibuk latihan main kartu. Apalagi begitu kau mendarat di pelabuhan, kasino demi kasino tidak akan luput dari pandangan. Akan tetapi, kemegahan impor dari Las Vegas ini hanya menjadi tempelan yang janggal. Perjudian memang penting untuk menjaga denyut turisme Macau (turisme menyumbang lebih dari 80% pendapatan negara), tetapi jantung hati negara kecil ini tetap ada di kota-tuanya: Largo do Senado.

Setelah menurunkan bagasi di pulau Coloane, kami langsung naik taksi ke Largo do Senado. Berbeda dengan Hong Kong yang tergesa-gesa, ritme di Macau lebih tenang dan kalem. Sepanjang jalan dijajari bangunan-bangunan klasik yang nampak belum siap menerima kasino-kasino modern dengan kemegahan artifisialnya.

Kita harus bersyukur Largo do Senado masih selamat dari perusakan arsitektur modern. Ini adalah pusat kota yang dibangun oleh Portugis ketika mereka masih berkoloni di Macau. Jalanannya yang berliku-liku dipaving batu kapur, membentuk motif binatang dan tumbuhan, sangat khas Portugis. Demikian juga bangunan-bangunanya yang dicat pastel kuning, hijau, dan merah jambu. Terasa seperti Eropa, walaupun kebanyakan adalah orang Asia yang tidak bisa membaca alfabet latin.

Largo do Senado, Macau

Dua jam bisa dihabiskan berjalan-jalan menelusuri lika-liku gang sempit Largo do Senado. Selama di jalan, mata akan dimanjakan oleh rumah dan gedung yang bercat pastel; seperti Gereja St. Dominic, Katedral Macau, dan Mansion Lau Ka. Konon mansion milik taipun itu tidak ada dapurnya, karena tugas utama gundik-gundik yang tinggal di situ bukanlah memasak.

Jalan-jalan kami berhenti di reruntuhan katedral St. Paul yang dibangun tahun 1582, dan gerbangnya masih berdiri tegak hingga sekarang. Di dekat katedral itu berdiri Museu de Macau. Seperti Largo do Senado, museum ini memanjakan pengunjungnya dengan beraneka display yang cantik. Replika rumah-rumah Macau, beserta isinya, memberikan gambaran bagaimana rupa Macau tempo doloe.

Satu jam tidak terasa di dalam museum. Ketika kami keluar, langit Macau sudah gelap dan Katedral St. Paul bersinar oleh lampu-lampu di sekitarnya. Kami menjadi saksi adanya Eropa di Asia.

St. Paul Ruins, Macau

Setelah sukses menerobos kerumunan turis yang berlapis-lapis (dan tak lupa membeli suvenir), akhirnya kami mendapatkan taksi untuk pulang ke pulau Coloane. Coloane ada di selatan pulau Macau, mengapit pulau Taipa yang di tengah-tengah. Ketiga pulau itu terhubung oleh jembatan.

Pagi hari di Coloane

Coloane Town Square

Bersyukurlah bahwa Coloane tidak dipadati turis ataupun kasino.

Pagi itu, sambil menghirup udara sejuk, saya dan Hanny sarapan di Coloane town square yang tenang. Setelah membeli egg tart dan croissant dari Lord Stow Bakery, kami mengambil duduk pada bangku kecil di dekatnya. Menikmati pie eggtart yang crispy, dan isi custard susunya yang lembut dan manis; sambil sesekali menyeruput kopi susu panas.

Breakfast at Coloane Town Square

Lord Stow Macau Egg Tart

Coloane mirip seperti Macau ukuran mini. Chapel St. Francis Xavier yang tidak jauh dari town square, sebentuk sewarna dengan Gereja St. Dominic yang kuning. Termasuk jalanannya yang dipaving gaya Portugis. Saya sempat sebel ketika segerombolan anak-anak datang mendekati kapel. Saya tidak mau ketenangan minggu pagi itu rusak oleh turis, apalagi yang anak-anak. Ternyata… mereka mau ke kapel untuk mengikuti sekolah minggu.

Chapel St Francis Xaver, Coloane

Meninggalkan kapel dan air mancurnya, kami berjalan terus menelusuri trotoarnya yang di pinggir pantai; duduk sebentar di perpustakaan Biblioteca; kemudian masuk ke gang-gang kampung yang berwarna warni pastel.

Coloane Village, Macau

Perkampungan itu tenang dan ramah, jauh dari nuansa turis. Bapak-bapak menyapa anggukan saya, sementara ibu yang sedang mencuci kursi tersenyum senang ketika dijepret foto. Sayangnya kuil Kun Lam tidak berhasil ditemukan, karena ketika gang utama itu mencapai ujungnya, kami telah kembali di Town Square Coloane, tempat sarapan yang enak itu.

Dan waktu sudah mendekati 10.00, tanda bahwa harus segera melepas Macau dan kembali ke Hong Kong untuk berbelanja.

A Dog in Coloane, Macau

Travel - December 13th, 2010

Hong Kong Disneyland

Sleeping Beauty Castle, Disneyland

Salah satu cita-cita saya adalah ke Disneyland sebelum terlalu tua untuk kekanak-kanakan. Dan minggu lalu mimpi itu akhirnya terlaksana. Tanpa bermaksud lebay, tetapi ketika kastil Sleeping Beauty terlihat dari ujung Main Street, mata saya basah.

Dan Main Street benar-benar seperti yang terbayangkan. Kota midwest Amerika dari awal abad 20 itu terasa hidup, dengan bakery yang terus menerus mengepulkan wangi aroma roti dan tram yang meluncur pelan melintasi jalannya. Tidak ada kesan façade buatan seperti di Universal Singapura.

Main Street USA, Hong Kong Disneyland

Di ujung Main Street, jalan terbagi menjadi tiga. Ini adalah hub Disneyland. Belok ke kiri akan membawa kita ke Adventureland, ke kanan membawa kita ke masa depan di Tommorowland. Sementara kalau lurus kita akan melewati kastil Sleeping Beauty yang menuju ke Fantasyland. Continue reading …