Peta radius merapi
Setelah Merapi terus menerus bergeleduk sepanjang malam (4/11), akhirnya pukul 12 malam hujan pasir menyiram atap rumah dengan suaranya yang berdetik-detik. Saya, Mimit, dan Bapak mulai khawatir; apalagi setelah muncul informasi kalau daerah aman diperluas dari 15km menjadi 20km (ditarik dari puncak Merapi).

Ini tentu menakutkan, karena rumah saya sekitar 25km dari Merapi.

Jujur saja, susah untuk bisa tidur nyenyak mendengar suara geleduk merapi yang bersahut-sahutan dengan halilintar. Keadaan diperparah dengan Bapak yang tiba-tiba memutar ringtone perempuan menjerit-jerit, yang membuat saya dan Mimit lari panik ke luar.

Akhirnya tadi malam kami “mengungsi”, walaupun Edo, Tihek, Respo, dan Gembrot peliharaanku ditinggal. Feeling saya awan panas tidak akan sampai rumah malam itu. Sengaja kami tidak memberi tahu Ibu yang sedang di Schiphol, supaya tidak kepikiran. Dengan bagasi terisi tas-tas isi baju, mobil kami bergerak.

Suasana di jalan yang saya lewati terhitung lenggang, walaupun biasanya lebih sepi pada jam segitu. Saya melewati Gejayan, Baciro, Kotabaru, Gondolayu, dan Mangkubumi. Udara diliputi oleh abu-abu halus yang membuat lampu malam berpendar kuning. Jarak pandang sangat pendek, mobil yang disetir Bapak bergerak dengan kecepatan 30.

Tugu Jogja terkena abu vulkanik Merapi

Abu membuat palet kota berubah. Jogja menjadi kontras, warna-warna menjadi lebih tajam, karena permukaan-permukaan ditutup oleh abu putih.

Mobil akhirnya mendarat di rumah Bude. Sambil ngantuk nonton TVOne yang sering ngaco, mulailah muncul berita-berita sedih itu. Sejumlah desa terbakar, dan jatuh korban jiwa. :(

Doa saya untuk semua warga di Jogja, semoga tabah dan tidak patah semangat melewati bencana ini.

Mengungsi dari Merapi

17 thoughts on “Mengungsi dari Merapi

  • November 5, 2010 at 5:13 pm
    Permalink

    aduh aku sedih bacane mon. semoga hal ini cepat lewat. :(

    Reply
  • November 5, 2010 at 5:13 pm
    Permalink

    Wah, Momon juga terpaksa mengungsi. Tabah dan tetap semangat ya Mon.
    Semoga Merapi segera reda

    Reply
  • November 5, 2010 at 5:16 pm
    Permalink

    Tetap kuat, Bung! Kudoakan dari jauh!

    Reply
  • November 5, 2010 at 5:19 pm
    Permalink

    Tak kiro ora wedi je Mon, jebul ciut juga, hehehe :)

    Reply
  • November 5, 2010 at 5:30 pm
    Permalink

    masbutet butet kartaredjasa
    Ada komen ini, lapor kpd @budionodarsono @gracesamboh: Detik karo TVOon ki pada-pada njelehi. Beritanya mung marai wong panik. Asu.”
    11 minutes ago Favorite Retweet Reply

    whahaha, tetap tabah sampai akhir bos

    Reply
  • November 5, 2010 at 6:28 pm
    Permalink

    :'(

    kandangin edo, tihek, respo dan gembrot, taruh deket mobil biar kalau mau ngungsi lg kebawa jg yaaaa :( stay safe :'(

    Reply
  • November 6, 2010 at 1:11 pm
    Permalink

    Berdoa supaya semua selamat…
    Mon, ada info2 ttg Merapi ini please update terus blognya ya…

    Reply
  • November 7, 2010 at 11:17 am
    Permalink

    itu yg ngasih makan piaranmu siapa mon? kasihan.

    Reply
  • Pingback: Dampak Fenny Rose dan Permadi membahas Merapi di Silet - Indonesiana - hermansaksono

  • November 13, 2010 at 7:19 pm
    Permalink

    Aku juga pengungsi mas, rumahku kira-kira 16km dari pucuknya Merapi. Jam 2 dini hari jumat tiba-tiba listrik mati bersamaan dengan hujan pasir. Hujan abunya super deras nusuk-nusuk tangan. Sampe skarang desaku masih ditutup ama Pak Surono nih.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *