hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for November, 2010

Politik - November 30th, 2010

Apakah Yogyakarta Monarkhi?

Sultan Yogya tentang MonarkhiJawabannya adalah IYA. Orang Jogja yang cerdas tidak perlu membolak-balik fakta untuk mempercantik citra ini. Selama Gubernur kita dipilih karena garis keturunan Sultan atau Pakualam, maka Jogja adalah provinsi monarkhi. Dalam hal ini saya sepakat dengan pernyataan SBY yang mengatakan bahwa Yogya adalah monarkhi. Bahwa itu adalah pernyataan tanpa empati yang hanya akan menimbulkan bola liar yang tidak perlu, saya juga setuju.

Tapi diskusi keistimewaan Jogja ini sudah terlampau membosankan. Pendukung kemonarkian mengulang-ulang argumen yang sama, demikian juga pendukung kepala pemerintahan dipilih langsung.

Kata kuncinya adalah kepala pemerintahan.

Saya tidak terlalu mempermasalahkan siapakah yang berhak menjadi kepala daerah, tetapi kepala pemerintahan daerah sebaiknya dipilih langsung dan memiliki masa jabatan yang dibatasi. Pilkada memang sering menghasilkan kepala daerah yang payah, tetapi kita tidak bisa melupakan sosok-sosok pemimpin yang bertanggung jawab seperti Joko Widodo (walikota Solo) dan Heri Zudianto (walikota Yogya). Mereka adalah kepala daerah yang berprestasi DAN dipilih langsung oleh rakyat.

Memang pada dasarnya, Pilkada atau Monarkhi adalah untung-untungan. Selama ini Jogja baik-baik saja, karena kinerja Gubernur DIY tidak buruk, walaupun tidak hebat. Bagaimana jika penerus Sultan kinerjanya buruk? Pilkada memberi ruang supaya kepala daerah yang buruk, tidak berkuasa selamanya. Monarkhi tidak.

Sebelum terlambat dan runyam, ada baiknya Jogja memulai transisi ke kepala pemerintahan daerah yang dipilih langsung, segera.

Reviews - November 19th, 2010

Harry Potter and the Deathly Hallows, Part 1

Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1

Sembilan tahun yang lalu, Harry Potter cilik meninggalkan kamarnya—lemari sempit bawah tangga—di Privet Drive. Hagrid si raksasa membawanya ke ke peron 9¾, di mana sebuah kereta api siap mengantar Harry ke sekolah sihir Hogwarts. Di kastil Hogwarts inilah, Harry bersama Ron dan Hermione menemukan petualangan-petualangan ajaib yang fantastis.

Di Harry Potter and the Deathly Hallows, Harry yang remaja beranjak dari Privet Drive, meninggalkan rumah kecil itu, menghindari kejaran Lord Voldemort yang menginginkan ia mati. Zaman telah berubah. Selepas mangkatnya Dumblodore, jalanan dikuasai oleh penyihir dari kubu Voldemort, sementara Hogwarts dikuasai oleh Snape yang juga mengabdi untuk Voldemort. Harry tidak punya pilihan selain meninggalkan sekolah dan berburu lima Horcrux untuk menghancurkan kekuatan sang Dark Lord. Selama masih ada Horcrux, maka Voldemort tidak terkalahkan.

Jika film-film pendahulu Deathly Hallows ibarat es krim berlapis coklat manis yang harus dinikmati tergesa-gesa, maka film ketujuh ini mengalir seperti novelnya. Tenang dan leluasa. Hilang sudah efek-efek komputer yang dipasang untuk memastikan penonton tidak jemu. Sihir membaur ke dalam road movie ini, membiarkan alur film dibangun oleh konflik tiga sekawan Harry, Hermione, dan Ron; serta ketegangan selama dalam pengejaran para penyihir kubu Voldemort. Dengan suasana serba suram dan gelap, Deathly Hallows lepas dari film Harry Potter yang biasanya semanis gula-gula.

Entah bagaimana nantinya Deathly Hallows bagian kedua. Sutradara David Yates memang menjanjikan bagian pertama film ini mirip road movie, sementara bagian kedua berformat heist movie yang menjadi war movie. Di film kedua tersebut, Harry dan Voldemort akan menyelesaikan pertarungan mereka untuk terakhir kalinya. Dapatkah Yates terhindar dari jebakan klise ala perang Lord of The Ring? Semua akan terjawab pada tanggal 15 Juli 2011. Akan tetapi, untuk saat ini, Deathly Hallows Part 1 adalah film Harry Potter yang terbaik.

Reviews - November 14th, 2010

The House of Sand and Fog

House of Sand and Fog

Kathy Nicolo tidak mengindahkan sebuah amplop. Ia tidak tahu, kalau esok harinya petugas pajak akan datang, menyita rumahnya, dan meninggalkan Kathy tanpa apa-apa. Kesalahan birokrasi membuat Kathy harus pergi menuju entah ke mana.

Massoud Behrani, imigran Iran, membeli rumah itu dengan harga sangat miring. Setelah direnovasi, ia akan menjualnya sesuai harga pasar, untuk mengisi tabungannya yang mulai tipis. Sang mantan kolonel Iran harus terus menjaga gengsi keluarganya. Tak ada yang tahu kalau Massoud adalah pekerja bangunan: pagi hari ia berangkat memakai mercy dan mengenakan setelan, dan sesampainya di lahan konstruksi, ia ganti baju tukang batu.

Saat dinas pajak mengakui kalau penyitaan rumah Kathy (Jennifer Conelly) ternyata adalah salah, situasinya telah terlambat. Massoud (Ben Kingsley) sudah terlanjur pindah, merenovasi rumah, dan melepas pekerjaan tukangnya. Rumah itu tidak bisa dikembalikan dengan harga miringnya. Sementara tanpa rumah itu, Kathy yang tanpa keluarga ataupun pekerjaan tetap, tidak tahu harus hidup di mana.

Konflik kemudian bergulir pelan-pelan, berlapis dan semakin tajam. Tetapi film adapatasi novel Andre Dubus III tidak lantas menjadi panggung emosi yang vulgar. Sutradara Vadim Palerman mengijinkan konflik bernafas dengan wajar, tanpa laku atau dialog yang teatrikal. The House of Sand and Fog telah menyajikan hasrat dan kebutuhan dasar manusia, serta cara-cara kita untuk mengejarnya, yang kadang membuat lupa apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Reviews - November 12th, 2010

Megamind

Megamind

Apa yang terjadi ketika seorang supervillain berhasil mematikan seorang superhero?

Dengan bantuan sinar matahari yang difokuskan, Megamind sang supervillain berhasil membunuh Metroman, superhero kota Metrocity. Setelah menang, apakah Megamind bahagia? Tidak juga. Beberapa minggu kemudian, Megamind mulai bosan, karena kejahatannya tanpa tantangan. Supaya kejahatannya menjadi berarti, Megamind membuat superhero baru sebagai tandingannya. Nah, keadaan memburuk ketika superhero baru itu, tidak bekerja sebagaimana diharapkan.

Ide dari film produksi Dreamworks Animation ini sebetulnya keren sekali. Namun entah kenapa, ketika menjadi film, Megamind menjadi sangat mudah ditebak. Studio di bawah naungan Jeffrey Katzenberg ini mengulang-ulang resep lama Dreamworks yang pernah manjur: pengisi suara aktor top, parodi pop culture, dan protagonis yang konyol. Agak sayang menyia-nyakan aktor sebeken Will Ferrel, untuk karakter yang mirip dengan villain Monsters vs. Aliens.

Jika How to Train Your Dragon menyajikan film yang mendobrak pakem Dreamworks, maka Megamind seperti upaya seadanya untuk mengisi target produksi 3 film animasi dalam setahun.

Opinion - November 9th, 2010

Kekalahan Obama Sebelum ke Indonesia

Barack ObamaSiang nanti (9/11) Obama akan mendarat di Jakarta, untuk kemudian disambut dengan keramahan meriah ala Indonesia. Saya penasaran bagaimana Obama menikmati sambutan ini, ketika di tanah airnya, partainya baru saja kalah telak di pemilu paruh.

Partai Demokratik yang merupakan partai pendukung Obama, telah kehilangan 15% kursinya di DPR AS dalam pemilu paruh tanggal 2 November kemarin. Amerika Serikat memang mengenal pemilu paruh, di mana tiap 2 tahun sekali, isi DPR dan Senat dipilih ulang.

Pengamat menilai, kekalahan terburuk sejak 68 tahun terakhir ini disebabkan karena belum membaiknya keadaan ekonomi AS selama 2 tahun pemerintahan Obama, dan disahkannya UU Jaminan Kesehatan oleh Partai Demokratik. UU yang mereformasi sistem jaminan kesehatan AS ini menjadi amunisi kubu Republikan untuk menyerang partai Obama.

Kemarin malam, saya ngobrol dengan Bryan, mahasiswa Harvard yang sedang penelitian di Indonesia. Saya tentu penasaran, apakah dia juga kecewa, secara dia adalah relawan kampanye Obama yang diturunkan di negara bagian New Hampshire pada pemilu AS tahun 2008. Di negara bagian itu, Bryan pergi door-to-door mengajak calon pemilih untuk “mencontreng” Obama. Bryan pernah berseloroh kalau Obama “berhutang” kepadanya atas kemenangannya di New Hampshire.

Tapi tidak terlihat garis-garis kecewa sedikitpun di ekspresi Bryan. Dia cuma bilang, jika dengan peta politik baru ini kedua belah kubu bisa bekerja sama, maka hasilnya akan positif bagi negaranya. Saya mengartikan bahwa Demokrat harus lebih fleksibel dengan agenda ekonomi terkendalinya, sementara Republikan harus lebih lunak dalam mengusung faham pasar bebasnya.

Begitulah demokrasi, bukan sebuah hasil, melainkan proses. Proses tarik ulur untuk menemukan ekuiblirium yang pas, karena memang manusia tidak ada yang paling benar, sementara di lain sisi maunya banyak.

Di akhir pertemuan itu kami membahas istana Kura-Kura Ninja yang dihadiahkan oleh Sultan Brunei kepada putra mahkotanya sebagai hadiah ulang tahun. Saya mencoba mencari di Wikipedia soal itu, tapi tidak ada. Ya mungkin cuma kabar burung. Tapi di ujung artikel tentang Brunei ada satu baris yang menarik perhatian saya: “Bentuk negara: Absolut monarki”.

Saya bergidik.

Indonesiana - November 8th, 2010

Dampak Fenny Rose dan Permadi membahas Merapi di Silet

Silet RCTITimeline Twitter hari Minggu (7/11) tiba-tiba diramaikan oleh kicauan memprotes Silet, Fenny Rose, dan Permadi. Rupanya di acara gosip selebriti itu, Fenny membahas erupsi gunung Merapi dengan bumbu-bumbu khas infotaiment. Fenny bilang kalau Jogja adalah kota malapetaka, kemudian dilengkapi dengan komentar dari paranormal Permadi kalau Merapi tidak akan berhenti sebelum sampai ke Kraton.

Kecemasan yang ditimbulkan acara ini berbuntut panjang. Beberapa orang tua mahasiswa di Jogja langung meminta putra-putri mereka untuk segera meninggalkan Jogja. Alya yang selama ini menjadi relawan bersama teman-teman komunitas Fiksimini, langsung diminta pulang oleh ibunya. Sebelumnya, selama dua minggu Alya dan teman-temannya turun ke posko, menghibur anak-anak di pengungsian dengan games dan sulap. Dengan perginya Alya, maka tenaga relawan Fiksimini tentu berkurang.

Sore harinya, Alle teman saya melaporkan di Twitter bahwa ada kemacetan menuju Stasiun Tugu. Alle menduga terjadi eksodus meninggalkan Jogja. Syukurlah masih banyak teman-teman yang masih menetap di Jogja, dan membantu para pengungsi semaksimal mungkin. Faktanya memang, kondisi pengungsi masih belum layak, dan tidak ada yang tahu sampai berapa lama mereka harus berada di pengungsian.

Pukul 20.00 muncul berita kalau hari Senin (8/11) KPI akan membahas sanksi untuk Silet:

“Soal tayangan SILET, sanksinya akan dijatuhkan besok. Ini bencana alam dan sangat ilmiah, jangan dibawa ke masalah mistik. Kasihan dong pengungsinya,” kata Ezki, saat dihubungi Tempo, Minggu (7/11).

Komisi penyiaran juga akan memanggil semua pemimpin redaksi stasiun televisi untuk membahas hal tersebut.

Mestinya, semua media belajar dari kejadian ini, karena situasi di lapangan sudah sangat sulit dan rumit. Berita yang menambah kepanikan sama sekali tidak membantu.

Update (9/11): KPI membekukan acara Silet, hingga status siaga Merapi dicabut oleh pemerintah. Arief Suditomo, pemred acara Silat, menilai pembekuan tersebut mengekang kreativitas.