hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for October, 2010

Indonesiana - October 27th, 2010

Merapi

Merapi bukanlah ancaman serius bagi orang Jogja. Erupsi rutin gunung berapi itu adalah ancaman bagi penduduk di sekitar lereng merapi.

Dan akhirnya, Merapi meletus lagi kemarin sore 26 Oktober. Sehari sebelumnya, statusnya sudah naik ke awas. Evakuasi langsung diinisiasi oleh pemerintah dan relawan. Tapi tetap saja, ada korban berjatuhan.

Kita perlu belajar lagi. Pemerintah perlu belajar menjamin proses evakuasi berjalan lancar dan aman. Penduduk perlu belajar bahwa peringatan evakuasi itu bukan main-main.

Doa saya untuk semua korban Merapi. Semoga erupsi yang akan datang, kita bisa menanganinya dengan baik.

NB: Teman-teman yang ingin memberikan bantuan kepada korban Merapi bisa menyalurkan bantuan lewat Komunitas Blogger CahAndong.

Life - October 25th, 2010

Rapat Evaluasi

Rapat evaluasi diadakan di tepi danau. Apa hasil evaluasinya?

Opinion - October 22nd, 2010

Tanggung Jawab Bersama

tanggung jawab bersama

Tidak ada yang namanya tanggung jawab bersama. Tanggung jawab bersama artinya: tidak ada yang bertanggung jawab.

Atau, banyak orang merasa bertanggung jawab. Keduanya, sama-sama bencana.

Reviews - October 21st, 2010

Eat Pray Love

Eat Pray Love - Julia Roberts

Pada sepiring spaghetti bersaus tomat Itali, Liz Gilbert menancapkan garpunya, menarik sesuap besar, lalu melahapnya; menyeruput setiap inci pasta berbalut tomat, basil, dan keju parmigiano reggiano. Seize the day. Melahap harinya, hidupnya, nikmat-nikmat. Di restoran alfresco itu, Liz, menemukan kembali satu potong gairahnya dengan EAT—makan—gairah untuk hidup.

Eat Pray Love adalah tentang pesiar seorang wanita untuk memulihkan hidupnya yang telah kosong. Dirundung proses perceraian yang pahit, Gilbert melepas diri ke tiga tempat: Italia untuk eat, menikmati hidup. Kemudian ke India, untuk pray, mencari kejernihan spiritual. Dan berakhir di Bali untuk mencari keseimbangan antara keduanya. Di pulau dewata ini juga, Liz juga menemukan cinta, love.

Walaupun penggambaran penemuan hidup di kota Roma, Italia—termasuk berbicara dengan mulut dan tangan—mendefinisikan apa itu hidup yang basah bergairah, tetapi India tidak terasa istimewa. Bahkan nyaris tanpa makna. Dan Bali, yang semestinya menjadi closing pesiar ini, terasa asing di mata orang Indonesia. Bali menjadi sekadar potret-potret cantik yang dijahit satu sama lain, tanpa nafas Bali. Javier Bardem sebagai kekasih baru Liz, menyajikan akting yang bagus, tetapi masih belum bisa mengangkat suspension of disbelief yang terlanjur hilang, terutama di bagian dermaga pantai yang terlihat baru dibangun kemarin.

Tapi mungkin orang luar Indonesia tidak merasakannya, sama seperti—mungkin—orang Indonesia tidak merasakan “panggung” Italia di Eat Pray Love.

Reviews - October 19th, 2010

Madame X

Madame X

Hak menikah bagi gay dan lesbian itu ibarat hak memilih untuk kaum kulit hitam. Ketika kulit hitam memilih, maka eksistensinya sebagai warga negara diakui oleh negara. Demikian juga dengan hak menikah. Ketika negara merestui pernikahan sesama jenis, maka negara mengakui keberadan homoseksual. Mereka menjadi warga negara biasa, tidak spesial, cuma berbeda.

Madame X nampaknya ingin jadi persuasi untuk mengakui eksistensi kalangan waria. Tersebutlah seorang waria bernama Adam (Aming), yang diciduk oleh kelompok mirip FPI yang dipimpin oleh sosok yang mirip mantan presiden parpol konservatif kanan. Berhasil melarikan diri, ia terdampar di sebuah padepokan tari yang dipimpin oleh pasangan homoseks. Di padepokan itu Adam ditempa menjadi seorang superhero waria yang membinasakan penindasan atas kaum waria.

Walaupun gagasan film ini bagus dan aktual, tetapi eksekusinya buruk sekali. Alur cerita bergerak tanpa tujuan dalam separo awal film. Kemudian separo sisanya diisi oleh adegan laga yang stagingnya kacau, sehingga apa yang semestinya bisa mengesankan justru menjadi memalukan.

Jika sineas film ini bermaksud memberdayakan waria dan mengkritik FPI, maka Madame X justru menghina semua perjuangan ke arah itu. Saya tidak percaya Nia Dinata memproduseri film ini.

Opinion - October 18th, 2010

Saya Datang Pesta Blogger 2010

Saya akan datang ke Pesta Blogger 2010. Saya ingin ketemu temen-temen  di sana, ketawa bareng, lupa sejenak bahwa kita sering berbeda pendapat. Saya tidak melebih-lebihkan, blog dan socmed membuat saya semakin terbiasa dengan perbedaan. Dan ini penting, karena dengan terbiasa dengan perbedaan, kita tidak melihat perbedaan sebagai masalah. Perbedaan hanya sebuah proses menuju kebaikan.

Oleh karena itu saya ingin melindungi perbedaan, dan saya ingin melindungi blog dan socmed sebagai medianya. Maka, narablog, pekicau, plurker, koproler, dst harus sering-sering berkumpul, untuk menyatakan bahwa kita ada. Bahwa suara kita kuat dan besar. Bahwa melalui kita Prita dan Bibit Chandra bisa bebas. Bahwa melalui kita, anak-anak bisa mengenyam pendidikan yang layak berkat Bangsari dan Coin a Chance.

Saya akan datang ke Pesta Blogger 2010, karena dengan bersatu kita membuat perubahan.