hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for September, 2010

Misc - September 30th, 2010

Siapa Ikut Pesta Blogger Jogja?

Pesta Blogger Jogja 2010
Wahai para blogger dan penggembira daring sekalian; hadirilah Pesta Blogger Jogja tahun 2010. Acara ini terdiri dari tiga kegiatan, yaitu Rally PB, Blogshop, dan Malam Gathering Pesta Blogger Jogja. Rangkaian kegiatan ini berlangsung dari tanggal 8 hingga 9 Oktoer 2010.

Acara dimulai tanggal 8 Oktober 2010 dengan Rally PB (Panggih Batir) yang diikuti berbagai komunitas online di Jogja. Mereka akan berkeliling ke segala penjuru Jogja untuk mengunjungi komunitas offline di kota Gudeg kita. Sesuai namanya “panggih batir” yang bermakna “menemui sahabat”, acara ini ingin mempererat keakraban komunitas di Jogja.

Esok harinya tanggal 9 Oktober 2010 diadakan Blogshop, yang ditujukan untuk pengajar, guru, dan umum. Pelatihan ini akan diadakan di Amikom.

Panitia juga mengadakan lomba blog berhadiah tiket terbang ke Jakarta untuk mengikuti Pesta Blogger tanggal 30 Oktober.

Acara puncaknya adalah Malam Gathering Pesta Blogger Jogja pada 9 Oktober malam. Acara ini mengambil tema “Panggung Komunitas” dan terbuka untuk blogger, twitter, plurker, koproler, foursquare, dst. Tempatnya di Purna Budaya UGM. Untuk ikut acara ini silahkan daftar langsung lewat telepon ke Susan di nomor 0878.3994.1886 (no sms). Acara ini gratis, cukup bawa badan dan hape yang batrenya full sehingga bisa livetweeting dengan merdeka.

Karena kursi terbatas, segera daftar saja sebelum 4 Oktober 2010. Sampai ketemu! ^^

Opinion - September 20th, 2010

Menuju Pesta Blogger Jogja 2010

Pesta Blogger Jogja 9 Oktober 2010

Untuk ke-tiga kalinya, Jogja akan dilalui acara roadshow Pesta Blogger. Untuk tahun ini, Pesta Blogger Jogja akan diadakan tanggal 9 Oktober 2010, Sabtu malam. Informasi lebih lengkap akan diumumkan oleh panitia di blog, twitter, dan plurk. Silahkan pantau satu, atau ketiganya. :)

Jika tahun lalu kita merayakan keberagaman budaya yang mengalir rukun di kota ini, maka tahun 2010 ini panitia ingin merayakan keberagaman komunitas di sekeliling Jogja. Ada banyak sekali komunitas online yang setiap hari mengisi denyut-denyut internet dengan cerita, opini, foto, video. Banyak dari mereka rutin kopdar dan membuat kegiatan yang nyata. Keberagaman ini adalah sesuatu yang harus disyukuri, dibanggakan, dan dipelihara.

Tetapi komunitas yang hidup sendiri-sendiri tidaklah menguntungkan. Komunitas yang sudah besar tidak dapat mendampingi komunitas yang baru lahir. Demikian juga komunitas yang masih muda: tanpa adanya silaturahim, energi mereka tidak dapat mengilhami komunitas yang sudah matang.

Jika kita ingin mendudukan Pesta Blogger Jogja dengan pas, maka kegiatan PB Jogja harus menjadi titik di mana komunikasi antar komunitas menjadi ada (meminjam istilahnya Lantip). Jika di kemudian hari lahirlah forum komunikasi komunitas online, tentu akan menjadi dinamika yang menyehatkan. Tetapi untuk saat ini, ada baiknya tidak tergesa-gesa memikirkan perangkat bernama lembaga, karena yang dibutuhkan adalah network komunitas yang rukun dan saling bekerja sama.

Saya sungguh berharap PB Jogja dapat menjalankan tugas itu. Dan mewakili seluruh panitia PB Jogja, saya mohon doa restunya supaya dapat menyelenggarakannya dengan baik dan lancar.

Baca juga:

Reviews - September 10th, 2010

Sang Pencerah

Sang Pencerah

Di antara pekatnya malam, belasan laki-laki berbondong-bondong menuju Langgar Kidul Kauman. Sambil memekikkan asma Allah, gerombolan itu mengangkat obor tinggi-tinggi, dan sesampainya di surau milik Ahmad Dahlan, mereka meringsekkan tempat ibadah itu hingga rata dengan tanah. Mereka memang dibakar kebencian. Gagasan pembaruan Islam oleh Ahmad Dahlan telah membuat gusar para penghulu Masjid Gede Jogja. Dan kegusaran itu kemudian berkembang menjadi benci yang ditularkan.

Itulah sepenggal adegan di awal Sang Pencerah karya Hanung Bramantyo. Nampaknya Hanung dan keluarga Punjabi memang bermaksud membawa isu kerukunan beragama seabad lalu ke dalam konteks jaman sekarang. Dalam film ini, kasus Ahmadiyah, JIL, FPI; nampak seperti perulangan sejarah dengan pemain yang berbeda. Niat baik Hanung memberikan sentilan sosial dalam suasana kekakuan beragama abad 21, tentu harus diberi pujian.

Tapi sayangnya, Hanung cuma berhasil di aspek itu aja. Ahmad Dahlan yang diklaim sebagai “Sang Pencerah” tidak nampak cerah di film ini. Kemutakhiran pemikirannya tidak dikontraskan dengan konteks masyarakat Jawa zaman itu yang abangan dan kejawen. Akibatnya Dahlan nampak biasa bagi penonton jaman sekarang, pemikirannya tidak mendobrak dan tidak cerah.

Walaupun memang, tidak redup juga.

Di sini, Lukman Sardi membawakan Ahmad Dahlan yang hati-hati, dan sesekali rapuh. Dakwahnya biasa, tidak menggugah. Tutur katanya lempeng. Ini tentu menimbulkan pertanyaan, apakah pendiri Muhammadiyah itu memang sosok yang lemah, ataukah ini cuma imbas dari kehati-hatian yang berlebihan ketika mereka-cipta tokoh legendaris. Jika Ahmad Dahlan memang lemah, leadership seperti apakah yang ia gunakan ketika merintis organisasi islam yang sebesar Muhammadiyah?

Sang Pencerah tidak menjawab pertanyaan itu.

Pada akhirnya, ia memang sekadar film-film pendek bagus yang disambung-sambung, tetapi tanpa kesan tunggal yang kuat. Ia memang masih jauh dari film yang akan membanggakan Indonesia, tetapi sebuah langkah besar untuk ke sana.

Baca juga: