Pictures - August 25th, 2010
Archive for August, 2010
Indonesiana - August 23rd, 2010
Museum The Jewel of Muscat
Sorak sorai menyambut datangnya perahu dari Oman ke daratan Singapura. Perahu layar itu dinamai Sang Manikam Muskat, The Jewel of Muscat. Ia adalah replika puing kapal Oman dari abad 9 yang ditemukan nelayan Indonesia di kepulauan Belitung.
Setelah mendarat di Singapura, Sang Manikam akan diboyong ke Resorts World Sentosa, untuk dipamerkan selamanya di sana. Ia akan duduk bersebelahan dengan kapal aslinya, memamerkan kegagahan para pelaut di eranya.
Memang menyebalkan. Walaupun benda bersejarah itu ditemukan di Indonesia, tetapi ia bukan lagi milik kita. Puing kapal kuno itu, beserta harta karun emas-perak di dalamnya sudah dibeli menjadi milik Singapura. Para peneliti sejarah perdagangan di jalan sutera akan lari ke Singapura kalau ingin tahu peralatan yang digunakan pada jaman itu.
Hal-hal seperti ini kadang-kadang membuat dongkol. Bagaimana mungkin harta karun sehebat ini lepas dari tangan kita? Continue reading …
Opinion - August 21st, 2010
Ada Masalah Apa di Pizza Hut?
Mungkin penyebabnya adalah krisis global. Pizza Hut yang sekarang seperti kehilangan ruhnya. Tsaaah. Maksudnya sensasinya hilang.
Ini diawali dengan hilangnya crust jenis cream cheese di sekitar tahun 2006. Itu lho, crust yang renyah empuk, isinya keju krim. Walhasil topping favorit saya, Hawaiian Chicken, jadi tidak lengkap ketika crust-nya bukan jenis cream cheese. Ini disusul dengan hilangnya topping Hawaiian Chicken itu sendiri. Saya mencoba buat sendiri pizza dengan topping mengikuti Hawaiian Chicken. Tapi rasanya tetap beda. Continue reading …
Design - August 17th, 2010
Koin-Koin Inggris

Sekilas mata, uang receh Inggris seperti potongan-potongan gambar tidak karuan. Ambil contoh receh satu penny. Denominasi terkecil ini hanya bergambar ujung harpa dan sepenggal kaki singa. Tetapi receh dua puluh penny lebih kasihan: gambarnya pantat singa.
“Kecantikan” desain uang logam keluaran tahun 2008 ini baru terlihat setelah kita menyusunnya sedemikian rupa, sehingga menjadi lambang negara Britania Raya:
Entah bagaimana pendapat Anda, tetapi bagi saya, ini pintar. Ada interaksi di sini. Kita diajak bermain dengan koin-koin itu untuk “menemukan” Perisai Agung Inggris. Ada pula unsur kejutan dan reward setelah koin-koin itu diatur dengan tepat.
Inggris memang sering mengejutkan dalam soal desain. Logo London Underground yang modern dan fungsional misalnya, ternyata dirancang tahun 1908. Itu adalah era di mana semua orang masih sibuk dengan langgam Art Nouveau yang cantik. Perhatikan juga kekontrasan antara logo simplistis dengan ornamen era lama yang serba mendakik-dakik; bukankah itu kerap menjadi pakem perancangan jaman sekarang?
Tentu tidak semua kejutan Inggris mengesankan. Logo Olimpiade Inggris 2012 yang mirip Lisa Simpson mengoral sesuatu, misalnya, adalah eksperimen yang tanpa arah. Demikian juga maskotnya. Tapi untuk uang-uang logam ini, menurut saya nakal dan kreatif.
Nah kira-kira sudah mampukan Indonesia merancang uang logam sekreatif itu? Jika membayangkan reaksi masyarakat seandainya Garuda Pancasila dicacah-cacah seperti di receh Inggris, nampaknya kita masih belum siap.
Reviews - August 16th, 2010
The Expendables
Disergap oleh belasan tentara Vilena, Stallone melempar sebuah bogem mentah ke satu penyerang, menghujam yang lain dengan pisau andalannya, dan menembak dua lagi dari pistol yang berhasil ia rebut. Ketika ia nyaris tak bisa mengelak, sebuah pisau tiba-tiba menghujam mati musuhnya. Pisau itu dilontarkan oleh Jason Statham dari jarak sepuluh meter.
Begitulah kurang lebih satu adegan di The Expendables. Film garapan Stallone ini memang seperti mereunikan veteran laga dari era 80-an seperti Jet Li, Dolph Lundgren, dan Eric Roberts. Bruce Willis dan Gubernur Arnold juga ikut memeriahkan, walaupun tidak lama. Tapi Expendables tidak sekadar reuni, ini adalah usaha Stallone untuk menggairahkan genre yang telah kehilangan gregetnya.
Di tahun 80-an, genre action memang andalan box office studio besar. Nama Stallone dan Arnold hukumnya wajib mengisi jajaran film musim panas atau musim dingin. Tetapi munculnya Batman dan efek komputer, menggeser pamor bintang-bintang laga itu. Selera penonton berkembang, mereka menyukai film-film yang tidak sekadar deretan adegan action. Penonton—rupanya—juga menyukai film dengan visual effect yang keren, tokoh yang punya hati, dan kejutan di akhir cerita. Pelakon yang disukai juga berubah. Badan sangar kekar tergeser oleh Ashton Kutcher dan Zac Efron yang ramping dan mulus.
Mungkin Stallone akan gembira kalau tahu beberapa teman wanita saya menikmati pemandangan pria-pria jantan di The Expendables. Teman saya yang laki-laki juga menikmati adegan actionnya yang mentah dan kasar. Bisa jadi selera pemirsa sudah kembali ke masa kejayaan Stallone. Setidaknya beberapa selera. Dalam banyak aspek, film ini persis seperti film action jaman dulu: film yang deretan ledakan dan kelahinya bisa sukses merias cerita yang datar-datar saja. Tidak ada kejutan ataupun evolusi tokohnya.
Wajib ditonton kalau ingin melihat efek facelift pada wajah Stallone.
Life - August 13th, 2010
Penipuan Dengan Kapal Api
Pagi-pagi Mbak Ami, PRT keluarga saya heboh. Wajahnya berbinar-binar sambil menunjukkan selipat kupon dari bungkus kopi Kapal Api. Tertulis kalau ia memenangkan satu buah mobil Mazda.
Kupon itu dicetak menggunakan printer inkjet, kelihatan dari tinta yang tidak rata. Juga tertulis kalau pemenang harus membayar pajak hadiah sebesar 20%. Sukar mengakui kalau itu bukan penipuan. Tetapi siapapun yang melihat keriangan Mbak Ami menceritakan kemenangannya, pasti tidak punya hati untuk mengatakan yang sebenarnya. Kita cuma bisa mewanti-wanti kalau itu bisa saja cuma penipuan. Continue reading …





