hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for June, 2010

Politik - June 21st, 2010

Tifatul Sembiring dan Mirip Isa/Yesus

tifatul sembiring menanggapi video mesum

Dalam konferensi pers menanggapi video seks artis (17/06), Menkominfo Tifatul Sembiring meminta pihak Kepolisian agar segera menuntaskan kasus video porno supaya kasus mirip-mirip ini menjadi clear. Kemudian dia menggunakan analogi penyaliban dalam agama Islam dan Kristen:

Tanpa kejelasan, persoalan [video seks] ini akan terus menggantung. Dan jika soal mirip-mirip ini tak dapat ditegaskan berdasarkan penyelidikan aparat hukum, maka ini dapat menghabiskan energi masyarakat ketika banyak persoalan lain yang tak kalah penting perlu mendapat perhatian dari seluruh komponen bangsa.

Berkait dengan isitlah “mirip” ini, tanpa berpretensi apa-apa saya sampaikan dalam forum, ada pelajaran dari sejarah yang juga menjadi pengetahuan kita bersama. Dalam soal analogi mirip ini saya katakan dalam sejarah terjadi dimana ummat Islam meyakini bukan Nabi Isa as. yang disalib, melainkan seseorang yang mirip Nabi Isa-ah yg disalib. Sementara ummat Nasrani meyakini bahwa Yesus-lah yg disalib. Dengan tidak bermaksud mengaitkan aspek teologi, soal mirip-mirip ini ternyata berimplikasi panjang dalam sejarah.

—dari Facebook Page Tifatul Sembiring

Pernyataan ini menuai kritik tajam dari berbagai kalangan karena analogi itu mengatakan siapa yg disalib sebaiknya tidak menggantung. Harus diclearkan, apakah yang disalib itu mirip Isa atau Yesus. Harus diclearkan perbedaan Islam & Kristen dalam melihat penyaliban, karena implikasinya panjang.

Inilah sejatinya yang melukai umat beragama, karena semestinya perbedaan ajaran agama tidak diselesaikan. Ummat Islam punya keyakinan sendiri, demikian juga ummat Kristiani, karena negara melindungi kita untuk memeluk agama yang kita yakini.

Bagi beberapa umat muslim, pernyataan Tifatul tidak salah. Tentu mereka benar, karena Islam memang memiliki perspektif sendiri melihat kejadian penyaliban tersebut. Hal seperti ini biasa dipercakapkan di kalangan internal muslim. Yang menjadi masalah adalah ketika pernyataan itu dilempar ke ruang publik, oleh seorang negarawan. Tentu saja itu memancing kemarahan, karena pernyataan internal itu telah mengancam rasa aman dalam beragama.

Pernyataan Tifatul juga bisa menyeret Menkominfo ke pasal penodaan agama yang kontroversial itu. Tapi saya rasa itu tidak perlu. Yang diperlukan adalah Tifatul Sembiring meminta maaf dengan tulus atas analogi yang insensitif itu. Lagipula saat ini PKS sedang merubah citra dari partai Islam ke partai inklusif.

UPDATE: Bijaklah dalam berkomentar, jangan melemparkan kebencian ke agama lain. Yang melanggar akan dihapus.

Random - June 18th, 2010

Anis Matta dan Harry Dharsono

Mengapa Anis Matta (PKS) dandannya mirip Harry Darsono?

Reviews - June 18th, 2010

Toy Story 3

Toy Story 3

Mainan di kamar tidur Andy tidak hanya merasa aman karena dipakai dengan baik. Mereka juga merasakan sayang, karena bagi Andy kecil, mainan-mainan itu adalah bagian penting dari imajinasi seorang anak yang gembira. Sebelas tahun sejak Toy Story 2 berlalu, Andy telah lulus SMA, dan menuju bangku kuliah; Woody dkk harus menemui kenyataan pahit bahwa mereka tidak lagi penting.

Tetapi manakah yang lebih penting? Menjadi mainan yang membuat gembira anak-anak, atau bersembunyi di loteng rumah demi aman dari kerusakan? Buzz, Jessie, Mr Potato Head, dan Hamm memilih pindah ke taman penitipan anak-anak Sunnyside, di mana mereka tidak akan pernah lagi diabaikan. Walaupun Woody (Tom Hanks) bersikeras bahwa gagasan itu berbahaya, tetapi sambutan hangat dari tetua Sunnyside, Lotso Bear membuat mantap keputusan itu.

Memperhatikan seluloida Toy Story 3 berpendar di layar dan mendengar “You Got a Friend in Me” melantun di teater, seperti membuka buku favorit atau album foto lama. Kita menemukan kembali bagian-bagian yang mengesankan dan kenangan-kenangan yang bagus. Akan tetapi, bisakah kita (dan mainan) menjadi utuh atas kenangan sebuah pernah?

Di seri ke-tiga Toy Story ini, Lee Unkrich menuntaskan petualangan mainan-mainan konyol itu dengan rapi, manis, dan sempurna.

Anecdotes - June 17th, 2010

History Toy Story 3

Awalnya Toy Story 3 tidak dimaksudkan sebagai garapan Pixar. Ketika hubungan Disney dan Pixar memburuk di tahun 2004, CEO Michael Eisner memamerkan gigi finansial Disney dengan membuat Toy Story 3 tanpa campur tangan Pixar. Walaupun Woody dan Buzz Lightyear lahir dari jari-jari kreatif Pixar, kontrak menjamin bahwa hak milik semua karakter dipegang seutuhnya oleh Disney. Mereka harus ikhlas melepas mainan mereka untuk dikuasai Disney, yang dalam dekade itu filmnya selalu buruk.

Studio yang akan mengerjakan Toy Story 3 adalah Circle 7 Studio, yang merupakan unit baru Disney Studios di bidang animasi 3D. Di tangan studio seumur jagung ini, seri ketiga Woody dkk adalah tentang penyelamatan Buzz yang ditarik masal oleh pabriknya.

“Untunglah” angin berbaik hati dan berubah arah. Kampanye “Save Disney” yang dikomandoi Roy Disney sukses mendepak Eisner dari kursi CEO, sekaligus menempatkan Robert Iger sebagai nahkoda baru di sana. Kemampuan Iger meluluhkan hati CEO Pixar, Steve Jobs, berbuah merger Disney-Pixar yang disahkan pada medio 2006.

Merger ini menempatkan sutradara Toy Story dan Toy Story 2, John Lasseter ke posisi Direktur Kreatif Disney. Dan langkah pertama yang ia lakukan adalah mencabut produksi Toy Story 3 dari Disney Circle 7, dan mengembalikannya ke rumah tempat Woody dan Buzz dilahirkan: Pixar. Ceritanya tidak lagi tentang Buzz yang ditarik pabriknya, tapi tentang mainan-mainan itu ketika dipensiunkan oleh Andy.

Maka, ketika nanti lampu teater dipadamkan, animasi kastil diputar, dan lampu Luxo meloncat-loncat; sebetulnya Anda akan menonton sebuah film yang nyaris digarap oleh tangan yang salah.

IndonesianaPictures - June 15th, 2010

Buah-Buahan Lokal

Kita punya buah-buahan yang unik dan enak. Satu cara untuk melawan desakan buah-buahan impor adalah mendokumentasikan punya kita di Internet.

Guava! Guava!

Jambu

Manggis the Mangosteen

Manggis

Marquisa Passionfruit

Markisa

Sawo is Sapodilla

Sawo

Jackfruit

Nangka

Srikaya the Sugary Apple

Srikaya

Kesemek

Kesemek

Baca juga tulisan Tiyangsae tentang buah-buah masa lalu.

Reviews - June 14th, 2010

The A-Team

Generasi 80-an dibesarkan oleh serial televisi yang formulaik, episodik, tapi menghibur di eranya. Walaupun film remake dari serial TV sering ngalor-ngidul tanpa arah, The A-Team versi baru ini tetap formulaik, episodik, dan sangat menghibur.

The A-Team mereboot backstory empat tentara misi khusus yang difitnah mencuri plat dolar AS di Irak. Dengan berbagai taktik ajaib, mereka melarikan diri dan memulai misi membersikan nama mereka.

Aktor Liam Neeson memerankan Smith, ketua empat sekawan The A-Team. Sementara Bradley Cooper, Quinton Jackson, dan Sharlto Copley memerankan Face, BA. Baracus, dan Murdock. Walaupun mereka tidak bisa mereplikasi karisma pendahulunya secara utuh, keempat aktor itu sukses membarukan The A Team. Pujian khusus untuk Quinton, yang BA Baracus-nya lebih karismatis daripada BA era Mr. T.

Selebihnya adalah film Hollywood klasik dalam artian positif: pertunjukan laga yang rumit, sangar, dan lucu. Saya menunggu sekuelnya.