hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for May, 2010

Design - May 27th, 2010

Maskot Olimpiade London 2012

Maskot Olimpiade London 2012

Agak-agak bingung dengan maunya London. Setelah membuat logo Olimpiade yang bentuknya seperti Lisa Simpson mengoral sesuatu dan stadium Olimpiade berdinding kain, kali ini LOCOG mengumumkan maskotnya, Wenlock dan Mandeville. Mereka tidak berkelamin dan lahir dari percikan besi tukang las.

Menurut saya mereka terlihat galak dan tidak ramah. Menurut Anda?

Reviews - May 27th, 2010

Prince of Persia

Ternyata memang susah bagi Jerry Bruckheimer mengulang apa yang keren dari Pirates of Caribbean. Setelah keluar dengan film National Treasure dan Confession of a Shopaholic, harapan yang tersisa untuk Prince of Persia sebetulnya tidak banyak. Dan melalui ini, Bruckheimer secara resmi membuang secercah harapan itu.

Tidak semua film sempurna dari berbagai aspek. Ada yang tokoh-tokohnyanya diarahkan dengan bagus. Ada yang ceritanya nendang pol. Ada yang efek atau sinematografinya sophisticated. Beberapa film cukup beruntung karena dua atau tiga aspeknya bagus. Prince of Persia bukan film yang buruk, tapi cuma terlalu biasa karena menggunakan tokoh kalengan, cerita kalengan, dan visual kalengan.

Tidak ada yang salah dengan sesuatu yang kalengan. Tetapi apa yang kalengan biasanya tidak istimewa, dan film kalengan membiarkan Anda keluar dari auditorium bioskop dalam keadaan sama seperti sebelum menonton film.

Satu hal yang cukup “menghibur” adalah laki-laki dengan hairdo gede banget yang duduk di depan saya. Saya jadi punya sesuatu untuk dibahas dalam perjalanan pulang.

Reviews - May 21st, 2010

Green Zone

Invasi Amerika Serikat ke Irak dimaksudkan sebagai serangan yang singkat dan tepat, dengan tujuan utama membongkar keberadaan Senjata Pemusnah Massal (WMD) yang konon diproduksi sembunyi-sembunyi oleh Saddam Hussein. Jika di kemudian hari prestasi yang dielu-elukan rezim Bush adalah menjatuhkan kediktatoran Saddam dan menetaskan demokrasi di Irak, maka sudah sewajarnya orang bertanya-tanya “ada apa gerangan di Gedung Putih sana sampai akhirnya berganti bendera?”.

Green Zone berusaha menjawab pertanyaan itu—dari sudut pandang Irak—melalui tokoh Roy Miller (Matt Damon), seorang pasukan khusus yang diterjukan ke Baghdad untuk menemukan WMD. Setelah berkali-kali mendapatkan nihil ketika merazia lokasi WMD dari hasil laporan intelijen bernama “Magellan”, maka Miller mulai melepas diri dan bekerja di luar komando. Menembus birokasi komando AS di Irak, dan intrik-intriknya, Miller mengurai rahasia-rahasia yang dibungkus oleh ketakutan akan senjata pemusnah masal.

Film ini dipuji The New York Times karena mampu menyederhanakan kompleksitas perang Irak tanpa menjadi ampang. Sutradara Paul Greengrass, yang juga mensutradarai seri Bourne, sukses membangun ketukan plot yang mencekam dan padat, walaupun kurang “kedalaman”, mirip dengan Bourne Ultimatum yang juga disutradarainya. Tetap saja ini film Hollywood yang bagus dan memuaskan, yang agak jarang muncul di layar lebar akhir-akhir ini

Indonesiana - May 20th, 2010

Kondisi WNI Di Antara Huru-Hara Bangkok

Klaim bahwa KBRI Thailand telah mengamankan 300 WNI dari zona bentrok ini membuat panas Sunu, teman saya yang sedang belajar di negeri Gajah Putih. Pasalnya, hingga saat ini masih ada sekitar 40 WNI yang terjebak di Athen apartment, Petchburi Road. Pada umumnya mereka adalah warga negara Indonesia yang sedang kuliah di Thailand.

Setelah pemimpin gerakan Kaos Merah digrebek oleh militer Thailand, massa sempat mengamuk dan membakar sejumlah tempat penting seperti mall Central World dan stasiun televisi Channel 3. Buntut dari berbagai huru-hara ini, militer menutup sejumlah zona di Bangkok. Salah satunya adalah tempat di mana 40 WNI itu berada.

Dari laporan teman-teman yang masih berada di sana, terdengar jelas suara ledakan dan tembakan, walaupun suasana mulai mereda tadi malam.

Petchburi Road setelah ditutup oleh militer. Foto dari Agus Nugroho
mahasiswa PhD Teknik Sipil yang tinggal di Athen Apartment


Foto asap hitam hasil kerusuhan kaos merah, diambil dari Lantai 2, Athen Apartment (Agus Nugroho)

Mengapa pemerintah tidak memindahkan WNi di apartemen Petchburi Road yang hanya berseberangan dengan KBRI?

Dari informasi yang saya dapat, KBRI menyuruh teman-teman WNI untuk pindah. Tetapi KBRI tidak menyediakan penampungan untuk mereka. Selain itu, menurut Sunu, KBRI hanya menyediakan satu buah van, yang tentu saja tidak memadai untuk memindahkan 40 orang. Di lain sisi pemerintah justru mengeluarkan pernyataan yang tidak enak di kuping:

“Kalau memang merasa membutuhkan perlindungan, ikuti saja imbauan kami atau tanggung sendiri akibatnya.”
—Teguh Wardoyo, Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia, tentang himbauan KBRI agar WNI dievakuasi atau tetap tinggal di rumah (Vivanews)

Agak aneh ketika pemerintah menerbitkan berita heroik telah mengevakuasi banyak WNI, tapi di lain sisi masih ada yang ditelantarkan. Hingga hari ini.

Saya kok prihatin ya mendengar pelajar-pelajar kita ditelantarkan seperti ini. Apakah ini memang protokol Kemenlu dalam menangani rakyatnya sendiri?

Indonesiana - May 19th, 2010

Berita Gesang Meninggal Yang Salah

VivaNews menurunkan berita tentang radio Inggris, BBC, yang memohon maaf setelah menyiarkan kabar bahwa Ratu Inggris Elizabeth 2 telah meninggal. Selain permohonan maaf melalui juru bicaranya, BBC juga menskors penyiar yang bertanggung jawab atas kesalahan tersebut.

Ironisnya, artikel ini terbit kurang dari 24 jam setelah TvOne mengabarkan kalau Gesang meninggal. TvOne (saudara dekat Vivanews yang sama-sama group Bakrie) lantas meralat berita tersebut, setelah mendapatkan konfirmasi bahwa maestro Bengawan Solo itu masih dirawat di ICU PKU Muhammadiyah Solo. Tidak cuma TvOne, Kompas.com juga sempat menerbitkan berita salah yang serupa.

Berbeda dengan BBC, kedua media besar Indonesia itu tidak melakukan permintaan maaf secara jantan. Mengingat besarnya dosa mereka, saya mengharapkan setidaknya ada pernyataan mohon maaf formal lisan dan tulisan kepada Gesang dan publik. Tapi tidak ada. Yang ada cuma Kompas yang diam-diam mengedit berita “kematian” itu, sementara TVOne sekadar meralatnya.

Saya tidak ingin merenung atau berkontemplasi, karena sudah bosan. Setelah pemberitaan Pansus Century yang tidak berimbang dan narasumber palsu, saya cuma ingin tahu masyarakat macam apa yang tiap hari mengijinkan dirinya dikelabui oleh televisi dan koran.

UPDATE: Setelah dirawat di rumah sakit akhirnya Gesang menghembuskan nafas terakhirnya Kamis malam kemarin. Semoga amal perbuatannya diterima di sisi Tuhan, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan sebesar-besarnya.

IndonesianaOpinion - May 19th, 2010

Lomba Menggambar Nabi Muhammad Sekaligus Mempermainkan Umat Islam

Lengkap sudah upaya mengolok-olok umat Islam ketika KAMMI menuntut pemerintah mencekal event blasphemy di Facebook. Judul event-nya memang seperti berniat mempermainkan umat islam: “Everybody Draw Mohammed Day”, tetapi tujuan mempermainkan benar-benar tercapai setelah umat Islam bereaksi ekstrim menanggapinya. Ketika pemangsa memasang umpan jebakan, kita tidak malah menyantapnya bukan?

Yang terjadi justru KAMMI melahap umpan itu bulat-bulat. Saya berusaha maklum karena M pertama di “KAMMI” berarti “mahasiswa”, dan mahasiswa memang mentalnya belum stabil. Tetapi jika M itu melekat di M pada MUI, maka saya serba salah kalau mau menempelkan “labil” di sebelah majelis yang terhormat itu.

Bagi saya ini bukan medan pertempuran yang musti dihajar dengan tangan besi. Ini adalah pertempuran opini meraih simpati dan kepercayaan masyarakat Internasional, karena faktanya sudah mulai muncul generalisasi bahwa umat Islam adalah umat yang harus diperlakukan seperti balita. Dalam pertempuran sepert ini, kemenangan yang sebenarnya adalah ketika umat kita meraih kepercayaan penduduk dunia sebagai umat yang memeluk kebaikan.