hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for April, 2010

Life - April 30th, 2010

Es Teh Tawar Dua

Salah satu cara memperoleh kenyang tanpa menimbun nasi di piring adalah minum yang banyak. Saya, kalau makan, biasanya lebih banyak minumnya daripada makannya. Bukankah banyak minum es bikin gemuk? Ah siapa bilang. Yang bener minum es yang diberi gula itu bikin gemuk. Penggemuk ada di kimiawi gula (yak, bahkan gula itu termasuk kimia), bukan di suhu.

Tapi tentu ada orang-orang yang merasa tidak nyaman melihat saya banyak minum. Ekspresi yang paling wajar itu kaget sambil teriak “Dua Mon?”. Nah untuk ini saya sudah punya jawaban yang manjur: “Mampu kok”, tentu dengan memasang ekspresi kalem. Biasanya manjur, mereka yang reseh itu langsung gondok.

Belakangan ungkapan “mampu kok” jadi populer di CahAndong untuk menunjukkan kejumawaan dalam kebercandaan. Padahal aslinya ungkapan itu untuk membuat orang reseh lekas diam.

Tetapi hobi minum banyak ini lebih sering membawa mudharat. Kemarin lusa di Nanamia, gara-gara pesan Aqua dua, pelayannya lupa tidak membikinkan Strawberry Lassi. Lantaran di meja sudah ada dua minuman, pelayannya berasumsi kalau pesanan sudah lengkap jika jumlah gelas di meja sama dengan jumlah orang yang duduk di meja itu.

Dan kemarin ke Nanamia lagi, hal yang serupa terulang lagi. Betul, saya jadi meragukan maksud dan tujuan menulis pesanan di kertas.

Yang paling menyebalkan tentu saja hari ini di kantin Perpustakaan UGM (jika tidak begitu menyebalkan, tentu saya tidak akan menulisnya di sini bukan?). Di kantin itu, sudah lumrah saya pesan “soto tanpa nasi ples es teh tawar dua”. Tentu saja pesanan itu sempat membuat ibu-ibu pengelola kantin tertegun, tapi setelah makan di sana berbulan-bulan mereka mulai agak terbiasa.

Hari ini nyaris sempurna. Tidak ada lagi tatapan aneh ketika memesan “soto tanpa nasi dengan es teh tawar dua”. Sotopun terasa segar dan gurih. Tak lama kemudian “es teh tawar dua” saya mendarat di dekat mangkuk soto yang gurih itu. Dan—dengan inosennya—orang yang duduk di sebelah saya mengambil satu dari dua gelas es teh tawar itu. Dan langsung menyeruputnya. Dan langsung celingukan mengeluarkan ekspresi aneh.

“Tawar ya mas? Itu punya saya,” saya bilang.

Saya belajar banyak hari ini. Lain kali saya pesan “es teh tawar tiga”. Mampu kok.

Foto dari Swastika Rahmadani.

Opinion - April 30th, 2010

Bukti Bahwa Langsing ala Disney Adalah Mustahil

Bahkan versi Disneyland tidak bisa selangsing di film.

Indonesiana - April 23rd, 2010

“Big Size” Memory Card


Turtlix menceritakan ini di FB-nya:

CS:
Selamat sore Ibu, ada yang bisa saya bantu
Ibu Menor:
Mas, yang cetak foto sendiri yang mana ya?
CS:
Oh… Self-Service-Print ya Bu, itu di sebelah bagian kamera.
Ibu Menor:
Terimakasih ya…


*beberapa menit*

Ibu Menor:
Mas! sini Mas! Gimana ini?
CS:
Bagaimana Ibu? ada kesulitan?
Ibu Menor:
Ini alatnya kuno ya? Toko kayak gini kok alatnya kuno!
CS:
Kuno bagaimana maksud Ibu?
Ibu Menor:
Ini memory card saya tidak bisa dipakai disitu
CS:
Memory card ya Bu?
Ibu Menor:
Suami saya beli Memory Card ini di Singapura dan dengan ukuran besar. Kok tidak bisa dipakai? Gimana sih!
CS:
Bisa saya lihat Memory Card Ibu?
Ibu Menor:
Ini… Memory Card ini model terbaru lho mas…
CS:
Maaf Ibu… ini battery kamera

Indonesiana - April 21st, 2010

Selamat Hari Kartini

Opinion - April 20th, 2010

Centro Fashion Fest

Suatu saat, setiap orang berkemungkinan sampai ke titik asketis(isme), toh badan cuma satu, kaki cuma dua. Tapi kalau semua orang menjalani “laku”, dan semua benda cuma dilihat dari aspek fungsional, maka kebudayaan menjadi kurang ragam dan corak. Begitu, kurang lebih, wejangan dari Mas Paman yang bijak itu.

Apa kata Paman budayawan itu ada benarnya: keserakahan terhadap keindahan membuat bangsa ada dan diingat. Jika keluarga Medici dari Florensia yang kaya raya tidak pernah mengongkosi Michaelangelo, maka generasi 500 tahun kemudian tidak bisa mengagumi keagungan patung David yang mengesankan itu. Jika Rakai Pikatan tidak mempedulikan estetika ketika Prambanan diberdirikan, mungkinkah kita salah mengira kuil dari kebudayaan kerajaan Hindu itu cuma sekadar bongkahan-bongkahan batu?

Pakaian sendiri adalah anak kebudayaan. Dalam banyak hal, pakaian adalah penanda masa. Ketika tahun 1915 Chanel merombak gaya busana wanita dari yang megah dan rumit menjadi sederhana dan manis, sadar atau tidak, Chanel menandai abadnya. Demikian juga ketika sepuluh tahun lalu Hedi Slimane memperkenalkan celana slim untuk laki-laki, ia telah memulai revolusi potongan pakaian pria menjadi ramping. Sampai-sampai desainer utama rumah mode Chanel, Karl Lagerfeld, rela dan ikhlas diet keras supaya bisa muat mengenakan celana-celana ramping besutan Hedi Slimane dari Dior itu.

Akan tetapi perubahan membutuhkan keberanian. Dalam soal pakaian, saya tidak memiliki kenakalan yang dimuat Mimit, Iphan, atau Ersa. Pakaian saya cenderung hati-hati dan “terukur” (separo baju di almari berwarna hitam, abu-abu, dan putih), walaupun tidak kuno-kuno juga.

Perubahan juga membutuhkan ongkos. Makanya saya senang pada Shopping Rally kemarin, Centro mentraktir saya merombak gaya berpakaian. Di kelas busana Centro bersama Andre Poernomo, sepuluh onliners (termasuk saya) juga didoping anti-gentar untuk mencoba batas-batas, karena bukankah perubahan selalu dimulai dengan menyentuh garis-garis batas itu?

Hasilnya, saya membeli sepatu warna coklat muda (bertentangan dengan norma umum bahwa warna coklat tua lebih mudah dipadu padan), celana jeans slim warna hitam, kemeja biru muda yang untuk dipadu dengan sweater warna merah cabe. Temanya “pacaran di hongkong”, karena si Mbak itu punya scarf merah cabe. Yaa itungannya masih kurang nakal, tapi kelewat nakal untuk saya.

Dan walaupun cuma dapat empat barang (mustinya saya beli 10 barang), tapi keempatnya selalu kepengen saya pakai karena terlihat bagus. Bukankah tujuan dari semua ini adalah mencapai bagus?

Indonesiana - April 13th, 2010

Hanya di Bali

Marketing memang segalanya, tapi produk keren adalah marketing yang terbaik. Negara lain mungkin bisa jor-joran pasang iklan turisme, tapi menurut saya susah mengalahkan Bali kalau kita punya keindahan-keindahan kecil semacam ini:

Ukiran semangka karya Pak Tema, Bali. Foto dari Nana.