Buy Soma Online Without Prescription

Patternless thoughts, pointless wisdom

LifePictures - February 3rd, 2010

Makanan Vietnam

Makanan bercerita banyak soal manusia dan budaya yang membungkusnya. Dari makanan akan kelihatan budaya bertani mereka dari sayuran yang digunakan, budaya berternak atau bernelayan dari lauknya, dan cara menikmati makanan lewat aroma bumbu-bumbunya.

Pho Bo

Setelah terdampar di Saigon dan panik kehilangan simcard Halo, kami mencicipi pho di perempatan jalan Pham Ngu Lau dan Cong Quynh. Ini memang pho terenak yang pernah saya cicipi, karena pho-pho berikutnya rasanya meleset jauh. Pho di warung Pho Quynh ini sempurna: kuahnya wangi, dagingnya empuk, dan mie berasnya yang licin enak banget diseruput panas-panas. Apalagi kalau ditemani kopi pahit Vietnam. Pho Bo

Banh Mi

Sebagai mantan koloni Perancis, roti baget lumrah menjadi menu sarapan di jalan-jalan Saigon. Tentu saja karena di Vietnam, maka bagetpun memakai tepung beras. Banh Mi ini kami beli di trotoar jalan Pham Ngu Lau, dan bisa dibilang seperti Vietnam dalam sepotong roti karena isinya memuat segala hal yang khas sana: daging asap vietnam, cilantro, ketumbar, serai, sayuran segar, dan kecap ikan. Banh Mi

Banh Cuon

Setelah capek buanget jalan-jalan menelusuri hiruk-pikuk Saigon, kami mencicipi Banh Cuon otentik di resto Huang Lai. Kulitnya yang nyaris transparan itu dibuat dengan tepung beras, dan diisi suun, udang rebus, daun ketumbar yang wangi, dan serai segar. Banh Chuon Beras nampak menjadi bagian penting bangsa Vietnam. Ini terlihat dari mie tepung beras, roti tepung beras, bahkan kulit lumpia tepung beras. Menariknya, mereka tidak terjebak dalam penyajian beras yang ditanak untuk mencari kenyang.

Đồ Nướng Trung Ho

Sepulang nonton pertunjukan boneka air di Hanoi, perut-perut yang kelaparan ini mengandalkan hidung untuk mencari makan malam yang lezat. Hidung ini terpancing ke sebuah lapak berasap di perempatan jalan Hang Bong dan Duong Thanh. Saya dan Hanny memilih baget, salmon, enoki, dan sate daging, lalu mengambil duduk di bangku-bangku plastik yang belum dipakai orang. Yang pertama datang adalah roti baget yang dibakar dengan madu. Enak, manis, dan bikin merinding! Lalu datang lagi salmon bakar! Enak dan bikin meleleh! Lalu sate demi sate datang. Kemudian jamur enoki bakar yang enak. Lalu baget bakarnya datang lagi. Lalu enoki! Sehingga kami berakhir dalam kondisi blenger. [caption id="attachment_1021" align="aligncenter" width="440" caption="Chinese Barbecue"]Bakar-Bakar ala Cina[/caption] [caption id="attachment_1019" align="aligncenter" width="440" caption="Salmon Bakar"][/caption] [caption id="attachment_1020" align="aligncenter" width="440" caption="Enoki Bakar"][/caption]

Buah-Buahan

Buah-buahan tropis yang dijual di Vietnam tidak beda jauh dengan yang di Indonesia. Tapi kebanyakan ukurannya lebih wah daripada punya kita: jambu air lebih gede, srikaya lebih gede, manggis lebih gede. Dan ini bikin saya agak malu kalau mau memplokamirkan negara saya sebagai tanah gemah ripah loh jinawi. Tapi jambu airnya gak lebih manis daripada punya kita kok. Buah-buahan Tidak semua makanan yang saya cicipi enak lho. Pho di Cat Ba misalnya, rasanya kurang nendang dan mie berasnya gampang hancur; lumpia di dekat jalan Pasteur Saigon kulitnya kering; buah longan di Behn Thanh agak terlalu matang. Tapi begitu dapat yang enak, memang enak banget. Berikutnya adalah tentang pagi.

20 Comments


Leave a Reply