The Thirteenth Tale—Dongeng Ketiga Belas

“Beritahu aku, apakah kau percaya hantu?”

Itu ditanyakan Vida Winters, novelis kawakan yang menemui senja. Di rumahnya yang besar, dengan korden-korden serta karpet tebal sehingga berisik tersunyikan, Vida mengundang penulis muda Margaret Lea untuk menerbitkan biografinya.

Biografi Vida Winters adalah misteri bagi dunia literatur Inggris. Puluhan penulis mencoba mewawancarai masa lalunya, dan kesemuanya berakhir menjadi cerita yang berbeda-beda. Di usianya yang semakin tua dan dikejar waktu, Vida mengundang Margaret untuk  mendokumentasikan kisah keluarga Angelfield, rumah besarnya yang tua dan nyaris ambruk, serta semua penghuninya—hidup atau mati.

Kebencianku bukan terhadap pencinta kebenaran, melainkan pada kebenaran itu sendiri. Bantuan apa, penghiburan macam apa yang terkandung dalam kebenaran, jika dibandingkan dengan dongeng? Apa gunanya kebenaran, pada tengah malam, dalam kegelapan, ketika angin meraung seperti beruang dalam cerobong asap? Ketika kilat menerakan bayang-bayang di dinding kamar tidur dan hujan mengetuk-ngetuk jendela dengan kuku-kukunya yang panjang? Tidak. Ketika perasaan takut dan dingin membekukanmu menjadi patung di tempat tidur, jangan berharap kebenaran dengan tulangnya yang keras berbungkus kulit akan datang menolongmu. Karena yang kaubutuhkan adalah kenyamanan sebuah dongeng. Dusta yang memberikan perasaan aman yang membuai dan menenangkan.

Ketika Margaret semakin tenggelam oleh dongeng Vida Winters, rahasia demi rahasia mulai terkupas, dan kedua wanita itu harus menghadapi masa lalu yang selama ini menghantui mereka.

The Thrteenth Tale, novel Dianne Satterfield, memadukan sisi seram masa lalu Vida Winters dengan penuturan yang romantik, membuat narasi mengalir mencekam tanpa kehilangan keindahannya. Mengacu ke Wikipedia, gaya ini mendekati aliran literatur gothic Inggris seperti terdapat di Jane Eyre, yang juga sering disinggung di novel ini.

Agak berbeda dengan lumrahnya novel suspense, gaya bercerita Satterfield mengijinkan saya untuk tidak tergesa-gesa. Hentinya satu bab bukan seperti titik tolak untuk segera menuju bab sambungannya, melainkan ruang kosong untuk bernafas sejenak.

Terimakasih Hanny atas rekomendasinya!

The Thirteenth Tale—Dongeng Ketiga Belas
Tagged on:

11 thoughts on “The Thirteenth Tale—Dongeng Ketiga Belas

  • January 20, 2010 at 8:16 am
    Permalink

    *uhuk* :D senangnya baca review ini :)) tunggu rekomendasi berikutnya, yaaa *bunny hop di bandara* :D

    Aku juga senang bisa membuat senang :D

    Reply
  • January 20, 2010 at 11:22 am
    Permalink

    hoho… ok mon. thx reviewnya…. secara jarang baca novel suspense… tar aku coba baca deh :)

    Aku jarang baca novel malah :))

    Reply
  • January 20, 2010 at 11:38 am
    Permalink

    Nyatet judul buku yang harus kubeli.. nambah maning, nambah maning…

    Reply
  • January 20, 2010 at 1:22 pm
    Permalink

    Udah tertarik dr dulu, tp belum sempet beli… Thx 4 the review!

    Reply
  • January 20, 2010 at 3:39 pm
    Permalink

    dusta yang memberi perasaan aman yang membuai dan menenangkan.. memang manusia seringkali hidup dari pretensi untuk bisa bertahan hidup.

    langsung saya beli begitu buku2 di rumah kelar dibaca :D

    Reply
  • December 18, 2010 at 10:30 pm
    Permalink

    buku yg hebat..
    hehe

    Reply
  • May 6, 2011 at 5:59 am
    Permalink

    From a legal standpoint, who is responsible for the devastation, destroyed lives and property that resulted from this crane collapse. Lindsay Fox Married with 5 children, age 72

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *