hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for January, 2010

Reviews - January 7th, 2010

Departures (Okuribito)

departures

Orang Jepang mengenal ritual nōkan. Mensucikan jenazah di hadapan keluarga yang ditinggalkan sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi ia yang mangkat.

Diago Kobayashi (Masahiro Motoki) tidak pernah bercita-cita menjadi juru nōkan. Cita-citanya adalah menjadi pemain cello. Dia terpaksa melamar menjadi nōkan di desa tempat ia besar setelah kelompok simponinya di Tokyo bubar. Itupun tanpa sengaja lantaran koran salah mencetak lowongan kerja di agen “Departures” (keberangkatan) di mana mustinya dicetak “Departed” (kemangkatan). Diago mengira dia melamar ke agen travel, bukan agen nōkan.

Tetapi penghormatan kepada jenazah tidak jauh berbeda dengan musik klasik yang musti diperlakukan dengan hormat dan lembut. Semakin lama seni baru itu ia geluti, Diago menemukan detak hidup baru dan menguak potongan hidup yang selama ini telah ia tinggalkan. Dan seperti kehidupan, Departures tidak melulu soal hal-hal pahit, dalam beberapa saat selalu ada kekonyolan yang membuat ceritanya utuh.

Maka sudah pada tempatnya jika film Yōjirō Takita memenangkan Oscar untuk film bahasa asing terbaik dan Academy Awards Jepang, juga untuk film terbaik. Kepiawaian Masahiro Motoki memainkan perannya mendorong alur cerita mengalir dengan penuh hati-hati, menyelami kerapuhan hidup.

Ini adalah salah satu film bagus yang pernah saya tonton dan akan nangkring dalam rak ingatan di mana film favorit dijajarkan dengan rapih.

Random - January 6th, 2010

Do Not Remove the Tissue in the Toilet

Siapa jugak yang mau meremove?

Reviews - January 5th, 2010

The Princess and the Frog

frog_official_poster_500

Tahun 2004, di antara hiruk-pikuk film-film animasi 3D yang terus bersemai, CEO Walt Disney Company memutuskan untuk stop membuat film animasi 2D, dan selanjutnya hanya membuat film 3D. Tidak ada lagi film-film animasi gambaran tangan sekelas Pinnochio, Beauty and the Beast, Lion King.

Tapi itu 2004.

Tahun 2005 Micheal Eisner, si CEO, mundur dari jabatannya setelah ditekan oleh kampanye Save Disney yang dibidani oleh kemenakan mendiang Walt Disney, Roy Disney. Tahun 2006, Disney mengakuisisi Pixar. Dan di tahun yang sama, Disney dengan lantang dan mengejutkan menyatakan kalau studio animasi itu akan kembali membuat film animasi 2D berjudul The Princess and the Frog.

Jadi musti dimengerti bahwa Princess bukan sekedar film, tetapi juga taruhan. Juga bukan sekadar taruhan di box office, tapi juga taruhan apakah animasi gambaran tangan masih bisa bertarung dengan animasi 3D, atau sudah waktunya pensiun dari pangkat seni komersil dan menyelinap pelan untuk disimpan di museum.

Sayangnya animasi hanyalah medium, pada esensinya ia “cuma” film yang tetap mengadalkan karakter, visual, suara dan alur cerita yang pas. Walaupun animasi Princess sangat halus lentur, dan visualnya sangat cantik, tapi ceritanya terasa baru digarap sebulan yang lalu.

Padahal premisnya sudah sangat menjanjikan. Tahun 1912. Musik jazz. New Orleans yang romantis. Tokoh gadis kulit hitam workaholic di era presiden kulit hitam. Dongeng anak-anak yang diputarbalikkan.

Tiana, princess Disney kulit hitam pertama ini, bercita-cita membuka restoran sendiri. Alih-alih punya restoran, gedung restorannya diserobot oleh orang lain, dan ia justru disihir menjadi katak karena mencium katak. Katak yang ia cium sebetulnya adalah pangeran Naveen yang disihir oleh Doctor Pacifier, dukun voodoo tukang tipu.

Rasanya mustahil kalau Princess bisa disandingkan dengan Lion King atau Beauty and The Beast. Tapi bisa jadi ini adalah film animasi gambaran tangan Disney yang terakhir dalam beberapa tahun ke depan, tidak ada salahnya ditonton sebelum benar-benar punah.

Life - January 3rd, 2010

Books

The greatest gift, ever, is probably books. They don’t decay, nor out of date. The mold with you and shape your mind. They may die with you, but their offspings—ideas—lives, eternally.

Popping thought at Soekarno-Hatta airport.