hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for December, 2009

Reviews - December 18th, 2009

Avatar

avatar-teaser-poster

Tahun 2154, eks marinir Jake Sully (Sam Worthington) dikirim ke planet Pandora untuk meneliti penduduk pribumi yang disebut Na’vi. Mereka adalah humanoid jangkung warna biru yang tinggal di sebuah pohon raksasa keramat. Di sekitar pohon keramat ini banyak terdapat unsur langka bernama Unobtainium yang ingin diekplorasi perusahaan Jake.

Untuk mempermudah penelitian, ilmuwan membuat avatar Na’vi yang bisa diatur manusia. Sully yang kakinya lumpuh dimasukkan ke dalam alat yang bisa mengendalikan avatar Na’vinya (yang tidak lumpuh). Dalam ekspedisinya, Sully bertemu dengan gadis Na’vi bernama Neytiri (Zoe Saldaña) putri si bapak kepala suku.

avatarx-topper-medium
Tema film besutan James Cameron (Terminator, Titanic) ini mirip ketika bangsa Eropa mengkoloni benua Amerika. Seperti bangsa Indian, penduduk asli Pandora memiliki ikatan yang kuat dengan alamnya, yang sekaligus kritik bagi manusia yang sudah habis-habisan memperkosa bumi. Misi utama Sully untuk bernegosiasi dengan suku Na’vi supaya bersedia relokasi ke tempat lain jadi terlupakan karena ia terlanjur jatuh cinta dengan alam, budaya, dan gadis Na’vi.

Tidak ada dobrakan baru dari segi cerita film 3 jam ini. Bisa dibilang ceritanya sangat taat dengan tata cara Hollywood. Cuma saja, film tidak hanya sekadar cerita. Film adalah dialog, visual, suara, ekspresi, musik, dan cerita yang bekerja bersama-sama. Dan Avatar membuat unsur-unsur itu terjalin dengan dahsyat dan luar biasa.

Anda akan menyukai gambar-gambar yang indah dan alur film yang seru. Dan pada akhirnya Anda akan lebih sayang bumi.

Reviews - December 18th, 2009

Sang Pemimpi

sang_pemimpi_film

Indonesia bukan negara yang dibangun atas mimpi, karena di sini, mimpi pupus adalah sesuatu yang rutin dan wajar. Sang Pemimpi mencoba menularkan semangat bahwa kita masih boleh bermimpi, semustahil apapun itu.

Mimpi Ikal adalah sekolah di Paris, demikian juga Arai. Repotnya mereka hanya anak-anak miskin yang sekolah di SMA kecil Bangka yang ketika lulus mentoknya cuma jadi buruh. Ikal yang secara alami condong mengikuti arus, bersama-sama Arai berusaha mewujudkan cita-cita besar mereka dalam berbagai keterbatasan.

Jika Laskar Pelangi jadi jawara karena gambarnya indah dan permainannya bagus, maka Sang Pemimpi justru menjadi antitesanya. Sinematografinya seperti mentah karena tidak ada lagi gambar-gambar yang membelai ataupun mencabik . Akting-aktingnya Ikal dan Arai remaja juga tidak meyakinkan, apalagi Lukman Sardi dan Nugie.

Hambarnya dua itu, membuat Sang Pemimpi terjebak untuk bertutur dalam alur dan narasi saja. Sayangnya narasi Lukman Sardi datar, dan alurnya juga pelan. Iya sayang sekali, materi dengan sangat kaya potensi ini tidak maksimal digarap Mira Lesmana dan Riri Riza.

Tapi tentu saja Sang Pemimpi seratus kali lebih baik daripada Air Terjun Pengantin.

Review lain:

Pictures - December 17th, 2009

Kemplang Yang Tak Pernah Basi

kemplang-tak-basi

Reviews - December 14th, 2009

Air Terjun Pengantin

air_terjun_pengantin

Film dibuka dengan gambar Tamara Blesynski bermadu asmara dengan pacarnya, lalu disambung adegan Tamara, Tyas Miarsih, Jenny Cortez dan kawan-kawannya berbikini di pantai sambil main-main air.

Mereka memang sedang berlibur, di Pulau Pengantin tepatnya. Ini bukan pulau sembarangan karena selain dulunya adalah perkampungan (yang sekarang sudah ditinggalkan), Pulau Pengantin juga bekas pabrik pengalengan ikan, benteng VOC, dan kuburan Belanda. Lengkap sekali.

Setelah puas menggeliat ke kiri kanan pasir pantai, gerombolan muda-mudi liberal itu menuju air terjun pengantin. Di sana mereka melihat bangunan tua yang rupanya bekas pabrik pengalengan ikan. Walaupun sudah lama ditinggalkan, tetapi shower kamar mandinya masih berfungsi sehingga memancing gadis-gadis itu untuk mandi karena kepanasan. Siapa yang tidak sih?

Tapi pulau itu menyimpan ancaman maut. Salah seorang dari gadis-gadis itu diculik oleh orang aneh bertopeng petruk. Orang itu memotong kaki dan jari gadis itu hidup-hidup. Sangat menjijikan (bukan mengerikan). Akan tetapi, alih-alih menjerit kesakitan, si gadis malah melenguh keenakan (yang saya yakin ini cuma akting yang buruk, bukan menggenjot aspek erotika film ini).

Pada titik ini saya menyimpulkan kalau film ini jelek dan tidak worthy untuk ditonton. Tanpa menyia-nyiakan waktu saya langsung keluar bioskop dan memesan Ca Baby Kailan. Jadi jangan tanya endingnya seperti apa. Ok?

Pictures - December 10th, 2009

Kesedihan Calon Peserta Centro Shopping Rally Yang Gagal

centro1
Diambil dari Facebooknya.

Pictures - December 9th, 2009

Cara Halus Menolak Sumbangan Gak Jelas

menolakhalus