ketika-cinta-bertasbih-2

Ketika Cinta Bertasbih 2 adalah sambungan dari Ketika Cinta Bertasbih 1. Walaupun ceritanya diangkat dari satu novel, tapi filmnya dipecah menjadi dua, kemungkinan besar karena filmmaker-nya ingin semua potongan cerita masuk ke film. Hasilnya adalah bencana dalam dua seri.

Episode 2 ini melanjutkan cerita setelah tokoh utamanya, Azzam kembali dari kuliah di Al-Azhar Mesir. Di Indonesia dia mulai ditekan untuk mencari istri. Repotnya, karena dalam dunia Azzam tidak mengenal pacaran, maka pernikahan adalah hubungan yang transaksional. Transaksional, karena peduli amat suka atau tidak, yang penting sarjana, punya kerja, dan muslim. Film ini membuka mata saya bahwa pernikahan model ini sangat rapuh karena tidak didasari oleh kecocokan emosional.

Parahnya, film berdurasi 2,5 jam ini isinya cuma episode-episode tentang Azzam mencari pasangan lewat jalur transaksional. Sebetulnya sih, model penuturan seperti ini bisa bagus banget. Film jawara seperti Billy Eliott dan Central Station misalnya, alur ceritanya juga lambat dan episodik. Tapi karena didukung oleh akting, pengarahan, dan sinematografi yang bagus; kedua film itu tidak membosankan, tapi justru menyentuh.

Ketika Cinta Bertasbih 2 memang tidak lebay dan gak penting seperti seri pertamanya. Tetapi akting pemainnya datar, pengarahannya tidak spesial, dan sinematografinya seperti sinetron. Maka, jika KCB 1 mendapat predikat “jelek banget”, maka KCB 2 cukup mendapat predikat “jelek”.

Beberapa review yang lain:

Ketika Cinta (Transaksional) Bertasbih 2
Tagged on:

30 thoughts on “Ketika Cinta (Transaksional) Bertasbih 2

  • September 18, 2009 at 8:46 am
    Permalink

    Itu andheng-andhengnya pemain asli apa ‘tempelan’.. Terlihat menggelikan ya…

    Reply
  • September 18, 2009 at 8:47 am
    Permalink

    antum tidak menghargai karya sineas yang sudah memuliakan agama! *kabur*

    Reply
  • September 18, 2009 at 8:56 am
    Permalink

    astagfirullah….saudara herman mengapresiasi film ini dengan salah…

    saudara herman atau akhi herman Ko?

    Reply
  • September 18, 2009 at 9:01 am
    Permalink

    “Maka, jika KCB 2 mendapat predikat “jelek banget”, maka KCB 2 cukup mendapat predikat “jelek”.”

    Typo. :P

    Thank you Lee!

    Reply
  • September 18, 2009 at 9:01 am
    Permalink

    setuju sama momon…
    jelek!

    kalau banyak orang yang membela film ini hanya karena masalah film ini mengangkat agama, sungguh sangat disayangkan.
    Karena film KCB (entah 1 atau 2) buat saya memiliki kualitas setara dengan sinetron kejar tayang yang tidak perlu dipuji-puji hingga dibela berlebihan. Cukup diapresiasikan dengan mononton di bioskop dan ditulis reviewnya seperti ini.

    hidup ayat-ayat cinta! *lho*

    Reply
  • September 18, 2009 at 9:10 am
    Permalink

    afwan, ikhwan momon.
    ana fasang di fesbuk ya? :D

    Reply
  • September 18, 2009 at 9:20 am
    Permalink

    Saya ingin membesarkan anak-anak saya dalam lingkungan sekuler. Tapi media terus menerus berkonspirasi meracuni mental anak-anak saya dengan film semacam ini.

    (nottalking)

    Reply
  • September 18, 2009 at 9:38 am
    Permalink

    belum nonton, komen ditunda dulu ya…

    Reply
  • September 18, 2009 at 10:12 am
    Permalink

    Sesuatu yang jelek tapi ditonton dan diulas? Blunder dua kali.

    Reply
  • September 18, 2009 at 11:51 am
    Permalink

    pokoknya lihat.. cocok.. Lamar

    Mesti sarjana dulu, Pras. Ya, lulusan Ekonomi UI atau Kedokteran UNDIP lha.

    Reply
  • September 18, 2009 at 12:05 pm
    Permalink

    Novelnya emang dua kok Mon, KCB 1 dan KCB 2, jadi bukan satu novel diangkat jadi dua film
    *sok ngebelain*
    :D :D :D

    Corrected. Makasih Mbak Chic!

    Reply
  • September 18, 2009 at 12:49 pm
    Permalink

    @ndoro & @manusiasuper: kalau nggak nonton dan bilang jelek, itu namanya dangkal.

    Reply
  • September 18, 2009 at 7:28 pm
    Permalink

    Afwan Akhi Herman…

    kampus akhir Azzam itu Al Azhar, bukan Al Ahzar…

    kok banyak typonya sih?
    grogi gara2 belum dapat jodoh ya?
    padahal situ kan jagoan bikin web…

    *krauk*

    Reply
  • September 27, 2009 at 6:58 am
    Permalink

    Segala sesuatu pasti ada kelebihan dan kekurangannya, namun menurut hemat saya, film KCB ini yang sangat sarat nilai, paling tidak di tengah gempuran film-film bergenre horor dan lainnya. Film seperti ini, kalau menurut hemat saya, sangat bermanfaat dan bernilai bagi bangsa ini yang haus akan figur teladan khususnya dalam dunia perfilman.

    memang sudah selayaknya, sebuah film dapat membawa pesan moral yang dapat membawa penontonnya ke arah kehidupan yang lebih baik. Walaupun mungkin bagi sebagian orang, alur ceritanya terkesan monoton. Namun, apapun penilaiannya mudah-mudahan perfilman di Indonesia semakin maju.
    Pasang Iklan Gratis

    Reply
  • September 30, 2009 at 9:45 pm
    Permalink

    film kcb2 gwe sangat berkesan dan senang untuk jadi pandang hidup sesuai ajaran AL-QURAN dan Hadist RASUL.tolong film KCB1 dan KCB2 jadikan DVD karena saya ingin mengkoleksinya.

    Reply
  • October 3, 2009 at 9:13 am
    Permalink

    @rahma : wah, menarik. sekuler? saya ajarin anak saya spt ini setiap selesai sholat “Al-Fath, mau minta apa?”, setelah 3 hari dijawab : “Al-Fath minta uan!”, uang maxutnya. walhasil, setiap ada pendapatan (yg jd berlipat, dari sudut pandang saya karena doanya, dari sudut panjang njenengan mungkin karena saya berusaha lebih baik. ok,gpp), saya langsung pegangin ke dia, dan say tanya, “Al-Fath, dari siapa uangnya?”, dia langsung jawab : “Dari Awoh”. Dari Allah.

    :) itu cara saya mendidik putri saya. cara Anda?

    @momon : hm, saya menikah dgn spt itu loh Mon. Well, ga spt itu juga. sudah mengamati selama 1 tahun, tapi tidak pacaran. saat ada event, langsugn saya lamar, cukup 18 hari nikah. Perjalanan antara itu? ^^, jangan ditanya dahsyatnya :)

    tidak kawan, masalah jodoh dan pernikahan tidak bs dianalisa spt ini : kd + anang? jebol. pacaran bertahun2? cerai.

    tapi, bukan berarti : nikah via murrobi, sukses. tentu ada perjalanan penyesuaian yg harus ditempuh. namun tetap, kalau disuruh milih, ( hehe, ga boleh ding, udah nikah), kau akan lebih beruntung kalau nikah model “transaksional”. Motivasi? Allah.

    sukses / tidaknya? kau harus patuh pada Allah. dengan logika dan skeptisisme lebih baik tentu

    gutlak on your fioncee!!!

    Reply
  • October 4, 2009 at 12:40 pm
    Permalink

    nambah dikit, btw, tapi kadang2 sy sering iri sama orang yg pacaran : asyik kali ya? g tau juga sih. pas saya bilang ke ummi, dijawab, : “ya udah sekarang kita pacaran aja” :))

    Reply
  • October 5, 2009 at 8:38 am
    Permalink

    pertama…novelnya emang ad 2 1 dan 2
    (ketauan ga baca novelnya, lgs nge-judge..)
    kedua…*Transaksional, karena peduli amat suka atau tidak, yang penting sarjana, punya kerja, dan muslim*
    is that all that you can sense from the movie?

    dun overvalue urself…

    Reply
  • October 7, 2009 at 10:11 pm
    Permalink

    yelaaaah *mecucu mode, ON..*
    kagag pake dah, pelem dagang Baju Agama begonoh. itu Ayat2 Cinta ngaco-sengaco-ngaconya umat. jd kapok, pas ada temen bilang : idih, ustadnya tajir n songong beut.. (wat yg KCB 2)
    Peureu kalung Sorban aga mayan sih

    maap yak teman, saya jd mengoceh di sini :D
    ini, track-back ke Photoblog saya yang mana saya ada resensi-ala-gue jg di onoh :P

    Reply
  • October 7, 2009 at 10:17 pm
    Permalink

    eeeh, ada Ijal (itu Leksa? masi di Jokja dia? seret ke Acara Blogger Jokja kalian yak,, hehe maksa n sotoy..)
    naon maneh – apa kamu : Ijal *mecucu meneh..*
    ga nonton dan ikutan heboh. saya emang beneran kurangkerjaan =))

    Reply
  • November 26, 2009 at 10:03 pm
    Permalink

    dimana bisa download KCB-2

    tolong pra rekan2 untuk sharing linknya

    trims :)

    Reply
  • Pingback:Ketika Cinta Bertasbih - Reviews - hermansaksono

  • Pingback:Bagi Yang Penasaran Anna Althafunnisa Gak Pakai Jilbab… - Random - hermansaksono

  • Pingback:Dalam Mihrab Cinta - Reviews - hermansaksono

  • Pingback:Dalam Mihrab Cinta | soetta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *