
Ketika Cinta Bertasbih 2 adalah sambungan dari
Ketika Cinta Bertasbih 1.
Walaupun ceritanya diangkat dari satu novel, tapi filmnya dipecah menjadi dua, kemungkinan besar karena filmmaker-nya ingin semua potongan cerita masuk ke film. Hasilnya adalah bencana dalam dua seri.
Episode 2 ini melanjutkan cerita setelah tokoh utamanya, Azzam kembali dari kuliah di Al-Azhar Mesir. Di Indonesia dia mulai ditekan untuk mencari istri. Repotnya, karena dalam dunia Azzam tidak mengenal pacaran, maka pernikahan adalah hubungan yang transaksional. Transaksional, karena peduli amat suka atau tidak, yang penting sarjana, punya kerja, dan muslim. Film ini membuka mata saya bahwa pernikahan model ini sangat rapuh karena tidak didasari oleh kecocokan emosional.
Parahnya, film berdurasi 2,5 jam ini isinya cuma episode-episode tentang Azzam mencari pasangan lewat jalur transaksional. Sebetulnya sih, model penuturan seperti ini bisa bagus banget. Film jawara seperti Billy Eliott dan Central Station misalnya, alur ceritanya juga lambat dan episodik. Tapi karena didukung oleh akting, pengarahan, dan sinematografi yang bagus; kedua film itu tidak membosankan, tapi justru menyentuh.
Ketika Cinta Bertasbih 2 memang tidak lebay dan gak penting seperti seri pertamanya. Tetapi akting pemainnya datar, pengarahannya tidak spesial, dan sinematografinya seperti sinetron. Maka, jika KCB 1 mendapat predikat "jelek banget", maka KCB 2 cukup mendapat predikat "jelek".
Beberapa review yang lain: