Buy Soma Online Without Prescription

Patternless thoughts, pointless wisdom

Politik - July 3rd, 2009

Review Debat Capres Final

Debat Capres Putaran Final di Balai Sarbini Sang Moderator, Pak Tikno, memang mampu memancing SBY dan JK untuk saling berdebat. Akan tetapi, Aviliani raise the bar terlebih dahulu, sehingga debat capres terakhir ini seperti mengulang debat-debat sebelumnya. Tentu, panggungnya lebih megah dan kemasannya lebih baik, tapi saya kurang merasakan kesungguhan para capres untuk menawarkan sesuatu yang baru. Sepanjang debat, Megawati terus-menerus mengulang mantra “pada waktu saya jadi presiden dulu” . Saya yakin Ibu Mega adalah nasionalis sejati. Saya juga yakin, seperti kebanyakan orang Indonesia, Bu Mega merasakan kemakmuran Indonesia masih jauh di angan-angan. Permasalahannya, Megawati terlalu banyak fokus pada permasalahan. Kampanye Mega Prabowo terjebak dalam kampanye negatif yang berlarut-larut hingga kehabisan porsi untuk memperinci program mereka sendiri. SBY, dengan pengalaman politiknya, memiliki pemahaman yang baik dalam konsep-konsep kenegaraan, seperti demokrasi dan otonomi daerah. Saya rasa sikap beliau untuk selalu mengikuti undang-undang menunjukkan pola kerja yang tepat untuk negara demokrasi. Sayangnya, kebanyakan orang tidak peduli undang-undang. Sikap antipati terhadap politik dan beban pikiran sehari-hari membuat masyarakat ingin solusi cepat—yang kalau perlu melabrak undang-undang. Ini yang membuat penampilan JK terlihat istimewa. JK tidak banyak pusing membahas undang-undang, beliau lebih banyak berkelakar soal hal-hal di lapangan. Dengan ekspresi yang jenaka dan jawaban yang witty, JK telah menghibur kita. Akan tetapi JK tidak menunjukkan itikadnya untuk bekerja di bawah undang-undang. Menilik kebiasaan JK yang suka menerabas aturan, debat semalam belum menjawab keraguan saya. Pak Tikno, menyimpan pertanyaan terakhir setelah para capres memaparkan pernyataan penutupnya. Apa yang akan dilakukan para capres jika kalah? Mega menjawab dengan singkat. SBY menjawab dengan gaya seorang negarawan. Jawaban JK jenaka dan cerdas. Acungan jempol saya berikan kepada SBY dan JK yang selalu minta maaf sebelum menyerang lawannya, dan bersalaman setelah menyerang. Mungkin inilah yang disebut gaya berdebat ketimuran? Secara umum terlihat bahwa SBY dan JK tidak memiliki perbedaan yang mendasar dalam melihat otonomi daerah, sementara Mega mungkin kurang lebih begitu. Yang jelas kita harus sangat bersyukur telah mampu melalui banyak rintangan menuju proses demokrasi yang semakin terbuka.

25 Comments


Leave a Reply