Buy Soma Online Without Prescription

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for June, 2009

Reviews - June 29th, 2009

Ketika Cinta Bertasbih

200px-posterfilmkcb Sebagai negara yang populasi muslimnya terbanyak sedunia, jumlah hiburan bernuansa Islami di Indonesia bisa dibilang minim. "Ketika Cinta Bertasbih" adalah salah satu film yang berusaha menjawab kehausan tersebut. Film hasil adaptasi novel Habiburrahman El Shirazi ini terpusat pada Azzam, mahasiswa asal Indonesia yang sudah kuliah S1 9 tahun di Universitas Al Ahzar, Mesir. Perjaka soleh dan sederhana ini kenal dengan Eliana, putri dubes yang suka memberi french-kiss pada orang yang baru ia kenal (sesuatu yang absurd, bahkan untuk standar bule, kecuali hippie, tapi itu 40 tahun yang lalu). Azzam juga naksir seorang anak kyai yang ia sendiri belum pernah lihat fotonya, apalagi ketemu langsung. Azzam juga memiliki kenalan seorang anak konglomerat bernama Furqon, yang menginap di presidential suite hotel untuk mempersiapkan ujian skripsi. Menterjemahkan buku menjadi film memang tidak pernah gampang. Memang ada beberapa novel yang sukses difilmkan. "Ketika Cinta Bertasbih" termasuk yang gagal karena tidak memanfaatkan kekhasan medium film. KCB terpaku pada dialog-dialog gamblang dan alur yang bergerak ngalor-ngidul tak terarah. Penggarapannya juga terasa tidak serius karena sinematografinya menyia-nyiakan keindahan Mesir. Efek bluescreen-nya juga payah. Saya melihat "Ketika Cinta Bertasbih" sebagai penghinaan kepada umat muslim karena pesan-pesan dakwah yang disajikan segamblang-gamblangnya ini seperti meragukan kemampuan pemirsanya untuk berpikir sendiri. Review yang ikut nonton bareng:

Politik - June 26th, 2009

Mega Blunder: Pengentasan Kemiskinan Adalah Antitesa Proklamasi

Megawati: Pengentasan kemiskinan adalah antitesa proklamasi

Dalam debat calon presiden semalam (25/6) Megawati berkata kalau pengentasan kemiskinan adalah antitesa dari cita-cita proklamasi. Dengan kata lain Mega berkata kalau pengentasan kemiskinan bertentangan dengan proklamasi:
"Saya berharap apa yang telah saya sampaikan ini, mengentaskan kemiskinan dan pengangguran, merupakan suatu antithesis dari cita-cita proklamasi" (menit ke 2:50)
Baca juga review saya untuk keseluruhan debat semalam.

Politik - June 26th, 2009

Review Debat Capres Yang Tidak (Begitu) Membosankan

Aviliani, Moderator Debat Capres Putaran 2 Agaknya jam terbang berdebat mempengaruhi penampilan para capres 2009. Dipandu oleh pengamat ekonomi UI, Aviliani, dalam debat capres semalam (25/6) JK dan SBY tampil istimewa. Dan seperti biasa, Mega tidak memanfaatkan momen debat ini untuk menjabarkan programnya. Walaupun mantan presiden ini sudah mulai lumayan dalam memperkokoh posisinya sebagai agen perubahan, tetapi ia tidak menjelaskan langkah-langkah untuk membuat perubahan. Mega terlalu banyak memakai argumen "Jaman pemerintahan saya dulu...", menimbulkan kesan kalau dia sebenarnya dia bukan agen perubahan. Mega juga sempat keseleo lidah (mungkin) dengan mengatakan kalau pengentasan kemiskinan adalah antitesa dari tujuan proklamasi. SBY, seperti biasa menunjukkan kapasitasnya untuk melihat permasalahan ekonomi secara menyeluruh. Rencana SBY untuk mengentaskan kemiskinan melalui peningkatan ekonomi dan program pro-rakyat cukup baik, walaupun dalam penjelasan teknisnya hampir tidak ada program yang baru. SBY cuma menjanjikan program-program lamanya "diperkuat", "dipertajam", dan "ditingkatkan". JK sebetulnya tidak menjanjikan program baru, visinya juga tidak terlalu tajam. Akan tetapi ia menjanjikan sejumlah perubahan dalam menangani sektor ekonomi, termasuk UU Ketenagakerjaan. JK melihat UU tersebut bermasalah bagi pengusaha dan juga buruh, sehingga ada masih ada ruang untuk diperbaiki. Walaupuns angat menarik, solusi-solusi teknis JK harus dicermati dengan seksama, karena JK dikenal sering mengajukan solusi yang praktis tapi membawa konsekuensi berat yang lain. Walaupun isi argumentasi SBY dan JK tidak terlalu banyak berbeda, tapi keberanian JK untuk menyerang SBY membuatnya menjadi bintang malam itu. JK menyerang kebijakan Boediono yang menolak garansi negara untuk proyek pembangkit listrik 10.000 MW. Dengan santun SBY menjelaskan kompleksitas masalah garansi negara untuk pembangkit listrik dan sekaligus kembali memposisikan dirinya sebagai sosok yang mengambil keputusan. JK juga mengkritik "bunga" SUN Syariah yang terlalu tinggi dapat menganggu anggaran negara. Tetapi kali ini SBY tidak menanggapi, mungkin bagi SBY tidak terlalu tinggi. Saya semakin yakin bahwa debat capres justru momen yang tepat untuk menilai capres mana yang akan Anda pilih. Iklan kampanye selalu memuat kebohongan dan janji semu; sementara debat tim sukses pasti berakhir menjadi perang retorika yang nonsense. Sebaliknya, debat langsung antar capres justru tidak memberi ruang untuk asal bicara dan asal janji karena lawan debat selalu bisa mengklarifikasi klaim atau tuduhan yang salah. Waktu yang terbatas juga membatasi mereka untuk to the point dan tidak bermain reotrika. Aviliani sukses besar memoderasi debat tersebut. Empat jempol untuk SBY dan JK yang bisa berdebat dengan santun—sesuatu yang harus dicontoh warga Politikana.

Reviews - June 25th, 2009

Transformers 2: Revenge Of The Fallen

transformers-2-revenge-of-the-fallen Transformers seri pertama memiliki kekurangan yang mendasar pada action-nya. Saya mengkritik garapan koreografi action yang terlampau cepat hingga tidak bisa dinikmati. Michael Bay, rupanya menerima banyak kritik yang serupa. Untuk Transformers 2: Revenge of The Fallen, adegan laganya lebih asyik dinikmati. Sequel ini maju 2 tahun setelah kejadian Transformers pertama. Sam Witwicky (Shia LeBouf) kini sedang memulai hidup baru menjadi mahasiswa di college, berharap bisa memiliki kehidupan normal. Pada saat yang sama, kubu Decepticon yang jahat sedang mengincar sebuah mesin di Bumi yang bisa menghasilkan energi setara dengan AllSpark. Sayangnya, perbaikan Transformers 2 hanya pada penggarapan laga. Ceritanya tidak mengagumkan, dan masih sering terjebak dalam klise Hollywood. Jika dijajarkan dengan film-film serupa, seperti Pirates of Carribbean, Spiderman, The Dark Night, dan Indiana Jones; Transformers seperti film tahun 2009 yang terjebak di jaman 80-an. Tapi, jika Anda mendambakan film action murni atau tidak bisa bahasa Inggris, film ini mungkin menghibur.

Politik - June 23rd, 2009

Review Debat Tiga Cawapres

Tiga Cawapres Berdebat: Prabowo, Boediono, dan Wiranto

Dengan lantang dan keras Prabowo mengambil posisi menyerang, ia mengkritik pemerintahan SBY-JK. Boediono berusaha tenang, tapi nampak gugup. Wiranto berusaha meyakinkan pemilih dengan memaparkan mimik muka yang meyakinkan dan intonasi yang tegas. Ia juga menyanyi dua kali di podium. Hal-hal seperti itu adalah derau. Delivery selalu noise. Debat tim sukses selalu noise. Demikian juga dengan tepuk tangan penonton. Tugas kita adalah memilah manakah noise yang tidak relevan, dan manakah esensinya. Pada malam debat cawpres itu, Prabowo telah berhasil memposisikan diri sebagai agen perubahan, atau dalam bahasa Obama: "CHANGE". Sayangnya Prabowo tidak mengelaborasi langkah-langkah apa yang ditempuh untuk membuat perubahan itu. Bisa jadi ini memang disengaja, semata demi memperkuat kampanye kerakyatan Mega-Pro yang selalu ia dengungkan. Argumentasinya soal agama dan pendidikan juga terasa samar-samar. Boediono, telah menunjukkan pandangan seorang negarawan dengan melihat posisi agama di atas negara, tetapi juga menekankan peran negara untuk melindungi hak untuk beribadah. Menanggapi masalah kecelakaan transportasi, Boediono beranggapan kalau pemerintahan yang bersih akan menjamin pengawasan atas moda-moda transportasi yang ada. Sayang, argumentasi untuk peningkatan mutu pendidikan terasa kurang komprehensif. Wiranto tidak mengatakan satupun gagasan yang pantas dilontarkan oleh seorang cawapres. Usul kawin antar suku untuk meningkatkan nasionalisme tidak seperti program yang benar-benar dipikirkan. Rencananya untuk menjalankan Gerakan Disiplin Nasional terdengar seperti lelucon, karena program ini gagal bahkan dalam masa pemerintahan seorang otoriter. Kritik soal "Ganti Mentri, Ganti Buku" memberi kesan kalau Wiranto tidak mengerti wacana atau justru terlalu menyederhanakan wacana. Secara umum tidak argumentasi ada yang istimewa dalam debat ini. Akan tetapi, momen terbaik ada ketika Wiranto menekankan pentingnya agama untuk mencegah politik saling serang.
"Boleh saja nilai agama secara substansial dipakai dalam politik. Hasilnya, ada politik yang santun, tidak menyerang, hubungan harmonis, dan politik tujuannya kenegaraan."—Wiranto
Lalu dijawab Boediono:
"Saya kira kita melihat ada perbedaan antara kata dan perbuatan. Kalau kita jujur pada diri sendiri kita sudah aman dan damai tidak perlu banyak berdebat."

Politik - June 19th, 2009

Review Debat Capres Putaran 1

tiga debat Jarang sekali ada debat capres yang memuaskan. Bahkan di negeri Paman Sam, debat capres sering dikritik karena terlalu hambar. Di sana, debat yang monumental bisa dihitung dengan jari. Kita memang selalu terjebak dalam delivery, tepatnya kita mendambakan debat yang mengelegar, tajam, dan juga—terkadang—sesat. Tapi delivery selalu mengaburkan konten. Delivery hanya bungkus, yang harus dicermati pemilih adalah isinya. Dari esensi argumentasi kita bisa mengetahui bagaimana capres melihat permasalahan. Langkah-langkah yang mereka tawarkan otomatis menunjukkan pemahamannya atas kompleksitas tiap masalah sekaligus sejauh mana mereka telah berpikir untuk menyelesaikan permasalahan itu sendiri. Dan malam itu, Megawati nampak gugup. Ia terdengar seperti tidak siap karena sering menghabiskan jeda 1-2 detik tiap akan menjawab pertanyaan. Di tengah pidato nadanya semakin tinggi, seolah tidak nyaman dengan perkataannya sendiri. Argumentasi Mega, walaupun cukup banyak mengidentifikasi masalah, tapi nihil solusi. Contoh-contoh kasus yang tidak tepat—seperti masalah KTP dan pengendara motor yang tidak pakai helm—memberikan kesan kurangnya pengetahuan dan pola pikir sistemik yang wajib dimiliki seorang pemimpin. SBY tampil lumayan. Ia memang tidak menjanjikan sesuatu yang "wah", tetapi SBY mampu melihat permasalahan secara menyeluruh dan menyajikan solusi yang cukup sistemik. Programnya agak lemah ketika membahas TKI, tapi bagus ketika menyentuh alutista TNI dan lumayan untuk HAM. JK bisa dibilang mengecewakan, karena ekspektasi kita memang sangat tinggi untuk sosok lincah ini. Ia terdengar kelabakan dan tidak siap ketika memaparkan visinya tentang good governance dan HAM. Solusinya untuk masalah kenegaraaan menunjukkan lemahnya pengetahuan JK tentang gagasan bernegara. Akan tetapi, JK menjanjikan sebuah konsep yang menarik ketika membahas penyelesaian atas masalah TKI. Walaupun saya berniat mereview konten debat capres tadi malam, tapi dengan segala maaf saya bener-benar tidak tahu berkata apa untuk Mega. Argumentasinya yang sama sekali tidak jelas, memunculkan keraguan apakah Ibu yang satu ini memiliki visi untuk negara ini. SBY dan JK muncul sebagai pemenang malam itu, walaupun penampilan mereka tidak spektakuler. SBY menunjukkan kapabilitasnya sebagai seorang pemimpin yang melihat permasalahan secara makro, tetapi kurang mengeri permasalahan pada skala mikro. JK justru sebaliknya, ia seperti tidak paham konsep-konsep bernegara, tetapi juara ketika membahas isu-isu yang dekat dengan keseharian kita. Keduanya memang seperti kombinasi yang ideal dan saling melengkapi. Tapi kita semua tahu kombinasi SBY-JK tidak akan bisa jalan mulus.

Random - June 17th, 2009

Pada Sebuah Poster Ketika Cinta Bertasbih…

img_01551

So what kalau KCB Mesir asli?