April 30th, 2009
Archive for April, 2009
April 30th, 2009
Watchmen
Watchmen dimulai dengan pembunuhan The Comedian, seorang superhero tua yang dulu pernah bekerja untuk pemerintah AS. Dalam dunia Watchmen, keberadaan superhero merombak total sejarah yang kita kenal. Amerika memenangkan perang Vietnam dan Nixon dipilih menjadi presiden hingga 5 kali.
Akan tetapi, keberadaan superhero juga tidak sepenuhnya diterima di masyarakat. Munculnya UU Keane melarang keberadaan superhero bertopeng, sehingga para manusia super itu harus pensiun atau bekerja untuk Pemerintah. Hanyalah Rorschach yang melawan dan memutuskan untuk bekerja undercover. Juga hanyalah Rorschach yang curiga kalau pembunuhan The Comedian adalah upaya untuk membinasakan para mantan superhero satu-persatu.
Film ini disajikan dengan kelam dan pahit. Kemampuan fantastis Dr. Manhattan atau Silk Spectre hanyalah bungkus dari pribadi-pribadi yang penuh cacat dan tidak sempurna. Melalui dialognya, Watchmen mempertanyakan keyakinan kita tentang benar atau salah, tanpa betul-betul menjawabnya. Bagi yang berharap menonton film superhero pasti akan kecewa, karena ini film tentang superhero, bukan film superhero.
Keluhan saya, alur Watchmen terasa menyesakkan karena begtu banyak plot dan subplot yang dijejalkan. Film ini tetap cantik seperti 300-nya sang sutradara Zack Snyder. Film ini juga masih memiliki filosofi yang dalam seperti adaptasi komik Alan Moore yang lain: “V For Vendetta”. Sayangnya semua itu mengalir begitu cepat dan deras sehingga tidak menyisakan sedikitpun waktu bagi penonton untuk menikmatinya.
April 8th, 2009
Siapa yang akan saya contreng besok?
Bagi saya memilih bukan sesuatu yang sakral. Memilih juga bukan panggilan. Bagi saya memilih adalah pekerjaan. Oleh karena itu harus dilakukan secara rasional, bukan emosional.
Dari mereview 5 partai saya juga memetik manfaat. Karena dengan menelisik lebih dalam saya dapat melihat kelebihan dan kekurangan tiap partai secara lebih dekat dan obyektif.
Dan realitanya—jujur saja—tidak ada partai yang sempurna.
Tapi kita memang selalu dihadapkan pada pilihan sulit. Tidak ada laptop yang sempurna. Tidak ada mobil yang sempurna. Tidak ada rumah dijual yang sempurna. Tidak ada SD untuk anak yang sempurna. Tapi pada kenyataannya kita harus memilih.
Dalam konteks politik, saya merasa harus memilih untuk menyadarkan para politisi DPR bahwa jabatan, gaji, dan kekuasaan mereka adalah pemberian rakyat.
Dalam tebangan pertama, saya pasti akan memilih caleg dari partai yang besar. Suara saya bisa terbuang percuma kalau memilih partai kecil yang tidak akan masuk DPR.
Partai tua dan korup jelas tidak masuk pilihan saya. Memilih mereka sama sekali tidak memberikan edukasi politik bagi kadernya. Oleh karena itu Golkar dan PDIP harus keluar dari daftar.
Kemudian saya juga tidak dapat memilih partai yang mencampur-adukkan the church and the state. Sebagai bangsa yang begitu beragam, sikap campur-aduk akan merusak keutuhan kita. Dengan berat hati, walaupun PKS nampak begitu moderen dan bersih, saya tidak akan memilih mereka. Demikian juga untuk PPP.
Bagi saya penegakan HAM dan kemerdekaan berekspresi itu penting. Dan saya ragu Gerindra dapat menjamin itu. Mereka memang menjanjikan ketahanan pangan dan memberdayakan petani, nelayan, dan pedagang pasar. Saya juga mengidamkan kalangan grassroot negeri ini lebih terjamin hidupnya. Tidak lagi lapar dan kekurangan.
Tapi saya juga memikirkan apa yang terjadi setelah para petani, nelayan dan pedagang pasar itu sudah kenyang dan kecukupan. Apakah mereka dapat mengkritik kepada pemerintah soal distribusi pupuk, misalnya, tanpa merasa takut? Bisakah mereka menuntut penurunan harga BBM tanpa terancam keselamatannya? Bisakah Gerindra menjamin yang aspek itu? Saya belum begitu yakin.
Maka pilihan yang tersisa adalah PAN dan Partai Demokrat. Seperti hasil review saya sebelumnya, saya sudah tidak lagi melihat PAN sebagai partai yang memiliki visi kuat. Demikian juga Partai Demokrat.
Akan tetapi jika melihat pertarungan calon presiden, sebetulnya pilihannya sudah disempitkan menjadi SBY, Mega, JK, dan Prabowo. Salah satu dari mereka punya banyak catatan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Saya merasa perlu untuk mengamankan salah satu yang terbaik dari yang terjelek.
Menjadi non-partisan memang lebih enak. Besok saya akan mencontreng seseorang dari Partai Demokrat.
April 8th, 2009
PDI Perjuangan
PDI (dulu tanpa imbuhan Perjuangan) bukanlah partai yang diperhitungkan. Dalam pemilu Orde Baru, partai ini hanyalah underdog yang selalu menempat posisi bontot setelah Golkar dan PPP.
Nasib PDI berubah 13 tahun lalu. Sore 27 Juli 1996, Kantor DPP PDI yang dihuni oleh kubu PDI pro Megawati diserang oleh kubu PDI Suryadi yang dibeking pemerintah. Serangan ini, kabarnya adalah langkah terakhir pemerintah yang kewalahan menggulingkan Megawati dari posisi ketua umum PDI. Menurut catatan Komas HAM 5 orang tewas, 149 orang luka-luka.
Serangan ini tiba-tiba mengangkat Megawati menjadi bintang perpolitikan nasional. Ibarat tokoh telenovela Maria Mercedes yang selalu dizholimi, Megawati yang juga dizholimi menarik simpati wong cilik, rakyat kecil. Semua langkahnya selalu mendapat dukungan kalangan bawah, walaupun Mega sendiri tidak pernah membela atau melakukan apapun bagi mereka.
Pasca reformasi, kubu Megawati mendirikan PDI Perjuangan. Partai ini keluar menjadi jawara Pemilu ‘99 dengan mengantongi 33% suara. Prestasi yang luar biasa mengingat andil Megawati dalam reformasi bisa dibilang tidak dominan.
Sayangnya partai banteng ini tidak terampil berpolitik. Walaupun memegang suara mayoritas di DPR, PDIP gagal membangun koalisi. Akibatnya posisi Ketua MPR, Ketua DPR, dan Presiden diserobot tokoh partai lain. Megawati harus puas dengan posisi Wakil Presiden.
Kekecewaan ini terobati dengan turunnya Gusdur dari kursi kepresidenan pada tahun 2001 dan menempatkan Mega sebagai orang nomor satu Republik Indonesia. Akan tetapi, pemerintahan Mega juga tidak luput dari kontroversi. Salah satu yang sering menjadi sorotan adalah penjualan saham BUMN ke investor asing. Langkah ini bukan sebuah dosa, tetapi tetap sebuah kebijakan yang buruk dalam jangka panjang.
Ketidakmampuan memelihara aset juga terlihat dalam sikap PDIP kepada pendukungnya yang paling loyal. Partai ini tidak pernah menunjukkan kepedulian pada peringatan 27 Juli. Dalam pemilihan Gubernur DKI, PDIP justru mendukung Sutiyoso. Padahal mantan Panglima Kodam Jaya ini adalah pemimpin serangan 27 Juli ke kantor PDI Pro Mega.
April 7th, 2009
Partai Golkar
Awalnya Golkar adalah partai gabungan dari 63 ormas-ormas kecil untuk mengimbangi PKI. Tahun 1967, presiden baru bernama Soeharto yang (waktu itu) belum punya backing parpol hendak merapat ke PNI. Oleh karena khawatir citra Soekarno yang melekat di PNI, akhirnya ia berjodoh dengan Golkar.
Pada Pemilu 1971 banyak pihak skeptis partai beringin ini dapat meraih suara yang memadai. Tapi rupanya perpecahan partai-partai “senior” seperti NU dan PNI, membuat suara lari ke Golkar. Ia memenangkan 62% suara dalam pemilu.
Dalam perkembangannya, melalui partai beringin ini, semua tindakan rezim Soeharto dilegitimasi dengan mulus di DPR. Bersama ABRI, Soeharto membangun kekuatan mutlak di Indonesia. Ia menjadi partai favorit, karena dekat dengan kekuasaan; tapi juga menakutkan, karena merupakan tangan dari penguasa.
Jatuhnya Soeharto karena mencapai titik kebobrokan tertingginya membuat kader-kader Golkar lari tunggang langgang, takut diidentikan dengan bapak almarhum yang katanya koruptor itu.
Adalah Akbar Tanjung yang berhasil merevitalisasi Golkar menjadi parpol yang katanya “baru”. Namanya Partai Golkar.
Dalam pemilu 99, Golkar hanya meraih 20% suara, merosot drastis dari pemilu-pemilu sebelumnya, tapi cukup banyak untuk mengokohkan diri sebagai runner-up. Pada pemilu 2004, perolehan Golkar naik menjadi 23%, cukup untuk menjadi juara mayoritas, walaupun bukan mayoritas mutlak.
2009 adalah pemilu yang menjanjikan bagi Partai Golkar. Sebagian orang belum bisa melupakan dosa-dosanya, tapi mayoritas sudah lupa. Dengan pundi-pundi rupiah yang berkecukupan serta kader seorang wapres pada sebuah pemerintahan yang bisa dibilang lumayan, Golkar sudah berhasil mengangkat citranya. Kini kader-kadernya beramai-ramai mengibarkan bendera Golkar.
Pada akhirnya Golkar hanyalah monumen yang didekati kadernya kalau cantik, dan dijauhi ketika busuk.
Dan saya menyebutnya oportunis.
April 3rd, 2009
Saya, Istri dan PKS
Sembari menulis review partai yang lain, ijinkan saya memposting sebuah kisah pendek dari seorang penulis tamu—guest blogger—Bung Budi_santoso.
Saya harus mengakui saya seorang sekuler. Saya biasa membedakan urusan agama dengan sektor kehidupan yang lain. Sebagai muslim, saya juga mungkin teramat sangat toleran. Ketika aksi demo pluralisme di Monas digebuki anak buah Munarman, mulut saya betul-betul sukar dikendalikan untuk menyumpahi orang satu itu.
Tapi itu, saya… istri saya beda. Ia punya pandangan yang amat bertolak belakang. Biarpun tidak berkerudung, kalau sudah membahas hal yang berkaitan dengan agama, maka apapun adalah benar di matanya. Peristiwa kecil saja, ia mendukung penuh kalau ada ormas-ormas agama yang menggrebek kafe-kafe atau tempat hiburan. Bagi saya itu anarkis, bagi dia itulah jihad.
Suatu hari, saya terpaksa mengalah dengan berdiam diri hanya karena goyangan Inul dan Undang-undang AntiPornogrofi. Sebagai orang yang (sok) openminded, saya tentu menentang keras UU tersebut. Sebaliknya istri… wah mendukung sekali, sampai memojokkan saya tak sanggup berkata-kata lagi… haha…ha.
Saya sendiri heran, koq sampai hari ini saya bisa cocok ya. Tapi sudahlah, saya pikir-pikir jodoh mungkin bekerja dengan cara yang tidak kita mengerti.
Kembali ke soal tadi. Atas dasar karakter istri itulah, dalam konteks Pemilu 2009 ini, saya menduga istri tentu akan memilih PKS (dalam soal prinsipil, kami memang tak pernah memaksakan pilihan masing-masing). Saya kira, dalam banyak hal ia cocok dengan PKS. Karenanya, dalam sebuah pagi saat bersama-sama pergi ke kantor, iseng-iseng saya tanyakan kepadanya. “Nanti bakal pilih PKS ma?”
Jawabannya ternyata mengagetkan saya. Pendek saja, “Tidak.” Langsung saya sambar, “Lho kenapa?” “Habis Tifatul-nya istrinya dua…,” jawabnya. Saya hampir tak bisa menahan tawa. Saya tidak tahu kabar poligami Tifatul itu isapan jempol atau fakta, tapi bagi saya itu tidak lah penting. Ternyata wanita tetaplah wanita…
