Dalam bagian kedua wawancara ini, MrBrown berbicara pandangannya soal Indonesia dan blog secara umum. Oleh karena durasi keseluruhan wawancara cukup panjang (48menit), maka terpaksa transkripnya saya pecah menjadi tiga bagian. Pada bagian terakhir wawancara, saya akan menyertakan MP3-nya supaya Anda bisa mendengar saya yang tertatih-tatih berbahasa Inggris.

Ketika Pesta Blogger, Jeff Ooi sempat bilang kalau pemerintah Malaysia tidak mendukung blogging, sementara di Indonesia pestanya saja didukung 3 menteri. Tapi bagi beberapa orang, mereka menganggap dukungan itu tidak penting dan tidak relevan. Kalau menurut anda, seberapa penting sih dukungan ini?
Itu tergantung cara kita melihatnya. Sangatlah mudah mengatakan keterlibatan pemerintah tidak relevan. Kita bisa bekerja tanpa mereka, kita tidak membutuhkan mereka, kita tidak ingin mereka mencampuri hidup kita. Tapi, di lain sisi, kita memerlukan keterlibatan pemerintah, bahkan untuk hal-hal sederhana, seperti misalnya infrastruktur. Jika pemerintah melihat blog dan internet sebagai medium yang berpotensi, maka mereka akan lebih tertarik berinvestasi atau mendorong investasi dalam bidang infrastruktur. Dan itu tidak buruk kan?

Tentu, jika minat pemerintah dalam blog adalah mengawasi gerak-gerik blogger, mungkin kita tidak menyukainya. Tapi dukungan pemerintah tidak selalu buruk, bahkan ada manfaatnya juga. Dukungan bisa berarti mereka lebih memahami dunia blog, sehingga tidak bersikap reaktif dan konservatif seperti yang dilakukan Pemerintah Malaysia. Jika mereka tidak paham, mereka akan melihat segala hal di blog sebagai sebuah ancaman.

Dalam konteks Indonesia, dengan adanya menteri di podium dan berkata ‘kami tidak akan menangkap orang karena ngeblog’, menurut saya adalah sikap yang sangat dewasa. Terlepas nanti di lapangan seperti apa, tapi itu adalah pernyataan yang sangat penting. Dan itu bagus, karena artinya pemerintah melihat blog memiliki peran besar.

Walaupun sering disalahgunakan, pasal pencemaran nama di Indonesia relatif lebih lunak dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara. Menurut Anda perlukah kita mempidanakan pencemaran nama baik, terutama yang ditujukan kepada pemerintah?
Hehehe. Negara kalian itu sangat menyenangkan, dalam artian tidak kebanyakan aturan. Menurut saya tidak perlu lah meminta-minta aturan tambahan. Biarkan agak fleksibel saja! Nikmati kemerdekaan-kemerdekaan yang di negara-negara lain masih diperjuangkan. Jangan minta tambahan undang-undang pencemaran nama baik! Please!

Tapi ada yang minta lho.
Ada yang minta???

Iya, ada yang meminta undang-undang pencemaran nama baik yang lebih ketat karena kuatir kebebasan akan merusak budaya dan sistem yang sudah ada.
Ya memang sangat kembali ke toleransi kultural orang Indonesia. Negara kalian memiliki latar belakang yang sangat beragam. Saya pikir, kalian tidak membutuhkan undang-undang tambahan, selain apa yang sudah kalian miliki untuk offline. Jika sudah memiliki keragaman dan toleransi offline, kenapa tidak menggunakannya di ranah online?

Kalau ada yang kuatir dengan omongan orang, gunakan saja internet untuk mengkoreksi persepsi. Bukankah itu indahnya internet? Jika Anda mengatakan sesuatu tentang saya, saya dapat balas menganggapinya. Itulah yang disebut mekanisme self-correcting di internet yang berfungsi melindungi satu sama lain. Bisa aja ada orang vokal yang menyebarkan rumor dan kebohongan, tapi orang lain bisa langsung datang dan mengkoreksi itu.

Bagaimana rasanya menjadi Bapak Blogger Singapura?
Hahahaha. Itu istilah yang lucu. Saya tidak begitu nyaman dengan gelar itu. Tidak pernah saya bangun tidur lalu memutuskan menjadi Bapak Blogger Singapura. Saya tidak memulainya seperti itu, saya melakukannya karena saya menyukainya.

Gelar itu memang sebuah kehormatan. Tapi begini, internet adalah dunia yang bergerak cepat. Hari ini saya bapak blogger, esok hari saya bisa jadi kakek blogger. Kita akan menjadi tidak relevan jika tidak mengikuti jaman. Waktu di internet berjalan dengan kecepatan yang sinting. Sekarang ini semua orang bertwitter ria, padahal satu setengah tahun yang lalu… apa itu Twitter? Tidak ada yang tahu. Bertahun-tahun yang lalu, ketika saya menulis online, belum ada istilah blog. Sekarang ini siklusnya menjadi semakin pendek.

Sangatlah mudah terlena oleh gelar. Tapi kita harus memperbaharui diri, tidak cuma dari segi teknologi. Kebutuhan untuk selalu akrab dengan pembaca, teman, dan fans masih sangat penting bagi saya. Dengan label bapak blogger, tidak berarti saya tinggal duduk manis.

Apakah Anda melihat blog sebagai tren yang suatu saat akan mati?

Bersambung ke bagian 3. Kita juga mendiskusikan soal ngeblog, politik di Singapura, dan juga Pesta Blogger.

MrBrown: Gunakan Internet Untuk Mengoreksi Persepsi
Tagged on:     

18 thoughts on “MrBrown: Gunakan Internet Untuk Mengoreksi Persepsi

  • December 18, 2008 at 2:05 pm
    Permalink

    wah mantab.. Wawancaranya punya alur. Dan pertanyaanku untuk herman: pertanyaan wawancaramu itu uda disusun atau ngikutin flow aja?

    Iphan nyinidr yaaa! [-( Etapi…iya pertanyaan-pertanyaannya udah disusun, tapi tetep mengikuti situasi ;)

    Reply
  • December 18, 2008 at 2:10 pm
    Permalink

    Sepakat dalam satu hal: kenapa malah ngotot menambah aturan saat kondisi lingkungan, sosial, dan budaya justru sudah membuat aturan tersebut tidak perlu.

    Reply
  • December 18, 2008 at 2:19 pm
    Permalink

    wew
    bisa jadi jurnalist juga bro

    Reply
  • December 18, 2008 at 2:31 pm
    Permalink

    Mantap. Ternyata Indonesia jauh-jauh lebih permisif ya dibanding negara lain?

    Mistabrown menganggap statement pemerintah tentang tidak akan menangkap blogger itu adalah bentuk kedewasaan. Saya sendiri tak tahu, apakah memang hal tersebut yang ada dibalik pernyatan terkait. Mungkin harus disikapi dengan positif yang ujungnya akan berakhir di “bagaimana cara bersikap positif terhadap pemerintah? bagaimana kita tahu bahwa ini bukan sekedar another game?”.

    Ah, mungkin disambil lalu saja perkara ini. Daripada pusing. Yang penting independen, jadi walau tak didukung kita tidak akan mati. Unless we choose to die.

    Reply
  • December 18, 2008 at 2:40 pm
    Permalink

    waks wawancaranya kaya wawancara pejabat saja her :)
    tapi ok kok

    Reply
  • December 18, 2008 at 3:40 pm
    Permalink

    setuju sama Mr. Brown, dukungan pemerintah seharusnya bukan dijadikan legitimasi untuk mengawasi gerak-gerik blogger.

    Reply
  • December 18, 2008 at 4:05 pm
    Permalink

    Dalam konteks Indonesia, dengan adanya menteri di podium dan berkata ‘kami tidak akan menangkap orang karena ngeblog’, menurut saya adalah sikap yang sangat dewasa.

    kalo mengutip kalimat mrbrown selanjutnya Sangatlah mudah terlena oleh gelar.

    i guess kalimat soal kedewasaan itu ujian rather than pujian.

    i like this guy!

    Reply
  • December 18, 2008 at 5:05 pm
    Permalink

    mbaca serial wawncra ini jd mbikin tmbah sdikit bsyukur dah hdup di negara endonesyah..

    Reply
  • December 18, 2008 at 5:22 pm
    Permalink

    jadi mr. brown berikutnya nich…

    Reply
  • December 19, 2008 at 4:28 am
    Permalink

    kalo besok ada head hunter cari reporter, aku referensi kowe aw yo, Mon? :D

    Reply
  • December 19, 2008 at 1:27 pm
    Permalink

    di Indonesia itu bukannya banyak aturan ya? cuman kita aja yg sering abai? hihihih

    Reply
  • December 22, 2008 at 10:28 am
    Permalink

    ih kerennnn wawancaranya. hehehe, betul juga, banyak bilang di Indonesia menyenangkan karena bebas dan nggak kebanyakan aturan *atau tepatnya karena di Indonesia orang masih bebas mengabaikan aturan?* hehehe

    Reply
  • Pingback:Mr Brown: Hidup dalam ketakutan itu tidak sehat - hermansaksono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *