Buy Soma Online Without Prescription

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for December, 2008

Politik - December 24th, 2008

Mr Brown: Hidup dalam ketakutan itu tidak sehat

In the last part of my interview with MrBrown, we discussed politics, free speech, and living in Singapore. We also touched Pesta Blogger a bit. While our session was conducted via Skype, still, it was a great and inspiring experience. Big thanks to MrBrown for sparing his time for us, Shirley of King Content Studio for arranging everything, and Nana for the cool advices. Due to its length, some part of this interview was edited. The unedited podcast will be available sometime after today :D. Photo courtesy of Rony. Dalam bagian terakhir interview dengan MrBrown, kami berdiskusi soal politik, kemerdekaan berekspresi, dan kehidupan di Singapura. Kami juga membahas Pesta Blogger sedikit. Walaupun interviewnya cuma lewat Skype, tapi tetap asyik dan inspiratif. Terima kasih untuk MrBrown yang sudah meluangkan waktu, Shirley dari King Content Studio yang menyiapkan segalanya, dan Nana untuk saran-sarannya yang keren. Oleh karena cukup panjang, beberapa bagian wawancara ini telah dipotong. Podcast versi tidak diedit akan diunggahkan setelah hari ini :D. Foto dipinjami Rony. Apakah Anda melihat blog sebagai tren yang suatu saat akan mati?
Menurut saya blogging akan berevolusi. Blog sudah beredar cukup lama, dan masih ada sampai sekarang. Ia menjadi mainstream. Aneh kalau ada orang yang bilang blog adalah media alternatif. Sekarang blog sudah berevolusi menjadi bentuk-bentuk lain, seperti microblogging… Twitter… tumblr. Teknologi memungkinkan hal-hal baru, dan mereka menyatu. Sebagai contoh, saya pernah menyiarkan laporan langsung via video, saya mengumumkannya di twitter, lalu saya mempublishnya di blog. Ini menjadi fenomena multiplatform yang ‘menakutkan’. Tapi pada intinya itu adalah tentang komunikasi.
Blog Anda, mrbrown.com dikenal memakai satir untuk mengkritik pemerintah Singapura. Apakah ada maksud tertentu memakai gaya satir?
Saya tidak yakin sekarang Anda bisa menyebut mrbrown.com sebagai situs satir. Awalnya memang berisi tulisan-tulisan satir, tapi sekarang isinya soal anak-anak saya, tentang satire di Singapore dan sesekali tentang AS. Saya juga menulis soal gadget dan juga soal wisata. Jadi agak susah bilang situs itu tentang apa. Tapi saya nggak masalah, itulah saya, saya tertarik dengan banyak hal. Tapi sekali lagi, tidak ada tujuan khusus memakai gaya itu. Saya tidak bersatir untuk menyatakan pandangan politik saya. Saya melakukannya karena lucu, supaya Anda ketawa. Politik di Singapura membungkus kehidupan masyarakatnya. Ia menjadi sasaran empuk untuk humor dan menjadi sumber lelucon-lelucon saya. Anda harus paham, politik di Singapura—yang notabene dikuasai oleh satu partai—telah masuk ke semua aspek kehidupan rakyatnya. Tidak mungkin menatap ke kanan atau ke kiri tanpa melihat ikut campur negara pada sesuatu.
Seekstrim itu?
Iya. 80% penduduk kami tinggal di perumahan pemerintah (apartemen yang dimiliki pemerintah). Rumah pribadi sangat mahal dan sangat langka di Singapura. Di lain sisi, perumahan pemerintah standarnya bagus, tidak kumuh. Tempat kami tinggal dan atap kepala kami dibangun oleh negara. Jadi ketika Anda bercanda tentang lift yang rusak, apakah itu politik? Jawabannya iya, karena pemerintahlah yang mendirikan lift itu. Pemerintah juga penyerap tenaga kerja terbesar. Tapi ini bukan soal buruk atau baik. Pada kenyataannya pemerintah menyentuh semua aspek kehidupan kami. Ketika Anda mencemooh sesuatu, pasti ada kaitannya dengan negara.
Mengerikan sekali ya. Mirip dengan Big Brother dong? (Big Brother adalah sosok diktator yang mengawasi gerak-gerik warganya dalam novel George Orwell)
Mmmm iya… tapi tidak seseram yang Anda bayangkan. Beberapa orang melihat itu menyeramkan, tapi di lain sisi kami memiliki stabilitas dan keamanan. Saya pikir lebih tepat kalau disebut…. Big Brother Berhati Emas. Ada banyak hal yang patut kami syukuri, kami memiliki tempat yang stabil untuk ditinggali. Selalu ada positif dan negatifnya. Jika pemerintahmu relatif tidak korup, menggajimu dengan layak, dan mampu menekan KKN; maka masyarakat tidak banyak mengeluh walaupun kehidupan mereka banyak diatur. Bagi mereka itu adil. Tapi ketika pemerintahmu dipilih langsung tapi korup, omongannya nonsense, dan tidak kompeten. Lalu buat apa jika kita punya 10 parpol tapi masyarakat masih terjerat kemiskinan? Itu tradeoff saya rasa...
Indonesia ada sekitar 40 parpol untuk pemilu 2009 lho.
Oh ya? Wow! Saya akan berbahagia kalau ada dua parpol di sini. Hahaha. Empat puluh parpol itu cukup menarik, toh negara kalian besar.
Apakah Anda pernah ditangkap atau diintimidasi karena blog?
Hehehe. Belum. Selama sepuluh tahun di online saya belum pernah ditangkap. Tapi kolom surat kabar saya pernah dicekal gara-gara tulisan saya. Kolom itu sudah berjalan selama tiga tahun, dari Juli 2003 sampai sekitar Juli 2006. Itu adalah kolom humor, tayang tiap Jum’at di salah satu koran besar di sini. Tulisan terakhir saya rupanya membuat berang Kementrian Informasi, Komunikasi, dan Kesenian. Akhirnya kolom saya dicekal. Dan begitulah. Ada teori kalau pemerintah tidak begitu peduli dengan dunia online, tapi sangat sensitif terhadap media mainstream, seperti Radio, TV, dan Koran. Sekarang saya sudah tidak punya kolom lagi.
Apakah Anda tidak takut kalau suatu saat terjadi apa-apa?
Mmm… saya harap tidak. Tidaklah sehat kalau kita terus menerus hidup dalam ketakutan. Itu membatasimu melakukan hal-hal yang seru dan menikmati hidup. Saya tidak terlalu sering memikiran itu. Saya yakin akal sehat akan selalu menang. Ketika saya mulai menulis online tahun 96, orang sering menasehati saya ‘Hei Brown, kamu harus ati-ati, nanti kena masalah...’. Sepuluh tahun kemudian orang masih mengatakan ke saya ‘Hei Brown, podcast-mu, kamu harus ati-ati, nanti kena masalah...’ Saya sudah mendengar nyanyian itu sebelas tahun lebih. Jadi ya begitulah.
Mungkin Anda akan mendengarnya sepanjang hidup.
Iya. Selama saya masih tinggal di Singapura, pastinya. Selama kita bermain-main di tepi batas, orang akan selalu memperingatkan. Saya rasa itu harga yang harus dibayar seseorang yang mencoba-coba batas dan bercanda.
Tapi mestinya kita harus paham hukum ketika menjajal batas-batas?
Ya dan tidak. Kita mesti hati-hati kepada pasal pencemaran nama baik dan pasal-pasal lain. Kita juga harus bertanggung jawab atas apa yang kita tulis. Tapi di lain sisi, hukum di Singapura itu sangat luas. Jika pemerintah ingin menangkap saya, ada 26 pasal yang dapat menjerat saya. Anda bisa waspada terhadap hukum, tapi kalau pemerintah ingin menangkapmu, mereka punya banyak cara. Memang benar kita harus melek hukum. Mungkin kita sudah mentaati pasal tertentu. Akan tetapi jangan lupa masih ada 25 pasal lain yang bisa digunakan untuk menahanmu jika pemerintah tidak suka dengan apa yang kau tulis. Pokoknya jangan berpikir terlalu keras, akhirnya Anda tidak menulis apapun. Di sini ada undang-undang subversif yang sangat luas. Terakhir digunakan untuk menjerat dua blogger karena dua komentar rasial di internet. Itu satu dari banyak palu raksasa yang bisa menghajarmu.
Bagaimana pandangan Anda tentang Pesta Blogger, perlukah diadakan lagi setiap tahun?
Tentu saja, kenapa tidak? Tapi saya yakin formatnya akan berkembang. Itu adalah kesempatan yang sangat baik. Orang Indonesia kan suka kumpul-kumpul offline kan? Istilahnya apa itu?
Kopdar?
Iya. Itu budaya yang bagus. Perlu dilakukan tiap tahun, mungkin pindah-pindah kota. Tahun ini di Jakarta, tahun depan di Jogja, sehingga tiap orang bisa saling mengunjungi kotanya. Saya juga suka nama ‘Pesta’. Itu adalah nama yang bagus. Demi tuhan, jangan sampai diganti jadi “Seminar Blogger” atau “Konferensi Blogger”! Mungkin tetap ada sesi diskusi dan panel yang serius, tapi ‘pesta’ itu menyenangkan.
Mungkin kita perlu lebih banyak musik.
Oh iya! Endah dan Rheza itu bagus sekali! Kenapa kok tidak ada yang memberi tahu saya soal pertunjukan itu? Kalau saya tidak terlalu iseng kemana-mana, mungkin saya tidak akan tahu. Mungkin harusnya ada sesi ‘Music Blogging’, dimana ada panel tentang musik, lalu ngerock sampai malam. Pasti akan sangat seru!
Pertanyaan terakhir. Ada banyak blogger Indonesia yang tulisan dan karyanya dikenal luas di masyarakat. Apakah ada tip untuk blogger-blogger muda ini?
Jangan berusaha jadi terkenal! Jika Anda punya konten yang diminati orang, menyentuh kehidupan, kualitasnya bagus dan konsisten… pembaca akan datang dengan sendirinya. Tapi kalau Anda menulis dan memproduksi konten untuk blog, dengan semangat ingin ngetop… berapa lama Anda bisa bertahan? Saya tidak tahu. Sangatlah mudah terkenal dengan singkat, tapi tidaklah mudah membangun basis pembaca yang loyal. Caranya cuma satu, menjalin keakraban dengan pembacamu hari demi hari. Dan itu lebih penting daripada berniat menjadi ngetop. Ada beberapa orang yang berhasil menjadi ngetop. Tapi lebih menyenangkan kalau kita bisa menemukan blog yang tulisannya bagus, konsisten, dan sehati dengan saya. Hal-hal semacam itu harus dibangun pelan-pelan, tidak bisa instan. Zaman sekarang orang memang mencari cara cepat untuk ngetop, tapi saya rasa itu adalah jalan yang tidak menuju ke mana-mana. Bahkan di Twitter, perhatikan orang-orang yang follower-nya banyak, mereka bisa begitu karena konsisten memproduksi konten yang menarik dan menggugah. Itu tidak dicapai dengan melakukan hal-hal heboh, atau menulis hal-hal yang menurutmu akan disukai pembacamu. Saya membangun audiens saya bertahun-tahun. Saya sudah menganggap mereka sahabat, bukan fans. Sekarang ini, tiap saya ke mana, selalu ada email atau telepon masuk yang mengajak makan-makan bareng. Saya belum pernah ketemu orang itu, tapi kami sudah kenal melalui blog saya. Mereka tidak menganggap saya seleb. Walaupun mungkin unsur keseleban selalu ada, tapi mereka menganggapm saya seorang kawan lama. Itu rasanya menyenangkan. Dan kita tidak bisa mendapatkan itu melalui popularitas, kita hanya bisa membangunnya pelan-pelan.
Okey, Terimakasih MrBrown!
Terima kasih sudah ngobrol dengan saya. Asyik sekali.

Reports - December 19th, 2008

Blogger Bicara Wayang

Dalam vidcast ini, saya menanyai tikabanget, ekowanz, iphan, choro, dan gunawan; tentang pertunjukan wayang yang barusan mereka tonton. Tidak cuma yang wayang Purwa Jawa, tapi juga wayang Palembang, Sasak, Banjar, dan Cirebon. Apakah mereka suka? Atau malah bosan?

Politik - December 18th, 2008

MrBrown: Gunakan Internet Untuk Mengoreksi Persepsi

Dalam bagian kedua wawancara ini, MrBrown berbicara pandangannya soal Indonesia dan blog secara umum. Oleh karena durasi keseluruhan wawancara cukup panjang (48menit), maka terpaksa transkripnya saya pecah menjadi tiga bagian. Pada bagian terakhir wawancara, saya akan menyertakan MP3-nya supaya Anda bisa mendengar saya yang tertatih-tatih berbahasa Inggris. Ketika Pesta Blogger, Jeff Ooi sempat bilang kalau pemerintah Malaysia tidak mendukung blogging, sementara di Indonesia pestanya saja didukung 3 menteri. Tapi bagi beberapa orang, mereka menganggap dukungan itu tidak penting dan tidak relevan. Kalau menurut anda, seberapa penting sih dukungan ini? Itu tergantung cara kita melihatnya. Sangatlah mudah mengatakan keterlibatan pemerintah tidak relevan. Kita bisa bekerja tanpa mereka, kita tidak membutuhkan mereka, kita tidak ingin mereka mencampuri hidup kita. Tapi, di lain sisi, kita memerlukan keterlibatan pemerintah, bahkan untuk hal-hal sederhana, seperti misalnya infrastruktur. Jika pemerintah melihat blog dan internet sebagai medium yang berpotensi, maka mereka akan lebih tertarik berinvestasi atau mendorong investasi dalam bidang infrastruktur. Dan itu tidak buruk kan? Tentu, jika minat pemerintah dalam blog adalah mengawasi gerak-gerik blogger, mungkin kita tidak menyukainya. Tapi dukungan pemerintah tidak selalu buruk, bahkan ada manfaatnya juga. Dukungan bisa berarti mereka lebih memahami dunia blog, sehingga tidak bersikap reaktif dan konservatif seperti yang dilakukan Pemerintah Malaysia. Jika mereka tidak paham, mereka akan melihat segala hal di blog sebagai sebuah ancaman. Dalam konteks Indonesia, dengan adanya menteri di podium dan berkata ‘kami tidak akan menangkap orang karena ngeblog’, menurut saya adalah sikap yang sangat dewasa. Terlepas nanti di lapangan seperti apa, tapi itu adalah pernyataan yang sangat penting. Dan itu bagus, karena artinya pemerintah melihat blog memiliki peran besar. Walaupun sering disalahgunakan, pasal pencemaran nama di Indonesia relatif lebih lunak dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara. Menurut Anda perlukah kita mempidanakan pencemaran nama baik, terutama yang ditujukan kepada pemerintah? Hehehe. Negara kalian itu sangat menyenangkan, dalam artian tidak kebanyakan aturan. Menurut saya tidak perlu lah meminta-minta aturan tambahan. Biarkan agak fleksibel saja! Nikmati kemerdekaan-kemerdekaan yang di negara-negara lain masih diperjuangkan. Jangan minta tambahan undang-undang pencemaran nama baik! Please! Tapi ada yang minta lho. Ada yang minta??? Iya, ada yang meminta undang-undang pencemaran nama baik yang lebih ketat karena kuatir kebebasan akan merusak budaya dan sistem yang sudah ada. Ya memang sangat kembali ke toleransi kultural orang Indonesia. Negara kalian memiliki latar belakang yang sangat beragam. Saya pikir, kalian tidak membutuhkan undang-undang tambahan, selain apa yang sudah kalian miliki untuk offline. Jika sudah memiliki keragaman dan toleransi offline, kenapa tidak menggunakannya di ranah online? Kalau ada yang kuatir dengan omongan orang, gunakan saja internet untuk mengkoreksi persepsi. Bukankah itu indahnya internet? Jika Anda mengatakan sesuatu tentang saya, saya dapat balas menganggapinya. Itulah yang disebut mekanisme self-correcting di internet yang berfungsi melindungi satu sama lain. Bisa aja ada orang vokal yang menyebarkan rumor dan kebohongan, tapi orang lain bisa langsung datang dan mengkoreksi itu. Bagaimana rasanya menjadi Bapak Blogger Singapura? Hahahaha. Itu istilah yang lucu. Saya tidak begitu nyaman dengan gelar itu. Tidak pernah saya bangun tidur lalu memutuskan menjadi Bapak Blogger Singapura. Saya tidak memulainya seperti itu, saya melakukannya karena saya menyukainya. Gelar itu memang sebuah kehormatan. Tapi begini, internet adalah dunia yang bergerak cepat. Hari ini saya bapak blogger, esok hari saya bisa jadi kakek blogger. Kita akan menjadi tidak relevan jika tidak mengikuti jaman. Waktu di internet berjalan dengan kecepatan yang sinting. Sekarang ini semua orang bertwitter ria, padahal satu setengah tahun yang lalu… apa itu Twitter? Tidak ada yang tahu. Bertahun-tahun yang lalu, ketika saya menulis online, belum ada istilah blog. Sekarang ini siklusnya menjadi semakin pendek. Sangatlah mudah terlena oleh gelar. Tapi kita harus memperbaharui diri, tidak cuma dari segi teknologi. Kebutuhan untuk selalu akrab dengan pembaca, teman, dan fans masih sangat penting bagi saya. Dengan label bapak blogger, tidak berarti saya tinggal duduk manis. Apakah Anda melihat blog sebagai tren yang suatu saat akan mati? Bersambung ke bagian 3. Kita juga mendiskusikan soal ngeblog, politik di Singapura, dan juga Pesta Blogger.

Politik - December 17th, 2008

Wawancara dengan MrBrown, Bapak Blogger Singapura

Usai dari Pesta Blogger 2008 di Jakarta, saya langsung menembak MrBrown untuk saya wawancarai. Sosok kocak dari Singapura ini adalah salah satu blogger pelancong yang diundang mengikuti Road Trip Pesta Blogger. Kejenakaannya juga tercermin di tulisan-tulisannya yang nakal tapi tak lupa menyentil pemerintah Singapura. Bagaimana RoadTrip Anda ke Indonesia? Apakah anda menikmatinya? Tentu. Memang melelahkan, tetapi juga sangat menyenangkan. Kami memulai perjalanan dari Bali, lalu mampir ke Jogja, dan berakhir di Jakarta. Saya di Indonesia selama 12 hari (6 hari adalah tur di luar RoadTrip Pesta Blogger—herman). Denger-denger jadwalnya sangat padat. Apakah sempat merasa kurang puas? Menurut saya memang padat, tapi bagaimanapun juga jadwalnya harus ditaati. Saya berharap bisa lebih lama di Bali dan di pantai. Di Jogja saya berharap ada tambahan satu hari lagi, kemarin itu terlalu cepat. Saya lebih suka Jogja daripada Jakarta, tapi jangan sampai orang Jakarta tahu ya (tertawa lepas). Bagaimana Jogja menurut anda? Menurut saya Jogja punya banyak potensi. Anda memiliki sejarah dan kebudayaan yang sangat menarik. Di satu titik ada Candi Buddha dan di titik lain ada Candi Hindu, keduanya sangat megah, dan sangat mudah dicapai dari Jogja. Satu-satunya yang saya sayangkan adalah: tidak banyak yang tahu soal kota ini. Potensi Jogja bisa digarap dengan pemasaran dan pengemasan yang baik. Banyak obyek wisata yang fasilitasnya bisa diperbaiki dan pilihan transportasinya ditambah. Sebagai contoh adalah Borobudur, turis tidak bisa jalan-jalan tanpa guide. Mereka akan bingung! Karena itu cuma batu-batuan. Ada dua cara untuk mengakali ini, bisa dengan menyediakan pemandu yang banyak, boleh berbayar atau gratis. Atau bisa seperti di beberapa negara lain: yaitu dengan menyediakan self-guided tour. Misalnya, melengkapi titik-titik menarik dengan perangkat suara yang memutar penjelasan obyek itu. Mungkin tentang kisah dan sejarahnya. Dengan demikian obyek itu akan hidup! Adakah yang bisa kami perbaiki dari Jogja? Menurut saya pemasarannya harus diperbaiki. Saya tidak banyak tahu soal Jogja. Pemasarannya harus lebih agresif, karena obyek wisatanya sangat sayang kalau dilewatkan. Kami sangat menikmati kunjungan ke sana, tapi itu karena ada panitia yang menyiapkan rutenya. Tapi bagaimana kalau turis datang ke Jogja, dimanakah mereka harus berkunjung? Kalian harus lebih aksesibel. Sebagai contoh, kalau kita ke New York City, di sana ada sebuah pusat informasi turis berukuran raksasa yang menyediakan segalanya. Turis bisa leluasa memperoleh berbagai brosur untuk menentukan mau berkunjung ke mana. Jogja juga harus punya seperti itu, jadi begitu turis mendarat mereka bisa langsung memutuskan mau ke mana. Haruskah kami menuntut pemerintah supaya lebih giat menggarap potensi wisata Jogja? Hahaha. Saya tidak yakin kita bisa bergantung pada pemerintah untuk segala hal. Lebih realistis untuk mengadalkan dukungan dari investor swasta, atau mungkin kerjasama antara pemerintah dan swasta. Ketika Pesta Blogger, Jeff Ooi sempat bilang kalau pemerintah Malaysia tidak mendukung blogging, sementara di Indonesia pestanya saja didukung 3 menteri. Tapi bagi beberapa orang, mereka menganggap dukungan itu tidak penting dan tidak relevan. Kalau menurut anda, seberapa penting sih dukungan ini? Bersambung ke bagian dua... :D Big thanks for Nana and Shirley and Mistabrown!

Reports - December 13th, 2008

Berbagai Wayang Indonesia

Dalam Vidcast pertama saya, Anda dapat mempelajari beberapa wayang-wayang langka di Indonesia.

Reports - December 13th, 2008

Festival Wayang Indonesia 2

Pada awalnya wayang kulit purwa untuk hajatan dan untuk hiburan televisi itu berasal dari galur yang sama: wayang beber. Kesenian itu lantas berevolusi menjadi wayang kulit gagrak Mataraman dan kemudian berevolusi lagi menjadi gagrak Surakarta. Barulah setelah perjanjian Giyanti diteken, dunia pewayangan terpecah menjadi dua: gagrak Solo dan gagrak Jogja. Selanjutnya, kedua aliran itu berkembang sendiri-sendiri berkat ego chauvinistik dua kerajaan itu. Baru akhir-akhir ini saja, dengan sangat perlahan-lahan, dua gagrak itu menyatu menjadi sebuah gagrak campuran. Ki Manteb misalnya sering mengadopsi bentuk wayang Jogja. Demikian juga dengan dalang Jogja, banyak yang mulai memakai gaya Solo karena lebih nyaman dimainkan. Kesenian memang seperti organisme kehidupan: berubah dan berkembang, sesuai permintaan jaman. Tugas sebuah masyarakat adalah merawat kesenian klasik sekaligus memicu kesenian baru untuk terus berkembang. Beruntunglah bangsa seperti Britania yang bisa rutin mengadakan repetoir musik klasik, sekaligus menelurkan musisi-musisi revolusioner seperti Beatles, Queen, Rolling Stones, dan Spice Girls. Wayang, terutama wayang gagrak Solo, kondisinya tidaklah terlalu mengkhawatirkan. Jumlah peminatnya boleh dikatakan lumayan. Pedalangan Solo juga tak henti mengaktualisasikan diri, baik dalam teknik memainkan maupun teknik pementasan. Sudah barang jamak menyusupkan campursari dan lawak pada tiap pementasan wayang Solo. Tapi bagaimana dengan Wayang Jogja? Wayang Sasak? Wayang Jawatimuran yang hampir punah? Wayang Cirebon? Jangankan berkembang, untuk terus hidup aja masih kembang kempis. Oleh karena itu, Anda wajib datang ke Festival Wayang Indonesia 2 untuk menjadi saksi kebudayaan kita sebelum ia benar-benar punah. Lebih bagus lagi kalau Anda mendokumentasikan pertunjukannya, sebagai rekaman, supaya tidak punah. Lebih hebat lagi kalau anda mau membaginya di Internet agar semua orang bisa mengenali kebudayaan dari ratusan tahun yang lalu. Acara ini termasuk langka, karena hanya digelar tiga tahun sekali oleh Pepadi. Festivalnya dimulai tanggal 13 Desember 2008 (hari ini) dan selesai 16 Desember 2008, mengambil tempat di Taman Budaya Societet Jogja. Ada berbagai jenis pertunjukan wayang, mulai dari wayang gagrak Jogja, Solo, Bali, hingga wayang golek Sunda, wayang Sasak, wayang Banjar, wayang Palembang, wayang Cirebon, dan masih banyak lagi. Jadwal dan info-info penting lainnya bisa dicek di pepadi.org.

Opinion - December 10th, 2008

Para Pegawai Hotel Mulia

Melihat iklan Hotel Mulia di koran hari ini terasa aneh... Apakah hotel berbintang ini sangat sepi pengunjung, hingga pegawainya tak punya kerjaan selain mengawasi calon pelanggan?