hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for December, 2008

December 24th, 2008

Mr Brown: Hidup dalam ketakutan itu tidak sehat

In the last part of my interview with MrBrown, we discussed politics, free speech, and living in Singapore. We also touched Pesta Blogger a bit. While our session was conducted via Skype, still, it was a great and inspiring experience. Big thanks to MrBrown for sparing his time for us, Shirley of King Content Studio for arranging everything, and Nana for the cool advices.

Due to its length, some part of this interview was edited. The unedited podcast will be available sometime after today :D. Photo courtesy of Rony.

Dalam bagian terakhir interview dengan MrBrown, kami berdiskusi soal politik, kemerdekaan berekspresi, dan kehidupan di Singapura. Kami juga membahas Pesta Blogger sedikit. Walaupun interviewnya cuma lewat Skype, tapi tetap asyik dan inspiratif. Terima kasih untuk MrBrown yang sudah meluangkan waktu, Shirley dari King Content Studio yang menyiapkan segalanya, dan Nana untuk saran-sarannya yang keren.

Oleh karena cukup panjang, beberapa bagian wawancara ini telah dipotong. Podcast versi tidak diedit akan diunggahkan setelah hari ini :D. Foto dipinjami Rony.

Apakah Anda melihat blog sebagai tren yang suatu saat akan mati?

Menurut saya blogging akan berevolusi. Blog sudah beredar cukup lama, dan masih ada sampai sekarang. Ia menjadi mainstream. Aneh kalau ada orang yang bilang blog adalah media alternatif.

Sekarang blog sudah berevolusi menjadi bentuk-bentuk lain, seperti microblogging… Twitter… tumblr. Teknologi memungkinkan hal-hal baru, dan mereka menyatu. Sebagai contoh, saya pernah menyiarkan laporan langsung via video, saya mengumumkannya di twitter, lalu saya mempublishnya di blog. Ini menjadi fenomena multiplatform yang ‘menakutkan’. Tapi pada intinya itu adalah tentang komunikasi.

Blog Anda, mrbrown.com dikenal memakai satir untuk mengkritik pemerintah Singapura. Apakah ada maksud tertentu memakai gaya satir?

Saya tidak yakin sekarang Anda bisa menyebut mrbrown.com sebagai situs satir. Awalnya memang berisi tulisan-tulisan satir, tapi sekarang isinya soal anak-anak saya, tentang satire di Singapore dan sesekali tentang AS. Saya juga menulis soal gadget dan juga soal wisata. Jadi agak susah bilang situs itu tentang apa. Tapi saya nggak masalah, itulah saya, saya tertarik dengan banyak hal.

Tapi sekali lagi, tidak ada tujuan khusus memakai gaya itu. Saya tidak bersatir untuk menyatakan pandangan politik saya. Saya melakukannya karena lucu, supaya Anda ketawa. Politik di Singapura membungkus kehidupan masyarakatnya. Ia menjadi sasaran empuk untuk humor dan menjadi sumber lelucon-lelucon saya.

Anda harus paham, politik di Singapura—yang notabene dikuasai oleh satu partai—telah masuk ke semua aspek kehidupan rakyatnya. Tidak mungkin menatap ke kanan atau ke kiri tanpa melihat ikut campur negara pada sesuatu.

Seekstrim itu?

Iya. 80% penduduk kami tinggal di perumahan pemerintah (apartemen yang dimiliki pemerintah). Rumah pribadi sangat mahal dan sangat langka di Singapura. Di lain sisi, perumahan pemerintah standarnya bagus, tidak kumuh.

Tempat kami tinggal dan atap kepala kami dibangun oleh negara. Jadi ketika Anda bercanda tentang lift yang rusak, apakah itu politik? Jawabannya iya, karena pemerintahlah yang mendirikan lift itu.

Pemerintah juga penyerap tenaga kerja terbesar. Tapi ini bukan soal buruk atau baik. Pada kenyataannya pemerintah menyentuh semua aspek kehidupan kami. Ketika Anda mencemooh sesuatu, pasti ada kaitannya dengan negara.

Mengerikan sekali ya. Mirip dengan Big Brother dong? (Big Brother adalah sosok diktator yang mengawasi gerak-gerik warganya dalam novel George Orwell)

Mmmm iya… tapi tidak seseram yang Anda bayangkan. Beberapa orang melihat itu menyeramkan, tapi di lain sisi kami memiliki stabilitas dan keamanan. Saya pikir lebih tepat kalau disebut…. Big Brother Berhati Emas.

Ada banyak hal yang patut kami syukuri, kami memiliki tempat yang stabil untuk ditinggali. Selalu ada positif dan negatifnya. Jika pemerintahmu relatif tidak korup, menggajimu dengan layak, dan mampu menekan KKN; maka masyarakat tidak banyak mengeluh walaupun kehidupan mereka banyak diatur. Bagi mereka itu adil.

Tapi ketika pemerintahmu dipilih langsung tapi korup, omongannya nonsense, dan tidak kompeten. Lalu buat apa jika kita punya 10 parpol tapi masyarakat masih terjerat kemiskinan? Itu tradeoff saya rasa…

Indonesia ada sekitar 40 parpol untuk pemilu 2009 lho.

Oh ya? Wow! Saya akan berbahagia kalau ada dua parpol di sini. Hahaha. Empat puluh parpol itu cukup menarik, toh negara kalian besar.

Apakah Anda pernah ditangkap atau diintimidasi karena blog? Baca jawabannya…

December 19th, 2008

Blogger Bicara Wayang

Dalam vidcast ini, saya menanyai tikabanget, ekowanz, iphan, choro, dan gunawan; tentang pertunjukan wayang yang barusan mereka tonton. Tidak cuma yang wayang Purwa Jawa, tapi juga wayang Palembang, Sasak, Banjar, dan Cirebon. Apakah mereka suka? Atau malah bosan?

December 18th, 2008

MrBrown: Gunakan Internet Untuk Mengoreksi Persepsi

Dalam bagian kedua wawancara ini, MrBrown berbicara pandangannya soal Indonesia dan blog secara umum. Oleh karena durasi keseluruhan wawancara cukup panjang (48menit), maka terpaksa transkripnya saya pecah menjadi tiga bagian. Pada bagian terakhir wawancara, saya akan menyertakan MP3-nya supaya Anda bisa mendengar saya yang tertatih-tatih berbahasa Inggris.

Ketika Pesta Blogger, Jeff Ooi sempat bilang kalau pemerintah Malaysia tidak mendukung blogging, sementara di Indonesia pestanya saja didukung 3 menteri. Tapi bagi beberapa orang, mereka menganggap dukungan itu tidak penting dan tidak relevan. Kalau menurut anda, seberapa penting sih dukungan ini?
Itu tergantung cara kita melihatnya. Sangatlah mudah mengatakan keterlibatan pemerintah tidak relevan. Kita bisa bekerja tanpa mereka, kita tidak membutuhkan mereka, kita tidak ingin mereka mencampuri hidup kita. Tapi, di lain sisi, kita memerlukan keterlibatan pemerintah, bahkan untuk hal-hal sederhana, seperti misalnya infrastruktur. Jika pemerintah melihat blog dan internet sebagai medium yang berpotensi, maka mereka akan lebih tertarik berinvestasi atau mendorong investasi dalam bidang infrastruktur. Dan itu tidak buruk kan?

Tentu, jika minat pemerintah dalam blog adalah mengawasi gerak-gerik blogger, mungkin kita tidak menyukainya. Tapi dukungan pemerintah tidak selalu buruk, bahkan ada manfaatnya juga. Dukungan bisa berarti mereka lebih memahami dunia blog, sehingga tidak bersikap reaktif dan konservatif seperti yang dilakukan Pemerintah Malaysia. Jika mereka tidak paham, mereka akan melihat segala hal di blog sebagai sebuah ancaman.

Dalam konteks Indonesia, dengan adanya menteri di podium dan berkata ‘kami tidak akan menangkap orang karena ngeblog’, menurut saya adalah sikap yang sangat dewasa. Terlepas nanti di lapangan seperti apa, tapi itu adalah pernyataan yang sangat penting. Dan itu bagus, karena artinya pemerintah melihat blog memiliki peran besar.

Walaupun sering disalahgunakan, pasal pencemaran nama di Indonesia relatif lebih lunak dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara. Menurut Anda perlukah kita mempidanakan pencemaran nama baik, terutama yang ditujukan kepada pemerintah?
Hehehe. Negara kalian itu sangat menyenangkan, dalam artian tidak kebanyakan aturan. Menurut saya tidak perlu lah meminta-minta aturan tambahan. Biarkan agak fleksibel saja! Nikmati kemerdekaan-kemerdekaan yang di negara-negara lain masih diperjuangkan. Jangan minta tambahan undang-undang pencemaran nama baik! Please!

Tapi ada yang minta lho.
Ada yang minta??? Baca lanjutannya…

December 17th, 2008

Wawancara dengan MrBrown, Bapak Blogger Singapura

Usai dari Pesta Blogger 2008 di Jakarta, saya langsung menembak MrBrown untuk saya wawancarai. Sosok kocak dari Singapura ini adalah salah satu blogger pelancong yang diundang mengikuti Road Trip Pesta Blogger. Kejenakaannya juga tercermin di tulisan-tulisannya yang nakal tapi tak lupa menyentil pemerintah Singapura.

Bagaimana RoadTrip Anda ke Indonesia? Apakah anda menikmatinya?
Tentu. Memang melelahkan, tetapi juga sangat menyenangkan. Kami memulai perjalanan dari Bali, lalu mampir ke Jogja, dan berakhir di Jakarta. Saya di Indonesia selama 12 hari (6 hari adalah tur di luar RoadTrip Pesta Blogger—herman).

Denger-denger jadwalnya sangat padat. Apakah sempat merasa kurang puas?
Menurut saya memang padat, tapi bagaimanapun juga jadwalnya harus ditaati. Saya berharap bisa lebih lama di Bali dan di pantai. Di Jogja saya berharap ada tambahan satu hari lagi, kemarin itu terlalu cepat. Saya lebih suka Jogja daripada Jakarta, tapi jangan sampai orang Jakarta tahu ya (tertawa lepas).

Bagaimana Jogja menurut anda?
Menurut saya Jogja punya banyak potensi. Anda memiliki sejarah dan kebudayaan yang sangat menarik. Di satu titik ada Candi Buddha dan di titik lain ada Candi Hindu, keduanya sangat megah, dan sangat mudah dicapai dari Jogja.

Satu-satunya yang saya sayangkan adalah: tidak banyak yang tahu soal kota ini. Potensi Jogja bisa digarap dengan pemasaran dan pengemasan yang baik. Banyak obyek wisata yang fasilitasnya bisa diperbaiki dan pilihan transportasinya ditambah. Sebagai contoh adalah Borobudur, turis tidak bisa jalan-jalan tanpa guide. Mereka akan bingung! Karena itu cuma batu-batuan.

Ada dua cara untuk mengakali ini, bisa dengan menyediakan pemandu yang banyak, boleh berbayar atau gratis. Atau bisa seperti di beberapa negara lain: yaitu dengan menyediakan self-guided tour. Misalnya, melengkapi titik-titik menarik dengan perangkat suara yang memutar penjelasan obyek itu. Mungkin tentang kisah dan sejarahnya. Dengan demikian obyek itu akan hidup!

Adakah yang bisa kami perbaiki dari Jogja?
Menurut saya pemasarannya harus diperbaiki. Saya tidak banyak tahu soal Jogja. Pemasarannya harus lebih agresif, karena obyek wisatanya sangat sayang kalau dilewatkan. Kami sangat menikmati kunjungan ke sana, tapi itu karena ada panitia yang menyiapkan rutenya. Tapi bagaimana kalau turis datang ke Jogja, dimanakah mereka harus berkunjung? Kalian harus lebih aksesibel.

Sebagai contoh, kalau kita ke New York City, di sana ada sebuah pusat informasi turis berukuran raksasa yang menyediakan segalanya. Turis bisa leluasa memperoleh berbagai brosur untuk menentukan mau berkunjung ke mana. Jogja juga harus punya seperti itu, jadi begitu turis mendarat mereka bisa langsung memutuskan mau ke mana.

Haruskah kami menuntut pemerintah supaya lebih giat menggarap potensi wisata Jogja?
Hahaha. Saya tidak yakin kita bisa bergantung pada pemerintah untuk segala hal. Lebih realistis untuk mengadalkan dukungan dari investor swasta, atau mungkin kerjasama antara pemerintah dan swasta.

Ketika Pesta Blogger, Jeff Ooi sempat bilang kalau pemerintah Malaysia tidak mendukung blogging, sementara di Indonesia pestanya saja didukung 3 menteri. Tapi bagi beberapa orang, mereka menganggap dukungan itu tidak penting dan tidak relevan. Kalau menurut anda, seberapa penting sih dukungan ini?

Bersambung ke bagian dua… :D

Big thanks for Nana and Shirley and Mistabrown!

December 13th, 2008

Berbagai Wayang Indonesia

Dalam Vidcast pertama saya, Anda dapat mempelajari beberapa wayang-wayang langka di Indonesia.

December 13th, 2008

Festival Wayang Indonesia 2

Pada awalnya wayang kulit purwa untuk hajatan dan untuk hiburan televisi itu berasal dari galur yang sama: wayang beber. Kesenian itu lantas berevolusi menjadi wayang kulit gagrak Mataraman dan kemudian berevolusi lagi menjadi gagrak Surakarta. Barulah setelah perjanjian Giyanti diteken, dunia pewayangan terpecah menjadi dua: gagrak Solo dan gagrak Jogja. Selanjutnya, kedua aliran itu berkembang sendiri-sendiri berkat ego chauvinistik dua kerajaan itu.

Baru akhir-akhir ini saja, dengan sangat perlahan-lahan, dua gagrak itu menyatu menjadi sebuah gagrak campuran. Ki Manteb misalnya sering mengadopsi bentuk wayang Jogja. Demikian juga dengan dalang Jogja, banyak yang mulai memakai gaya Solo karena lebih nyaman dimainkan.

Kesenian memang seperti organisme kehidupan: berubah dan berkembang, sesuai permintaan jaman. Tugas sebuah masyarakat adalah merawat kesenian klasik sekaligus memicu kesenian baru untuk terus berkembang. Beruntunglah bangsa seperti Britania yang bisa rutin mengadakan repetoir musik klasik, sekaligus menelurkan musisi-musisi revolusioner seperti Beatles, Queen, Rolling Stones, dan Spice Girls.

Selanjutnya…

December 10th, 2008

Para Pegawai Hotel Mulia

Melihat iklan Hotel Mulia di koran hari ini terasa aneh… Apakah hotel berbintang ini sangat sepi pengunjung, hingga pegawainya tak punya kerjaan selain mengawasi calon pelanggan?