Bulat sudah 24 negara bagian melimpahkan 338 electoral vote ke tangan Obama. Dengan menembus 270 electoral vote, maka secara otomatis dia resmi menjadi presiden kulit hitam pertama AS. Sore 4 November itu, Obama berdiri pada podium besar di tengah Grant Park Chicago untuk melantangkan orasi kemenanganannya dengan penuh karisma.

McCain memang bukan tandingan Obama dalam hal berpidato dan karisma. Gaya bicaranya yang lemah, dan gerakan tangannya yang nanggung akibat cacat perang membuat McCain terlihat tidak meyakinkan. Tandingan Obama dalam hal berorasi adalah cawapres McCain: Sarah Palin. Seperti Obama, Palin mampu berpidato yang mengugah.

Yang membedakan, orasi Obama lebih memiliki substansi dan memuat logika. Pidato Palin, walaupun sangat mempesona, pada hakikatnya kosong dan mbulet. Pada akhirnya dukungan ke Palin dan McCain surut karena Palin tidak mampu menunjukkan substansi.

Kata kuncinya memang substansi. Maka, ketika dibilang kemenangan Obama terletak pada kesungguhannya memanfaatkan internet untuk memobilisasi massa, kita baru bicara sebagian dari kenyataan, karena kisah sukses 4 November ini tertumpu pada substansi dan taktik yang sangat baik.

Keunggulan Obama memang tidak hanya pada ketrampilan berkomunikasi. Dia telah menepis berbagai keraguan akan ketidaksiapannya menjabat presiden dengan menawarkan berbagai program domestik dan luar negeri. Dan yang paling penting, dia telah mengidentifikasi masalah-masalah di negaranya, sekaligus menawarkan solusinya. Obama mengkritik pelobi politik, dan berjanji akan membersihkan DPR dan Senat dari kelompok pelobi. Dia mengkritik jatuhnya ekonomi AS akibat ekonomi ala Reagan yang telah dianut Bush selama 8 tahun, dan sekaligus ia menjanjikan perubahan ekonomi dimana kemakmuran dibangun dari bawah ke atas.

Pesan dan pemikiran yang kuat ini didukung oleh strategi kampanye yang tepat. Dengan meratakan serangan kampanye ke seluruh 50 negara bagian, tim Obama telah sukses menjepit kandidat kubu McCain dari berbagai sisi.

Seperti kisah sukses lain, kemenangan dengan bantuan Internet mengugah inspirasi. Sejumlah capres Indonesia yang meminang kemenangan untuk 2009 mulai memanfaatkan internet untuk berkampanye. Satu dua menggalang dukungan melalui Facebook. Satu dua yang lain mulai menggandeng komunitas online untuk menyongsong 2009.

Akan tetapi, adakah satu yang menawarkan pemikiran untuk menyelesaikan masalah korupsi di Indonesia? Apakah ada satu yang secara cerdas mengajak diskusi untuk menyelesaikan permasalahan pengangguran kita? Apakah ada yang secara spesifik menjanjikan solusi untuk permasalahan pendidikan dan kesehatan rakyat?

Pada kenyataannya, kisah sukses Obama tertumpu pada karakter dan strategi kampanyenya. Internet , Blog, Facebook, Twitter tidak membuat seorang kandidat lebih baik, tetapi ‘hanyalah’ melipat-gandakan karisma karakternya. Tanpa adanya karakter dan substansi yang baik, maka dilipatgandakan satu juta kalipun, efeknya tetap saja remeh temeh.

Inspirasi Dotcom Obama

40 thoughts on “Inspirasi Dotcom Obama

  • November 6, 2008 at 8:57 am
    Permalink

    substansi kata kuncinya, setuju, bro :D
    dan pertanyaan di bagian akhir, ditunggu ulasan selanjutnya. jangan setelah iklan, yak. -halah!-

    Reply
  • November 6, 2008 at 9:04 am
    Permalink

    IMHO, langkah beberapa capres Indonesia menyambut PEMILU 2009 dengan cara bersosialisasi via Internet juga tak bisa dibandingkan dengan apa yang Obama lakukan di US sana.

    Saya tak memiliki angka pasti tentang prosentase penduduk US yang berinternet dan yang tidak itu berapa, tapi kok ya sepertinya masih jauh lebih besar ketimbang prosentase Indonesia ya?

    Kalau sudah demikian apakah efektif untuk berkampanye via online bagi capres Indonesia?

    Uhm….

    Reply
  • November 6, 2008 at 9:13 am
    Permalink

    Any news is good news, depending on how you manage to handle it :D

    Kampanye Obama kemaren uda ngebuktiin kalo ada potensi tersembunyi untuk viral campaign di Internet, karena apa yang dikampanyein Obama di Internet gak cuma cukup sampe di Internet aja, tapi Internet jg dipake Obama untuk ngerekrut volunteer yang bantuin dia kampanya di negara2 bagian yg bukan basis demokrat, ini salah satu rahasia dia menangin negara2 bagian yg terhitung “red state” tahun ini kan…

    Satu2nya yg patut diragukan sih, maukah orang Indonesia ngasi duit $5 tiap kali ada kandidat presiden ngirimin e-mail minta duit bantuan?

    Karna kalo kampanye disini kan yg ada rakyat berharap dikasi duit sama kandidat, bukan sebaliknya. :))

    Reply
  • November 6, 2008 at 9:18 am
    Permalink

    masalahnya mon…, orang indonesia masih lebih seneng dengan kulit daripada isi. capeeee deeeehhhh…

    Reply
  • November 6, 2008 at 9:32 am
    Permalink

    substansi memang penting..tapi kalo para pemilihnya belum pintar, masih sering terjebak pada ‘kulit’, mesti bagaimana lagi? ‘kulit’ tetap harus diperhatikan..
    mengenai media internet, menurut saya jika digunakan di Indonesia masih belum begitu efektif..mengingat penduduk yang melek internet di sini masih lumayan sedikit..namun itu tetap termasuk cara yang bagus untuk dilakukan..

    Reply
  • November 6, 2008 at 9:48 am
    Permalink

    @Donny Verdian:
    Tipisnya penetrasi Internet di sini memang membuat mustahil kita bisa mereplikasi sukses Obama. Akan tetapi, seperti yang dibilang gagahput3ra di atas, Internet memang tidak sekadar untuk menyebarkan kampanye viral, tapi bisa untuk mengorganize kampanye di daerah-daerah. Menurut saya, ini lebih feasible bagi Indonesia. Realisasinya, mungkin tiap titik penting di daerah pelosok bisa diberi sambungan internet untuk mengakses sistem informasi kampanye.

    Tapi ya itu, tanpa dibarengi kandidat yang layak, saya rasa mustahil merebut pesona incumbent-incumbent indonesia.

    Reply
  • November 6, 2008 at 10:03 am
    Permalink

    sebenarnya para capres Indonesia juga punya solusi jitu, namun buat saya sepertinya lebih ke solusi normatif tanpa ada penyelesaian yang cukup konkrit

    Reply
  • November 6, 2008 at 10:30 am
    Permalink

    [….Pada kenyataannya, kisah sukses Obama tertumpu pada karakter dan strategi kampanyenya. Internet , Blog, Facebook, Twitter tidak membuat seorang kandidat lebih baik, tetapi melipat-gandakan karisma karakternya. Tanpa adanya karakter dan substansi yang baik, maka dilipatgandakan satu juta kalipun, efeknya tetap saja remeh temeh….]

    betul sekali, Mon.

    Reply
  • November 6, 2008 at 11:13 am
    Permalink

    Dari semua politisi yang nangkring di Facebook, kayaknya baru Pak Ferry Mursyidan Baldan yang bisa memanfaatkan media Facebook tersebut.

    Reply
  • November 6, 2008 at 11:18 am
    Permalink

    oh, ini yang panjang lebar? ga kok, cukup singkat. halah…malah nanggepin yg ga penting

    yup, setuju soal subtansi dan karakter. emang ada calon di indo yang begini? calon muda? sulit. calon tua? masa lalu ga clear dan ga keliatan ada usaha memperbaiki diri untuk lebih bersih karena targetnya emang kursi semata, bukan memimpin sebuah negara menjadi lebih baik.
    apalagi ya? ah, sudahlah…enakan nonton amrik aja *khusus satu moment ini*

    Kuncinya memang selalu di rakyat. Di AS demand pemimpin baru memang ada, dan kebetulan supplynya ada juga. Di sini, hampir semua orang antipati atau tidak tahu, dan supplynya juga nihil.

    Nah peran pemuda seperti kamu ini penting untuk memancing kelahiran pemimpin muda. Tapi memang, merubah paradigma itu lama dan butuh proses.

    Reply
  • November 6, 2008 at 11:25 am
    Permalink

    saya setuju dengan apa yang ditulis herman.

    saya juga setuju dengan apa yang ditulis komentator 20 besar

    Reply
  • November 6, 2008 at 11:48 am
    Permalink

    ~mengeluarkan catatan dan mulai mencatat poin-poin penting. —1 jam kemudian — Lho koq dicatat semua ….

    Thanks Mon. Postingan yang menarik.

    Terima kasih mas :D

    Reply
  • November 6, 2008 at 12:53 pm
    Permalink

    Memang tdk bs dbandingkan ya. Indo-amrik. Next kt tgu obama vs osama :d

    Reply
  • November 6, 2008 at 2:15 pm
    Permalink

    Substansi. Setuju. Dan yang paling penting, di Amerika tampaknya mudah membedakan mana yang omong kosong dan jual mimpi. Kalau disini, pengobral janji pada saat kampanye tidak pernah bisa dibedakan, mana yang ngomong serius mana yang cuma omong kosong. Semuanya tampak seperti omong kosong… Uhm… :(

    Reply
  • November 6, 2008 at 3:24 pm
    Permalink

    public speaking, personal branding dan media relations kubu obama memang patut diacungi jempol. coba kita nantikan bagaimana dampak kemenangan Anak Menteng ini bagi Endonesia…

    Reply
  • November 6, 2008 at 5:25 pm
    Permalink

    …dan selain itu, Obama juwega nulis buku plus konsisten megang prinsip. Tanpa ituhh… meski dia nginternet tiap hari 29 jam ato pasang baliho segede gaban sampai ke pelosok desa pun… belum tentu dia mendapatkan buwanyak simpatisan. Apalage jika cuman (bisa) njuwal kata “hidup adalah perbuatan”, misalnya. :lol:

    Reply
  • November 6, 2008 at 7:05 pm
    Permalink

    Saya ini tidak terdidik ilmu politik (ngaku). Akibatnya, sampai sekarang pun saya bingung siapa dan atas dasar saya memilih. Jika dirunut, ternyata intinya pada ketidaktahuan saya atas berbagai macam informasi terkait siapa-siapa yang bisa dipilih. Termasuk track record, dan konsistensinya.

    Pun 2009 nanti tidak tersedia pemimpin se-top Obama, saya berharap paling tidak ada cukup informasi yang bisa membuat saya melek dan mampu menentukan pilihan dengan penuh kesadaran.

    Mudah-mudahan blog ini bisa jadi salah satu sumber informasi untuk event pemilu 2009 nanti ;)

    Semoga saya bisa memenuhi permintaan Anda yang berat itu.

    Reply
  • November 6, 2008 at 7:14 pm
    Permalink

    Majalah Rolling Stone pernah menulis secara lengkap strategi kampenya Obama. Inti dari strateginya adalah ‘bottom-up’, bukan sebaliknya. Nah, calon2 pemimpin di Indonesia masih berpikir mainstream dengan cara ‘up-buttom’.

    Reply
  • November 6, 2008 at 8:57 pm
    Permalink

    kelasnya capres Indonesia belum substansi, baru kulitnya.

    Reply
  • November 6, 2008 at 9:51 pm
    Permalink

    kesuksesan resep obama mungkin bisa menggugah orang (politik) di Indonesia, hasilnya bisa jadi belum tentu sekarang atau 2009, mungkin bisa 10 tahun lagi, siapa tahu?

    Reply
  • November 6, 2008 at 11:34 pm
    Permalink

    sebenarnya pelajaran yg bisa di ambil untuk capres-capres negara kita adalah sikap legowo menerima kekalahan, seperti yg ditunjukkan Mccain.. ngga kayak ‘si-ibu-baju-merah’ yg kalah pemilu kita periode lalu.. tegur sapa pun tak mau..

    Reply
  • November 7, 2008 at 12:39 am
    Permalink

    Iyo e mon, mereka nggaya ikut pake internet sementara tidak melihat ke dalam diri mereka sendiri :D

    Ngeselin ya

    Reply
  • November 7, 2008 at 12:49 am
    Permalink

    menarik juga melihat bagaimana tim kampanye Obama melaksanakan tugas nya selama 21 bulan… sekarang terbukti. Musti privat kayaknya sama David Plouffe….hoho

    Jangan lupa David Axelrod :P

    Reply
  • November 7, 2008 at 1:50 am
    Permalink

    yah… reaganomics, bushnomics, atau obamanomics, semuanya sama saja keynesian economics…

    inflation is good for national debt, so spend spend spend…

    apakah reaganomic itu keynesian atau free-market memang tidak akan habis didebatkan, tetapi reagan memang mendorong deregulasi, yang merupakan salah satu biang krisis keuangan AS

    Reply
  • November 7, 2008 at 2:52 am
    Permalink

    internet hanya media.
    isinya yang membuat berbeda.

    Reply
  • November 7, 2008 at 7:58 am
    Permalink

    .. ada slot untuk ‘melipatgandakan’ substansi yang ‘baik’ that is accomodated by facebook : religious views.

    Reply
  • November 7, 2008 at 8:30 am
    Permalink

    Saya menilik pemilu Amerika dari sisi calon yg menang dan calon yg kalah. Sadar politik yg dimiliki warga amerika sepertinya patut dicontoh.

    Kalau di Indonesia, saya kira setelah pemilu penjual bensin dan minyak tanah laris manis untuk bakar-bakar di jalanan.

    Dan juga tambang galian C (batu, pasi, dsb) akan pindah ke jalanan.

    Sorry kalo absurd.

    Reply
  • November 7, 2008 at 9:42 am
    Permalink

    *lirik k atas*

    chieeeeeee….yg baru nyaleg…..

    eheheheh….kok nadanya meragukan rakyatnya sendiri to ???

    *kabur*

    Reply
  • November 7, 2008 at 10:46 am
    Permalink

    banyak yg latah m erambah kampanye lewat internet…ada yg ikutan blogging jg…. tp hampir semuanya jarang diupdate!!

    mungkin mereka pikir kampanye via internet kaya nempelin selebaran di tembok….wekekekekek

    Reply
  • November 7, 2008 at 11:04 am
    Permalink

    Internet di Indonesia belum bisa merambah sektor terpencil. Kampanye yang paling efektif ya dor to dor. Rakyat Indonesia bisa belajar banyak dari pemilu AS. seberapa banyak yang bisa diserap? Ya tidak tahu. Tergantung individunya :D

    Reply
  • November 7, 2008 at 12:56 pm
    Permalink

    ssst gosip gosip..td aku dengar di MNBC, ktnya waktu orang dari republic ada perlu sesuatu ama palin, dg terburu buru, palin keluar dari kamar mandi pake handuk doank di hotelnya kikikikikik….

    mudah mudahan obama beneran can-lah. serem nih tiap hari nonton berita. layoff lageee layoff lage. december ini bakalan dapat economic stimulus package dari pemerintah, cuma gue mikirnya…duitnya darimana yak ? masak minjem lagi sih ?! dooohh

    Reply
  • November 7, 2008 at 5:45 pm
    Permalink

    “Pokoke saya nderek –sensor– kerna dulu bapak saya juga nderek bapaknya –sensor–.”

    Obama’s campaigan was awe inspiring, but to bring it to Indonesia..? Waste of time and energy mate

    Reply
  • November 9, 2008 at 2:04 am
    Permalink

    kan ada sodara RS? suruh aja dia yang analisis dan take action thd permasalahan ini.. gitu aja kok reppot.

    *waton comment bwt nglepas kangen kekekek*

    Reply
  • Pingback: Web 2.0 : Kunci Sukses Kampanye Barack Obama « Hendrik’s Weblog

  • November 22, 2008 at 10:24 am
    Permalink

    siapa pun yang memimpin AS, entah itu gw bush, obama, atau siapa pun, sekalipun dari golongan jin, iblis, dajal, mereka selamanya akan tetap memerangi ISLAM hingga akhir jaman. 15 ribu tahun lalu, nabi Muhammad SAW sudah wanti-wanti kepada umat Islam “Yahudi dan Nasrani, tidak akan senang melihatmu sebelum kamu ikut milah mereka”.

    Reply
  • Pingback: Politika Kampusiana « antobilang™

  • Pingback: » Blog Archive » Web 2.0 : Kunci Sukses Kampanye Barack Obama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *