Misc - November 27th, 2008
Penerima PKBI Blog Award

Misc - November 27th, 2008

Misc - November 26th, 2008

Tapi award itu baru sebagian dari cerita. Saya juga akhirnya bertemu dengan Hanny, Kepikcantik, Oelpha, Nike, Itikkecil, Anangku, Epat, Arul, Antown, Mantan Siluman, Mas Kopdang, Priyadi, Eko Juniarto, Fikri Bloggingly, Catshade, dan buanyaaaak lagi. Perhelatan besar itu juga mengobati kerinduan untuk ngobrol langsung (baca: tidak pake YM) sama teman-teman blogger seperti Goenrock, Chic, Tito, Kangtutur, ... duh sapa lagi ya banyak bgt e.
Semalam sebelum acara itu, saya mengikuti acara Muktamar Blogger di depan Bunderan HI. Selain bertemu dengan pentolan BHI yang rusak-rusak itu, saya juga sempat ketemu dengan Yenni Wahid. Yang menarik, walaupun hampir semua peserta sudah kucel dan keringetan, Yenny Wahid yang dibungkus kerudung dan jas tebal warna hitam bisa nampak segar. Bahkan bedaknya tidak lengket karena peluh. Kira-kira apa rahasianya?
Jika Muktamar Blogger adalah pre-party, maka usai dari Pesta Blogger saya menuju Wetiga untuk mengikuti post-party. Jika Muktamar adalah pemanasan, maka Wetiga adalah pendinginan. Sambil melahap sate paru khas wetiga, saya ngaso di pojok sambil menonton rombongan lain ketawa ngakak-ngakak.
Hari minggu esok harinya acara disambung dengan kopdar makan siang di PIM2. Bersama Antobilang, Nico, Gunawan, Hanny, Faniez, Didut, Iphan, Kepikcantik, Oelpha, Chika, Aprikot, dan Dimas, saya melakukan sesi pemotratan makanan di Sushi Tei. Hampir semua desert dipesan untuk difoto-foto buat kenangan.
Saya suka pesta ini, dan saya benar-benar menikmatinya. Pesta ini menjalankan fungsinya yang paling utama dan paling sentral, yaitu mengumpulkan blogger-blogger dari berbagai penjuru dan berbagai minat untuk saling mengenal dan mengerti. Keakraban ini baru awalnya saja. Terima kasih untuk Panitia! Terima kasih Ndoro, Mas Iman, Mas Enda, Hanny, Balibul, Chika, Dimas, dll.
Jika diijinkan mengkritik, saya berharap acara tahun depan lebih banyak sesi bebasnya, sehingga kami punya banyak waktu untuk bersosial dan ngobrol-ngobrol. Auditorium dan selasar BPPT sepertinya juga kurang mendukung untuk bercengkerama karena terlalu sempit dan layoutnya ruwet. Tapi saya tidak ingin meributkan yang kecil-kecil, seperti lokasi, pendaftaran, acara, atau yang lain.
Karena visi kita terlalu besar untuk mempermasalahkan hal-hal kecil. Opinion - November 18th, 2008


Misc - November 17th, 2008

Apakah Anda pernah mampir ke sebuah blog yang peduli dengan wacana kesehatan reproduksi, kesetaraan gender, atau HIV/AIDS? Kalau ada, sebaiknya blog itu Anda rekomendasikan ke dalam PKBI Award. Nantinya, mereka akan diseleksi dan yang terbaik akan diundang ke Jogja untuk menerima PKBI Blog Award (dan uang saku).
Award ini diselenggarakan PKBI Jogja untuk memberikan penghargaan kepada para blogger yang peduli dan rutin menulis wacana-wacana tersebut. Di lapangan, acara ini juga dibantu oleh rekan-rekan dari CahAndong untuk aspek teknis dan penjurian. Untuk merekomendasikan blog, Anda bisa langsung kirim email ke pkbi.award@gmail.com. Cukup cantumkan nama pemilik blog, alamat url blog, dan (kalau ada) alamat untuk menghubungi blogger tersebut. Penjelasan lebih lengkap soal award ini, bisa Anda lihat di: pkbiaward.dagdigdug.com.Opinion - November 12th, 2008
Kecantikan angin puting beliung di UGM hari Jum’at lalu berbiaya mahal. Cabikannya pada kompleks UGM menelan kerugian hingga 12 Milyar Rupiah. Itu belum termasuk kerugian pengusaha-pengusaha kecil yang gerobak dan dagangannya ikut rusak terkoyak angin. Mereka harus kembali merogoh saku untuk memodali kerusakan-kerusakan itu. Civitas akademika juga harus mengalah, kegiatan akademik dan fasilitas pendukung harus tertunda untuk sementara.
Bencana kemarin lantas dikaitkan dengan UGM yang dibilang sudah tidak merakyat lagi, dikaitkan dengan SPP UGM yang terlalu mahal, dan dikaitkan dengan sengketa tanah dengan UGM. Takhayul atau bukan, mengkaitkan satu kejadian dengan kejadian lain itu memang bakat manusia. Tapi harus hati-hati: kesimpulan salah yang dikoarkan berulang-ulang bisa [dikira] benar.
Kalangan intelektualpun sebetulnya juga sering bertukar takhayul. Mereka menyebutnya teori konspirasi. Topiknya bukan alam, tapi kejadian-kejadian di sekeliling kita. Boleh soal FPI, Menteri, SBY, dll. Tapi itu tidak salah: menganalisis itu tidak salah dan tidak pernah salah. Yang bikin salah adalah jika sumber informasinya sumir dan abal-abal. Ini jenis informasi yang jika ditanya: “Kok nggak masuk media?”, akan dijawab dengan: “Media juga ikut berkonspirasi!”
Nah kalau gini kan berabe, bagaimana informasi itu bisa dipercaya, kalau sumber informasinya tidak ada? Akan teteapi, tetap saja teori-teori itu menjadi obrolan yang asyik untuk menemani seruputan kopi atau teh anget.
Lalu kenapa kita begitu menikmati teori konspirasi? Mengapa sebuah obrolan intelekpun harus dilengkapi dengan bumbu-bumbu teori konspirasi? Jawabannya adalah, teori konspirasi memberikan logika kenapa kita tidak bisa menyelesaikan persoalan-persoalan kita. Teori ini melimpahkan kegagalan kita kepada orang lain, atau kekuatan lain. Teori konspirasi, dengan enteng, membebaskan kita dari tanggung jawab.
Lagi-lagi ini tidak salah. Tapi kalau kita salah mengidentifikasi penyebab sebuah permasalahan, dipastikan kita tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan itu.
Menurut staf pengajar Fakultas Geografi UGM, Dr. Sudibyakto, angin puting beliung tersebut disebabkan oleh perbedaan suhu udara akibat penggunaan lahan dan polusi udara.
Reports - November 7th, 2008
Opinion - November 6th, 2008
Bulat sudah 24 negara bagian melimpahkan 338 electoral vote ke tangan Obama. Dengan menembus 270 electoral vote, maka secara otomatis dia resmi menjadi presiden kulit hitam pertama AS. Sore 4 November itu, Obama berdiri pada podium besar di tengah Grant Park Chicago untuk melantangkan orasi kemenanganannya dengan penuh karisma.
McCain memang bukan tandingan Obama dalam hal berpidato dan karisma. Gaya bicaranya yang lemah, dan gerakan tangannya yang nanggung akibat cacat perang membuat McCain terlihat tidak meyakinkan. Tandingan Obama dalam hal berorasi adalah cawapres McCain: Sarah Palin. Seperti Obama, Palin mampu berpidato yang mengugah.
Yang membedakan, orasi Obama lebih memiliki substansi dan memuat logika. Pidato Palin, walaupun sangat mempesona, pada hakikatnya kosong dan mbulet. Pada akhirnya dukungan ke Palin dan McCain surut karena Palin tidak mampu menunjukkan substansi.
Kata kuncinya memang substansi. Maka, ketika dibilang kemenangan Obama terletak pada kesungguhannya memanfaatkan internet untuk memobilisasi massa, kita baru bicara sebagian dari kenyataan, karena kisah sukses 4 November ini tertumpu pada substansi dan taktik yang sangat baik.
Keunggulan Obama memang tidak hanya pada ketrampilan berkomunikasi. Dia telah menepis berbagai keraguan akan ketidaksiapannya menjabat presiden dengan menawarkan berbagai program domestik dan luar negeri. Dan yang paling penting, dia telah mengidentifikasi masalah-masalah di negaranya, sekaligus menawarkan solusinya. Obama mengkritik pelobi politik, dan berjanji akan membersihkan DPR dan Senat dari kelompok pelobi. Dia mengkritik jatuhnya ekonomi AS akibat ekonomi ala Reagan yang telah dianut Bush selama 8 tahun, dan sekaligus ia menjanjikan perubahan ekonomi dimana kemakmuran dibangun dari bawah ke atas.
Pesan dan pemikiran yang kuat ini didukung oleh strategi kampanye yang tepat. Dengan meratakan serangan kampanye ke seluruh 50 negara bagian, tim Obama telah sukses menjepit kandidat kubu McCain dari berbagai sisi.
Seperti kisah sukses lain, kemenangan dengan bantuan Internet mengugah inspirasi. Sejumlah capres Indonesia yang meminang kemenangan untuk 2009 mulai memanfaatkan internet untuk berkampanye. Satu dua menggalang dukungan melalui Facebook. Satu dua yang lain mulai menggandeng komunitas online untuk menyongsong 2009.
Akan tetapi, adakah satu yang menawarkan pemikiran untuk menyelesaikan masalah korupsi di Indonesia? Apakah ada satu yang secara cerdas mengajak diskusi untuk menyelesaikan permasalahan pengangguran kita? Apakah ada yang secara spesifik menjanjikan solusi untuk permasalahan pendidikan dan kesehatan rakyat?
Pada kenyataannya, kisah sukses Obama tertumpu pada karakter dan strategi kampanyenya. Internet , Blog, Facebook, Twitter tidak membuat seorang kandidat lebih baik, tetapi 'hanyalah' melipat-gandakan karisma karakternya. Tanpa adanya karakter dan substansi yang baik, maka dilipatgandakan satu juta kalipun, efeknya tetap saja remeh temeh.