hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Indonesiana - July 8th, 2008

Batik

Entah seberapa sumringah Bung Karno andaikata ia singgah ke mall dan menyaksikan baju-baju batik berseliweran di mana-mana. Dikenakan gadis-gadis mutakhir hingga ibu-ibu socialite, batik sedang memulai masa jayanya dengan menjadi the ‘it dress’.

Bung Karno, dengan segala kekurangan dan kelebihannya adalah seorang nasionalis sejati. Pada masa pemerintahannya, ia pernah membuat program untuk menjadikan batik busana kebanggaan Indonesia.

Program sang presiden sederhana saja. Para pengusaha batik—seperti yang di daerah Prawirotaman, Jogja—mendapat suplai kain katun dengan harga sangat murah. Kain bersubsidi. Harapannya, bahan baku murah mendorong harga pasar batik lebih terjangkau, dan dus populer.

Akan tetapi, alih-alih dibatik, kain-kain itu dijual apa-adanya. Tanpa dibatik, tanpa apapun. Dengan harga beli murah dan dijual dengan harga pasar, para pengusaha batik itu meraup banyak untung, dari uang rakyat juga. Hari ini, jika Anda melewati rumah-rumah kuno megah di kawasan Tirtodipuran dan Prawirotaman, itu adalah sisa dari kejayaan pedagang batik coret.

Apakah kejadian hampir setengah abad lampau ini terdengar familier?

Model foto: Hanny, Omith, Chika. Fotografer: Gage.

71 Comments


Leave a Reply