Life - July 23rd, 2008
Hape Di Jakarta
Saya tidak pernah paham bagaimana mungkin hape saya selalu kehabisan daya setiap kali di Jakarta. Ini bukan kejadian sekali dua kali, tapi berkali-kali. Padahal hape bodoh ini selalu baik-baik saja kalau di Jogja.
Ada banyak teori. Teori yang paling asal berkata bahwa jarak BTS di Jakarta itu terlalu jauh, sehingga hape saya harus menggunakan banyak daya. Teori kedua, yang tidak kalah ngasal, berkata sebaliknya: jarak BTS di Jakarta terlalu rapat sehingga sering terjadi handoff yang memboroskan energi di dalam batere.
No comment lah. Toh bisa juga karena di Jakarta saya lebih sering nelpon. Atau di Jakarta saya lebih malas mencharge. Apapun bisa terjadi. Toh bisa juga ini memang saat yang tepat untuk membeli hape baru. Tapi saya maunya iPhone 3G.
Moral dari cerita ini? Tidak semua tulisan saya dapat dipetik maknanya.
Saya harus angkat topi untuk Christopher Nolan dan Heath Ledger atas kerja mereka di sekuel Batman berjudul The Dark Knight. Film ini seperti mengisi kerinduan menonton summer movie yang tidak cuma keren di efek, tapi juga kuat di penuturan.
Nolan memilih ritme thriller untuk sekuel ini, serta menghadirkan Joker sebagai musuh yang tidak cuma jahat, tetapi juga sinting. Bukan sinting lucu, tapi sinting sosiopatik yang anarkis tulen. Hampir semua adegan Joker (diperankan oleh Alm. Ledger) terlalu menarik untuk dilewatkan.
Tetapi Joker bukanlah satu-satunya bintang. Saya benar-benar menikmati penuturannya yang mengalir, serta arahan musik yang benar-benar mencekam. Nampaknya saya bakal nonton ini sekali lagi.
Beberapa waktu yang lalu,
Untuk tata letak, rupanya Detik memilih berubah total. Yang bagus adalah jatah ruang headline yang terasa lebih lapang. Yang menganggu satu, yaitu kotak biru di tengah halaman. Warnanya yang biru kontras membuat mata saya terfokus secara involunter pada bagian tengah. Padahal di bagian itu tidak ada berita atau informasi yang menjadi 'dagangan' Detik.
Ini bukan masalah selera sih, cuma aspek ergonomi. 
