May 17th, 2008
Perlukah Kita Mati Dengan Keren

Kebanyakan orang meninggal dengan cara biasa. Di kasur atau di rumah sakit. Serangan jantung juga termasuk cara yang lumrah. Sampai saat ini, penyakit jantung masih pembunuh nomer satu sedunia, disusul oleh stroke.
Ini berbeda jika seandainya meninggal karena kanker setelah berbulan-bulan dikemoterapi. Atau tewas terlindas mobil. Atau kecelakaan pesawat terbang. Cara begini shock valuenya lebih garang.
Tentu tidak semua orang berpulang dengan cara tragis atau cara umum. Heath Ledger justru meninggal dengan cara yang konyol. Hasil otopsi menunjukan bahwa aktor pemeran Joker ini meninggal karena mencampur-campur obat resep.
Hari Sabtu ini, aktor lama Sophan Sophian meninggal karena lubang di jalan, kata Okezone. Diantara banyaknya penyebab kematian, Alm. Sophian harus pergi karena hal seremeh lubang di jalan.
Demikian juga dengan Benazir Bhutto yang meninggal bulan Desember 2007. Hasil forensik Scotland Yard menunjukan bahwa tokoh sekaliber ini tewas karena kejedhug atap mobil.
30 Comments
-
wedhouz
-
tentu saja perlu walau keren atau tidak, toh tidak akan mengubah keadaan. misalnya hidup lagi kalo matinya kurang keren.
May 17th, 2008 at 9:14 pm -
datum
-
tidak perlu sepertinya…
cukup hidup dengan keren mungkin ya?
tapi kalau waktunya tiba… toh kita tidak bisa milih kan?
May 17th, 2008 at 9:26 pm
-
Adityasani
-
Kang, menurut gw Pak Sophan meninggalnya keren, karena sedang beribadah untuk bangsa Indonesia..
May 17th, 2008 at 9:48 pm -
Herman Saksono
-
Beribadah apa Dit?
May 17th, 2008 at 9:57 pm -
Anang
-
kita tak akan pernah bagaimana kematian menjemput kita… *kecuali bunuh diri yak*
May 17th, 2008 at 10:12 pm -
tancepkayon
-
Pengin mati yang biasa-biasa aja ah. Sukur-sukur tidak ngerasa sakit. Dan tidak merepotkan orang-orang yang ditinggal mati
May 17th, 2008 at 10:54 pm -
Hedi
-
Nggak perlu, Mon. Keren atau enggak, toh ga ada perlunya buat kita yang udah gama over, udah selesai, tamat…bla..bla…bla
May 18th, 2008 at 2:07 am -
mercuryfalling
-
ah elo bikin geli aja…lol
May 18th, 2008 at 2:10 am -
fisto
-
@herman saksono, konvoy = beribadah
May 18th, 2008 at 5:54 am -
Silly-stupid
-
ihh, mas Herman, kemana rasa empatynya???… duh, mo matinya keren, mo matinya enggak keren… yang penting bagaimana beliau semasa hidupnya…
Sophan Sophian sepanjang pengetahuan saya, sungguh2 orang yang KEREN… dalam segala hal. Kharismanya ketika dia mengundurkan diri dari DPR ktika dia tidak lagi sepakat dengan putusan2 MPR/DPR membuat saya kagum dan rasanya pengen Tosh2-a sama beliau. Belum lagi kesetiaannya sama keluarganya, tidak seperti kehidupan artis/pejabat2 lain yg sungguh sangat tidak padtut ditiru.
Alm juga org yg idealis sekali loh.
Pokoknya menurut saya, justru semasa hidup beliaulah yg membatnya keren… layak untuk mendapatkan Peti Jenasah TERBAIK didunia…
Good man die young, katanya…
ah, mas Herman, dikau… kenapa oh kenapa???… sedih aku… Ndak jadi mengidolakan mas deh…

**pulang sambil nangis terisak**
May 18th, 2008 at 6:54 am -
yati
-
catatan saya mon, kalo yang mati orang ngetop, baru deh tuh jalan rusak diperhatiin (masih harapan sih, lom tentu beruntung). kalo tukang ojek yang mati karena jalan berlubang, ga ada apa2nya. udah matinya ga keren, ga diperhatiin pula. nasib jadi orang ga keren
@mba silly…anda patut kecewa pada momon. memang tidak sekeren yang diprofilkan mas kw…hihihi
May 18th, 2008 at 11:35 am -
Yeni Setiawan
-
Tetangga saya dulu ada yg mati dengan sebab yang sama, motornya njegluk masuk ke lobang di jalan dan terlempar bersama.
Bedanya waktu itu tetangga saya bukan sedang beribadah (jika pawai foya-foya –menggunakan motor yang cuma layak jalan di jalan sehingga tidak mengganggu perasaan banyak manusia– bisa disebut beribadah) melainkan free riding tanpa helm di dalam pelukan arak lokal.
May 18th, 2008 at 12:56 pm -
alex
-
Mati dengan keren….
*cengir*
Diniatkan sih bisa… tapi kalo tiba-tiba matinya cuma karena nginjak tai kebo yang ada paku karatan? *lol*
Aih… Aih… idup sih dijalani saja. Mau mati gimana - kaya kata mbak Silly - yang penting gimana waktu idupnya di dunia
May 18th, 2008 at 4:40 pm
-
yahya
-
tentu, mati harus keren… i mean if was going to have my last act in this so f*ckin’ deppressin’ world..
kalo bisa seluruh dunia jadi inget kematian saya… dan kalo semasa hidup saya sudah melakukan sesuatu sehingga menjadi anchor + pas mati juga jadi anchor kan super duper keren tuh?
btw mon, kamu pengen mati kayak gimana?
(*inget saya kan kita ketemu waktu di blogger event sumthin itu kemaren, saya spousenya bananatalk
May 18th, 2008 at 7:36 pm
) -
iman brotoseno
-
asal nggak mati di atas udel orang…
May 18th, 2008 at 8:03 pm
* skandal banget -
daus
-
Jawabannya, terserah si Bos deh…
May 18th, 2008 at 8:38 pm -
Herman Saksono
-
Yahya:
btw mon, kamu pengen mati kayak gimana?Saya pengen mati di rumah

Btw, kalau besok saya mati tulisan ini jangan dikira firasat ya.
May 18th, 2008 at 8:47 pm -
Rafki RS
-
Menurut saya, apakah perlu mati dengan keren, bagaimana caranya, dan sebagainya nggak perlu difikirkan dan diperdebatkan. Lebih baik memikirkan bagaimana caranya hidup dengan keren.
May 19th, 2008 at 7:51 am -
Adi Prakoso
-
serasa nonton ’six feet under’ hehehe …
May 19th, 2008 at 8:40 am -
unai
-
Owww tentu saja saya minta mati dengan keren..biar dekang terus oleh CA
May 19th, 2008 at 12:04 pm
-
Anonymous
-
kenapa ‘keren’ itu penting sekali?
May 19th, 2008 at 1:04 pm -
fg
-
lobang di jalanan emang bahaya tuh, terutama buat pejalan kaki yg lagi nyebrang.
May 19th, 2008 at 2:19 pm -
EsTehTawar
-
Hidup Keren aja (Walaupun muka ngak keren). Entar matinya bakal keren dengan sendirinya.
May 19th, 2008 at 3:42 pm
-
Anonymous
-
hehehe…lucu juga…jadi inget omongan seorang jenderal waktu kawannya meninggal dunia, eh nanti gw kalo mati bakal pake upacara lo…temennya jawab, emang elu tau?
May 19th, 2008 at 9:04 pm
…asal jangan mati di keren-jeng sempeh aja…salam kenal mon… -
Kroco Geddoe
-
“…tokoh sekaliber ini tewas karena…“
Sekaliber apa, mas?
May 20th, 2008 at 2:17 am
-
mitora in life
-
memang usia tak berbau…
May 20th, 2008 at 9:58 am -
Herman Saksono
-
@silly:
May 21st, 2008 at 9:05 am
maafkan saya kalau telah menyinggung mbak
-
Nazieb
-
Yo’i perlu banget itu Mas..
Mati tertembak peluru emas..
Dibungkus kafan bertahta intan..
Dan dikubur dalam gundukan berlian..Sip tho?
May 21st, 2008 at 2:16 pm -
Silly-stupid
-
Haduh mas Herman… Silly jadi gak enak, saya bercanda kok mas… (mesti tika nich yg bocorin… tika ndak sampein toh mas kalo saya minta maaf sama ams?..)
Lain kali kalo saya comment, gak usah ditanggapi serius… hehehehe…
Makasih yach, maafnya, walaupun sayalah yg harus minta maaf.
silly
May 21st, 2008 at 7:52 pm -
Miss Mimit
-
@ Silly-stupid:
Mas Herman tidak sedang membahas apa jasa Sophan Sophian disini. Hanya membahas ttg kematian. Jadi kenapa harus repot menceritakan kisah Sophan Sophian?Btw, Ali Sadikin meninggal pada usia 81 tahun. Apa yang pernah beliau sumbangkan untuk negara ini? Lebih dari Sophan Sophian. He was a good man! So, good man die young”? Ah Pernyataan itu konyol. Sorry for being honest.
Saya heran, kenapa post yang jelas-jelas untuk becanda seperti ini ditanggapi dengan sangat serius, seperti tidak tahu bahwa kita ini sedang becanda, bung! Apakah tidak bisa dibedakan? Saya dan Mas Herman sampai heran menanggapi komen-komen ini. Hehe.
May 24th, 2008 at 8:48 pm
I regard that mind is meant to be free and moving mind to mass is a destiny. I can be geeky when it comes to movies, art and culinary, but really, I am simply a man with an irregularity, or many.