hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

May 30th, 2008

No Country For Old Men

No  Country For Old Men

Tidak salah ketika AMPAS menjatuhkan piala Oscar aktor terbaik untuk Javier Bardem. Dalam ‘No Country For Old Men’ dia memerankan Anton Cigurh; Hannibal Lecter generasi kita: dingin, cerdas, sadis, tapi playful.

Dan saya akan menjadi orang yang panik ketakutan andaikata bertemu Javier Bardem di jalan.

Ada yang mau berkomentar soal endingnya, dan juga maksud film ini?

29 Comments

Agung Wasono

ratau nonton film mas.. :p

wongdidit

ayo nonton nang amplas mon…..:(

didut

agak sadis,langsungtembak aja kalo ketemu targetnya

alex®

Itu filmnya sejenis Enemy of the State atau gimana, Mon?

*penasaran*

Herman Saksono

kayak apa ya… kombinasi pulp fiction dan silece of the lambs, tapi sesadis scream

cK

jadi pengen nyoba nonton.. ntar deh kalo ada waktu senggang.. ^^

bayu

ending film ini kaya’ yang sutradaranya bangun tidur di suatu pagi trus ntah kenapa mutusin “ah udah, bungkus aja filmnya!”.

daus

Mungkin yang bisa menandingi “kesunyian” film ini cuma Mystic River.

Mungkin endingnya ingin menegaskan bahwa kejahatan tidak selamanya kalah?

Tapi toh sebenarnya di film itu tidak ada aktor yang murni protagonis ya?

Erma

Saya ndak ngerti maksud ceritanya mas
Terlalu berat untuk otak saya

Gage Batubara

maksudnya, biar film ini masuk deretan film yang kamu posting mon..

Herman Saksono

berarti Javier Bardem hebat juga dong!

Gage Batubara

Iyah, cukup dingin dan bikin aku takut dengan adegan yang akan dia lakukan.

Cempluk

mau kasih komen bingung mas..cempluk blm pernah nonton tuh pilem..maaf…

Hedi

maksud pelem? jelas sindiran (kalo bukan tamparan) untuk orang jaman sekarang yang sering cuek, dingin, tapi cerdas (katakanlah agak apatis dan juga skeptis).

dengan tuntutan hidup yg makin berat, lambat laun banyak orang jenis ini bisa berubah jadi saiko (kalo ga mau dibilang scizophrenia).

contoh kecil mungkin ga seekstrim anton cigurh. tapi di jalan kita bisa liat gimana org ugal-ugalan, petantang petenteng, tidak manusiawi…dsb.

sori kepanjangan, mon :D

mercuryfalling

gak.

kw

blum sempat nonton mon, juga belum sempat baca bukunya. bukan sok sibuk sih, cuman film itu harus bersaing dengan film-film lain yang kubeli di glodok yang harganya makin murah aja, 5 ribu per keping. bonus 2 dvd andai belinya 10.

(*bangganya jadi pembajak) :(

penamerah

waduhh…
kok saya kelewatan nonton yang ni ya??? Besok dah nyari DVDnya…

Herman Saksono

@hedi: yap yap. dan menurutku ada simbolisme, kalau penegak keadilan lampau tidak bisa mengimbangi kejahatan jaman sekarang.

thea

film ini bagus. jenis thrileer yang aku suka. sayang endingnya agak mengambang dan menurutku gak jelas

tando-wi yahya

ga ngerti endingnya! bajakan sih jadi ga ada translate nya :P

Ratie

Udah jiper duluan mau nonton film ini,mas. Padahal dah niat nonton semenjak film ini dinominasiin di Oscar… Maybe I’ll find some perfect timing.

sofyanr

Anton Cigurh bener-bener sadis, tanpa eskpresi. Senjata utamanya bukan pestol tapi tabung gas yang diisi bola besi. Wah, bener2 tipe pembunuh bayaran kelas berat.

Intinya mungkin tidak selamanya kejahatan akan kalah.

Herman Saksono

iya, kayaknya emang mau bilang kalau kejahatan memang tidak selalu kalah.

tapi tokoh antagonis sekaliber cigurh-pun bisa kalah oleh kecelakaan. nasib?

Seorangprempuan

waktu saya ntn ini pas endingnya ketika si sheriff ngobrol ama istrinya, saya yakin itu ada keyword endingnya d sana…tp ga konsen ntnnya secara pada mulai keluar teater jd nga nangkep maksudnya :(

pulang ke rumah, beli dvdnya, setel di komputer, kok 5 menit terakhir itu justru nga bisa d mainin ya? haih..

jadi sampe detik ini kayanya saya nga tau maksud endingnya apa. agak setuju ama bayu :
“ending film ini kaya’ yang sutradaranya bangun tidur di suatu pagi trus ntah kenapa mutusin “ah udah, bungkus aja filmnya!”.”

beri daku pencerahan :(

isyana

aku suka sama film ini. keren banget. ritme penceritaannya membuat nyaman. nggak grusa-grusu. cara penyampaian dialognya pun mantap semua.

hmm, kalau boleh menyimpulkan, film-film coen brothers itu semuanya tentang usaha yang sia-sia.

(mungkin karena itu ya, jadi membuat nyaman. bahwa hidup kita nggak harus jadi sesuatu yang bermakna gitu? hehe)

usaha sia-sia di film ini, ada kesia-siaan llewelyn–yang tamak–dalam mempertahankan uang dan hidupnya. tapi juga kesia-siaan si sheriff tommy lee jones dalam menepati janjinya ke carla jean. atau mungkin juga tentang kesia-siaannya mencoba untuk mengikuti ritme di masa dia tinggal.

kalau pun misalnya (misalnya nih..karena pada filmnya enggak) coen brothers memilih memberi akhir cerita ke anton chigurh yang di film, tapi di dunia nyata pasti ada anton chigurh-anton chigurh dalam bentuk lain yang bakal berjalan terus dengan berbagai agendanya kan?

yang emmbuat kita ngeri, kaget, nggak habis pikir dan bertanya-tanya tentang alasannya ‘beroperasi’. walaupun mungkin, alasan itu nggak ada.

jadi, menurutmu mon, chigurh jadi mbunuh carla jean nggak? kalau dari tabiat2 sebelumya sih kayaknya iya. tapi gimana?

Kayaknya sih membunuh ya Nar, soalnya abis keluar dari rumah Carla, Cigurh mengecek sepatunya (ada noda atau enggak) :D

Yap yap, ritmenya enak bgt. Thrillnya juga dapet. Memang pantas dapat Oscar.

isyana

sorry, btw, udah nonton ‘there will be blood’?

sama-sama saingan buat film terbaik oscar dan sama-sama dashyatnya. sama-sama nunjukin kekhasan para pembuatnya sih.

Belum! Tapi udah lihat adegan pembukaannya di barbershop itu :D

slempitanjempolkaki

walah ternyata sejenis thriller to??
aku pikir drama yang nangisnangis… judulnya itu lo yang bikin drama banget… jadi penasaran…
@isyana
wah jadi penasaran juga ama filem “there will be blood”. cek di IMDB, ratingnya 8.4!! i hope it’s another awesome movie!!

No Country For OldMen « Slempitan Kaki™

[...] begitu liat resensi dan komenkomennya di sini, kok banyak yang bilang thriller. Bhehh!! Ketipu banget!! Makin penasaran begitu pemerannya masuk [...]

kol jol

pilem parno ya?

Give Me Some Thoughts