hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Reviews - April 15th, 2008

Seraphim Falls

Seraphim Falls
Seorang teman yang datang dari jauh menyebabkan saya, Tika, dan Alvonsius menonton film di kala tidak ada film yang bagus. Pilihan pertama jatuh kepada filmnya Andy Lau yang desas-desusnya keceng banget: Three Kingdoms.

Tapi, menurut Tika—yang udah nonton—Three Kingdoms itu jelek.

Maka pilihan pindah ke Seraphim Falls, karena film satunya lagi—The Game Plan—tidak menarik sama sekali.

Jam 21.00 kami duduk manis di Studio 5 menunggu Seraphim Falls diputar. Dan ternyata film itu jelek banget. Adegan kejar-kejaran over heroik yang episodik terus-menerus mengisi layar, untuk kemudian ditutup dengan ending kontemplatif ala indie. Padahal ritme awalnya Hollywood. Sungguh tidak nyambung.

Alangkah baiknya jika tidak disebut film cerita, karena lebih mendekati film dokumenter tentang “Survival Jika Ditembak dan Terdampar di Daerah Barat Yang Liar.” Saran saya, tonton saja ketika tidak ingin nonton film karena menontonya mengakibatkan efek traumatis yang serius.

•••

Esok harinya saya tanya ke Tika: “Emang Three Kingdoms jelek banget ya Tik?”

“Bagus kok. Lebih bagus dariapda Seraphim Falls,” jawabnya.

“Kemarin kamu bilang jelek!?”

“Iya, soalnya aku males nonton Three Kingdoms lagi,” jawabnya sambil meringis.

Sejak saat itu saya memutuskan membenci Tika hingga hari Kamis.

32 Comments


Leave a Reply