hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for March, 2008

Politik - March 3rd, 2008

Lelucon Bantuan Likudasi


Konon sebuah lelucon itu terdiri dari dua bagian, yaitu colekan dan tendangan. Colekan biasanya cuma fakta biasa yang nggak lucu, tapi setelah dikasih tendangan, maka lengkaplah lelucon itu hingga membikin terpingkal-pingkal yang mendengarnya.

Soal kejaksaan yang dengan pedenya menyatakan kalau kasus BLBI BCA dan BDNI tidak terbukti ada perbuatan melawan hukum, ya itu memang cuma colekan.

Ketika esoknya seorang jaksa tertangkap basah sedang menerima suap sebesar Rp 6,1 miliar untuk kasus BLBI—maka lengkap sudah tendangannya. Tinggal penonton, anda, menentukan lelucon ini lucu atau tidak?

Politik - March 2nd, 2008

Bagian 2 Kursi Gubernur Sri Sultan

Ini adalah lajutan dari posting sebelumnya.
Jika 400 tahun yang lalu bangsa Eropa mulai menuntut monarki membagi kekuasaannya, saat ini kita menyaksikan rakyat Jogja menuntut Sri Sultan dan keturunannya agar tetap berkuasa selamanya.
Sebetulnya apa yang dijanjikan oleh seorang darah biru? Apakah sikap dan kebijaksaannya selalu lebih mulia? Setahu saya, Sultan HB II selalu disibukkan dengan intrik-intrik politik dalam kraton. Malah sejak perang Diponegoro usai, Kasultanan selalu mengembik ke Belanda, sambil terus menerima pundi-pundi upeti. Di lain sisi kita juga punya nasionalis tulen seperti Sultan HB IX yang mencintai rakyatnya. Tidak konsisten? Satu hal yang pasti, pemimpin ningrat ternyata tidak lebih menjanjikan dibanding pemimpin yang dipilih langsung melalui pemilihan.
Lalu apa yang membuat lurah-lurah itu berdemo membela Sultan? Apakah cinta, atau uang? Iphan bilang itu karena sudah tradisi. Mungkin. Kita memang punya tradisi memaklumi pemimpin payah sambil bermimpi bahwa segalanya akan baik-baik saja. Tidak salah kalau Indonesia dijajah selama 3 abad dan 32 tahun.

Begini, saya tidak menyalahkan tradisi, walaupun berharap tradisi bisa berubah itu sah. Rumitnya, berharap tanpa bertindak hanyalah nama lain untuk kenihilan. Tapi jangan kuatir, saat ini Jogja sedang menyaksikan tongkat untuk bertindak di depan hidung mereka. Mau diambil atau pass dulu?